Tak pernah terpikirkan oleh Chiara jika hari pernikahan yang dia dambakan selama ini malah berakhir dengan kesedihan. Kesedihan yang begitu menyakitkan bagi Chiara.
Setelah satu tahun berpacaran , Chiara memutuskan menikah dengan Aldo - pria yang sudah menjadi tambatan hatinya selama ini. Bukan pernikahan indah yang dia dapatkan , tapi Chiara malah mendengar kabar kalau calon suaminya telah meninggal.
Nenek Dewi - selaku Nenek Aldo merasa sangat kasihan pada Chiara. Dia sudah menganggap Chiara seperti cucunya sendiri. Karena tamu undangan sudah banyak yang datang , Nenek Dewi lalu menyuruh Dario - cucu kesayangannya yang terkenal berandalan sebagai pengganti Aldo. Dario bersedia menjadi mempelai pengganti karena dia tidak tega melihat Neneknya yang terus memohon.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan lama ? Atau justru berpisah karena tak saling mencintai ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan
Setelah cukup lama berpikir , Dario akhirnya memutuskan ingin mengungkapkan isi hatinya. "Chiara , aku ingin jujur padamu. Tapi kau harus berjanji tidak akan marah setelah mendengarnya. Aku hanya ingin kau mengetahuinya saja," terang Dario seraya menunduk. Dia tidak peduli jika nanti wanita itu marah, yang penting wanita itu tahu perasaannya.
Chiara yang tadinya fokus melihat ponselnya langsung menatap Dario. Sebenarnya apa yang ingin pria itu katakan ? Kenapa wajahnya terlihat sangat serius ?
"Baiklah , aku janji tidak akan marah. Kalau begitu cepat katakan , kau ingin jujur tentang apa ? " tanya Chiara seraya menaikkan alisnya. Wanita itu semakin penasaran dengan apa yang ingin Dario katakan. Apa pria itu ingin mengatakan kalau ternyata selama ini dia pernah pacaran ? Atau dia ingin mengatakan kalau ternyata dia pernah menghamili seorang wanita ?
Dario menghela nafas pelan."Chiara , ketika Nenek memaksaku agar menikah denganmu , aku menolaknya. Sebelum mengenal dirimu , aku memutuskan tidak akan pernah menikah untuk selamanya. Bahkan aku takut menjalin sebuah hubungan. Aku tidak berani menikah karena aku takut rumah tanggaku sama seperti kedua orang tuaku. Jika sebuah rumah tangga hancur maka yang menjadi korban adalah si anak. Begitu yang aku rasakan selama ini. Setelah orang tuaku berpisah hanya Nenek yang peduli denganku , itupun Nenek jarang di rumah karena dia sering pergi ke luar kota. Papa dan Mama bahkan tidak peduli denganku , mereka tak pernah berpikir apakah aku sudah makan atau belum. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Saat aku jatuh sakit , jika Nenek tidak ada di rumah, hanya pembantu di rumah yang merawatku. Setelah Mama dan Papa bercerai, hidupku semakin sulit. Aku sering tidak makan. Pergi dan pulang ke sekolah di antar oleh sopir. Jika sopir yang sering mengantarku bersama dengan Mama Emi, maka aku berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Pernah aku kecelakaan , dan orang tuaku juga tetap tidak datang ke rumah sakit. Hanya Nenek yang datang sambil menangis histeris. Selama ini mereka tidak pernah pertanya padaku apakah aku sudah makan atau belum. Papa menikah dengan Mamanya Aldo , tapi Mama Emi tidak pernah peduli padaku. Padahal aku saat itu hanyalah seorang anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Karena itulah aku sangat takut menjalin sebuah hubungan . Tapi Nenek begitu memaksaku , bahkan dia ingin berlutut di depanku. Dan akhirnya aku setuju menikah denganmu. Ketika aku pertama kali melihatmu , aku begitu membencimu. Aku membencimu karena kau adalah kekasih Aldo , tapi setelah kau datang ke kota ini perasaan benci itu berubah jadi cinta. Ketika melihatmu menangis , hatiku pun ikut menangis. Aku tidak tega melihatmu meneteskan air mata. Walaupun aku capek karena bekerja , aku tetap meluangkan waktuku untukmu. Aku tahu saat ini kau masih mencintai Aldo ,tapi aku mengatakan ini agar kau tahu apa yang aku rasakan saat ini," ungkap Dario menunduk sambil berdoa di dalam hatinya. Dia berharap Chiara tidak marah setelah mendengar semuanya.
