"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 22. Peringatan Pertama
Suasana tampak begitu canggung. Revald yang terbiasa sendiri, apa-apa sendiri, bahkan kali ini dia harus rela bermalam dengan seorang wanita. Yang lebih sialnya lagi, tidak hanya untuk malam ini saja. Tetapi ke depannya pun juga sama.
Perasaannya semakin kacau ketika melihat Arruna yang dengan santai merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan pakaian yang sangat minim.
Bagaimana tidak minim, jika wanita itu sekarang ini tengah mengenakan baju selutut tanpa lengan. Dua tali yang saling terkait agar bisa menggantung di bahunya. Di tambah lagi potongan baju yang dikenakan Arruna sedikit terbuka di bagian lingkaran lengan juga belahan dada. Serta bahannya yang sedikit transparan.
"Ck! Nggak punya kewaspadaan sama sekali." decaknya sambil berjalan melewati sofa yang ditempati oleh Arruna.
Revald duduk di pinggiran ranjang sembari mengeringkan rambut dengan handuk yang tersampir di bahu. Menghiraukan Arruna yang ada di sofa tanpa berniat menawari wanita itu untuk berpindah ke ranjang.
Di atas sofa sebenarnya Arruna merasa was-was. Takut-takut kalau sampai pria yang berada dalam satu ruangan dengannya tersebut tidak menepati janjinya.
Terlebih lagi Arruna sangat sadar dengan pakaian yang dia kenakan saat ini. Namun, tidak ada lagi yang lebih pantas dari yang dia pakai malam ini. Di bandingkan dengan yang ada di lemari. Sepertinya, mereka memang sengaja menyiapkan baju kurang bahan untuknya.
Jika sekarang mereka berada di club, mungkin Arruna akan merasa biasa saja. Karena meskipun sering mengenakan pakaian yang minim, setidaknya ia tidak sendirian dan memiliki banyak teman.
Akan tetapi sekarang ini keadaannya berbeda. Ia hanya berduaan saja dengan seorang pria. Statusnya memang sudah sah menjadi suaminya, namun pernikahan yang mereka lakukan ini hanya di atas kertas. Tidak mengikut sertakan perasaan di dalamnya.
'Kenapa aku berada dalam situasi seperti ini sih!' gerutunya di dalam hati. Begitu menyesal telah menyetujui permainan yang diawali oleh pria itu.
Tetapi jika disuruh mengembalikan uang yang sudah dia pakai, itu jelas sekali tidak mungkin.
Keduanya berada dalam keadaan saling tidak menghiraukan satu sama lain. Di mana mereka saling menyelami pikiran masing-masing dengan segala persepsi yang muncul.
"Semoga dia tidak berbuat aneh-aneh," lirih Revald sebelum memejamkan matanya dan bersiap untuk istirahat. Hari ini merupakan hari terlelahnya, sebab dia harus bersandiwara dan kelihatan bahagia dengan pernikahan yang dijalaninya.
Pun begitu dengan Arruna. Rasa cemas yang sebelumnya menghinggap dalam diri, kini hilang lebur di kala rasa kantuk serta lelahnya yang lebih dominan.
***
Pagi harinya mereka bersikap seperti biasa. Karena tidak terjadi apa-apa semalam di antara mereka. Juga saling tidak mengusik kepentingan dari masing-masing. Hanya saja, ketika sudah keluar dari kamar dan akan menuju lantai paling atas, di mana para keluarga besar berkumpul di sana menunggu pasangan pengantin baru untuk sarapan pagi, mereka harus bersikap layaknya seorang pasangan suami istri pada umumnya. Meskipun ada sikap canggung, namun keduanya tidak bisa menyerah begitu saja dalam membuat chemistry di antara mereka lebih keluar.
"Nih!" Revald menekuk lengannya ketika mereka mulai berada di depan kamar mereka. Awalnya wanita itu menatap bingung. Namun cepat mengerti apa yang di mau oleh pria di sampingnya ini.
Arruna segera melingkarkan tangannya di lengan Revald. Wanita yang tengah memakai dress selutut dengan lengan yang terbelah di bagian tengahnya tersebut tampak begitu cantik nan anggun. Meskipun tidak menggunakan riasan make up yang tebal.
"Jangan terlalu nempel!" peringatan pertama Revald layangkan ketika tidak sengaja Arruna terlalu menempelkan badannya di lengan Revald. Bahkan bagian depan tubuhnya benar-benar menyentuh lengan Revald.
"Makanya jangan terlalu cepat jalannya," sahut Arruna yang tetap tidak mau mengalah jika beradu argumen. Tidak memandang dengan siapa ia sekarang ini.
"Ck!"
Revald tidak mau terlalu menanggapi. Pria berkemeja biru muda tersebut lebih memilih menatap ke depan dan melanjutkan langkahnya.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah