Ariana, gadis 18 tahun yang jatuh cinta kepada Guru paling dingin di sekolahnya.
Ternyata, semesta memberikan kesempatan padanya untuk bisa merebut hati sang guru, Arandra lewat perjodohan.
Tapi sayangnya, hati Arandra tetap tak bisa Ariana dapatkan. Meski mereka adalah suami istri. Arandra selingkuh dengan mantan kekasihnya yang sangat ia cintai.
Hati istri mana yang tidak hancur melihatnya. Ariana pun mengajukan gugatan perceraian kepada suaminya.
Saat keadaannya tengah terpuruk, kenyataan yang lain pun terkuak. Ariana hamil.
Tidak ingin ada siapa pun yang tahu, Ariana meminta bantuan Radit yang notabene adalah Om dari Arandra.
Radit selalu setia menemani Ariana dalam menghadapi masa-masa sulit di kehamilannya.
Dapatkah Ariana mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang?
Di saat ia trauma dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivan witami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 PERASAAN ITU DIHARGAI
Arandra berjalan cepat menuju sebuah restoran, ia sendiri yang datang terlambat, karena keasyikan di rumah bersama sang istri. Dua sahabatnya dan mantan kekasihnya sudah lama menunggunya.
"Sorry guys, aku telat! huh!” serunya yang langsung duduk di kursinya. Dua sahabatnya dan Felly hanya melihatnya dan saling pandang. Devan hanya tersenyum geli melihat rambut basah dan leher Arandra ada bekas tanda merah.
"Kami memaklumi kalau kamu terlambat, Ndra! Habis lembur, kan!” goda Devan.
"Dev, ayolah... jangan membahasnya disini.” Arandra sekilas memberi isyarat mata pada Devan bahwa ada Felly.
"Ok! Tapi istrimu ganas juga ya, sampai lehe merah-merah ” bisik Devan diakhir Kalimatnya.
Arandra sontak merapatkan kemejanya dan tersenyum canggung melihat Felly. Kemudian bersikap santai. “Ahem! Ya sudah ayo bahas, masalah olimpiade untuk Minggu depan. Apa kamu sudah mendapat surat dari kantor dinas pendidikan setempat.” Arandra mencoba mengalihkan pembicaraannya agar tidak terus di goda Devan.
"Sudah, santai saja. semua sudah beres. tinggal kita persiapkan anak-anak murid kita saja. Sekarang bahas pekerjaan lainnya, ya Kan Darren, Fell.
Darren tertawa kecil lalu menepuk pundak Arandra."Iya, oh iya ini proposal yang di kirim sekertarismu kemarin sudah aku tanda tangani, sudah ada tanda tangan mamaku juga.”
"Ok!”
Mereka pun membahas pekerjaan, sesekali Arandra melihat Felly yang tampak serius mendengar presentase dari Darren. Sedangkan Felly tampak acuh dengan Arandra, ia tidak ingin lagi berhubungan dengannya kecuali masalah pekerjaan.
"Ok, aku mengerti. Terima kasih Darren, penjelasanmu bisa aku pahami,” ucap Felly yang memang terlibat bisnis dengan Derren langsung.
Disisi lain Setelah selesai belajar Ariana pergi ke rumah sakit untuk menjalani terapi dan dampingi Radit. Ariana benar-benar menyembunyikan sakitnya dari semua orang termasuk suaminya.
"Riana!” panggil Radit saat melihat Ariana duduk di ruang tunggu lalu menghampirinya.
"Om.” Ariana pun tersenyum lalu menyalaminya. Ariana sedikit canggung karena semua mata pasien lainnya melihat ke arahnya.
"Ya sudah masuk, sudah di tunggu dokter Banyu!”
"Om, ngantri kali Om!”
"Kamu sudah aku ambilkan nomor antrian tadi pagi. Sekarang giliranmu, anturan tadi tapi udah keduluan dua nomor, karena kamu datang sedikit telat.”
"Iya, Om terima kasih!” Ariana bangkit lalu tersenyum sopan pada pasien di sebelahnya Kemudian ikut Radit masuk kedalam ruangan.
“Permisi, dok!”
"Halo Nona, Riana. silahkan masuk! Bagaimana kabarnya, sehat ya! Apa ada keluhan?” tanya dokter Banyu ramah, Dokter yang seusia Papa Riana itu memang selalu ramah dengan pasiennya.
“Sehat, Dok! Untuk saat ini keluhannya tidak ada.” Ariana duduk di kursi di ikuti Radit.
"Baiklah. Obatnya jangan lupa diminum dan kalau habis bisa menebus obat di apotik sesui resep yang saya berikan atau bisa langsung hubungi saya. Dan ... Saya senang, Nona mau menjalani terapi, sebenarnya saya sudah menawarkan terapi setahun lalu.”
"Iya, Dok. Saya baru siap sekarang. Untuk obatnya masih banyak dok.”Ariana sekilas melihat Radit, sebenarnya ia takut tetapi ia lebih takut jika harus di operasi.
Radit mencoba menenangkan Ariana dengan menepuk kepalanya, ia tahu istri keponakannya itu sedikit tegang.
