Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Calon Menantu
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Sore hari Naya sudah kembali ke Mansion di
antar oleh Monica sampai di gerbang depan.
Untuk sementara ini Naya bisa bebas karena
tidak ada jadwal manggung bersama dengan
grup musik nya. Dia juga belum berencana
untuk berhenti bernyanyi atau keluar dari grup
gambus nya itu.
Naya sedikit bingung saat seorang pelayan bagian dapur meminta bantuannya untuk menyiapkan berbagai macam hidangan, makanan dan juga minuman dengan berbagai macam rasa. Semua
pelayan tampak sangat sibuk.
"Ada apa sebenarnya mbak?"
Naya bertanya pada salah seorang pelayan
saat dia membantu meracik minuman .
"Ada teman-teman sosialita nya Nyonya besar.
Mereka mengadakan arisan di sini."
"Ohh..memang biasanya selalu sibuk seperti
ini ya.?"
"Iya..apalagi sekarang ada Nona Felicia.
Kayaknya Nyonya besar mau pamer deh sama teman-teman nya soal Nona Feli.."
Naya terdiam sesaat, ada Felicia juga.? Hatinya
langsung resah seketika.
"Aku yakin, Nyonya Besar mau mengenalkan
Nona Feli pada teman-teman arisannya."
Ucap pelayan tadi sambil kemudian melangkah
pergi membawa nampan berisi kue basah
beranekaragam.
Pikiran Naya langsung kacau, apa sebenarnya
yang di rencanakan oleh ibu mertuanya itu.?
Ahh sudahlah.! biarkan saja semuanya. Naya
mencoba menepis berbagai pertanyaan dalam
otaknya, dia fokus menyiapkan minuman ke
atas nampan.
Beberapa pelayan sudah duluan menuju ruang keluarga dengan membawa bagian masing-
masing. Setelah siap Naya melangkah masuk
ke ruang keluarga.
Sementara itu di ruang keluarga...
"Hai..jeng jeng semuanya, mumpung kita kumpul
disini, moment nya sangat pas nih, saya mau
memperkenalkan seseorang yang spesial pada
kalian semua.."
Nyonya Elen memulai pembicaraan. Semua
temannya terlihat saling lirik penasaran.
"Siapa itu Jeng.? bikin penasaran aja.?"
Nyonya Elen merangkul Feli yang duduk di sampingnya dengan senyum merekah di bibir
merah apelnya.
"Kenalkan..ini Felicia..calon mantu saya."
Deg !
Naya yang baru muncul di ruangan itu tampak
berdiri dengan kaki sedikit gemetar. Matanya
menatap kosong kearah Nyonya Elen dan Feli.
Apa yang barusan di dengarnya? calon mantu.?
Naya menghembuskan napasnya perlahan.
Mencoba sebisa mungkin untuk menguasai diri.
"Waahh.. benarkah ? cantik banget ya Jeng Elen. Sangat cocok untuk jadi pasangan Tuan Muda.."
"Iya..dia cukup sepadan dengan putramu yang
sempurna itu.."
Terdengar komentar teman-teman Nyonya Elen
yang rata-rata adalah istri-istri pengusaha dan
pejabat. Mata mereka tampak langsung tertuju
pada Feli, ada decak kagum yang terlontar dari
mulut ibu-ibu sosialita itu.
"Tapi kalau boleh jujur nih ya, sebenarnya saya
sedikit kecewa, kenapa anda tidak memilih putri
saya saja Jeng.."
Sahut yang lain dengan wajah kecewanya. Feli
yang duduk di samping Nyonya Elen tampak
tersipu dan tersenyum canggung.
"Itu benar Jeng Elen, saya rasa putri saya pun
cukup memenuhi standar kok."
Sahut yang lain dengan wajah tidak kalah
kecewanya. Mereka terdengar saling menyahut.
Naya berjalan pelan dengan menundukan wajah
menuju ke meja besar yang berada di tengah
lingkaran sofa mewah tersebut.
Melihat kemunculan Naya Nyonya Elen dan Feli
tampak langsung bereaksi tidak senang.
"Ohh.. maaf ya Nyonya Soraya, calon mantu
saya itu..haruslah seorang wanita yang cukup sempurna. Dia harus memenuhi standar
persyaratan yang sudah di tetapkan oleh
Putra saya.."
Nyonya Elen berucap dengan suara yang sedikit
keras. Feli menatap datar kearah Naya dan
meneliti reaksi wajah Naya yang saat ini tampak semakin menundukan wajah dan memejamkan matanya.
