Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Another Door
Lampu kristal menggantung tinggi disetiap lorong istana, memadukan kemewahan dan juga mengumumkan secara tidak langsung bahwa kasta tertinggi lah yang memiliki istana ini. Aidenloz melangkahkan kaki semakin memasuki istana, memerhatikan sekelilingnya dengan santai. Ia ingat betul bagaimana kondisi istana Aldergo setahun yang lalu, sebelum Eliot naik takhta. Sekarang hampir keseluruhan isi istana telah berubah, dari tata letak barang, hiasan, lukisan-lukisan, bahkan bentuk taman pun sekarang diberi sentuhan lebih modern khas Magnolia yang seringkali disebut-sebut sebagai sentral para penyihir.
Rupanya Eliot memang bersungguh-sungguh dengan sumpahnya setahun yang lalu dihadapan Aidenloz. Yaitu saat Eliot masih berstatus sebagai putra mahkota yang dikirim ke Eroshvent sebagai utusan rapat di Istana Erosh. Pria itu menyenangkan bahkan Aidenloz dan Eliot masih berteman baik hingga hari ini. Eliot, pria itu cukup mengerti sopan santun yang benar kepada Kaisar.
Eliot tak main-main, ia mengubah semua kenangan raja lama pada arsitektur istana yang baru dengan warna yang lebih cerah. Pria bermanik gelap itu begitu disenangi rakyatnya, menurut Aidenloz pun, Eliot merupakan kriteria yang paling cocok untuk dijadikan Raja karena sifat ambisius serta tepat janjinya menjadikan Aldergo semakin maju. Aidenloz pun juga menyukai pemerintahan seperti yang dilakukan Eliot. Ah, andai Armovin bisa mencontoh pemerintahan Aldergo.
"Jadi siapa namamu, Tuan?"
Aidenloz menoleh. Seorang wanita Elf yang mungkin berusia kurang lebih seratus tahun-an yang akan mengantarkannya menuju kamar khusus tamu kerajaan kelas tiga. Tempat yang mungkin saling bertetanggaan dengan kamar tamu lainnya.
Tapi itu bukanlah masalah besar bagi Aidenloz selama orang-orang itu tidak berniat untuk mengganggunya.
"Saya Iaros, pemusik dari daerah Tengah."
Wanita itu mengangguk mengerti, "Pasti pemusik baru. Aku belum pernah mendengar namamu sebelumnya," ucap wanita dengan tatapan merendahkan, "Kuharap kau tidak akan mempermalukan Raja Eliot dengan permainan musikmu di perayaan nanti."
Aidenloz memilih bungkam.
"Aku kadang heran, kenapa Yang Mulia Raja malah mengundang orang tak berkompeten," ia lanjut mengkritik, namun tatapannya selalu melirik ke arah Aidenloz, "Padahal ada banyak pemusik yang lebih baik." ujarnya acuh.
"Jangan meremehkan semut, Nyonya. Hewan sekecil itu pun bisa mengalahkan gajah yang jauh lebih besar darinya." Aidenloz berpaling, "Lagipula bukankah lebih bijak jika yang tua mengajarkan rendah diri pada yang muda. Oh, atau harus sebaliknya?"
Wajah wanita tua itu memerah. "Jangan harap kau akan tenang selama tinggal di sini, Tuan. Bersyukurlah karena perbuatan mu kali ini tak akan ku laporkan pada Yang Mulia raja. Namun di lain waktu," wanita itu menatapnya tajam. "Tak ada kata memohon ampun!"
"Silahkan lakukan sesuka Anda," balas Aidenloz lalu berbalik pergi meninggalkan pelayan itu menelan amarahnya seorang diri.
.
Di lain tempat, seorang pria bersurai cokelat tengah sibuk menimba air di dalam sebuah sumur lebar yang tak terlihat di mana pangkalnya. Hari ini merupakan tugas dirinya untuk membersihkan ratusan kandang kuda bersama beberapa pria lain yang menunggu air yang akan ia bawa.
Keadaan disini sangatlah buruk. Orang-orang yang seharusnya bekerja sama dengannya untuk membersihkan kandang kuda, justru memerintah Alphair untuk membersihkan dan menimba airnya sendiri, dengan alibi Alphair sering hilang saat bertugas.
Pria itu merutuk, entah sumpah serapahnya itu untuk para penjaga kuda bossy yang menyuruhnya ini-itu atau pada Kaisar Javier yang menyihirnya menjadi bagian dari kesialan ini.
Alphair mengikat tali sumur dengan gagang ember yang ia bawa. Setelah memeriksa tali tersebut cukup kuat, ia menurunkan pelan-pelan ember tersebut.
Tali yang ia pegang sudah berada di ujung, namun air dalam sumur itu seolah tak ada sama sekali karena ember yang ia tahan masih sama ringannya. Alphair berjinjit untuk memeriksa lebih dalam isi sumur tersebut, memastikan apakah sumur sudah kering atau memang hanya airnya yang surut.
