Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Melza (flashback)
"Bagaimana hasilnya Dok? " tawnya Jasper dengan wajah cemasnya.
Sang dokter menghembuskan napasnya kasar, ia membenarkan lekat kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Menurut hasil diagnosis jika anak anda mengidap Dissociative Identity Disorder atau biasa kita sebut dengan kepribadian ganda" Ungkapnya dengan wajah serius.
Kepribadian ganda atau di kenal dengan Dissociative Identity Disorder adalah suatu kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya. Pengidap gangguan ini mengalami kepribadian yang berubah-ubah, tetapi hal ini tidak disadarinya. Gangguan ini ditandai dengan gangguan memori, kesadaran, atau kepribadian, yang umumnya dipicu oleh stres atau kejadian traumatis yang dialami orang tersebut.
"Bagaimana bisa? " Gumamnya kepada dirinya sendiri, wajahnya bahkan berubah jadi pucat pasi saat mendengar hasil diagnosis Elza.
"Apa anda tidak salah mendiagnosis anak saya Dok? "
"Saya sudah memeriksa putri anda dengan CT Scan dan pemeriksaan darah, tapi tidak di temukan penyakit apa pun. Setelah saya melakukan wawancara dan observasi dengan putri anda, dan melakukan tahap tahap lainnya. Saya menemukan perilaku putri anda yang berbeda"
"Apa putri anda pernah mengalami kejadian yang membuat dia mengalami traumatis? "
"Iya" Jawab Jasper pelan.
Tubuh Jasper mendadak lemas ketika ia baru ingat jika Elza melihat secara langsung kematian Hanna dengan Elsa, putri bungus nya memilih mengurung dirinya didalam kamar selama seharian penuh bahkan Elza tidak mau berbicara dengan siapa pun termasuk anggota keluarganya.
Jasper terlalu larut dalam kesedihan karena kehilangan istri sekaligus anak nya, ia lupa jika Elza butuh perhatian lebih darinya. Seketika Jasper membenci dirinya karena kurang memperhatikan Elza, pasti sangat berat untuk Elza menyingkirkan bayangan tentang kejadian yang mengerikan itu.
"Kemungkinan besar itu lah penyebabnya"
"Untuk saat ini hanya ada satu di dalam diri Elza, namanya Elsa"
"Elsa? "
"Iya, kepribadian lain dari Elza, namanya Elsa"
Sekarang Jasper tahu alasan kenapa Elza selalu berperilaku layaknya seperti Elsa, awal nya Jasper pikir jika Elza melakukan hal itu agar dirinya dan saudara saudaranya tidak sedih karena kehilangan Elsa. Tapi ternyata Jasper salah.
"Apa kepribadian ganda putri saya bisa di sembuhkan? "
"Tentu bisa"
Mendengar jawaban yang sesuai yang di inginkan olehnya membuat Jasper bisa bernapas dengan lega.
"Kalau begitu saya pamit dulu Dok"
Kemudian keduanya beranjak dari kursi lalu berjabat tangan sebelum akhirnya Jasper keluar dari ruang kerja Dokter psikiater tersebut.
*****
Kerutan langsung muncul di kening Elza saat melihat ada banyak boneka di dalam kamarnya, sejak kapan dirinya hobi mengolekasi boneka.
Elza langsung mengambil satu persatu boneka yang dibiarkan tergeletak diatas tempat tidurnya, lalu dimasukan kedalam keranjang pakaian kotornya. Elza langsung mendorong keranjang berisikan boneka keluar dari kamarnya.
"Elza"
Langkah Elza terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya, Elza menoleh lalu menatap bingung kearah Remi yang menghampiri dirinya.
Senyum lebar Remi langsung luntur begitu saja saat melihat wajah super datar milik Elza, ia melirik kearah keranjang yang di dorong dorong Elza di lorong kamar.
"Mau di bawa kemana, bonekanya? "tanya Remi bingung.
"Buang" Jawab Elza ketus.
