NovelToon NovelToon
KONTRAKAN BERHANTU [ END ]

KONTRAKAN BERHANTU [ END ]

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Rumahhantu / Roh Supernatural / Hantu / Tamat
Popularitas:440.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: siyuk sie

(Novel Kedua = KOS-an BERHANTU)

Bagas melompat senang karena berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai staff accounting di salah satu pabrik gula sesuai dengan cita-citanya. Meski lokasinya berada di pedesaan, tidak menyurutkan semangatnya sama sekali. Sebenarnya, Bagas mendapat fasilitas tempat tinggal atau mess namun sengaja ia tolak. Bagas lebih memilih tinggal di kost atau kontrakan karena menurutnya, lebih nyaman dan bebas. Sungguh keputusan yang akan ia sesali seumur hidup. Sebab inilah awal mula dari serentetan pengalaman mistis di luar nalar yang menimpanya hingga meninggalkan trauma berkepanjangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Terror Marni

Malam berikutnya, Ratna kembali meminta Andre dan Bagas untuk tidak usah berjaga sebab dia lagi yang akan menjaga Juan di Rumah Sakit dan katanya, nanti malam, adiknya Juan akan datang dari luar kota.

"Oke Rat, nanti aku dan Bagas mampir saja ke Rumah Sakit tapi tidak menginap," begitulah bunyi balasan pesan singkat dari Andre kepada Ratna.

Di rumah sakit, Juan sudah merasa lebih baik dan bisa bercerita panjang lebar kepada kekasihnya tentang alasan sakitnya dia. Ratna sempat cemburu di awal karena menganggap Marni berusaha merebut pacarnya. Namun saat dia tahu bahwa Marni beserta keluarganya itu hantu, Ratna lekas bergidik ngeri.

"Serem amat sih Yang."

"Makanya aku sampek sakit begini. Lebih parah lagi, aku, Andre dan Bagas sudah berhari-hari makan, makanan dari dia. Bayangin aja! kira-kira bangkai apa saja yang sudah kami konsumsi selama ini?"

"Aduh ngeri yank, jijik."

***

Sekitar ba'da maghrib, Aris, adiknya Juan datang. Ratna pamit untuk cari makan sebentar dan meminta Aris untuk menjaga Juan selagi dia pergi.

"Iya mbak," jawab Aris.

Ratna berjalan seorang diri melewati lorong-lorong Rumah Sakit menuju lift di lantai tersebut. Di sana, dia bertemu dengan seorang perempuan yang juga tengah menunggu pintu lift terbuka. Wajah gadis itu terlihat datar tanpa ekspresi. Ratna tak terlalu memikirkannya karena ekspresi apa lagi yang ia harapkan di Rumah Sakit begini. Ratna menduga bahwa perempuan itu tengah mengalami hari-hari sulit yang sangat menyedihkan hingga ekspresi wajahnya seperti itu.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu lift terbuka. Ratna dan perempuan itu masuk bersamaan. Tujuan mereka sama yakni hendak menuju lantai dasar. Saat mereka hampir sampai di bawah, perempuan itu tiba-tiba menatap Ratna dengan tajam. Ratna hanya diam dalam kebingungan lalu perempuan itu mulai berbicara.

"Bagaimana kabar mas Juan?"

"Loh, mbak kenal sama Juan?"

"Tolong sampaikan salam saya ke dia ya! bilang saja dari Marni!"

Mendengar hal ini, Ratna tersentak seketika dan lekas berlari keluar saat pintu lift terbuka. Ternyata, Marni juga turut keluar dan menatap Ratna yang tengah berlari tunggang langgang. Perempuan itu pun masih sempat mengulas senyum menyeramkan saat Ratna menoleh ke belakang.

Tubuh Ratna bergetar hebat, tangannya gemetar. Hampir saja ia menangis. Beruntung, dia bertemu dengan Andre dan Bagas dan lekas meminta mereka untuk menemaninya mencari makanan.

"Kamu ini kenapa kok kayak orang ketakutan?"

"Aduh Gas, Juan udah cerita ke aku soal Marni dan keluarganya dan barusan Marni menampakkan diri di lift Rumah Sakit."

"Kamu ketemu Marni?"

"Iya, kami berdiri bersebelahan di dalam lift sampai akhirnya dia menanyakan kabar Juan dan menitipkan salam untuk Juan."

"Astaghfirulloh! Marni ngikut sampek ke sinu juga Ndre."

"Kemarin malam juga dia muncul kan pas kita beli sate?"

"Iya Ndre."

*Bentar, ini maksudnya, Marni juga masih meneror kalian?"

"Sepertinya begitu Rat," jawab Andre.

"Yaudah, jangan dibahas dulu, kita pergi cari makan dulu aja!"

Andre dan Ratna mengangguk seraya mulai melangkah ke luar area Rumah Sakit untuk mencari makan.

***

Usai membeli makanan, Andre, Bagas dan Ratna kembali ke kamar rawat Juan. Ratna masih bergidik ngeri sembari sesekali celingukan saat harus menggunakan lift yang sama.

"Kita bisa naik lewat tangga loh Rat kalau kamu masih takut."

"Gak usah Gas, pakai Lift aja biar cepet. Kan sekarang ada kalian, aku gak sendirian."

"Yakin?"

"Iya yakin."