Kejadian tak terduga terjadi. Alphair bisa merasakan seseorang— ah, tidak, mungkin beberapa orang yang berdiri tepat di belakangnya. Belum sempat Alphair berbalik, mereka yang berada serempak mendorong punggung Alphair hingga terjatuh ke dalam sumur.
Kepalanya terantuk batu beberapa kali, pakaian Alphair pun sobek di beberapa bagian karena goresan batu yang tajam, belum lagi posisinya yang kepala mendarat lebih dulu daripada tubuh, entah bagaimana jadinya. Alphair berani bertaruh, jika ia hanyalah manusia biasa, pasti dirinya sudah mati di bawah sini.
"Rasakan itu!"
"Mati saja. Tak ada orang yang membutuhkanmu!"
Sayup-sayup Alphair mendengar umpatan orang-orang yang ditujukan kepadanya. Mereka salah. Alphair tak selemah itu untuk mati sekarang. Masih banyak lagi yang perlu ia lakukan, salah satunya memberi pelajaran kepada mereka, lihat dan tunggu saja tanggal mainnya.
Manusia bodoh, sudah dibantu membersihkan kandang kuda seharian, justru malah berniat membunuh dirinya.
Setelah orang-orang itu pergi, Alphair mendongak. Ternyata sumur tersebut sudah kering hingga saat ini ia telah menginjak dasarnya yang bahkan tak ada air sama sekali. Lagi-lagi Alphair merasa dibodohi karena mau saja mengikuti langkah menyesatkan yang menyeretnya pada masalah baru, mau saja diperintah.
Setelah dipikir-pikir, pasti mereka sudah tahu bahwa sumur ini telah kering dan tak terpakai lagi sehingga saat Alphair terkurung di dalamnya tak ada satupun yang tahu atau membantu. Cerdas, tapi Alphair lebih cerdas dari itu!
Alphair menyapukan pandangan ke segala arah untuk mencari cara agar bisa naik ke atas. Dinding sumur yang terbuat dari susunan batu besar ini sudah dipenuhi oleh banyak lumut hijau yang licin untuk dipijak. Alphair ingin menggunakan sihirnya dan berubah menjadi burung, tapi itu sangat beresiko jika sampai ada orang yang melihatnya.
Alphair mencoba untuk meraba-raba dinding sumur di tengah kegelapan. Dingin dan licin, sampai pria itu tak sengaja meraba sebuah ada dinding yang memiliki struktur berbeda sontak menimbulkan kecurigaan dalam diri Alphair. Rasa penasarannya semakin menjadi kala Alphair mengetuk bagian dinding tersebut, menghasilkan bunyi yang lebih keras dari dinding lain menandakan bahwa dinding tersebut tak terbuat dari batu layaknya sumur.
Lelaki bersurai cokelat itu lagi-lagi mencari petunjuk baru. Ada sebuah gagang kecil di ujung dinding.
Jelas-jelas ada sebuah pintu disini!
Tapi apa benar ada pintu di dalam sumur?
Perlahan, Alphair menarik gagang pintu ke bawah, pelan sekali sampai tak menimbulkan suara sedikitpun. Di dalam ruangan, terlihat layaknya seperti gubuk tua yang terawat. Kursi-kursi dari kayu mahoni mengelilingi sebuah meja yang tersusun apik di sudut ruangan sebelah kanan. Lurus di depannya terdapat lorong sempit yang sepertinya hanya bisa dimasuki satu orang, terlihat sangat rahasia. Tentu saja sangat rahasia, mana ada orang yang memikirkan sumur sebagai gudang penyimpanan?
Alphair berjalan pelan semakin masuk ke dalam ruangan. Tak ada penerangan sama sekali, ditambah keadaan yang gelap total sejak awal. Tak masalah, Alphair masih bisa melihat dengan jelas.
Sepanjang lorong, Alphair berpikir. Apa sebegitu tak-amannya kah istana sampai-sampai raja terpikir untuk membuat tempat seperti ini?
Karena ruangan sempit, Alphair hanya melihat satu ruangan disebelah kanan dari pintu masuk. Berbeda dari sebelumnya, ruangan yang dilengkapi pintu sekuat baja ini jauh lebih besar dari ruangan-ruangan yang dilaluinya tadi, namun hal tersebut bukanlah alasan Alphair untuk menurunkan kewaspadaannya.
Tidak ada kunci, terpaksa Alphair menggunakan sedikit kekuatannya. Dengan sekali sentuh, pintu sekuat baja itu berhasil dilelehkan Alphair dengan kekuatan api Phoenix. Bak batu es yang disiram air mendidih, pintu tersebut mencair seketika.
Ruangan yang diperkirakan seluas aula istana Aldergo itu hanya diterangi oleh empat buah obor di setiap sudut. Meski ruangan temaram, Alphair bisa melihat dengan jelas pada sebuah kotak kaca bening seukuran peti harta karun yang menyimpan suatu barang jauh di depan sana.
Alphair bergeming, tampak memikirkan sesuatu, tapi yang jelas, benda yang berada dalam peti tersebut bukanlah benda sembarangan.