"Buang? " Remi menaikan sebelah halisnya bingung "Kenapa di buang, bukankah ini mainan kamu? "Tanya Remi heran.
"Mainan aku? "Elza menatap Remi dengan pandangan bertanya tanya "Sejak dulu aku nggak suka boneka! "Geram Elza kesal.
Remi hanya bisa diam mematung ketika melihat Elza kembali mendorong keranjang yang berisikan boneka boneka yang sering di mainkan oleh Elza sejak beberapa hari yang lalu.
Remi menaikan kedua bahunya acuh, lalu ia memilih untuk masuk kedalam kamarnya.
****
"BANG REMI BANG LUCAS"
Teriakan super kencang dari mulut Elza membuat Lucas dan Remi terperanjat kaget, mereka berdua langsung keluar dari kamar mereka masing masing saat mendengar teriakan Elza.
Keduanya langsung masuk kedalam kamar Elza, Lucas dan Remi kembali di buat terkejut saat melihat wajah Elza memerah karena menangis.
"Hei hei ada apa? " Tanya Lucas langsung menghampiri Elza yang sedang duduk di pinggir ranjang "kenqapa sayang? Ada yang jahatin kamu, bilang sama Abang"
"Boneka"
"Boneka aku hilang semua"
Mendengar itu membuat Remi mendadak keheranan, bukankah tadi pagi Elza menyingkirkan boneka boneka itu sejak beberapa jam lalu. Lalu kenapa kini Elza malah menangis karena kehilangan boneka.
"Bukankah tadi kamu yang buang bonekanya ya" Ucap Remi.
"Buang? Di buang, aku nggak buang boneka" Elza menggelengkan kepala cepat, bahkan air matanya sudah bercucuran membasahi kedua pipinya.
Remi menggaruk tengkuknya bingung, ia menatap Lucas yang sedang berusaha menenangkan Elza.
"Lo tahu dimana boneka nya? "Tanya Lucas.
"Tau"
"Yaudah bawa ke sini cepet"
"lawh, kok lo nyuruh gue si"
"Udah cepetan, Papah bakal marah kalau ngeliat Elza nangis"
"Yaudah iya, gue ambil"
Remi bergegas mencari keberadaan boneka yang di buang oleh Elza entah dimana, setahu Remi jika Elza membawa keranjang berisikan boneka itu menuju kearah gudang. Kemungkinan besar jika Elza pasti meletakkan nya disana.
Tidak sekali, dua kali Elza sering berperilaku aneh. Remi bahkan bertanya tanya, sebenarnya apa yang terjadi kepada Elza. Apa Elza kerasukan oleh hantu? Tapi hantu jenis apa yang mau merasuki Elza. Sungguh, Remi benar benar bingung dengan adik bungsunya itu.
Tidak hanya perilaku aneh yang membuat Lucas dan Remi bertanya tanya, tapi sikap pelupa Elza yang kerap kali membuat Remi dan Lucas jadi tersiksa. Demi apa pun mereka bukan kamera CCTV yang akan merekam setiap kegiatan yang di lakukan oleh Elza.
Remi bernapas lega ketika ia melihat keranjang berisikan boneka boneka sialan itu ada di dalam gudang, tanpa banyak bicara lagi Remi langsung membawa keranjang itu menuju kamar Elza.
"Nih"
Remi langsung meletakan keranjang itu di lantai.
Ajaibnya tangisan Elza langsung terhenti saat melihat bonekanya masih ada dan utuh, ia langsung beranjak dari pangkuan Lucas lalu menghampiri keranjang yang berisikan boneka. Elza tersenyum lebar saat melihat bonekanya ada di dalam sana, ia mengambil salah satu dari boneka itu lalu memeluknya erat.
Remi dan Lucas saling melemparkan tatapan satu sama lain, hingga akhirnya mereka menggelengkan kepalanya kompak. Pertanda jika mereka tidak mengerti sekaligus tidak tahu.
