NovelToon NovelToon
Cinta Sebening Embun

Cinta Sebening Embun

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:18.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Shan Syeera

Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.

Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.

Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.

Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.

Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..

Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?

Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..


**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Calon Menantu

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

♥️♥️♥️♥️♥️

Sore hari Naya sudah kembali ke Mansion di

antar oleh Monica sampai di gerbang depan.

Untuk sementara ini Naya bisa bebas karena

tidak ada jadwal manggung bersama dengan

grup musik nya. Dia juga belum berencana

untuk berhenti bernyanyi atau keluar dari grup

gambus nya itu.

Naya sedikit bingung saat seorang pelayan bagian dapur meminta bantuannya untuk menyiapkan berbagai macam hidangan, makanan dan juga minuman dengan berbagai macam rasa. Semua

pelayan tampak sangat sibuk.

"Ada apa sebenarnya mbak?"

Naya bertanya pada salah seorang pelayan

saat dia membantu meracik minuman .

"Ada teman-teman sosialita nya Nyonya besar.

Mereka mengadakan arisan di sini."

"Ohh..memang biasanya selalu sibuk seperti

ini ya.?"

"Iya..apalagi sekarang ada Nona Felicia.

Kayaknya Nyonya besar mau pamer deh sama teman-teman nya soal Nona Feli.."

Naya terdiam sesaat, ada Felicia juga.? Hatinya

langsung resah seketika.

"Aku yakin, Nyonya Besar mau mengenalkan

Nona Feli pada teman-teman arisannya."

Ucap pelayan tadi sambil kemudian melangkah

pergi membawa nampan berisi kue basah

beranekaragam.

Pikiran Naya langsung kacau, apa sebenarnya

yang di rencanakan oleh ibu mertuanya itu.?

Ahh sudahlah.! biarkan saja semuanya. Naya

mencoba menepis berbagai pertanyaan dalam

otaknya, dia fokus menyiapkan minuman ke

atas nampan.

Beberapa pelayan sudah duluan menuju ruang keluarga dengan membawa bagian masing-

masing. Setelah siap Naya melangkah masuk

ke ruang keluarga.

Sementara itu di ruang keluarga...

"Hai..jeng jeng semuanya, mumpung kita kumpul

disini, moment nya sangat pas nih, saya mau

memperkenalkan seseorang yang spesial pada

kalian semua.."

Nyonya Elen memulai pembicaraan. Semua

temannya terlihat saling lirik penasaran.

"Siapa itu Jeng.? bikin penasaran aja.?"

Nyonya Elen merangkul Feli yang duduk di sampingnya dengan senyum merekah di bibir

merah apelnya.

"Kenalkan..ini Felicia..calon mantu saya."

Deg !

Naya yang baru muncul di ruangan itu tampak

berdiri dengan kaki sedikit gemetar. Matanya

menatap kosong kearah Nyonya Elen dan Feli.

Apa yang barusan di dengarnya? calon mantu.?

Naya menghembuskan napasnya perlahan.

Mencoba sebisa mungkin untuk menguasai diri.

"Waahh.. benarkah ? cantik banget ya Jeng Elen. Sangat cocok untuk jadi pasangan Tuan Muda.."

"Iya..dia cukup sepadan dengan putramu yang

sempurna itu.."

Terdengar komentar teman-teman Nyonya Elen

yang rata-rata adalah istri-istri pengusaha dan

pejabat. Mata mereka tampak langsung tertuju

pada Feli, ada decak kagum yang terlontar dari

mulut ibu-ibu sosialita itu.

"Tapi kalau boleh jujur nih ya, sebenarnya saya

sedikit kecewa, kenapa anda tidak memilih putri

saya saja Jeng.."

Sahut yang lain dengan wajah kecewanya. Feli

yang duduk di samping Nyonya Elen tampak

tersipu dan tersenyum canggung.

"Itu benar Jeng Elen, saya rasa putri saya pun

cukup memenuhi standar kok."

