Kisah cinta remaja yang manis
Aninda adalah cewe yang manis, baru saja lulus SMP. Karena kepintarannya, Aninda berhasil masuk ke SMA Favorit yang ngga jauh dari rumahnya.
Ternyata cowo yang selalu menatapnya diam diam sejak Aninda kelas tiga SMP, juga masuk di SMA yang sama dengannya.
Cowo itu sangat tampan dan kaya raya, tapi dingin. Namanya Gibran. Katanya sudah punya pacar. Tapi pacarnya pindah ke kota lain waktu Aninda dan cowo itu naek kelas tiga SMP.
Aninda bingung kenapa cowo itu selalu memperhatikannya padahal sudah punya pacar. Aninda juga selalu gugup jika beradu pandang dengannya, bahkan Aninda pernah memimpikan cowo itu saat akan masuk SMA.
Aninda yang didukung beberapa temannya berusaha melayani perhatian cowo itu. Tapi tetap dengan cara tarik ulur. Aninda harus pastikan kalo cowo itu sudah putus dengan pacarnya, karena Aninda ngga mau jadi pelakor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke sekolah bareng sepupu
"Lagi lagi gue ngga bisa kalahin lo," ucap Arwan sambil mengulurlan tangannya mengucapkan selamat pada Gibran.
Tadi hampir saja. Tapi seperti biasa Gibran kalo balapan ngga pernah takut cedera. Saar tikungan dia terus saja menggas dalam mobilnya, padahal itu sangat berbahaya.
Arwan selalu kalah di saat itu. Dia belum mengerti teknik Gibran di tikungan dengan sangat baik. Sedangkan Gibran sudah sangat ahli. Mungkin karena Gibran sangat totalitas jika sudah menyangkut keinginannya.
Gibran membalas uluran tangan itu dengan ramah.
"Besok lo tanding basket? Bakalan seru ntar lihat kalian tarung," kekeh Arwan saat menjejeri langkah Gibran dan teman temannya.
Gibran cs pun tergelak. Ya, mereka pasti akan bertarung besok merebutkan juara satu.
"Hexa juga akan melawan Revi di karate nanti," sela Mario dalam tawanya.
"Keren. Bingung gue jagoin siapa," timbrung Ikhrom sambil menggelengkan kepalanya. Dia juga satu SMA dengan mereka.
Revi dan Hexa hanya tertawa saja tanpa menjawab.
"Kalian ngga pengen balapan di jalanan?" tanya Ikhrom memancing.
Gibran cs saling pandang
"Pengen juga, sih. Tapi gue lebih nyaman di sirkuit," jawabnya jujur.
"Kalo ketahuan fasilitas gue bisa ditarik semua," lanjut Dio ngakak.
"Memang adrenalinnya lebih kuat. Tapi gue juga cari aman," kata Revi juga tergelak.
Arwan dan Ikhrom juga tergelak.
Lagian mereka juga punya sirkuit pribadi, kenapa harus membahayakan diri di jalanan. Belum lagi ntar berurusan dengan polisi bahkan mungkin rumah sakit. Atau bisa jadi kamar jenazah.
Hiiii..... Bulu kuduk Ikhrom jjadi merinding.
*
*
*
"Nek, Ninda pulangnya mungkin agak malam," pamit Aninda pada neneknya saat mereka sedang sarapan bersama.
Papanya menatapnya heran.
"Kok, sekolah sampai malam? Itu maksudnya, kan?" tanya papa memcoba mencerna ucapan Aninda.
"Iya, pa. Hari ini final acara penyambutan siswa angkatan baru. Pembagian hadiah juga. Ninda sama teman teman sekelas juara satu lomba cerdas cermat," sahutnya bangga.
Papa tersenyum senang sambil menganggukkan kepalanya.
Mama dan nenek pun ikut tersenyum.
"Kata Kak Radina, nanti mbok Rahmi akan ke sini buat nemenin nenek," jelas Aninda lagi.