"Dan satu hal lagi yang paling penting.."
Nyonya Elen menatap tajam kearah Naya yang
kini mulai berkeliling menawarkan minuman
pada tamu-tamu nya Nyonya Elen.
"Wanita itu harus ter-hor-mat ! dan..dia juga
harus lah wanita yang di inginkan sendiri oleh
putra saya yang berharga.!"
Naya tidak tahan, dia terdiam dengan merapatkan
pegangan tangannya di pinggir nampan.
"Dia juga harus wanita hebat yang memilki
banyak keistimewaan dan kemampuan..!"
Sambung Nyonya Elen di angguki oleh teman-
temannya yang saat ini sedang memperhatikan
gerak gerik Naya. Entah kenapa mata para ibu
sosialita itu tampak sangat tertarik pada sosok
pelayan cantik itu.
Naya sampai di depan Feli, keduanya saling
melihat satu sama lain sejenak. Feli berdiri dan mengambil minuman dari atas nampan.Namun tiba-tiba Nyonya Elen ikut berdiri dan entah
sengaja atau tidak dia menyenggol tangan Feli
hingga minuman yang di ambilnya terdorong
dan menyiram tubuh bagian depan Naya.
"Akhh.."
Naya memekik seraya mundur. Dia menatap
Feli yang menutup mulut nya dengan mata
seolah sangat terkejut.
Nyonya Elen tampak langsung memerah
wajahnya saat melihat kecerobohan yang
di alamatkan pada Naya tersebut.
Semua teman-teman nya terlihat saling pandang
dan menatap ketiga orang yang tampak sedang
bersitegang tersebut. sementara Feli hanya
terdiam dengan wajah yang terlihat sangat
menyesal tersebut.
"Dasar pelayan rendahan ! Apa kamu bisa
bekerja dengan baik hehh..? Kamu sudah
membuat minuman Feli ku tumpah.!"
Nyonya Elen berteriak kencang sambil mendorong tubuh Naya hingga dia terjatuh dan nampan
beserta gelas minuman yang tersisa jatuh
berantakan.Semuanya pecah berserakan di
atas lantai yang basah. Naya memejamkan
matanya kuat.
"Maaf Nyonya, tapi itu bukan kesalahan saya."
Lirih Naya yang masih terduduk dengan pakaian
yang sudah basah di mana-mana.
"Apa katamu.? jadi kamu pikir itu adalah kesalahan
calon menantu saya.?"
Naya menunduk, sungguh kehormatan dan harga
dirinya seakan terinjak saat ini. Nyonya Elen maju
dan berdiri di hadapan Naya. Feli ikut melangkah
menghampiri Nyonya Elen meraih bahunya dan
mencoba mengelusnya dengan lembut.
"Sudah Mami..ini memang salah Feli."
"Tidak sayang, ini memang salah pelayan ini.!
Apa yang bisa kamu banggakan sebagai seorang
wanita kalau kerja begini saja tidak becus.!"
Omel Nyonya Elen seraya berkacak pinggang di
depan Naya yang mencoba berdiri masih
menunduk di hadapan Nyonya Elen.
"Sudah Mami..tahan emosimu..Mami harus
ingat kesehatan Mami.."
Feli kembali berucap dengan lembut dengan
menatap sekilas kearah Naya.
"Kamu lihat Feli sayang..Mana bisa wanita
seperti ini di sandingkan dengan dirimu. Bagai
langit dan bumi.!"
Hina Nyonya Elen dengan ketusnya sambil kembali mendorong bahu Naya lalu mengangkat tangannya seolah jijik karena telah menyentuh bahu basah Naya .
Naya masih terdiam dengan memejamkan
matanya, mencoba menahan serbuan air mata
yang kini meronta. Apa ini ya Tuhan..??
Sementara itu di ruang depan Pak Ali tampak
terkejut melihat kedatangan Aham yang tidak
biasanya. Apa karena dia tahu ada Feli saat ini?
Yang menjadi ketakutan Pak Ali saat ini adalah
tentang keributan yang terjadi di ruang keluarga.
Duhh..Nona Muda..entah nasib buruk apalagi
yang akan menimpa nya kali ini.
Aham berjalan dengan memasang wajah
datarnya. Sayup-sayup dia mendengar suara
ribut dan teriakan cempreng dari mulut ibu kandungnya. Rahang Aham tampak mengeras, wajahnya terlihat semakin dingin. Dia semakin
mempercepat jalannya.