Sahut yang lain dengan wajah tidak kalah

kecewanya. Mereka terdengar saling menyahut.

Naya berjalan pelan dengan menundukan wajah

menuju ke meja besar yang berada di tengah

lingkaran sofa mewah tersebut.

Melihat kemunculan Naya Nyonya Elen dan Feli

tampak langsung bereaksi tidak senang.

"Ohh.. maaf ya Nyonya Soraya, calon mantu

saya itu..haruslah seorang wanita yang cukup sempurna. Dia harus memenuhi standar

persyaratan yang sudah di tetapkan oleh

Putra saya.."

Nyonya Elen berucap dengan suara yang sedikit

keras. Feli menatap datar kearah Naya dan

meneliti reaksi wajah Naya yang saat ini tampak semakin menundukan wajah dan memejamkan matanya.

"Dan satu hal lagi yang paling penting.."

Nyonya Elen menatap tajam kearah Naya yang

kini mulai berkeliling menawarkan minuman

pada tamu-tamu nya Nyonya Elen.

"Wanita itu harus ter-hor-mat ! dan..dia juga

harus lah wanita yang di inginkan sendiri oleh

putra saya yang berharga.!"

Naya tidak tahan, dia terdiam dengan merapatkan

pegangan tangannya di pinggir nampan.

"Dia juga harus wanita hebat yang memilki

banyak keistimewaan dan kemampuan..!"

Sambung Nyonya Elen di angguki oleh teman-

temannya yang saat ini sedang memperhatikan

gerak gerik Naya. Entah kenapa mata para ibu

sosialita itu tampak sangat tertarik pada sosok

pelayan cantik itu.

Naya sampai di depan Feli, keduanya saling

melihat satu sama lain sejenak. Feli berdiri dan mengambil minuman dari atas nampan.Namun tiba-tiba Nyonya Elen ikut berdiri dan entah

sengaja atau tidak dia menyenggol tangan Feli

hingga minuman yang di ambilnya terdorong

dan menyiram tubuh bagian depan Naya.

"Akhh.."

Naya memekik seraya mundur. Dia menatap

Feli yang menutup mulut nya dengan mata

seolah sangat terkejut.

Nyonya Elen tampak langsung memerah

wajahnya saat melihat kecerobohan yang

di alamatkan pada Naya tersebut.

Semua teman-teman nya terlihat saling pandang

dan menatap ketiga orang yang tampak sedang

bersitegang tersebut. sementara Feli hanya

terdiam dengan wajah yang terlihat sangat

menyesal tersebut.

"Dasar pelayan rendahan ! Apa kamu bisa

bekerja dengan baik hehh..? Kamu sudah

membuat minuman Feli ku tumpah.!"

Nyonya Elen berteriak kencang sambil mendorong tubuh Naya hingga dia terjatuh dan nampan

beserta gelas minuman yang tersisa jatuh

berantakan.Semuanya pecah berserakan di

atas lantai yang basah. Naya memejamkan

matanya kuat.

"Maaf Nyonya, tapi itu bukan kesalahan saya."

Lirih Naya yang masih terduduk dengan pakaian

yang sudah basah di mana-mana.

"Apa katamu.? jadi kamu pikir itu adalah kesalahan

calon menantu saya.?"

Naya menunduk, sungguh kehormatan dan harga

dirinya seakan terinjak saat ini. Nyonya Elen maju

dan berdiri di hadapan Naya. Feli ikut melangkah

menghampiri Nyonya Elen meraih bahunya dan

mencoba mengelusnya dengan lembut.

"Sudah Mami..ini memang salah Feli."

"Tidak sayang, ini memang salah pelayan ini.!

Apa yang bisa kamu banggakan sebagai seorang

wanita kalau kerja begini saja tidak becus.!"

Omel Nyonya Elen seraya berkacak pinggang di

depan Naya yang mencoba berdiri masih

menunduk di hadapan Nyonya Elen.

"Sudah Mami..tahan emosimu..Mami harus

ingat kesehatan Mami.."

