Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Curhatan Mama
Pagi berikutnya, Adnan memberanikan diri untuk memberikan undangan itu pada Keenan. Dia menemui Keenan di markas belakang. Dia sedang binsik bersama Galih dan Aksara di bawah pengawasan seniornya. Maklum, perwira muda seperti mereka pasti akan dilatih lebih keras agar jiwa brigade mereka semakin terbentuk.
"Keenan, ada yang mau saya bicarakan denganmu. Bisa kita bicara berdua?" tanya Adnan dengan ragu.
Dia meminta izin pada instruktur Keenan lebih dulu baru mengajak laki-laki itu agak menjauh mencari tempat yang sedikit lebih privat. Adnan mengeluarkan undangan itu dan dia serahkan pada Keenan.
"Apa ini Bang?" tanya Keenan.
"Undangan."
"Kirana akan menikah dengan Bang Raihan? Syukurlah. Artinya dia sudah baik-baik saja kan? Tapi maaf, tanggalnya tidak pas. Aku tidak bisa datang Bang karena harus ikut bersama Ndan Bayu mengerjakan sesuatu di batalyon," kata Keenan.
"Keenan, Kirana tahu kalau Abang masih kontak sama kamu," kata Adnan.
"Nggak papa Bang. Toh dengan sampainya undangan ini di tanganku, kuanggap dia sudah baik-baik saja dan semoga dia akan selalu baik-baik saja," kata Keenan mencoba meyakinkan.
"Kalian yakin? Kenapa kalian berdua begitu pasrah dengan perpisahan?"
"Kirana pernah berkata 'takdir Allah selalu jauh lebih indah' dan aku selalu percaya itu. Semesta yang memisahkan kami, artinya kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Sudah cukup aku menjaga hatinya, saat ini dia sudah bertemu dengan pemilik sejatinya. Aku tidak memiliki hak apapun walaupun aku tahu jika aku dan Kirana masih saling menyayangi. Abang tidak perlu merasa bersalah lagi. Aku dan Kirana yang memilih jalan ini," kata Keenan.
Adnan hampir menangis. Tidak menyangka jika adik-adiknya ini bisa begitu bijaksana menanggapi situasi. Mulai dari Kirana yang menyerahkan segalanya pada takdir, juga Keenan yang begitu tenang mengikuti alur hidupnya. Adnan memeluk pemuda yang sudah seperti adiknya ini. Dia hanya bisa memberikan pelukan dan dukungan padanya.
"Aku tahu Abang bangga kan sama aku," kata Keenan yang mencoba mencairkan suasana.
Adnan tertawa mendengarnya, "Kamu nggak jadi adik iparku tapi kamu tetap adik juniorku di sini. Jadi jangan harap kamu akan bisa lolos dari Abang," kata Adnan membanggakan posisinya.
"Ampun Bang jangan galak-galak dong sama orang baru."
"Nggak ada pengecualian ya enak saja," kata Adnan.
...***...
Hari pernikahan Kirana semakin dekat. Sejak hari ini saja dia sudah tidak diizinkan untuk kemana-mana. Dia hanya menyempatkan diri untuk pergi ke salon bersama dengan Lucy dan Ningrum kemudian segera kembali ke rumah. Sudah tidak diizinkan pergi, dia juga tidak diizinkan masuk dapur pula. Kata Mama calon pengantin itu tidak boleh memasuki dapur selama masa pingitan dan Kirana harus menahannya selama 3 hari lamanya.
Tadi pagi Raihan hanya mampir sebentar untuk mengambil beberapa berkas yang harus dia setorkan ke kantor setelah itu dia sudah tidak diperbolehkan menemui Kirana sebelum malam midodareni. Tradisi pernikahan menggunakan adat jawa memang ribet, prosesnya panjang, banyak syarat serta pantangannya. Tapi Mama bilang sebagai gadis jawa yang tetap “jawani” Kirana tidak boleh melupakan budayanya. Keluarganya boleh saja sudah modern, tapi Mama dan Papa masih menganut kejawen yang cukup kental.
“Mama bosen Kirana di rumah terus nggak ngapa-ngapain,” kata Kirana yang sudah lelah hanya guling-guling di kamarnya tanpa melakukan apapun.
“Raihan nggak telepon kamu?” tanya Mama.
“Di rumah Bang Raihan kan ada acara juga, Abang dari tadi sore nggak balas pesanku. Bang Adnan juga mana kok belum pulang?”
“Bang Adnan masih di Kulon Progo nih barusan ngabari Mama.”
“Dek, kalau kamu bosen kamu boleh telepon Lucy atau Ningrum biar nginep di sini sekalian. Nanti Mama minta tolong Om Heri buat ngangkat kasur tambahan ke kamarmu,” kata Mama.
“Beneran Ma?”
“Bener sayang.”
“Ok, aku telepon Lucy ya,” kata Kirana.