"Apa yang kamu tunggu ! cepat bersihkan semua
kekacauan akibat kebodohan kamu ini.!!"
Bentak Nyonya Elen, lagi-lagi dia mendorong
keras tubuh Naya dengan mata yang hampir
keluar seluruh nya, sontak saja tubuh Naya
terhuyung ke belakang dan sedikit tergelincir
karena air minuman yang tumpah di lantai.
Namun saat dia kembali akan terjatuh, Aham
yang muncul bertepatan langsung meraih tubuh
mungil itu kedalam rengkuhannya. Keduanya kini
saling pandang kuat, air mata Naya yang sedari
tadi coba ditahannya kini langsung luruh begitu
saja. Dia mencengkram kuat jas Aham dan
menyusupkan wajahnya ke dada bidang laki-
laki itu. Tangisnya kini pecah tak terbendung.
Mata semua orang tampak terbelalak melihat
pemandangan yang tak terduga itu. Mereka diam
di tempat dengan bibir menganga dan mata yang
di penuhi oleh kekagetan sekaligus ketakutan.
Tatapan Aham kini jatuh menghujam kearah
Nyonya Elen dan Feli.
"Aham sayang..apa yang kau lakukan..pelayan itu
tadi ingin membuat Feli malu.."
Nyonya Elen tergagap saat dia melihat Aham
semakin mempererat pelukannya pada tubuh
Naya. Sementara Feli tampak menatap tidak
suka melihat apa yang di lakukan Aham pada
wanita yang kini sedang menyembunyikan
tangisnya di dada laki-laki pujaannya itu.
Semua orang menunduk saat melihat Aham
mengetatkan rahang nya tanpa berbicara. Tapi
aura dingin yang keluar dari dirinya seakan telah
membekukan semua orang. Aham melonggarkan pelukannya, setelah itu dia menarik tangan Naya
di bawa melangkah pergi dari ruangan itu .
Semua orang menatapnya takut-takut kearah
kepergiannya. Ada sejuta pertanyaan dan rasa
penasaran dengan semua yang telah terjadi.
Akhirnya mereka bisa menarik napas sedikit
lega setelah memastikan sosok Aham benar-
benar menghilang dibalik pintu ruangan.
"Jeng Elen, apa anda yakin wanita tadi adalah
pelayan di rumah ini.?"
Tanya salah seorang temannya mencoba
mencari jawaban dari rasa penasarannya.
Nyonya Elen tampak melirik temannya itu dengan
cepat dan sedikit terkejut dengan perkataan nya.
Dia berusaha kembali memasang wajah manisnya
walau hatinya saat ini dipenuhi oleh amarah dan kekesalan atas apa yang dilakukan Aham barusan.
"Tentu saja Jeng Meli..dia memang pelayan di
rumah ini.!"
Jawabnya dengan senyum yang di paksakan.
"Saya rasa anda tidak perlu sekeras itu padanya.
Lagi pula saya kok merasa kalau dia tidak cocok
ya jadi pelayan.."
Ujar temannya itu. Nyonya Elen tampak kembali
duduk bersama dengan Feli yang masih memasang wajah kesal sekaligus cemburu mengingat perlakuan Aham tadi terhadap Naya.
Sesungguhnya Feli tidak ingin munafik, tadi
hatinya sempat menjerit senang saat melihat perlakuan kasar Nyonya Elen pada Naya. Tapi
dia juga tidak ingin terlihat jahat di mata semua
orang. Namun kini semua kesenangannya itu
berubah jadi rasa kecewa dan sedikit marah
karena Aham cenderung membela wanita itu.
"Tidak apa Nyonya Dewi, itu pelajaran bagi para
pelayan ceroboh seperti dia. Di sini tidak boleh
ada sedikit pun kesalahan. Biasa lah..dia pelayan
baru di sini.."
Kilah Nyonya Elen, dia melirik kearah Feli dan mengelus punggung nya penuh sayang mencoba
menentramkan hati gadis itu .
"Ohh..dia pelayan baru toh ? tapi saya kok merasa
dia kurang cocok ya untuk bekerja sebagai pelayan.
Wajahnya terlihat sangat cantik, dia tidak terlihat
dari kelas bawah, saya lihat dia memiliki sesuatu
yang istimewa dalam dirinya."
"Benar Nyonya Dewi, saya juga merasa seperti
mengenal gadis itu..tapi dimana ya.? saya sering
melihat nya dimana..gitu..duhh lupa.."