*****
Raut wajah Elza berubah jadi pucat saat melihat telapak tangannya di lumuri oleh darah, ia bahkan sampai menjatuhkan pisau di tangannya hingga tergeletak diatas tanah. Elza menarik paksa tubuhnya untuk menjauh dari bangkai anjing yang mati karena di gorok oleh benda tajam, lalu ia menatap telapak tangannya sekali lagi untuk memastikan jika darah anjing itu ada di tangannya. Apa ia yang membunuh anjingnya?
Semakin hari Elza tidak mengerti dengan dirinya, berulang kali Elza selalu mengalami hal hal aneh. Ia bingung dengan apa yang terjadi kepada dirinya sendiri.
Elza tidak pernah suka dengan boneka, kini didalam kamarnya penuh dengan benda menyebalkan itu. Buku yang tersusun di rak nya, kini berubah menjadi tempat penyimpanan mainan perempuan yang tidak pernah Elza sukai sama sekali. Koleksi bukunya kini sudah berubah abu, katanya dia sendiri yang membakarnya. Cat dingding di kamarnya bahkan berubah jadi warna pink, padahal Elza menyukai warna abu abu. Kini, Elza membunuh anjing kesayangan sendiri?.
Sebenarnya ada banyak hal yang berubah pada dirinya, tapi Elza tidak menyadari perubahan itu. Apa Elza sudah gila? Tidak, Elza merasa kalau dirinya masih sangat waras.
"Elza"
Panggilan itu membuat Elza langsung menoleh dengan gerakan cepat, disana ia melihat Raka sedang berdiri sambil menatap dirinya kaget.
"awku tidak membunuh anjing ini" Elza menujuk bangkai anjing yang berada di sebelahnya, Elza langsung bangkit dari posisi duduknya lalu menatap Raka serius "Aku ingin melihat rekaman CCTV dari segela sudut rumah ini"
Raka hanya bisa menganggukkan kepalanya, lalu membiarkan Elza berjalan di depannya. Sebelum Raka mengikuti langkah Elza, Raka melirik sebentar kearah anjing malang yang kini tidak bernyawa lagi. Buru buru Raka langsung mengejar langkah Elza di depannya.
Sejak kematian Hanna dan Elsa, Elza memilih untuk mengurung dirinya didalam kamar dengan waktu yang sangat lama. Berbagai cara telah Raka, dan lainnya lakukan agar Elza keluar dari kamarnya. Tapi usahanya selalu gagal karena Elza tidak mau keluar atau membukakan pintu kamarnya. Tapi setelah 3 bulan lamanya Elza berada didalam sana, entah setan apa yang merasuki Elza tiba tiba saja dia keluar dari kamarnya dengan wajah berbinar. Tentu saja mereka langsung kaget.
Sejak saat itu hal hal aneh mulai terjadi kepada diri Elza, ada banyak perilaku yang berubah di dalam diri Elza. Tidak hanya itu, Elza juga jadi berubah menjadi orang yang sangat pelupa. Dia bahkan sering tidak ingat dengan apa yang di lakukan nya sendiri.
Setelah berjalan memakan waktu beberapa menit mereka langsung masuk kedalam ruang kontrol CCTV, Raka langsung duduk di kursinya yang menghadap langsung kearah monitor komputer nya. Lalu Raka mulai memasukan kata sandi nya, agar ia bisa mengakses komputer nya.
"Bisa tinggalkan aku sendirian? "
Elza menatap wajah Raka dengan datar.
"Baiklah" Raka beranjak dari kursinya "Kalau ada apa apa segera panggil gue"
Elza hanya membalas dengan anggukan singkat.
Raka langsung melenggan pergi dari dalam ruang kontrol CCTV meninggalkan Elza di dalam sana sendirian.
Setelah melihat Raka keluar, Elza menarik kursi tersebut, lalu mendudukkan bokongnya diatas kursi. Ia menatap lekat kearah layar monitor tersebut, sebelum akhirnya jari jarinya bergerak lincah diatas keyboard.
*****
"Jadi apa hasilnya Pah? " Tanya Lucas tidak sabaran.
