Gadis yang begitu aktif disekolahnya, selalu mendapat renking 1, menjadi osis termansyur disekolahnya, berbakat dalam segala hal, bela diri, memasak, bermain alat musik, menari dan hal kecil lain yang ia lakukan di dunianya.
Namun menjadi anak yang beruntung tidaklah begitu lama setelah dia mendapati sebuah buku novel yang berjudul '2 putri dengan nasib yang berbeda'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon dan Edgar, mulai tidak percaya
...____________♧ CHAPTER 22 ♧____________...
"Baik nyonya akan saya lakukan"suara berat yang tersembunyi dari bayangan-bayangan gelap.
***
"Waaah gaunmu indah sekali... di manakah kamu membelinya nona anya"tanya viona yang kini mereka berada acara minum teh yang diundang oleh anya, anak seorang bangsawan bergelar vinsenston.
Acara minum teh ini sering dilakukan oleh semua gadis bangsawan di kerajaan vicenston, dan semua gadis memiliki giliran untung mengadakanya bergiliran, dan kini tempat Anya yang mendapat giliran itu.
"Itu benar anya... aku sangat iri dengan tampilanmu itu!"pekik gadis lain
"Ah benarkah? Aku membelinya ditoko Amanda Butik, kamu harus kesana, ditoko sana banyaaak sekali para putri-putri, bahkan para ratu dan selirpun juga membeli gaun-gaun disana" serunya menjelaskan semunya.
"Oh iyaa... aku juga pernah dengan dari saudariku, dia membuang semua gaun-gaun lamanya dan membeli gaun baru ditoko itu. cuman toko itu baru dibuka, jadi aku masih ragu akan itu"ucap gadis bernama miya.
"CK! KALIAN SANGAT TIDAK MERASA AKU ADA DISINI YA! AKU TIDAK SUKA KALIAN MEMUJI TOKO YANG MEMBUAT TOKO IBUKU HAMPIR JATUH!"pekik seorang gadis bangsawan bergelar Baron, bernama Devini Orka Baron.
"Sudah.. Sudah... Kita sedang melakukan pesta teh, tidak boleh ada perkalahian disini yaa"ucap Viona merelai mereka dengan senyumannya itu, membuat mereka diam dan kembali menikmati hidangan disitu
'Aku akan minta ke ibu saja nanti sehabis pulang dari sini, ck si Arasya tidak datang, pasti dia masih merasa malu untuk bergabung dengan kami'batin Viona merasa senang.
***
"Ara ara kamu yakin tidak mau kesana? ada Viona juga disana.. Mereka pasti mengirah kamu masih sama dengan arasya yang dulu"lirih Lili mengintari tubuh Arasya yang sedang asik melihat buku uang yang ia hasilkan.
"Sssshhh berisiiik... disanaa tidak ada yang membuatku senang.. Lebih disini menghitung uang-uangku"pekiknya.
"Ah Araa... Kamu kan bisa kesana untuk memamerkan coklat, keju dan toko butikmu"ketusnya
"Belum waktunya.... aku adalah anak yang tidak suka pamer-pamer kek gitu.. Nanti juga mereka tau sendirinya"balas arasya.
"Oh iya... kamu tau akan ada acara pemburuan lusa depan, semua pangeran tampan akan hadir... Uuuh... Aku tidak sabar dengan hari itu"seru lili dengan wajah berbinar binar.
"oh ya?"tanya arasya yang masih menghitung uangnya
"Iyaaah iih.., dan peburuan ini bukan pemburuan sebarangan karena yang kita serang adalah hewan-hewan suci, dan hewan monster, disana diharuskan membunuh hewan monster dan harus bisa menjinaki hewan suci"
"Oh, hewan suci dan hewan monster bisa tinggal dihutan yang sama?"tanya balik Arasya
"Tentu... selama ada dewa kebajikan, mereka hidup damai tampa mencampuri satu sama lain, tapi apa kamu tau... Raja dari hewan suci dan hewan mosnter cuman hanya satu, Mereka sampai sekarang belum bisa mendapatkan raja amora, hewan mistis terkuat, itulah hewan yang disuruh dewa kebajikan untuk menjaga peradaban kedua hewan itu."jelasnya.
"Lalu kenapa kita harus diwajibkan untuk membunuh hewan monster?"tanya Arasya lagih.
"Iiiisshh kamu gimana sih, kalau kamu tidak membunuh mereka, mereka akan membunuhmu karena keganasan merekaa"pekik Lili
Arasya hanya mengangguk paham tapi tetap memfokuskan matanya dengan semua uang dihadapanya, membuat Lili kesal dan pergi meninggalkanya.
***
"IBUUUUU!!!"pekik seroang gadis meneriaki ibunya sepanjang koridor.
"yaaaa disinii sayang"balas ibunya yang sedang menggosok perhiasanya di kamar.
"Ibuuuuu....uwaaaaa"tangisan keluar dari gadis bernama Devini
"Kamu kenapa ha?"tanya sang ibu bernama nyonya kiat
"Ibuu... Tadi dipesta teh hikss hikks.."
"Ada apaa.. ada yang berani menyakiti anakku!? Siapa! Beri tahu ibu, bahkan jika dia anak raja pun ibu tidak takut"pekik kiat
"Bukaaan hiks... teman-temanku selalu memuji toko Amanda Butik, gara-gara toko itu hikss... toko ibu jadi sunyi hikss.. bahkan ada temanku bilang, saudarinya membuang semua gaun ibu dan lebih memilik gaun dari toko sialan itu"aduhnya membuah Kiat naik pitam, wajahnya memerah. Dengan tubuh besarnya dia berdiri dari situ, dan mengepal tanganya.
"Tidak! Kita harus kasih pelajaran kepada toko sialan itu, berani-beraninya melawan keluarga baron! mereka hanya rakyat biasa, akan sangat gampang ibu jatuhkan mereka, kamu tenang saja sayang"lirihnya, membatu devina berdiri dari sujudnya dan mengusap air mata putrinya itu.
***
"Oh begitu."ucap Arin dengan wajah datar
"Iyaah... Ibu, kebetulan sekali.. lusa depan akan ada acara pemburuan besar-besaran semua kerajaan, Viona mau tampil cantik di hadapan Pangeran Andrea dan Pangeran Orion"ujarnya, Pangeran Orian juga mengadakan lombanya di akademi, lomba untuk mendapatkan hewan suci.
"Apa kamu tau Viona, bahwa kakamu Leon dan Edgar selalu menuntutku untuk menyuruhmu menyembuhkan situa cacat itu! Dan kamu malah asik-asikan kepesta teh dan ingin berbelanja untuk penampilanmu!"sarkas Arin yang pusing memikirkan kekuatan anaknya.
"Ck! Ibu... Aku kan cuman mau tampil cantikk..."ketusnya dihadapan Arin yang sedang duduk dikursi besarnya didalam ruanganya.
"CUKUP VIOANA. JIKA KAMU MAU PERGI. PEGI SAJA SENDI_"
Tok
Tok
Belum selesai arin berteriak, ada ketukan pintu diruangan arin.
Arin langsung buru-buru menyuruh Vioana pura-pura mengecek kesehatanya.
"Uhuk uhuk.. Iya masuk"ucap Arin di dalam ruangan
"Salam ibu"terdengar suara leon dan edgar memberi salam kepada arin.
"Ada apa lagi..."tanya Arin menahan emosinya.
"Ibu... Aku mohon, Izinkan Viona menyembuhkan ayah, ayah setiap saat menjerit kesakitan dikasurnya. Jika kakinya sudah tidak ada, setidaknya sihir Viona bisa menghilangkan rasa sakitnya ayah"pinta Edgar
"Sayangku... Ibu juga sudah memaksa Viona menyembuhkan ayahmu.. namun Viona lebih takut kehilangan diriku hikss.. Dan saat ini tubuh Viona juga tidak baik. Dia hanya bisa menyembuhkanku saja, jika menyembuhkan luka ayahmu sekarang ini, dia belum sanggup."ucap Arin senduh
'Aku sungguh tidak tahu maksud ibu kedua'batin Leon tidak percaya.
"Baik ibu.. jika memang tidak bisa, aku dan adik permisi dulu"ujar Leon yang langsung menarik tangan Edgar.
"Eh kak.."kaget edgar karena ditarik oleh Leon.
'Sepertinya leon mulai tidak mempercaiku! SIALAN!'batin arin melihat kepergian Leon dan Edgar keluar dari ruanganya.
***
"AAAAAA...... Ini sungguh sangat menyakitkan.. sialaan dimana Arin dan putrinya itu! KENAPA MEREKA TIDAK MELIHATKU!"pekik Duke Baratha kepada Zak dan sudah dihampiri leon dan edgar.
"Di mana! Dimanaa ibu dan adik kalian!!! Viona harus menyembuhkan kaki ku ini dari gigitan monster sialan itu!!! KENAPA KALIAN TIDAK MEMBAWA MEREKA BERDUA HA!!!"teriak Duke Baratha kepada dua putranya itu.
Mereka hanya diam dan memandang satu sama lain. leon pun buka suara
"Maaf yah... adik Viona dia juga sedang menyembuhkan ibu, jadi katanya kekuatan penyembuhanya sedang lemah dan hanya bisa menyembuhkan satu orang"ujar Leon.
"SIALAAAAN.... AKU YANG SANGAT MEMBUTUHKAN SIHIR SUCI ITUUUUU!"pekik Duke Baratha menahan sakitnya.
***
Pada malamnya.
"Ck kamu lama sekali....!"sentak Arin kepada seorang pria, yang kini telah membawa 10 anak berumur 12 tahun, di hutan tersembunyi dan ada rumah tua disekitar situ, yang tidak jauh dari kediaaman maharendra. Arin melakukan teleportasi agar tidak ketahuan oleh mereka.
"Maafkan saya Nyonya Arin, saya ada sedikit kendala tadi"ucap pria itu.
"Uwaaaaaaa lepaskaan kamiii... Kami mohoooon....."teriak seorang anak kecil berkelamin pria.
BABAY... SEE U LETER