Kedua mata Chiara membulat sempurna mendengar perkataan Dario. Awalnya dia sangat sedih dan bahkan sampai meneteskan air matanya mendengar cerita Dario. Sebelumnya dia memang pernah mendengar masa kecil Dario dari Nenek Dewi , dia kira Nenek Dewi berbohong tapi ternyata semuanya memang benar. Dapat dia lihat dari raut wajah Dario yang berusaha menahan air matanya ketika bercerita , namun dia sangat terkejut ketika mendengar ucapan Dario yang terakhir . Dia tak menyangka kalau ternyata Dario jatuh cinta dengan dirinya.
" Dario ,aku minta maaf . Aku tidak bisa membalas cintamu. Aku sangat mencintai Aldo. Jika Aldo benar - benar telah meninggal maka aku akan coba melupakannya," balas Chiara dengan raut wajah terlihat gugup. Dia memang sangat mencintai Aldo. Dia yakin Aldo masih hidup.
" Ya aku mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini," sahut Dario yang berusaha tersenyum.
Tak berselang lama makanan pun datang. Suasana kembali hening karena keduanya sibuk menyantap makanan masing - masing.
Chiara sejak tadi makan dengan kepala yang tertunduk tapi dia sama sekali tidak fokus. Dia tidak berani menatap Dario meski menyadari jika pria itu sedang memperhatikannya. Dia merasa tidak enak dengan Dario karena tidak menerima cintanya. Dia juga merasa bersalah karena selama ini selalu menuduh pria itu macam - macam.
Dario mengamati bibir Chiara yang belepotan. Tanpa meminta izin, dia mengambil tissue lalu mengulurkan tangannya menyentuh bibir Chiara. Mengusapnya dengan lembut untuk menghilangkan noda di sudut bibir Chiara.
Dalam seketika , Chiara langsung menengadahkan wajahnya padahal dia sedang mengunyah makan. Kedua matanya mengerjap , selama ini Aldo tidak pernah melakukan hal seperti ini. Jika ada noda di sudut bibirnya , Aldo pasti akan marah - marah. Mengatainya jorok , dan seperti anak kecil.
Dario terus mengusap bibir tipis Chiara dengan lembut dan bersih. Sedangkan Chiara masih terpaku , hanya kelopak matanya saja yang kembali mengerjap.
" Kalau makan jangan belepotan," kata Dario sembari menatap wanita itu.
Kata-kata yang keluar dari mulut Dario seperti angin yang berhembus merdu. Menerpa gendang telinga Chiara hingga lamunan panjangnya buyar.
Chiara diam karena terhanyut dengan apa yang di lakukan oleh Dario. Dia berpikir kenapa Aldo tidak seperti Dario ?
" Terima kasih. Tapi aku bisa membersihkannya sendiri ," balas Chiara seraya mengusap bibirnya.
" Kalau sudah selesai makan sebaiknya kita pergi ," kata Chiara lagi setelah menyesap satu gelas jus jeruk.
" Apa kau tak ingin membeli cemilan ?" tanya Dario seraya menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya sudah lama sekali dia tidak pergi nonton , terakhir kali nonton di bioskop puluhan tahun yang lalu. Tepatnya ketika dia duduk di bangku sekolah menengah atas. Itu pun bersama Neneknya.
" Nanti saja ," sahut Chiara yang masih terlihat gugup.
Keduanya berjalan menuju gedung bioskop. Dario berjalan di samping Chiara dan menggenggam tangan wanita itu.
" Chiara , lebih baik kau beli tiketnya. Aku akan membeli cemilan," ucap Dario sembari menoleh ke samping.
" Iya," sahut Chiara.
Ketika mereka akan masuk ke dalam gedung bioskop, tiba - tiba Dario melihat anak buah Emi. Kemarin Nenek Dewi mengatakan kalau Emi merencanakan ingin membunuh Dario. Wanita itu ingin membunuh Dario karena ingin menguasai harta kekayaan Papa Dario.
Dario lalu menyeret tangan Chiara hingga membuat wanita itu terkejut.
" Chiara , ayo lari ! " seru Dario sembari menarik tangan Chiara.
Wajah Chiara terlihat bingung melihat sikap Dario yang sangat aneh. "Ada apa ? Kenapa kita harus lari ?" tanya Chiara sembari menoleh ke belakang. Wanita itu melihat ada empat pria bertubuh besar sedang berlari ke arahnya. Chiara yakin kalau mereka yang mengejarnya. Kira - kira siapa empat pria itu ? Dan kenapa Dario harus lari ? Apakah Dario memiliki banyak hutang pada mereka ? Begitu banyak pertanyaan muncul di dalam benak Chiara.
" Nanti aku jelaskan . Sekarang ayo cepat lari," ujar Dario.
semoga saja Chiara akan baik2 saja dan rencana nenek Dewi tidak jadi kenyataan .
kasihan Chiara dan Dario kalo sampe itu terjadi