"Kok, bisa?" tanya mamanya heran. Walaupun tau kalo ponakannya itu baik hati, tapi agak bingung juga kenapa mamanya bisa membiarkan pembantunya menemani ibu mereka
"Kak Radina, kak Maya, sama Kak Kamila juga mau ikut nonton sampai malam di sekolahan. Kak Debi, Kak Shafa sama Zifa juga sama."
"Katanya, mamanya Kak Radina mau pergi juga, makanya mbok Rahmi dibawa ke sini," lanjut Aninda lagi menjelaskan.
Kedua orang tuanya manggut manggut mengerti. Nenek juga mulai paham.
"Nanti Anne juga mau ke rumah. Biasa ngobrol sama mama. Sudah, kalian ngga usah khawatir. Jarang jarang juga Ninda pulamg malam," bela Nenek Asra pada anak dan menantunya.
"Aku akan pulang sore, ma," ucap Mama Aninda. Pekerjaannya di sekolah akan dibawanya pulang saja ke rumah. Mama melakukan ini agar putrinya bisa tenang mengikuti kegiatan terakhirnya sebagai siswi angkatan baru.
"Ya, papa juga akan usahakan pulang cepat," tambah Papa Aninda dengan senyum bijak.
Beliau mengerling istrinya yang tersenyum menatap putri mereka. Beliau tau, istrinya ingin menyenangkan hati putrinya. Membiarkan putrinya sesekali menikmati waktu bersama teman temannya.
Papa Aninda juga bersyukur karena keponakannya ngga sejudes mama mereka. Bahkan mereka terkesan baik dengan Aninda.
"Ninda berangkat dulu, ya, ma, pa, nenek," pamitnya sambil menyalim tangan mereka satu persatu.
"Ya sayang," ucap mamanya sambil mengantar ke luar
Nenek dan papanya tersenyum melihatnya.
Langkah kaki mama dan Aninda terhenti ketika sampai di halaman rumahnya.
Radina dan Kamila tersenyum bersama mbok Rahmi.
"Tante, kita titip mbok Rahmi," kata Radina sambil menyalim tantenya, diikuti Kamila.
"Nyonya," sapa mbok Rahmi sopan.
"Masuk aja mbok," ucqp mama mempersilakan mbok Rahmi masuk ke dalam rumah.
"Ya, nyonya."
"Makasih ya sayang," ucap mama tulus pada Radina dan Kamila setelah mbok Rahmi masuk ke dalam rumah.
Keduanya tersenyum manis.
"Ayo, kita berangkat, Ninda," ajak Kamila sambil menggandeng tangan kurus sepupunya.
Aninda menatap mamanya sebemtar sebelum mengikuti langkah mereka. Tangan mereka pun melambai pada mama Aninda yang juga langsung dibalas dengan haru.
"Ayo, geser, Deb," seru Kamila membuat Deby tersenyum saat melihat Aninda. Begitu juga Shafa dan Zifa. Maya yang mengemudikan mobil mewah keluarga mereka juga menatap Aninda penuh makna.
"Seru juga kalo kita bisa sering sering barengan begini," ujar Shafa senang. Karena Aninda jarang mau bergabung dengan mereka. Walaupun mengerti alasannya karena mama mama mereka yang cukup rewel.
"Iya," balas Radina ngga kalah senangnya.
Dia bangga punya sepupu pintar seperti Aninda. Juga ngga banyak tingkah, kalem. Selalu memudahkan mereja beraktivitas karena lebih sering menjaga sang nenek. Sesekali Aninda juga perlu hiburan.
"Ninda, kamu, kok, akrab banget sama Gibran?" pancing Zifa saat mobil sudah melaju mendekati sekolah.
Aninda menahan nafas melihat tatapan ingin tau para sepupunya. Ini yang membuatnya tadi enggan untuk ikut ke dalam mobil bersama para sepupunya.
"Mungkin karena kami sekelas."
"Iya juga, sih. Coba, ya, aku sekelas dengan kamu," kata Zifa agak menyesal.
"Kamu itu beda jurusan, sayang," ledek Kamila terkekeh. Yang lain pun terkekeh. Aninda hanya tersenyum simpul.