Mama mengangguk sambil tersenyum. Dia kenal baik seperti apa putrinya itu. Dia adalah gadis yang hiperaktif, dia itu paling tidak terima kalau hanya diam saja tidak melakukan kegiatan apapun. Pokoknya apa saja, dia harus mengerjakan sesuatu makanya sejak kecil Mama sering mengajarkannya ini itu agar setidaknya tangan Kirana tidak akan diam dan bosan.
Mama membawakan sepiring buah yang sudah dipotong ke kamar Kirana sambil mengamati apa yang sedang dilakukan oleh putri bungsunya. Dia dan kedua sahabatnya sedang asik menonton tv dan Mama melihat kalau Lucy meringkuk di belakang badan Kirana karena takut dengan penampakan hantu yang muncul di layar televisi.
“Anak-anak, ini Mama bawakan buah. Oh iya, tidurnya jangan terlalu malam ya. Besok kan ada acara siraman. Lucy sama Ningrum juga jangan sampai kecapekan ya,” kata Mama.
“Iya Ma,” kata Lucy.
“Makasih tante,” jawab Ningrum.
Mama menyadari jika salah satu dari kedua sahabat Kirana memanggilnya “Mama”. Mama akhirnya tahu siapa yang dimaksud oleh Kirana dan Raihan tempo hari. Dialah kekasih putra sulungnya dan yang disemogakan menjadi menantu perempuannya suatu hari nanti.
Mama melangkah turun dan masuk ke dalam kamar menyusul Papa yang baru saja selesai mandi. Mama duduk di pinggir tempat tidurnya dan mulai mengadu pada suaminya itu tentang apa yang baru saja dia sadari.
“Pa, Mama sudah tahu pacarnya Abang yang mana,” kata Mama.
“Oh iya, siapa sih. Papa penasaran,” kata Papa kemudian ikut duduk di sebelah Mama.
“Lucy, Pa,” kata Mama.
“Oh ya? Pinter juga jagoanku cari pacarnya. Sudah cantik, baik, sopan, pinter pula. Semoga mereka langgeng Ma,” kata Papa.
“Kalau Abang sih Mama nggak khawatir Pa, tapi adek yang Mama khawatirkan. Dia mungkin sudah menerima Raihan, tapi Mama ragu apakah dia sudah melupakan Keenan atau belum dan trauma yang dia bawa membuat Mama waswas. Bagaimana nanti dia akan menjalani rumah tangganya dengan Raihan,” kata Mama.
“Bukan hanya Mama yang khawatir, tapi Papa juga sama. Rasanya darah Papa mendidih setiap kali ingat hal itu, tapi mau sampai kapan kita akan terus terpuruk? Papa sendiri sudah bertahun-tahun mencoba memberantas kasus itu tapi selalu saja mati satu tumbuh seribu. Kasus seperti itu tidak pernah tuntas bahkan segencar apapun patroli dilaksanakan. Selalu ada modus-modus baru yang akhirnya memakan korban,” kata Papa.
“Pa, kemarin Mama sudah bicara dengan Mbak Cecil dan kami berdua sepakat untuk tidak mempertanyakan soal cucu pada Raihan dan Kirana,” kata Mama dengan volume yang lebih pelan.
“Papa juga tidak akan meminta itu. Papa percaya pada Raihan. Papa percaya kalau dia bisa membantu Kirana untuk bangkit berdiri tegak lagi. Kita hanya perlu memperlakukan Raihan dengan baik, dia sudah berjasa besar untuk keluarga kita. Terutama pada putri kita,” kata Papa diangguki oleh Mama.
“Mama, besok akan menjadi langkah pertama kita melepaskan putri kita. Kuharap Mama ikhlas. Biarkan Raihan dan Kirana menata hidup mereka. Kita percayakan semuanya pada mereka karena mereka yang menjalani, mereka juga yang paham mana jalan terbaik untuk keduanya. Sama seperti ketika Papa melamar Mama 27 tahun yang lalu. Ketika kita berdua berjanji satu sama lain untuk hidup berdua,” kata Papa.
“Nggak lama lagi kita akan kembali hidup berdua. Setelah melepas Kirana, kita juga akan melepaskan Adnan. Di satu sisi Mama lega sekali, tahu anak-anak sudah menemukan bahagianya masing-masing. Tapi di satu sisi Mama sedih juga, kita akan jarang ketemu sama anak-anak karena mereka sudah sibuk dengan urusannya masing-masing,” kata Mama.
“Begitulah hidup. Dulu Bapak dan Ibu juga pasti merasakan hal yang sama ketika melepaskan kita untuk hidup berdua dan sekarang tiba giliran kita. Suatu saat nanti juga akan tiba gilirannya Adnan dan Kirana merasakan itu juga. Hidup itu seperti roda. Bulat tidak bersudut. Makanya dalam kehidupan ini prosesnya akan selalu sama. Kelahiran, tumbuh, berkembang, dan akhirnya akan mati,” kata Papa.
“Pa, nanti kalau Papa sudah pensiun Mama mau kita pacaran lagi. Kita jalan-jalan yuk Pa, mengenang masa muda kita berdua,” ajak Mama.
“Kemanapun Mama mau. Insyaallah akan Papa kabulkan,” kata Papa.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor