Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
"Om...." teriak Adel saat melihat Om Roy sudah berada di depan Sekolah
Roy adalah asisten Papi Surya, dari Adel belum lahir sampai sekarang Om Roy masih setia menemani Papi Surya, maklum sama sama jones alis jomblo ngenes jadi mereka cocok.
Seperti Papi Surya, Om Roy juga sayang kepada Adel. Bukan karena Adel adalah anak atasannya, tetapi karena Adel yang pembawaannya mudah bergaul dengan sesama, membuat semua orang menyukainya
"Masuk Del, kita ke kantor Pak Surya sekarang"
Adel mengangguk, karena tadi memang Papi Surya sudah mengirimkannya pesan, jika selesai Sekolah ke kantor Papi Surya dulu.
"Ada apa yang Om, Papi tiba tiba ngajakin aku ketemuan?? dan kayaknya penting sekali"
Om Roy tersenyum, sebenarnya dia sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Papi nya Adel, tetapi biarlah nanti Pak Surya yang menjelaskannya.
"Nanti tanya sama Papimu Del"
"Hmm....Om Roy gak asyik deh"
Sepanjang perjalanan, mata Adel terus menatap ke arah jendela, bukan karena ada Om Roy di sampingnya, tetapi karena sudah kebiasaan Adel yang suka memandangi jalanan saat berada di mobil
"Eh itu bukannya Kak Chandra??? berarti benar, kalau dia sudah ada di sini, tapi perempuan di sampingnya itu siapa?" gumam Adel
"Kenapa Del?? ada siapa?" tanya Om Surya penasaran saat mendengar gumaman Adel
"Eh gak apa apa Om, salah liat mungkin aku"
Adel masih melihat ke arah jalan, dan masih samar samar terlihat Chandra dengan seorang perempuan, dengan perempuan itu bergelayut manja di lengan Chandra.
Keterkejutan Adel tidak sampai di situ saja, saat melewati sebuah Apartemen mewah, Adel melihat Doni sedang menggandeng seorang wanita cantik juga.
"Bukankah itu memang Apartemen Doni? sama siapa?"
"Eh Om bisa minggir sebentar?"
Tanpa menjawab, Om Roy langsung menepikan mobilnya
"Bentar ya Om?"
Adela langsung turun, rasa penasarannya kini melebihi rasa penasaran tadi saat melihat Chandra, kini Adel berada di belakang Doni dan seorang wanita yang dicurigai Adel sebagai Bella, pacar Bintang.
Adel tidak ingin menganggu atau menegur Doni, tetapi dia hanya memastikan saja jika yang bersama Doni itu adalah Bella
Dan benar saja, setelah Adel membuntuti Doni, dia sudah dapat melihat jika memang benar itu adalah Bella
"Lo harus jelasin semuanya besok Don" gumam Adel dan langsung pergi meninggalkan apartemen milik Doni
"Ayok Om, berangkat" ucap Adel ketika sudah berada di dalam mobil, dan Om Roy hanya menggeleng saja melihat tingkah Adel yang persis seperti Papi nya.
Tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Om Roy sudah sampai di kantor Papi Surya, dan tak menunggu lama Adel langsung turun dan masuk ke dalam kantor.
Seperti biasa, Adel yang ramah menyapa semua orang karyawan Papi Surya, mulai dari Pak Satpam hingga OB yang bekerja di sana.
Adel menghampiri resepsionis "Mbak, aku ke atas ya" dan langsung mendapat anggukan dari mbak resepsionis itu
"Papi" sapa Adel yang telah masuk ke ruangan Papi Surya dan langsung salim
"Duduk dulu sayang, bentar Papi nyelesaikan ini dulu"
Sepuluh menit sudah berlalu, tetapi Papi Surya masih saja bergelut dengan pekerjaannya
"Papi....kalau masih sibuk, aku pulang saja ya? besok besok aja aku kesini lagi"
Papi Surya langsung menutup laptopnya dan menghamapiri Adel dengan membawa sebuah amplop coklat.
"Ada apa Pi?"
"Sebelumnya Papi mau tanya dulu, gimana perasaanmu pada Chandra?"
"Aku tidak ada hubungan apa apa, kita cuma temen, walaupun Kak Chandra menganggap lebih" tanpa banyak berpikir, Adel menjawab dengan cepat, tepat dan singkat
"Emangnya kenapa?"
Papi Surya langsung menyerahkan sebuah amplop coklat itu kepada Adel
"Ini?" tanya Adel dengan membolak balikkan amplopnya tanpa membukanya lebih dulu
"Buka aja sayang, tapi jangan terkejut ya"
Adel membuka amplop coklat itu, jujur dia sangat penasaran sekali apa isinya, dan ada hubungan apa dengan ucapan Papi Surya barusan.
Adel mengambil beberapa lembar foto yang memang sengaja di masukkan ke dalam amplop itu. Jujur Adel kaget, bukannya tidak senang atau gimana, tetapi dia tidak percaya dengan yang dilihatnya, bukankah ucapan Chandra dulu ingin kembali ke Indonesia dan melamarnya, tetapi.
"Oh sudah nikah to, berarti yang aku tadi lihat memang benar"
"Jika kamu tidak percaya, Papi punya rekaman ijab kabulnya"
Papi Surya langsung menyerahkan ponselnya dan memutar video ijab qabul Chndra dengan seorang wanita yang bernama Intan itu.
"Del" Papi Surya menepuk pundak Adel yang masih dengan setia menatap layar ponsel Papi Surya
Adel menoleh dan menatap Papi nya "Aku gak apa apa Pi, bukannya aku sudah bilang kalau kita cuma temenan"
"Lagian bagus donk Pi, kalau dia sudah beristri, berarti Mamahnya tidak marah marah lagi ke aku"
"Mamahnya?? Marah marah? maksudnya gimana?"
"Upss....keceplosan lagi"
"Eh gak Pi, enggak apa apa, cuma...."
"Cuma apa Del? kamu gak bisa bohongin Papi loh"
"Cuma memang Mamahnya Kak Chandra tidak menyukaiku karena dia mengira kalau aku ini anak orang gak punya"
"Brengs*k, berani berani nya dia menghina putriku"
Papi Surya geram, karena mendengar cerita dari Adella
"Sante aja Pi, dan Papi jangan macem macem ya"
"Aku tau perusahaan Papahnya Kak Chandra bekerja sama dengan perusahaan Papi dan juga Papah, jadi......."
"Oke oke sayang, tapi kalau sampai kamu kenapa kenapa, Papi akan hancurkan keluarganya, uhuk.....uhuk....uhukk....."
"Papi kenapa?? duduk Pi"
"Gak apa apa, terlalu semangat marahinnya"
"Papi pucat" Adel langsung memegang kening Papi Surya
"Papi cuma kecapekan aja Del, sejak dari Jerman, Papi belum istirahat"
"Papi sudah makan? sudah minum obat?"
"Sudah semua Del, tadi sebelum Roy jemput kamu"
"Kamu sebaiknya pulang sayang, nanti Mami nyariin"
"Apa gak sebaiknya Adel nginep di rumah Papi? biar Adel bisa rawat Papi"
"Papi gak apa apa, mendingan kamu pulang saja, bukannya Papi gak mau kamu nginep di rumah, tetapi Papi gak mau jika Mami mu marah nanti ngira Papi gak sportip, gak ngikutin jadwal kamu"
Adel mengangguk, dia juga tak ingin Papi dan Mam nya ribut gara gara dirinya
"Oke, aku pulang ya Pi, tapi kalau ada apa apa kabari aku"
"Iya sayang, udah sana pulang, Om Roy sudah menunggu di luar"