"Iya ya, lupa," ralat Zifa ngikik.
"Tapi siapa tau Gibran naksir kamu, Ninda," tukas Deby memberikannya harapan. Karena melihat perlakuan Gibran terhadap Reva sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan sepupunya.
"Haa?" kaget Aninda walau setengahnya berharap dalam ketakpercayaannya.
"Kalo kamu bisa jadian sama Gibran, keren banget," tambah Shafa terkekeh.
"Gibran baik dengan teman teman sekelas juga, kak. Bukan sama aku aja," bantah Aninda menolak ge-er.
"Siapa tau Ninda. Jodoh, kan, kita ngga ngerti," tambah Maya semakin memperbesar harapan Aninda.
Aninda hanya membalasnya dengan terkekeh saja. Tidak mau terlalu menggantung harapan yang samgat tinggi. Kalo jatuh pasti sakit sekali.
Ngga mungkin. Ngga mungkin. Gibran masih punya mata yang normal.
Sepupu sepunya jauh lebih cantik dan modis jika dibandingkan dengannya.
Akhirnya mobil mereka pun menepi di area parkiran. Tentu saja kedatangan mobil mewah itu cukup menjadi pusat perhatian. Apa lagi yang baru saja keluar dari mobil, cantik cantik dan modis modis.
Perhatian Gibran pun tertuju pada arah yang sama seperti para sahabat dan teman teman lainnya.
Yang membuat sudut bibir Gibran sedikit tertarik ke atas adalah yang keluar dari mobil dengan wajah malu malu. Aninda.
Seakan ada magnet, mata Aninda memyorot ke arahnya. Gibran pun tersenyum dan dibalas Aninda dengan malu malu.
"Ngga disamper, bro?" goda Anggara yang disambut kekehan sahabat sahabatnya
Gibran ngga menjawab. Sudah melihat Aninda saja membuat hatinya sangat senang.
"Lo beneran suka sama Ninda?" tanya Revi sangat serius.
"May be," jawab Gibran tenang.
"Jadiin pacar, dong, kalo gitu," todong Dio menantang.
Gibran masih ngga menjawab, hanya tatapannya saja yang terus melihat ke arah Aninda yang sudah menjauh bersama para sepupunya.
Sahabat sahabatnya nakin tergelak melihatnya.
Sementara itu Anye, Kalia dan Rere menatap Aninda dengan takjub.
"Eh, itu Aninda. Gile, ternyata mereka semua sepupu an," komen Kalia kagum. Pasti sangat menyenangkan punya banyak sepupu yang cantik cantik dan modis yang berada dalam lingkungan sekolah yang sama.
"Aninda terlalu sederhana dibandingkan yang lainnya," komentar Anye yang mengamati dengan serius penampilan Aninda.
"Biar ngga modis tapi liburannya ke negara Eropa, sis," cetus Rere mengingatkan.
"Iya, sih. Ngga nyangka aja," balas Rere mengoreksi ucapannya sendiri.
"Dia juga ngga bertingkah aneh aneh. Malah kalem kalem aja," tambah Anye lagi.
"Hari ini bakal seru pertandingannya, ya," sela Kalia mengganti topik pembicaraan. Mendadak dia kurang senang membicarakan Aninda dan para sepupu jetsetnya.
"Basket yang paling seru. Apalagi nanti lawan tim basket sekolah," sambung Rere penuh semangat.
"Mereka juga keren keren loh," balas Anye ngga kalah bersemangatnya.
"Semoga mereka ntar ngelirik kita," tawa Kalia berderai derai.
Dia harus punya cadangan, kan, jika Gibran ngga bisa jadi kekasihnya, batin Kalia pe de.
.CKK kegantung nih...😭😭
Ckk istri nya Thomas.. Padahal ponakan sendiri dijelek jelekin,asal kamu tau,Ibu mu aja lebih milih tinggal dgn putri angkat nya di bandingkan kalian yg katanya ANAK KANDUNG..🙄🙄🙄
MAMPIR THOR 🙋
hihihi