"Elza semakin hari semakin aneh" Keluh Remi sambil memijat pangkal hidungnya.
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah, Jasper akan menceritakan semuanya kepada anak anak nya sekaligus tangan kanannya, Raka.
Akhirnya orang yang sejak tadi di tunggu oleh mereka muncul juga, Raka langsung duduk disalah satu sofa yang kosong berhadapan langsung dengan Remi dan Lucas di hadapannya. Sementara Jasper duduk di kursi tengah.
"Elza dimana? "tanwya Jasper kepada Raka.
"Diruang CCTV" Jawab Raka tenang.
"Mau ngapain dia disana? Mau nyari rekaman tingkah absurd gue" Remi menatap Raka serius.
"Ngapain Elza nyari rekaman eloh Bang, kagak ada kerjaan" Ucap Lucas mencibir.
Remi berdecak sebal.
"Mending kalian berdua diem! " Raka menatap Lucas dan Remi tajam "Kita harus dengerin penjelasan tuan Jasper dulu"
Jasper menghembuskan napasnya kasar sebelum akhirnya ia menceritakan hasil diagnosis dokter yang menangani Elza.
*****
Melamun itulah yang mungkin Elza lakukan saat ini, rasanya Elza ingin menyangkal keanehan yang ia perbuat sendiri. Tapi setelah ia berada di ruang kontrol CCTV hampir 3 jam lebih, ia melakukan hal hal aneh secara sadar, tapi Elza tidak ingat jika ia melakukan hal hal itu.
Sekarang ia tahu alasan kenapa orang orang kerap menatap dirinya dengan aneh, bahkan Elza tidak menyadari apa yang ia perbuat. Elza seperti tidak sadar melakukan hal hal yang tidak ia sukai, termasuk bermain boneka contohnya. Sejak kecil Elza tidak suka dengan boneka, tapi setelah melihat rekaman CCTV beberapa hari yang lalu. Ia melihat jika dirinya tampak asik memainkan boneka boneka yang berada di kamarnya sendiri.
Apa dirinya kerasukan oleh sesuatu?
Elza menggelengkan kepalanya cepat, Elza tidak pernah percaya dengan hal hal gajib. Maka dari itu ia menyangkal persepsi kerasukan nya, ia tahu jika ada sesuatu didalam dirinya yang bisa di jelaskan secara ilmiah.
Elza!
Elza!
Kerutan langsung muncul di kening Elza saat ia mendengar seorang wanita baru saja memanggil namanya, Elza celingak celinguk kesana kemari tapi ia tidak menemukan seseorang.
Waktunya kamu tidur Elza
Ia mengerang kesakitan ketika kepalanya seperti di pukul oleh sesuatu dengan amat keras, Elza mencengkeram kuat rambut panjangnya sambil menggigit bibir bawahnya. Elza tidak boleh menyerah, ia tidak mau jika tubuhnya kembali di kendalikan oleh sesuatu.
Menyerahlah Elza
Kamu harus tidur
Sekarang aku yang harus menggantikan mu
"Tidak! "Bentak Elza marah "Keluar dari pikiran ku sialan"
Hahahahah
Elza Elza
Menyerahlah
Aku tahu ini sakit, sebaiknya kamu menyerah
Keringat sudah membanjiri tubuhnya, bahkan kepalanya semakin sakit ketika Elza berusaha keras untuk mempertahankan kesadaran nya.
Elza beranjak dari kasurnya, lalu melangkah kedua kakinya secara paksa untuk mendekat kearah meja belajarnya. Elza mengambil sebuah cutter yang tergeletak diatas meja belajarnya.
Jangan sakiti anak anak ku!
Tidak, dia bohong. Aku Elza
"TIDAKKK!! "
Jerit Elza kencang, napasnya memburu. Matanya melotot menatap kesegela arah, seolah olah sedang mencari sesuatu yang sejak tadi terus bersuara di kepalanya.