Pada akhirnya mereka tetap menggunakan lift. Beruntung tak ada gangguan apa pun lagi kali ini. Di kamar, Ratna lekas membuka sebungkus kwetiaw kesukaan Juan dan menyuapinya.

"Ini adiku Aris, mereka teman-teman satu kontrakanku namanya Andre dan Bagas."

"Iya mas."

Usai berkenalan, Ratna mulai bercerita perihal apa yang tadi ia alami. Juan mengerutkan dahinya sembari terus mendengarkan Ratna bercerita.

"Bentar deh mbak! saat mbak Ratna turun cari makan, aku juga lihat ada satu cewek yang terus aja mondar-mandir di depan pintu kamar."

"Kamu kok gak cerita ke mas Juan sih Ris?"

"Lah mana aku kepikiran, kupikir dia salah satu keluarga pasien yang emang lagi sibuk ngurus administrasi atau ambil obat atau apalah. Gak mikir aneh-aneh juga kali mas."

"Emangnya, ciri-cirinya seperti apa Ris?"

"Cewek itu rambutnya sebahu, emm... lebih panjang dikit deh, ikal. Trus pakai atasan kuning sama rok orange sepanjang mata kaki."

"Corak apa baju dan roknya?"

"Bajunya polos, roknya motif bunga-bunga."

Ratna membulat seketika sembari meremas kedua telapak tangannya. Juan menggenggam tangan kekasihnya sembari coba menenangkan.

"Itu Marni, ciri-cirinya sama persis kayak yang aku lihat di lift tadi."

"Sayang.. tenang ya!"

"Aku takut banget ini."

"Gini aja mbak, mbak Ratna pulang dan istirahat di rumah aja malam ini. Tenangin diri, istirahat yang cukup. Mbak Ratna syok banget kayaknya."

"Bener juga yang sarannya Aris."

"Kami gimana kalau aku tinggal?"

"Jangan khawatir! ada Aris di sini."

"Tenang aja mbk! aku sih udah biasa ngliat makhluk begituan sejak kecil. Insha alloh udah biasa, gak takut lagi."

"Kamu indigo Ris?" tanya Andre.

"Gak ngerti mas, pokoknya dari kecil udah biasa ngliat yang begituan."

"Bagus deh, aman kalau gitu. Gak akan lari juga nanti kalau misal ketemu."

"Enggak mas tenang aja."

"Kamu beneran gak apa-apa nih aku tinggal?"

"Beneran, kamu harus tidur lebih awal biar besok bisa fit lagi. Kalau bisa, kejadian malam ini jangan diinget-inget terus!"

"Iya aku usahain."

Pada akhirnya, Ratna bersedia untuk pulang. Andre dan Bagas pun juga sama. Mereka bertiga turun bersama-sama hingga sampai di parkiran. Kali ini, Marni sudah tidak menunjukkan diri lagi. Mereka berpisah di parkiran untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

*****

"Ris.."

"Iya mas."

"Sebenarnya aku ini juga ketakutan. Tadi cuma acting berani biar Ratna tenang."

"Apa yang ditakutin sih mas? derajat kita ini jauh lebih tinggi dari mereka. Ibaratnya, mereka hanya menggertak, kalau kita lebih berani maka mereka yang bakalan lari."

"Masalahnya aku gak berani."

"Cuma masalah waktu, semakin sering ketemu mereka, rasa takut mas Juan pasti bakal hilang."

"Gila kamu! ngapain juga sering-sering ketemu mereka? aku malah berharapnya, jangan sampai ketemu lagi kok."

"Hemm... tapi kalau melihat kejadian malam ini, kayaknya si sosok Marni bakalan muncul lagi deh."

"Dia ngincer aku ya Ris?"

"Gak tahu juga sih tapi yang jelas dia lagi seneng banget ngusilin mas Juan."

"Hemm.. dia ngusilin banyak orang. Aku, Andre, Bagas dan Ratna juga."

Aris tertawa.

"Iya juga ya..."

🤭 BAB 22 KELAR 🤭

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
suka
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tamat... itulah tipu muslihat iblis dan sebangsa'y, yg banyak menjerumuskan manusia. disini kita bisa mengambil pelajaran, jika segala sesuatu pasti ada konsekuensi'y..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
serba salah jadi'y..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
😭😭😭
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
ngeri bener di kintilin mulu ma poci👻
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
dihh ngeri juga ya, masa Juan di taksir demit sih🤔
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
nah kan, ternyata memedi👻👻
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
dasar, temen gak ada akhlak🙄
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
haduhhh, kalo aku bisa semaput deh kaya'y..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
pantesan aja, wong itu bekas rumah dukun tho..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
duh, ko ngeri ya😣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
untung ada pak Harun yg jadi wasit😅
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
padahal jan di berantakin ya, kalo bisa mah justru bantuin tu Bagas ma Andre beres² kontrakan🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
walau pun tau novel ini dah end, tapi tetep aja gatel pen ikut komen🤭
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣🤣 ada² aja kamu Andre
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
untung gak kena tampol sama Bagas ya, tu demit. seenak'y aja nongol depan muka orang😆
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
kaya'y tu demit pemalu deh, masa yg nampak cuma tangan doang😅
mampir kak..
Zxr_MinZea⁰⁸
Nama Ku Andini :)
dream
Alurnya bagus, sederhana, mestinya dapet
dream
Yeay.... bukan buru2 di tolongin....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!