Seorang lagi menyahuti dengan memegang
kepalanya mencoba mengingat sesuatu.
Nyonya Elen tampak mengetatkan rahang nya
mendengar ucapan temannya itu. Feli juga
terlihat sedikit berubah raut wajahnya. Ada
rasa panas dalam hatinya saat mendengar
pembicaraan ibu-ibu tadi.
"Walau hanya sekilas, tapi saya lihat dia sangat
cantik.! saya ragu kalau dia pelayan di sini..Pasti
ada yang aneh di sini. Kita lihat kan bagaimana
reaksi Tuan Muda tadi.?"
"Saya rasa juga begitu, seperti nya mereka cukup
dekat dan mengenal satu sama lain. Lagian dia
juga tidak menggunakan seragam pelayan seperti yang lain.."
Bisik salah seorang pada temannya.
"Iya..saya juga merasa begitu. Saya berani kok
membawa dia untuk di jadikan menantu untuk
putra sulung saya.."
Sahut yang satunya di sambut senyum kecil
temannya yang tadi.
"Saya benar-benar familiar dengan wajahnya itu.
Seperti pernah melihat nya gitu.."
Nyonya Elen semakin merasa terbakar amarahnya
saat mendengar obrolan kecil teman-temannya
itu. Dia mengelus tangan Feli dan menatapnya
untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Sementara Aham membawa Naya naik ke kamar
nya dan langsung di bawa masuk ke dalam kamar
mandi. Keduanya kini terdiam saling berhadapan.
Naya masih menumpahkan air matanya.
Aham menatap tajam wajah Naya dengan sorot
mata yang sangat rumit. Ada kemarahan, rasa iba
dan entah apa lagi yang kini memenuhi dadanya.
"Kenapa kamu bertahan dengan semua kebodohan
yang kau ciptakan sendiri.?"
Geram Aham. Naya tetap menunduk dengan sisa
sedu sedannya.
"Kamu punya mulut untuk apa.? punya akal untuk apa ? untuk jadi bahan lelucon orang lain ? Kau
bukan wanita bodoh kan.?"
Cecar Aham dengan rahang yang semakin
mengeras. Perlahan Naya mendongak, menatap
redup wajah Aham yang terlihat begitu dingin.
"Aku di sini bukan siapa-siapa ! Aku hanya
seorang pelayan..Apa yang bisa aku banggakan.?"
"Kau punya harga diri.! dimana dirimu yang
angkuh dan percaya diri.?!"
"Dia ibumu Aham..!!"
Pekik Naya menutup wajahnya. Aham terhenyak.
Dia menatap lekat wajah Naya yang kacau.
Tangan Aham semakin terkepal. Gejolak dalam
dirinya seakan membuat dia gila saat ini. Wanita
ini membiarkan harga dirinya terluka !
Dengan cepat Aham meraih tubuh Naya kedalam
pelukannya. Naya membalas pelukan itu dengan
kembali terisak pilu.
"Aku butuh pengakuan mu Aham.. Aku tidak
punya kekuatan di rumah ini tanpa pengakuan mu.!"
"Dasar wanita bodoh.! "
Geram Aham seraya memejamkan matanya. Dia
semakin mempererat pelukannya.
Entah apa yang saat ini di rasakan nya, yang jelas
dia ingin memberi kedamaian dan ketenangan
pada wanita ini, dia juga ingin menghapus semua kesedihan yang di rasakannya saat ini.
Air kran mengucur deras membasahi tubuh Naya.
Perlahan Aham membuka kerudung yang di pakai
oleh Naya, mata mereka terpaut dalam. Sorot
mata sendu itu kini mulai membakar aliran
darah Aham.
Tangan Aham bergetar saat dia mulai
menyentuh pipi halus mulus Naya yang merah
merona. Belaian tangannya berakhir di bibir
ranum yang mampu mengusik pikirannya
beberapa hari ini. Di tatapnya lekat bibir itu.
"Biarkan aku membersikan diriku.."
Tangan Aham terhenti. Sorot matanya di penuhi
dengan kekecewaan dan kehampaan.
"Aku mohon..biarkan aku sendiri."
Lirih Naya dengan menatap lembut wajah Aham.
Dengan menghembuskan napas kasar akhirnya
Aham mengangguk. Dengan berat hati dia keluar
dari dalam kamar mandi. Naya menatap punggung
Aham seraya menarik napas berat.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung.....
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