Feli kembali berucap dengan lembut dengan

menatap sekilas kearah Naya.

"Kamu lihat Feli sayang..Mana bisa wanita

seperti ini di sandingkan dengan dirimu. Bagai

langit dan bumi.!"

Hina Nyonya Elen dengan ketusnya sambil kembali mendorong bahu Naya lalu mengangkat tangannya seolah jijik karena telah menyentuh bahu basah Naya .

Naya masih terdiam dengan memejamkan

matanya, mencoba menahan serbuan air mata

yang kini meronta. Apa ini ya Tuhan..??

Sementara itu di ruang depan Pak Ali tampak

terkejut melihat kedatangan Aham yang tidak

biasanya. Apa karena dia tahu ada Feli saat ini?

Yang menjadi ketakutan Pak Ali saat ini adalah

tentang keributan yang terjadi di ruang keluarga.

Duhh..Nona Muda..entah nasib buruk apalagi

yang akan menimpa nya kali ini.

Aham berjalan dengan memasang wajah

datarnya. Sayup-sayup dia mendengar suara

ribut dan teriakan cempreng dari mulut ibu kandungnya. Rahang Aham tampak mengeras, wajahnya terlihat semakin dingin. Dia semakin

mempercepat jalannya.

"Apa yang kamu tunggu ! cepat bersihkan semua

kekacauan akibat kebodohan kamu ini.!!"

Bentak Nyonya Elen, lagi-lagi dia mendorong

keras tubuh Naya dengan mata yang hampir

keluar seluruh nya, sontak saja tubuh Naya

terhuyung ke belakang dan sedikit tergelincir

karena air minuman yang tumpah di lantai.

Namun saat dia kembali akan terjatuh, Aham

yang muncul bertepatan langsung meraih tubuh

mungil itu kedalam rengkuhannya. Keduanya kini

saling pandang kuat, air mata Naya yang sedari

tadi coba ditahannya kini langsung luruh begitu

saja. Dia mencengkram kuat jas Aham dan

menyusupkan wajahnya ke dada bidang laki-

laki itu. Tangisnya kini pecah tak terbendung.

Mata semua orang tampak terbelalak melihat

pemandangan yang tak terduga itu. Mereka diam

di tempat dengan bibir menganga dan mata yang

di penuhi oleh kekagetan sekaligus ketakutan.

Tatapan Aham kini jatuh menghujam kearah

Nyonya Elen dan Feli.

"Aham sayang..apa yang kau lakukan..pelayan itu

tadi ingin membuat Feli malu.."

Nyonya Elen tergagap saat dia melihat Aham

semakin mempererat pelukannya pada tubuh

Naya. Sementara Feli tampak menatap tidak

suka melihat apa yang di lakukan Aham pada

wanita yang kini sedang menyembunyikan

tangisnya di dada laki-laki pujaannya itu.

Semua orang menunduk saat melihat Aham

mengetatkan rahang nya tanpa berbicara. Tapi

aura dingin yang keluar dari dirinya seakan telah

membekukan semua orang. Aham melonggarkan pelukannya, setelah itu dia menarik tangan Naya

di bawa melangkah pergi dari ruangan itu .

Semua orang menatapnya takut-takut kearah

kepergiannya. Ada sejuta pertanyaan dan rasa

penasaran dengan semua yang telah terjadi.

Akhirnya mereka bisa menarik napas sedikit

lega setelah memastikan sosok Aham benar-

benar menghilang dibalik pintu ruangan.

"Jeng Elen, apa anda yakin wanita tadi adalah

pelayan di rumah ini.?"

Tanya salah seorang temannya mencoba

mencari jawaban dari rasa penasarannya.

Nyonya Elen tampak melirik temannya itu dengan

cepat dan sedikit terkejut dengan perkataan nya.

Dia berusaha kembali memasang wajah manisnya

walau hatinya saat ini dipenuhi oleh amarah dan kekesalan atas apa yang dilakukan Aham barusan.

