Karena ditinggalkan oleh kekasihnya dalam keadaan hamil, Felinova terpaksa setuju menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya untuk menutupi aib keluarga.
Faisal Ramadhan, lelaki pekerja keras yang hidup sebatang kara dan pernah diasuh oleh keluarga Handoko pada akhirnya menikah dengan putri tunggal keluarga konglomerat itu sebagai bentuk balas budinya.
Kehidupan pernikahan yang dingin dan tanpa cinta membuat Feli tersiksa, terlebih setelah ia diasingkan di desa kecil bersama suaminya yang lebih tua 15 tahun darinya.
Sanggupkah Feli bertahan dan jatuh hati pada ketulusan Faisal? Atau pernikahan itu akan usai setelah si bayi lahir seperti kesepakatan di awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmiLovi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tendangan Kecil
Pemandangan pegunungan yang asri kini berganti menjadi deretan pemukiman padat penduduk. Mobil yang dicalter oleh Feli sudah melaju semakin jauh. Ia membawa serta Ajeng dan Bik Sum agar Faisal tak menyalahkan dua orang itu seandainya suaminya itu pulang dan tak menemukan siapapun di rumah.
Semalam Faisal tak mengijinkan Feli pergi ke kota, bahkan Faisal mengancam tidak akan menjemput Feli seandainya ia nekat pulang. Dan perkataan itu semakin membuat Feli yakin bila ia tak pernah dicintai, perlahan Feli paham bila Faisal masih tak bisa menerima kehadirannya di rumah itu. Hati Feli kembali sakit oleh penolakan yang secara halus dilontarkan oleh Faisal, hingga akhirnya ia bertekad akan pulang meskipun Faisal tak menginjinkan.
"Mamiiii ... Feli datang!" teriakan Feli menggema memenuhi seluruh ruangan ketika akhirnya ia sampai di rumah megah keluarganya.
Ajeng yang baru kali ini menginjakkan kaki di rumah semegah istana, tak kuasa menahan takjub dan kagumnya ada setiap sudut rumah dan segala pernak-perniknya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke ruang tamu, Sartika kemudian muncul dari balik lorong sembari merentangkan tangan untuk memeluk putri yang sangat ia rindukan.
"Feliii ... Mami kangenn!"
Feli mengeratkan pelukannya penuh kerinduan. "Feli juga kangen Mami!"
Merasa sesuatu menahan pelukan keduanya, Sartika buru-buru mengurai dan memperhatikan perut Feli yang mulai buncit.
"Aaaaa, calon cucu Granmy udah gede ya sekarang! Uluuu uluuu ..." Sartika mengelus perut Feli dengan lembut.
Tanpa sadar Feli tersenyum haru melihat Maminya sangat sayang pada janin di dalam perutnya. Belaian-belaian lembut itu membuat sesuatu di dalam perutnya seperti sedang menggelitik dari dalam. Feli terhenyak untuk sesaat.
"Kalian sudah makan? Mami tadi masak spesial buat kalian!"
Sartika mengulurkan tangannya pada Ajeng yang sedari tadi berdiri mematung di belakangnya. Dengan sigap Ajeng mendekat dan menyalami tangan Sartika dengan hangat.
"Yuk, Ajeng kita makan!" perintahnya sembari menarik Ajeng masuk.
Feli yang masih syok dengan gerakan yang sangat tiba-tiba dari dalam perutnya, tak menggubris perkataan Sartika. Ia memberanikan diri membelai perutnya sekali lagi untuk memastikan bila feelingnya benar. Janinnya tadi menendang meskipun dengan gerakan yang sangat perlahan. Dan saat tangannya mulai menempel di perut, sebuah sapaan berupa tendangan kecil membuat mata Feli semakin terbelalak.
"Non, kok malah ngelamun!"
Feli tersentak, ia menurunkan tangannya dengan cepat. Ia menolehi Bik Sum yang tengah kerepotan membawa koper milik Feli. Sudut matanya mulai basah, Feli lekas mengusap air matanya itu sebelum semua orang menyadarinya.
"Hai, Baby!" sapanya sembari membelai perutnya sekali lagi. "Mommy's here ..."
.
.
Seharian ini Feli mengajak Ajeng jalan-jalan ke mall. Bagi gadis desa seperti Ajeng yang baru pertama kali menginjakkan kaki di mall, menyusuri semua jejeran store dan butik itu ibarat mimpi yang jadi kenyataan. Terlebih saat Feli mengajaknya masuk ke sebuah butik di mana semua baju dan underwearnya saja seharga jutaan! Ajeng terlihat sangat norak dengan segala kepolosannya.
"Jeng, kita beli kembaran, yuk!" Feli merentangkan sebuah baju tidur dan menunjukkannya pada Ajeng.
Ajeng berlari mendekat, ia memperhatikan pricetag yang menggantung di kerah baju dan terbelalak saat melihat jumlah angka nol yang berderet di sana.
"Ini harga semua baju atau harga satu baju ini aja, Mbak?" tanya Ajeng syok sembari menunjuk satu deret gantungan yang berisi puluhan model baju tidur.
Feli tertawa. "Harga satu baju lah! Kalo satu deret nanti tuker sama mobil yang kita calter tadi!"
Bola mata Ajeng semakin terbelalak lebar. "Jangan deh, Mbak. Mending beli baju di pasar aja, lebih murah!"
"Tapi di pasar nggak ada baju tidur lucu kaya gini, Jeng!"
"Mbak Feli aja deh yang beli. Kalo aku yang pake kayanya nggak cocok," keluh Ajeng.
Feli mengernyit bingung. "Kenapa begitu?"
"Wajah ndeso kaya aku gini mana cocok pake beginian, Mbak!"
"Ih, Ajeng! Jangan ngomong gitu. Kamu cantik kok. Mau wajah ndeso atau apalah itu, jangan pedulikan omongan orang!" cecar Feli gemas.
Ajeng tersenyum malu. "Iya, Mbak."
"Awas ya kalo aku denger kamu ngomong kaya gitu lagi. Aku jodohin kamu sama Zul!"
Ajeng tersentak dan menggeleng cepat. "Ih, nggak mau, Mbak!"
Feli tertawa keras. Ia lantas menyerahkan empat setel baju tidur pada pramuniaga. Semua baju tidur itu model one set lengan panjang. Tinggal di daerah pegunungan yang hawanya dingin membuat Feli harus memiliki banyak stok baju panjang dan jaket.
Usai membayar dengan menggunakan kartu kreditnya, Feli mengajak Ajeng untuk makan di Restoran Jepang. Kenorakan Ajeng kembali menjadi hiburan bagi Feli. Karena gemas tak kunjung bisa menggunakan sumpit, lantas Ajeng memakan sushi itu dengan cara menusukkan sumpit tadi seperti menggunakan garpu. Rasa soyu yang masih asing di lidah Ajeng membuatnya kapok mencicipinya lagi.
"Setelah ini kita mampir dulu ke suatu tempat ya, Jeng." Feli mengusap sisa makanan di sudut bibirnya dengan menggunakan tisu.
"Jalan-jalan lagi? Mbak Feli nggak capek?"
Feli menggeleng. "Aku mau ke apartemen seseorang dulu sebentar. Nanti kamu nunggu di mobil aja, oke?"
...****************...