Menyerahlah Elza
Biarkan aku yang membalas rasa sakit mu
Tidur lah yang nyenyak
Elza menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak akan membiarkan sesuatu yang masih belum ketahui ini mengendalikan tubuhnya. Elza mencengkeram kepalanya kuat ketika rasa sakit itu semakin menjadi jadi, bahkan kepalanya terasa akan meledak dalam waktu dekat ini.
Mata Elza jatuh kearah sebuah pisau cutter yang terjatuh dari genggam nya, Elza langsung mendudukan tubuhnya disana lalu mengambil pisau cutter itu. Ia menatap pisau cutter dengan tatapan nanarnya.
Otak Elza tidak mampu berpikir dengan jernih, yang Elza inginkan hanya menyudahi rasa sakit yang menyiksa nya. Pikiran Elza hanya tertuju pada cutter yang berada di tangannya, mungkin dengan kematiannya ia bisa mengakhiri penderitaan nya.
Jangan lakukan hal gila itu Elza
Apa kamu mau pengorbanan Mamah dan Saudara mu jadi sia sia hah!
Menyerahlah, Elza
Aku berjanji akan membuat rasa sakit mu menghilang
Elza tertawa seperti orang gila, ia merasa perkataan orang yang ada di dalam pikirannya seperti sebuah lelucon.
"Aku tidak akan membuat mu mengambil alih tubuh ku! "
"Kau membuat diri ku seperti orang gila"
"Lebih baik kita mati bersama"
Pada saat itu juga Elza mengiris pergelangan tangannya dengan pisau cutter yang begitu tajam ke permukaan kulitnya, darah langsung merembes saat Elza berhasil mengiris pergelangan tangannya. Air matanya luruh bersamaan dengan pisau cutter yang ia pegang terjatuh ke lantai, Elza menatap nanar kearah darah yang sudah mengotori lantai kamarnya.
Elza menghela napas berat, pandangan semakin mengabur. Ia merasakan jika beban menyakitikan itu mulai terangkat.
"Maafkan aku"
*****
"Bagaimana keadaan adik saya Dok? " Tanya Lucas menatap dokter yang sudah selesai mengobati Elza.
"diaq akan baik baik saja" Jawabnya "Untungnya anda menemukan adik anda cepat, kalau tidak mungkin nyawanya tidak akan tertolong "
Lucas tersenyum lega, ia menatap tubuh adiknya yang berbaring diatas ranjang dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya. Tidak hanya itu saja, Lucas merantai kaki dan tangan Elza agar Elza tidak berbuat hal gila seperti beberapa menit yang lalu.
"Kalau begitu saya pamit undur diri"
Setelah kepergian sang Dokter, Lucas langsung mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang. Kedua matanya menatap wajah Elza lekat, ia merasa sedih melihat Elza yang menanggung semua rasa sakitnya. Seadanya Lucas bisa, mungkin Lucas akan menggantikan Elza untuk merasakan rasa sakit itu.
Tangan Lucas terulur untuk nenyentuh wajah pucat Elza, Elza adalah adik nya yang luar biasa kuat. Lucas tahu jika Elza tidak akan melakukan tindakan gila seperti tadi.
Lucas tidak bisa membayangkan kalau dia datang terlambat, mungkin Elza sudah meninggal. Maka dari itu Lucas sangat bersyukur karena berhasil menyelamatkan Elza.
Ceklek..
Pintu terbuka, menampilkan raut wajah khawatir Raka, Remi dan Jasper. Ketiga pria itu langsung melangkah mendekat kearah nya.
"Apa yang terjadi? " Tanya Jasper menatap wajah Lucas serius.
"diwa melakukan percobaan bunuh diri, untungnya aku tidak terlambat untuk mengetahui nya" Jawab Lucas.
