Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Iren terkejut saat melihat sekilas sosok mirip Arini menatapnya lalu menghilang begitu saja. Namun tidak mungkin Iren mengejarnya, dia harus profesional, dia harus tetap fokus hingga proses pengambilan gambar berakhir.
Usai pengambilan gambar Iren mendekati Sari yang sedang sibuk membereskan beberapa barang. Dia ingin memastikan sosok yang dilihatnya mirip Arini itu.
"Maaf Mba, ada yang bisa saya bantu? Kelihatannya Mba kerepotan." tanya Iren basa-basi.
"Nggak usah Mba, saya bisa melakukannya sendiri. Mba Iren duduk manis saja ya."
"Asistennya kemana Mba, kan Mba jadi repot sendiri." Iren berusaha menyelidiki sesuatu.
"Tadi ada, dia pulang duluan karena nggak enak badan."
"Asisten Mba yang tadi berdiri di situ bukan?" Iren menunjuk tempat Arini berdiri tadi.
"Oh..., iya tadi sempet di situ. Memang kenapa Mba?" tanya Sari merasa aneh.
"Kayanya aku kenal deh, mirip banget sama temenku dulu."
"Mba Iren kenal sama Arini? waah beruntung banget Arini ya, punya temen artis kaya Mba."
"Jadi bener tadi Arini ya?" Iren merasa menang karena akhirnya menemukan jejak Arini.
"Iya bener namanya Arini, dia salah satu staf di divisi saya."
"Apa Mba punya nomor handphone Arini?"
"Iya ada, ini Mba safe aja." jawab Sari sambil menunjukan kontak Arini.
" Makasih ya Mba." Ucap Iren sambil membantu Sari membereskan barang-barangnya. Memang soal akting Iren ahlinya.
"Ehh, Mba udah dibilang nggak usah kok." Sari merasa tidak enak hati.
"Nggak papa kok Mba, ini pekerjaan ringan."
Sementara Arini langsung pulang ke rumah dengan perasaan kacau. Dia tidak mampir ke resto bahkan tidak menghubungi Doni sama sekali, beberapa panggilan Doni pun dia abaikan.
Tanpa Arini sadari hari sudah berubah gelap sejak tadi, diusapnya wajah Cila yang sudah terbaring lelap di sampingnya.
"Selamanya kamu adalah anak Ibu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, apapun yang terjadi sayang. Ibu akan kuat, Ibu akan menghadapi semuanya demi kamu." Arini membatin, berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Dering panggilan dari ponselnya menyadarkan Arini dari lamunannya.
"Kamu kemana saja hari ini? tanya Doni khawatir karena panggilannya sejak siang baru direspon Arini sekarang.
"Tadi aku nggak enak badan Mas. Dari kantor aku langsung pulang. Maaf nggak kasih kabar Mas Doni."
"Sekarang gimana, apa sudah membaik?" Doni begitu mengkhawatirkan kekasihnya itu.
"Iya sudah lebih baik, Mas nggak usah cemas."
" Ya sudah, kamu istirahat lagi saja."
"Iya Mas, makasih Mas." Ucap Arini sebelum panggilan terputus.
Keesokan harinya Arini bertekad kembali bekerja seperti biasa. Pertemuan dengan Iren cepat atau lambat pasti akan terjadi, tidak mungkin akan Arini hindari seterusnya mengingat kondisi perusahaan tempat dia bekerja tengah bekerja sama dengan Iren.
Dengan langkah yang ragu Arini memaksakan dirinya masuk kantor. Sebenarnya dia memang belum betul-betul siap jika harus bertemu Iren.
Arini mulai sibuk di depan layar komputer fokus mengerjakan semua pekerjaannya. Saat seperti itu biasanya Arini jarang sekali menyentuh ponselnya. Sampai jam makan siang tiba Arini baru mengambil dan mengusap layar ponselnya itu, terlihat ada satu pesan baru dari nomor yang tidak dia kenal.
"Temui aku di cafe depan sepulang kantor. Aku menunggumu, Iren." Isi pesan Iren.
Arini sontak kaget membaca pesan itu. Dia tidak pernah menyangka akan secepat ini Iren menghubunginya.
Sesuai permintaan Iren, Arini pergi menuju Cafe yang Iren sebut. Dengan langkah berat dan perasaan yang kacau Arini masuk ke cafe itu, terlihat Iren sedang duduk menunggunya. Arini segera mendekat meski sebenarnya ini adalah hal yang paling tidak dia inginkan.
"Lama sekali kita tidak bertemu, apa kabarmu Arini." Iren bertanya dengan senyum palsunya.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik." Jawab Arini singkat.
" Bagaimana kabar anakku?"
"Bagaimana bisa kamu masih menyebutnya anakmu setelah apa yang kamu lakukan padanya hampir lima tahun lalu?" Arini mulai nampak emosi dengan sikap Iren.
"Maaf, aku lupa. Kamu memang benar, sejak aku memberikannya padamu sejak itulah aku tidak punya hak lagi atasnya." Ujar Iren yang tersenyum sinis.
"Bagus jika kamu sadar akan itu, menjauhkan dari kehidupan kami. Aku tidak ingin Asilla terluka karena keberadaanmu," pungkas Arini yang kemudian beranjak pergi meninggalkan meja itu.
"Terima kasih sudah merawatnya." Ucap Iren sebelum Arini melangkah jauh, namun tidak Arini pedulikan sama sekali.
Diam-diam Iren mengikuti kemana Arini pergi. Iren terkejut melihat Arini masuk dan bahkan terlihat bekerja di resto itu.
"Aku sepertinya kenal dengan sosok itu. Ya aku ingat dia itu Doni temannya Mas Juna. Kenapa Arini juga bekerja di sini?" Gumam Iren dalam hati melihat pemandangan di depannya saat Doni terlihat ngobrol dengan Arini di dalam resto.
Dengan sabar Iren menunggu Arini di depan resto. Dia akan membuntuti Arini sampai dia tahu dimana Arini dan anaknya tinggal. Agar dia bisa menemui anaknya.
Terlihat Arini keluar dari resto, dan menaiki sebuah mobil. Iren mengikutinya sampai mobil itu berhenti di sebuah rumah kecil. Iren yakin itu rumah yang ditinggali Arini sekarang.
Iren tercengang kaget saat Doni keluar dari mobil itu. Dia mulai curiga ada sesuatu antara Arini dan Doni, tapi itu bukan urusannya. Tujuannya hanya ingin menemui Cila anaknya. Setelah tahu dengan jelas alamat Arini, Iren pun kembali ke rumahnya. Dia berniat akan datang lagi besok pagi menemui Cila saat Arini tidak berada di rumah.
Pagi-pagi Iren sudah mulai mengintai di sekitar rumah Arini. Sampai terlihat Arini dan seorang anak kecil keluar dari rumah itu.
"Asilla, aku yakin itu kamu. Arini merawatmu dengan sangat baik, kamu sehat dan sangat cantik." Ucap Iren dalam hati sambil menatap Cila dari kejauhan. Sampai tanpa dia sadari air matanya sudah berlinangan. Nampak sekali penyesalan di wajah Iren.
Arini mengantar Cila ke sekolahnya, Ibu dan anak itu berjalan sambil bercanda terlihat sangat bahagia. Melihat pemandangan itu membuat Iren sangat iri.
Setelah Arini pergi meninggalkan Cila di sekolahnya, Iren turun dari mobilnya melangkah menghampiri anaknya tersebut.
"Asilla..., Asilla...," panggil Iren.
"Tante panggil Cila?" tanya Cila heran, kerena tidak mengenal perempuan itu.
"Kamu sudah besar Nak, kamu juga sangat cantik." Ucap Iren sambil mengusap wajah Cila, lalu memeluk dan menciumnya.
"Maaf, Tante siapa?" Cila mencoba melepaskan pelukan Iren.
"Tante temannya mama kamu Nak," jawab Iren.
"Kenapa aku nggak pernah lihat Tante ya?" Cila masih bingung.
"Iya sayang, itu karena Tante baru pulang dari luar negeri jadi kita nggak pernah ketemu sebelumnya."
"Maaf Tante, Cila sudah harus masuk kelas." Pamit Cila.
"Masuklah sayang, Tante akan sering ke sini bolehkan?"
"Maaf Tante, aku bilang dulu ke ibu." Jawab Cila yang sedikit khawatir.
Iren pun akhirnya membiarkan Cila masuk ke kelasnya. Namun dia berjanji akan datang lagi menemui putri kecilnya itu.
Di tempat lain Juna mendapatkan panggilan dari Roy yang tengah berada di Jogja. Roy mengabarkan bahwa dia tidak mampu lagi mengatasi masalah yang sedang membelit cabang perusahaan Juna di Jogja tersebut. Akhirnya dengan terpaksa Juna segera kembali ke Jogja.
Karena kondisinya yang sudah cukup mendesak membuat Juna tidak menunggu lama lagi untuk segera pergi ke kota kelahirannya itu.
****
happy reading
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.