Ini adalah kisahku dalam menunggu cinta pemuda yang kata peramal keluarga adalah keturunan ksatria.
Pemuda yang katanya menguasai ilmu-ilmu Jawa yang sudah tua umurnya.
Pemuda yang membuatku takut akan terkena mantra peletnya saat berjumpa pertama kali dengannya.
Pemuda yang banyak pacarnya, yang untuk mendapatkannya aku harus antri dan berebut dengan wanita lainya.
Namaku Selia, wanita yang terjebak cinta paranormal muda tapi tidak diceritakan dalam petualangan asmaranya.
Kan kam*pret namanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 22
Kalingga dan orang pintarnya pulang tak lama setelah membahas tentang oleh-oleh yang aku bawa dari alam gaib.
Al memberikan semuanya pada paranormal gadungan itu. Ternyata orang itu masih saudaranya Lingga, hanya laki-laki biasa yang pernah belajar ilmu Jawa tapi tidak mendalaminya.
Pantas saja begitu berhadapan dengan Al, dia langsung mengajak ponakannya pulang. Rupanya benturan aura membuatnya merasa tertekan dan tidak bisa bertahan.
"Al, kenapa diberikan pada omnya Lingga semua benda mistisnya?"
"Buat apa juga, Beb? Nggak berguna buat kita."
"Aku nggak nyangka ternyata barang seperti itu mahal harganya. Kenapa nggak kita jual sendiri aja sih tadi?" Kataku dengan sedikit sesal, tentu saja juga karena perhitungan keuntungan yang bisa didapatkan. Masa iya aku yang dapat luka, mereka yang menikmati labanya!
"Beb, anggep aja itu bonus buat mereka yang sudah malu karena salah alamat. Lagian biar hubunganmu dengan Lingga tetap baik sebagai asdos dan mahasiswi, syukur-syukur bisa jadi teman."
"Ish… dia itu baik karena ada maksud sama aku!"
"Wajarlah."
"..." Aku tidak menerima kewajaran yang seperti itu.
"Masih mau diperpanjang debat soal benda mistis itu?"
Huh, cara Al menghentikan debat selalu saja dengan pertanyaan yang menyudutkan. Selalu melempar keputusan padaku. Pandai sekali dia membuat orang tak enak hati jika ingin melanjutkan pembicaraan.
Aku tersenyum manis karena ada pertanyaan yang perlu dia jawab. "Apa fungsinya semua benda mistis itu selain jadi uang?"
"Banyak orang yang masih percaya kalau itu bisa mendatangkan kewibawaan, kekebalan dan juga pengasihan. Ada juga yang menjadikan sebagai jimat untuk memagari rumah." Terang Al santai.
Kalau memang manfaatnya banyak kenapa tidak digunakannya sendiri? Aku sering nggak habis pikir sama pola pikirnya tentang kegaiban.
"Kenapa nggak kamu…."
"Beb, case closed." Kata Al telak memutus pertanyaanku. "Aku tidak menggunakan benda-benda mistis semacam itu. Makanya aku berikan semua pada omnya Kalingga."
Aku mengangguk lemah, "Maaf, aku nggak ngerti."
"Aku akan menggantinya jika kamu keberatan."
"Dengan?"
"Makan malam romantis." Dia mengangkat daguku untuk memberi tatapan lembutnya, "Deal?"
Kira-kira kalau aku tolak dia marah nggak ya, aku kan nggak makan malam.
"Dengan senang hati," jawabku penuh kegembiraan. Setelahnya mengutuk diri sendiri yang tidak kuat godaan laki-laki dengan jenis ini.
"Kalau gitu aku pulang ya, kamu butuh istirahat." Pamitnya sambil mengusap-usap penuh iba sisa guratan bekas cakaran yang ada di lenganku.
Ada saatnya aku dibiarkannya menghadapi ujianku sendiri, meski terkesan kejam aku masih saja menyimpan rasa kagum. Karena sebenarnya dia hanya bertindak sebagai guru yang sedang mengajar murid.
Setelahnya dia akan memberikan apresiasi dengan banyak perhatian dan kasih sayang yang aku butuhkan.
Kamu memang laki-laki idaman…!!!
Dan melting point adalah saat hatiku penuh bunga bermekaran seperti sekarang ini.
Aku sudah terlalu lelah dan makin kacau hanya dengan sentuhan ringannya. "Iya, aku akan tidur sebentar. Nanti aku akan meditasi kalau sudah larut, biar lebih tenang."
"Tidak ada luka berarti, lenganmu akan segera sembuh. Guratannya akan hilang setelah kamu bangun tidur nanti, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aman terkendali, Beb." Ucapnya seraya mengusap kepala dan rambutku. "Panggilkan ibunda, aku mau pamitan! Sekalian sampaikan salam buat Nizar ya!"
Aku mengantarkan sampai depan pagar setelah dia berpamitan pada Ibunda. Kembali ke dalam rumah setelah dia tidak lagi kelihatan.
"Kamu pucat sekali, Diajeng." Ibunda langsung mengecek suhu tubuhku dengan menempelkan kedua telapak tangannya pada pipiku. "Agak panas, minum obat ya!"
"Sudah minum tadi, Bu. Mungkin mau flu juga, nanti setelah istirahat pasti sehat lagi."
"Tidurlah sekarang, besok kalau masih nggak enak badan kita ke dokter."
"Iya, Ibu." Aku menjawab dengan singkat dan berlalu pergi ke kamarku, merebahkan badan. Tak sampai tiga menit aku sudah terlelap karena kehabisan tenaga.