"bawgaimana bisa Elza melakukan itu? " Gumam Remi kepada dirinya sendiri.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus membawa Elza kerumah sakit jiwa? "
"Aku akan pikirkan, lebih baik kita mengikat dia terlebih dahulu agar hal buruk tidak terjadi lagi"
"Baik Pah"
*****
Melihat kondisi Elza yang memburuk membuat Jasper merasa tidak berguna menjadi seorang ayah, yang bisa Jasper lakukan hanya mendatangkan dokter psikiater untuk menangani Elza. Tapi dokter dokter itu sepertinya tidak berguna, keahlian mereka tidak membuahkan hasil sedikit pun.
"Kita harus melakukan terapi memory suppression tuan" Ungkap Raka.
Ucapan Raka berhasil mencuri perhatian Jasper, Remi dan Lucas yang sedang melamun karena kondisi Elza yang belum baikan juga.
"Gue setuju sama pendapat kak Raka" Ungkap Lucas
"bagqaimana tuan, apa anda setuju? "Tanya Raka menatap Jasper prihatin.
"Gue setuju" Remi memberi suara agar Jasper setuju dengan solusi yang di berikan oleh Raka "Bukankah terapi memory suppression itu untuk menghapus ingatan buruk? "
"Iya, setidaknya kita perlu mencobanya "
Jasper menghembuskan napasnya kasar.
"Baiklah, hubungi Dokter nya"
"Baik tuan" Raka segera mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi kenalannya yang juga seorang dokter psikiater.
Sejak Raka di angkat sebagai tangan kanan Jasper, Raka memang memiliki banyak kenalan dengan orang orang penting.
"Besok dia akan langsung datang" Ucap Raka lalu memasukan ponsel nya kedalam kantung celananya "Aku harap solusi ini bisa meringankan beban Elza"
"Ya, aku harap begitu"
****
Seusai dengan kesepakatan sang dokter datang ke kediaman keluarga Nicholas yang sudah menunggu kedatangan dokter psikiater yang akan melakukan terpai memory suppression (penekanan atau penghapus memori) kepada Elza, terapi ini kemungkinan bisa menghilangkan ingatan buruk Elza tentang pasca-kejadian mengerikan yang membuat Elza traumatis.
"buwat aku mati kumohon" Pinta Elza dengan wajah memelasnya "Aku lelah, aku ingin bersama Mamah dan kak Elsa"
"Maaf nak, Papah nggak bisa kehilangan kamu" Jasper menatap wajah Elza dengan sedih "papah mohon, bertahanlah. Papah pasti akan membebaskan kamu dari rasa sakit itu"
Jasper menggenggam tangan Elza yang di rantai di kepala ranjang, ia mengecup pelan kening Elza sebelum akhirnya ia menyingkir dari Elza dan mempersilakan sang Dokter untuk melihat lebih dekat Elza.
"Sebenarnya apa yang membuat anak anda jadi seperti ini? " Tanya sang Dokter menatap wajah Jasper dengan serius "Apa dia mengalami kejadian yang mengerikan hingga dia jadi seperti ini? "
"Iya" Jawab Jasper, lalu Jasper menceritakan kejadian itu kepada sang Dokter dengan singkat dan jelas.
"Saya tidak yakin apakah terapi ini bisa membantu anak anda" Sang Dokter menatap Elza yang terbaring diatas ranjang dengan kedua tangan dan kaki di ikat rantai.
"lalwu apa yang harus di lakukan Dok? "Tanya Jasper, wajahnya sudah sangat frustrasi.
"Amnesia Disoiatif"
Raut kebingungan tampak ketara di wajah Jasper, Remi dan Lucas.
"pada amnesia disosiatif, kenangan masih ada tetapi terkubur dalam pikiran seseorang dan tidak dapat diingat lagi. Namun, kenangan itu akan muncul kembali pada mereka sendiri atau setelah dipicu oleh sesuatu di lingkungan orang tersebut"
"Jadi ingatan anak saya bisa kembali? "Tanya Jasper memastikan.