"Tentu saja Jeng Meli..dia memang pelayan di

rumah ini.!"

Jawabnya dengan senyum yang di paksakan.

"Saya rasa anda tidak perlu sekeras itu padanya.

Lagi pula saya kok merasa kalau dia tidak cocok

ya jadi pelayan.."

Ujar temannya itu. Nyonya Elen tampak kembali

duduk bersama dengan Feli yang masih memasang wajah kesal sekaligus cemburu mengingat perlakuan Aham tadi terhadap Naya.

Sesungguhnya Feli tidak ingin munafik, tadi

hatinya sempat menjerit senang saat melihat perlakuan kasar Nyonya Elen pada Naya. Tapi

dia juga tidak ingin terlihat jahat di mata semua

orang. Namun kini semua kesenangannya itu

berubah jadi rasa kecewa dan sedikit marah

karena Aham cenderung membela wanita itu.

"Tidak apa Nyonya Dewi, itu pelajaran bagi para

pelayan ceroboh seperti dia. Di sini tidak boleh

ada sedikit pun kesalahan. Biasa lah..dia pelayan

baru di sini.."

Kilah Nyonya Elen, dia melirik kearah Feli dan mengelus punggung nya penuh sayang mencoba

menentramkan hati gadis itu .

"Ohh..dia pelayan baru toh ? tapi saya kok merasa

dia kurang cocok ya untuk bekerja sebagai pelayan.

Wajahnya terlihat sangat cantik, dia tidak terlihat

dari kelas bawah, saya lihat dia memiliki sesuatu

yang istimewa dalam dirinya."

"Benar Nyonya Dewi, saya juga merasa seperti

mengenal gadis itu..tapi dimana ya.? saya sering

melihat nya dimana..gitu..duhh lupa.."

Seorang lagi menyahuti dengan memegang

kepalanya mencoba mengingat sesuatu.

Nyonya Elen tampak mengetatkan rahang nya

mendengar ucapan temannya itu. Feli juga

terlihat sedikit berubah raut wajahnya. Ada

rasa panas dalam hatinya saat mendengar

pembicaraan ibu-ibu tadi.

"Walau hanya sekilas, tapi saya lihat dia sangat

cantik.! saya ragu kalau dia pelayan di sini..Pasti

ada yang aneh di sini. Kita lihat kan bagaimana

reaksi Tuan Muda tadi.?"

"Saya rasa juga begitu, seperti nya mereka cukup

dekat dan mengenal satu sama lain. Lagian dia

juga tidak menggunakan seragam pelayan seperti yang lain.."

Bisik salah seorang pada temannya.

"Iya..saya juga merasa begitu. Saya berani kok

membawa dia untuk di jadikan menantu untuk

putra sulung saya.."

Sahut yang satunya di sambut senyum kecil

temannya yang tadi.

"Saya benar-benar familiar dengan wajahnya itu.

Seperti pernah melihat nya gitu.."

Nyonya Elen semakin merasa terbakar amarahnya

saat mendengar obrolan kecil teman-temannya

itu. Dia mengelus tangan Feli dan menatapnya

untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Sementara Aham membawa Naya naik ke kamar

nya dan langsung di bawa masuk ke dalam kamar

mandi. Keduanya kini terdiam saling berhadapan.

Naya masih menumpahkan air matanya.

Aham menatap tajam wajah Naya dengan sorot

mata yang sangat rumit. Ada kemarahan, rasa iba

dan entah apa lagi yang kini memenuhi dadanya.

"Kenapa kamu bertahan dengan semua kebodohan

yang kau ciptakan sendiri.?"

Geram Aham. Naya tetap menunduk dengan sisa

sedu sedannya.

"Kamu punya mulut untuk apa.? punya akal untuk apa ? untuk jadi bahan lelucon orang lain ? Kau

bukan wanita bodoh kan.?"

Cecar Aham dengan rahang yang semakin

mengeras. Perlahan Naya mendongak, menatap

redup wajah Aham yang terlihat begitu dingin.