" Untuk alergi makanannya tolong di hindari ya, obat alerginya juga masih ada, kan?
“Masih, Dok!”
“Terapinya nanti akan saya buatkan jadwal, untuk saat ini, cek lap dulu ya.”
"Iya, Dok!”
Banyu menyuruh suster untuk membuatkan jadwal terapi dan membuat surat untuk tes laboratorium. setelahnya di berikan pada Ariana.
"Langsung kebagian lap ya.”
"Baik dok! Oh iya dok, semua di tanggung asuransi saya kan dok? Kalau ada yang di luar asuransi tolong beri tahu saya ya dok, biar saya bersiapkan dananya.”
Dokter Banyu tersenyum dan melihat Ariana, Ia yakin Ariana orang berada kenapa khawatir dengan biaya?
"Asuransinya swasta atau negeri?”
"Swasta!”
"Tidak perlu khawatir, Nona. Asuransi Swasta milik Anda menanggung semuanya! Jika ragu bisa Anda tanyakan ke pihak Asuransi atau mencari tahu informasi di bagian administrasi kami,” sambung suster ramah.
"Baik sus.” Ariana bertekad melawan rasa takutnya atas penyakitnya, Semata hanya ingin selalu bersama sang suami.
Setelah itu Ariana keluar dari ruangan dokter Banyu menuju laboratorium untuk cek darah di antar Radit. Ariana sebenarnya takut dengan jarum suntik apalagi melihat darahnya diambil. Terlihat raut wajahnya yang begitu tegang. Saat darahnya diambil dengan menggunakan jarum suntik, ia hanya bisa memalingkan wajahnya dan tanpa sadar meraih pergelangan tangan Radit dan berpegangan begitu kuat.
Radit hanya diam dan memperhatikan raut wajah Ariana yang tegang dan takut,ia hanya bisa menepuk-nepuk punggung tangan Ariana.
"Ais ... sakit!” pekik Ariana saat jarum suntik dicabut.
“Sudah, Nona. Hanya sedikit sakitnya.” ucap suster tersenyum ramah.
"Sus, hasilnya keluar kapan?” tanya Radit.
"Hasilnya keluar besok. Besok datang kemari ambil hasilnya baru bertemu dokter lagi.”
“Baik, sus. Terima kasih.” Radit dan Ariana pun keluar dari ruangan lap.
"Om, hari ini gak ada praktek?” tanya Ariana saat berjalan keluar dari rumah sakit.
"Om rehat dulu, Om kan baru pindah ke rumah sakit ini, lagi nunggu jadwal baru Om. Jadi dua hari kedepan Om masih free dan bisa temani kamu terapi besok!” Radit tertawa kecil di iringi Ariana.
"Terima kasih ya Om. Memangnya tidak ada yang cemburu nanti, Om sama aku?”
"Ada!”
Ariana berhenti begitu juga Radit. Radit tersenyum lalu menepuk kepala Ariana."Kenapa liat Om kayak gitu?” Radit masih tersenyum.
"Serius dong, Om. Kalau ada yang cemburu, mending gak usah temani Riana. Riana sendiri bisa kok.”
Radit tersenyum memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Lalu ia berjalan di ikuti Ariana yang masih tidak enak hati.
"Tidak ada yang cemburu Riana, justru mungkin yang cemburu itu malah si Aran, suami kamu.”
Ariana menghela nafas lalu berjalan berbelok ke kantin rumah sakit. Radit hanya mengikuti. Ariana mengambil satu botol air mineral dan jajanan, begitu juga Radit. Mereka berdua pun menuju kasir.
"Justru itu, Om. Pak Aran itu tidak pernah mempunyai rasa cemburu. Karena dia tidak pernah mencintaiku,” ucap Ariana sambil membuka dompetnya, Namun Radit sudah membayarnya lebih dulu.
"Tidak usah. Om saja!”
"Terima kasih, Om.”
Mereka berdua mengambil minumannya lalu mereka duduk di kantin.
"Kalau tidak cinta kenapa bisa menikah?”
Ariana hanya tersenyum, ia juga bingung bagaimana menjelaskan perasaannya pada Radit terhadap Arandra.“ Entahlah, Om. Yang aku tahu cinta itu harus memiliki. Dan aku sudah memiliki Pak Aran. Tetapi sepertinya Pak Aran tidak pernah mencintaiku, mungkin saja di luar sana masih ada Felly- Felly yang lain. Tapi aku yakin suatu saat nanti pak Aran pasti membalas cintaku.”
Radit hanya tersenyum. Karena ia tahu Arandra memang tidak mencintai Ariana dan hanya mencintai kekasihnya, Felly.
“Nanti kamu akan paham sendiri tentang konsep cinta dan setia itu seperti apa. Bukan yang tidak lagi tertarik pada siapapun, bukan yang tidak pernah absen menyapa selamat pagi, atau bahkan bukan pula yang selalu ada. Tapi, tentang bagaimana sebuah perasaan itu dihargai. Bahkan saat ada yang membuat matamu jauh lebih tertarik, kamu tetap tidak memilihnya sebagai pengganti.”
cerita y' bagus autor 👍🏻😘😘😘😘🥰