"Tentu" Dokter muda itu tersenyum hangat "Semakin lama anak anda tidak ingat apa pun tentang masa lalunya, maka semakin baik. Hal itu bisa mempersiapkan mental anak anda untuk semakin kuat"
"Baiklah saya mengerti "
"Kalau begitu saya akan memulai tahap tahap pertama dengan anak anda"
"Saya butuh ruang, dimana hanya ada saya dan anak anda"
"Baiklah"
Kemudian Jasper, Raka, Remi dan Lucas langsung keluar dari kamar meninggalkan Elza dengan sang Dokter. Mereka sangat berharap jika pengobatan itu berhasil, walau Elza harus kehilangan ingatan tentang mereka.
*****
Bungker dengan tingkat keamanan tinggi menjadi pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat persembunyian bagi Elza.
Bungker ini di desain khusus oleh Raka untuk mengamankan Elza di dalam sana, ada banyak teknologi yang canggih sekaligus rumit untuk di pecahankan. Bahkan Raka memastikan jika bungker buatannya tahan dari segala apa pun sekaligus tidak akan ada orang yang bisa menemui bungker ini.
Letaknya berada di tengah hutan, yang konon katanya ada banyak hantu dan binatang buas yang banyak berkeliaran di sekitar hutan ini.
Menurut Raka ini adalah tempat yang paling cocok untuk membuat bungker tanpa di ketahui oleh orang di sekitar, maka dari itu Raka membuat bungker ini dengan amat spesial.
Bungker ini nyaris tidak bisa di temukan oleh apa pun selain memanfaatkan indra penglihatan dengan jelih dan tajam, mungkin hanya Raka yang tahu dimana letak pintu masuknya berada.
Kini bungker spesial nya akan di tempati oleh Elza, orang pertama yang akan menempati bungker buatannya.
"Udah deh nggak usah lebay" Kesal Raka menatap Lucas dan Remi secara bergantian " Elza cuma di sembunyikan untuk beberapa waktu doang"
"Tapi tapi... Kalau Elza kangen gue gimana? " Tanya Remi dengan nada bergetar sambil menatap wajah Elza yang terlelap.
Raka menghela napas kasar, padahal Remi sudah dewasa. Tapi kelakuan masih seperti bocah.
"iqni demi kebaikan Elza, gue yakin kalau Elza akan baik baik ajah disana"
"Semoga kita bertemu lagi, Elza" Lucas mengecup pelan kening Elza dengan lembut "Hidup yang baik ya, Abang yakin kalau kamu pasti bisa menjalani hidup sendirian disana"
"Minggir lo! " Bentak Remi lalu menarik tubuh Lucas agar menjauh dari Elza, Remi menatap Elza dengan kedua matanya yang sudah berkaca kaca "Elza nggak boleh kangen sama abang ya, abang tahu kalau abang orang nya ngangenin"
Dengan kompak Remi dan Raka langsung memutar bola matanya jengah dengan sikap kepercayaan diri Remi yang sudah tahap stadium akhir.
Melihat kedatangan Jasper, buru buru Remi menghapus air matanya. Ia langsung memberikan ruang kepada Papah nya untuk mengucapkan perpisahan dengan Elza.
"Hidup yang baik Nak" Jasper mengelus rambut Elza "jangwan pernah membenci keluarga kamu sayang, ini demi kebaikan kamu"
"Sudah waktunya tuan" Raka melirik arloji di pergelanfan tangannya "Saya harus segera mengantar Elza, agar tidak keburu malam"
Jasper menarik napasnya dalam dalam, ia langsung merogok sesuatu didalam kertas.
"Kamu letakan ini di samping Elza" Jasper memberikan kertas yang terlipat rapih itu kepada Raka.
"Apa ini tuan? "
"Itu hanya nama, aku takut jika Elza bingung mencari nama"
"Baiklah"
Raka langsung menyimpan kertas itu ke jas nya lalu menatap mereka bertiga secara bergantian, raut tidak rela tampak jelas di wajah mereka. Tapi mereka tidak punya pilihan lain selain merelakan Elza, untuk memulai kehidupan awalnya. Hanya sendirian tentunya.
"Semoga hidup baru mu menyenangkan, Elza"