Mimpi buruk itu kembali datang, kenapa aku selalu bermimpi di tempat gelap ini. Dan tangan itu sudah ketiga kalinya menarik seseorang yang terendam dalam kubangan.
Melihat waktu ternyata aku baru tidur beberapa jam saja. Aku selalu terbangun jika mimpi buruk ini datang, mimpi berulang yang tidak aku mengerti artinya. Menganggapnya sebagai bunga tidur rasanya tidak pas, karena tidak hanya sekali datang.
Merasakan sekujur tubuhku yang masih sakit aku mengambil posisi meditasi dan mulai melakukan pernafasan teratur seperti yang diajarkan Al. Membiarkan diriku larut dan masuk makin dalam.
Satu hal yang sangat berubah adalah kepekaan. Awalnya aku yang tidak bisa merasakan kehadiran makhluk tak terlihat penguasa malam, sekarang aku sedikit peka dengan mereka. Meskipun hanya terlihat di alam bawah sadar atau pada konsentrasi tinggi seperti saat ini.
Setelah satu jam aku membuka mata, tubuhku terasa ringan dan jauh lebih baik. Aku tidur sangat nyenyak setelah itu. Dan bangun pagi dengan bugar tanpa demam dan tentu saja tanpa rasa sakit di badan. Aku sembuh total dengan sangat cepat, menyenangkan sekali.
Berkahe Gusti.
Ara memaksa menjemputku, sekalian memastikan kondisiku sebelum pergi ke kampus katanya. Calon adik iparku ternyata perhatian juga.
"Sehat banget kamu, kirain ambruk karena kejadian kemarin." Ejek Ara ketika aku duduk nyaman di sebelahnya.
"Aku aja heran, rasanya luar biasa. Nggak seperti biasanya ini, Ra!"
Aku bercerita detail tentang Kalingga yang sudah kembali normal dan tubuhku yang sehat dengan cepat.
"Sepertinya kamu bakat jadi seorang penyembuh," ujar Ara menanggapi ceritaku.
"Maksudnya?"
"Seseorang yang punya bakat itu biasanya terjadi pada dirinya sendiri lebih dulu. Saat sakit tubuhnya akan bekerja keras menyembuhkan agar sehat seperti semula. Terutama dari luka gaib."
"..." Aku termangu memikirkan penjelasan Ara. Memang masuk akal, tapi kenapa mendadak terjadinya? Apa karena pengaruh mantra pengobatan yang aku pelajari ya?
"Al mengajarkan mantra pengobatan padaku, apa itu yang jadi penyebabnya?"
"Bisa jadi mantra itu adalah alat pembuka kunci tubuhmu. Karena hal seperti itu biasanya berhubungan dengan bakat bawaan. Aku rasa bakatmu aktif karena ada pemicunya, karena ada yang membuka segelnya.
Sama seperti Al yang diberkahi dengan bakat bawaan begitu banyak soal kegaiban, bakat itu juga baru benar-benar aktif setelah Al mendapatkan mimpi bertemu kakek."
"Tapi keluargamu memang dikaruniai kemampuan supranatural seperti itu ya? Mom dan kamu juga kan?"
"Mom iya, tapi aku tidak. Warisan nenek moyang itu 90% jatuh pada kakakku," jelas Ara.
"Kadang aku tuh takut sama kakakmu, Ra. Dia itu misterius meskipun suka bercanda."
"Banyak hal yang kamu nggak tau tentang dia, Selia. Al itu tidak terbuka pribadinya."
Ara tertawa masam, melirikku sedikit karena aku menarik nafas berat nan panjang.
"Aku lebih mengenalnya saat dia menjelma menjadi seorang ksatria, saat dia membaca mantra, saat dia bicara tentang dua dunia."
"Takdir mungkin, apalagi kamu seorang penyembuh."
"Maksudnya?"
"Ya kamu yang akan menyembuhkan luka hatinya," jawab Ara asal sambil tertawa-tawa. "Iya nggak, Sel?"
"Mana aku tau, sulit sekali menebak hatinya berlabuh dimana. Emang siapa yang bakal melukai hatinya, Ra?" Tanyaku penasaran dengan penglihatan Ara.
Aku tidak menyangkal kalau Al sayang padaku, tapi aku bukan satu-satunya wanita yang dia sayang. Dan kata cinta itu tidak pernah terucap sekalipun dari bibirnya untukku.
"Hatinya ada padamu… juga ada pada Wulan."
Artinya yang mungkin menimbulkan luka kalau nggak aku ya Wulan.
"Aku nggak tau mau bilang apa, Ra. Tapi pertemuanku dengan kakakmu pasti bukan sebuah kebetulan, pasti ada sesuatu yang direncanakan alam."
Ara mengangguk setuju dan tersenyum penuh semangat. "Nanti selesai kuliah dia yang ngantar kamu pulang ya! Katanya kalian ada janji kencan romantis."
"Cuma makan malam Ra. Ayo kalau mau gabung!"
"Trus aku jadi tripod plus kamera kalian gitu? Nggak usah ya, mending aku kencan sendiri aja."
"Yudha?"
"Hem, kenapa?"
"Hati-hati," pesanku dengan cengengesan.
"Ehh… harusnya kamu yang waspada, takutnya malam ini Al sengaja bikin kamu… ehm… duh nggak tega mau ngomong," ledek Ara usil dengan wajah jenakanya.
Dan hatiku langsung berdebar membayangkan…!
***