"Aku di sini bukan siapa-siapa ! Aku hanya

seorang pelayan..Apa yang bisa aku banggakan.?"

"Kau punya harga diri.! dimana dirimu yang

angkuh dan percaya diri.?!"

"Dia ibumu Aham..!!"

Pekik Naya menutup wajahnya. Aham terhenyak.

Dia menatap lekat wajah Naya yang kacau.

Tangan Aham semakin terkepal. Gejolak dalam

dirinya seakan membuat dia gila saat ini. Wanita

ini membiarkan harga dirinya terluka !

Dengan cepat Aham meraih tubuh Naya kedalam

pelukannya. Naya membalas pelukan itu dengan

kembali terisak pilu.

"Aku butuh pengakuan mu Aham.. Aku tidak

punya kekuatan di rumah ini tanpa pengakuan mu.!"

"Dasar wanita bodoh.! "

Geram Aham seraya memejamkan matanya. Dia

semakin mempererat pelukannya.

Entah apa yang saat ini di rasakan nya, yang jelas

dia ingin memberi kedamaian dan ketenangan

pada wanita ini, dia juga ingin menghapus semua kesedihan yang di rasakannya saat ini.

Air kran mengucur deras membasahi tubuh Naya.

Perlahan Aham membuka kerudung yang di pakai

oleh Naya, mata mereka terpaut dalam. Sorot

mata sendu itu kini mulai membakar aliran

darah Aham.

Tangan Aham bergetar saat dia mulai

menyentuh pipi halus mulus Naya yang merah

merona. Belaian tangannya berakhir di bibir

ranum yang mampu mengusik pikirannya

beberapa hari ini. Di tatapnya lekat bibir itu.

"Biarkan aku membersikan diriku.."

Tangan Aham terhenti. Sorot matanya di penuhi

dengan kekecewaan dan kehampaan.

"Aku mohon..biarkan aku sendiri."

Lirih Naya dengan menatap lembut wajah Aham.

Dengan menghembuskan napas kasar akhirnya

Aham mengangguk. Dengan berat hati dia keluar

dari dalam kamar mandi. Naya menatap punggung

Aham seraya menarik napas berat.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Bersambung.....

1
ayu cantik
bagus
Nunung Suwandari
Hai aku kembali untuk membaca ini 😍
Marhaban ya Nur17
klo ama melani terjadi keren neh Noah 😄😄😄😄 soalnya ama feli jg dapet
Marhaban ya Nur17
tinggal ngomong gtu doank banyak drama
Marhaban ya Nur17
naya diem bae y klo di tarik Noah wkwkkw
Marhaban ya Nur17
g habis pikir cerita wkwkkwk satu masalah belum kelar ada lg yg datang wkkwkwk aneh
Marhaban ya Nur17
dri part pertama ampe sekarang gw belum dapet fill nya
Marhaban ya Nur17
ngapa aham g bilang ke semua orang gtu msh nutup"
Marhaban ya Nur17
muter" itu aja deh kayanya wkkwkwkw alurnya lama, pembahasannya itu" aja gw mau udh n tp udh setengah jalan
Marhaban ya Nur17
bar" se yara wkekke
Marhaban ya Nur17
makanya jan sombong
Marhaban ya Nur17
elah lambat banget thor kek kura" alurnya
Marhaban ya Nur17
Lola amat se alurnya
Marhaban ya Nur17
kapan bucinnya aham 🤔🤔🤔
Rohayani
udh 2x baca tetep aja suka...
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪
Marhaban ya Nur17
knp se semua orang enteng banget tangannya
Marhaban ya Nur17
nah klo kaya gini kan ok àham
Marhaban ya Nur17
ternyata feli ama naya saudara an y
Marhaban ya Nur17
dri part pertama ampe sekarang gw benci ama pemain cowoknya wkwkkwkkw
Marhaban ya Nur17
pusing gw jg klo banyak harta wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!