Meidina Mayangsari tak menyangka akan terjebak dalam kehidupan Presdir yang begitu arogan, dia menjadi asisten pribadi.
di kelilingi oleh pria pria tampan, siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya? nikmati ceritanya dan ingat ini novel 21++++
seoson 2
Samuel harus menerima kenyataan pahit karena kecelakaan yang di alami, tapi dia bersyukur wanita yang di cintainya tetap berada di sisinya.
akankah mereka bersama kita lanjutkan baca ceritanya cuzz.... tetap dengan21++
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
potongan ingatan
kini kandungan Mei sudah mencapai tujuh bulan, dan Ron begitu menjaga wanita itu.
"nyonya anda mau kemana? tuan melarang anda berjalan jauh," kata Avi pelayan khusus.
"aku tidak berjalan jauh, hanya ingin melihat rumah kaca saja, sudah hampir dua bulan aku tak kesana karena kondisiku," jawab Mei.
Avi pun tak bisa melarang Nyonya besarnya itu, mereka pun sampai di rumah kaca itu.
saat di dalam ruangan itu begitu indah, tapi ada sudut yang menjadi kesukaan darinya.
dia pun bergegas ke sana, senyum indah miliknya langsung mengembang melihat bunga mawar yang mekar berbagai warna.
Mei pun menyentuhnya, tapi tiba-tiba dia seperti menginggat sesuatu.
"apa ini, ingatan apa ini?" gumamnya bingung.
dia pun bergegas menyentuh mawar itu lagi dan kembali potongan ingatan terlintas.
dia merasa pernah memiliki bunga mawar dan ada seorang pria yang memeluknya.
Avi kaget karena melihat tubuh Mei limbung dan jatuh pingsan, dia pun berhasil menangkap tubuh nyonya besarnya itu.
"pengawal!" teriak Avi.
Mei pun segera di bawa ke rumah sakit, Avi begitu khawatir dengan kondisi Mei yang tiba-tiba drop.
Ron pun datang saat Mei sudah berada di ruang IGD rumah sakit, saat sampai Ron langsung menampar pipi Avi dengan keras.
"sudah ku katakan jangan mengajaknya ke rumah kaca, ini akibatnya!" bentak Ron.
"tenang Daddy, ini semua kecelakaan, Widya dan anak-anak akan segera sampai," kata Arnold menahan tubuh Ron.
Ron pun menonjok dinding rumah sakit demi melampiaskan kekesalannya.
Sam berlari dan langsung memeluk Ron, Ron pun mengusap kepala putranya itu.
"maaf tuan Ron, kami harus segera melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan nyonya," kata dokter Willy.
"tentu dokter, lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya," jawab Ron.
dokter pun menyiapkan operasi besar itu, "Daddy. apa mommy akan selamat, dan juga adik bayi?" tanya Sam.
"pasti nak, mereka akan selamat karena mommy adalah wanita kuat," jawab Ron menenangkan putranya.
"ya Tuhan, sekali saja selamatkan dia, dan aku bisa menukar apapun untuk itu," batin Ron.
operasi berjalan selama dua jam, akhirnya bayi berhasil di angkat dengan kondisi baik.
keduanya pun sehat, dan Mei juga berhasil melewati masa kritisnya.
saat ini mereka berada di ruang rawat, Mei nasih belum sadar. sedang Ron dan Sam mengenggam tangannya erat.
Mei pun membuka mata untuk pertama kalinya, dia melihat sekelilingnya.
"dokter dia sudah sadar!" panggil Ron yang begitu senang.
dokter pun mengecek kondisi Mei, dan wanita itu nampak binggung, apalagi dia melihat seorang bocah di gendongan Ron.
dokter pun mengatakan jika Mei sudah baik-baik saja, dan hanya perlu istirahat beberapa hari pasca operasi.
"akhirnya kamu sadar," kata Ron bersyukur.
"mommy, jangan seperti tadi, kamu menakuti ku," kata Samuel memeluk Mei.
Ron pun menyadari sesuatu dengan raut wajah kebingungan dan tatapan Mei, hal yang begitu dia takut kan pun terjadi.
"Sam, ikut mami dan papi di luar dulu ya, Daddy ada yang harus di bicarakan dengan mommy sebentar," kata Ron.
Sam pun mengangguk dan keluar dari ruangan rawat itu, sedang Ron duduk di samping Mei.
"apa yang ingin kamu tanyakan ...."
"sudah berapa lama?" tanya Mei melihat Ron yang menunduk sedih.
"maaf ...."
"bisakah Daddy menceritakan segalanya?".
Ron menganggukkan kepalanya, dia pun mulai bercerita dengan suara yang hampir tak bisa keluar dari kerongkongannya.
setelah kecelakaan, Ron membawa Mei ke Amerika untuk berobat, butuh dua bulan untuk membuat gadis itu sadar.
tapi Ron menghadapi masalah baru, dokter mengatakan jika Mei mengalami amnesia parah dan kemungkinan dia tak bisa mengingat masa lalunya.
saat sadar Ron melihat gadis itu binggung, "hei kamu tak menginggat ku?" tanya Ron.
Mei pun mengeleng pelan, Ron pun dengan sabar merawat Mei dengan tulus.
hati pun berganti bulan, perut Mei makin besar dan dokter mengatakan jika Mei hamil seorang bayi laki-laki yang sehat.
suatu malam, Ron melihat Mei yang terbangun dan menatap langit malam.
dia pun memberikan gadis itu selimut agar tak kedinginan, apalagi ini adalah musim dingin.
"apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Ron yang duduk di sampingnya.
"aku tidak ingat hamil dengan siapa? dan apa yang akan aku katakan pada bayiku, siapa ayahnya," jawab Mei sedih.
Ron pun tak bisa melihat gadis itu makin sedih, dia memutuskan memberitahu segalanya.
"ini lihatlah, dia mungkin sudah kamu lupakan, tapi dia adalah ayah dari bayi mu, dan dia adalah-".
Mei langsung memegangi kepalanya yang seakan mau pecah, begitu banyak potongan informasi di otaknya.
"sakit! buang itu, kepalaku mau pecah!" teriak Mei kesakitan.
Ron pun memeluk Mei dengan erat, bahkan Mei pun melukai Ron karena ingin menahan rasa sakitnya.
"dokter!" teriak Ron panik.
dokter pun memberikan obat bius untuk menenangkan gadis itu, ternyata Mei mengingat bahu Ron karena rasa sakitnya.
"tuan, sudah ku katakan jangan menginggatkan nyonya dengan masa lalunya, itu bisa melukai dia atau bahkan membunuhnya, apalagi kandungannya juga bisa terpengaruh," kata dokter menginggatkan Ron.
Ron pun terdiam, dia tak mengira keputusannya memberitahu segalanya kini berbuntut panjang.
Mei kembali kritis, dan Ron pun berharap ini segera terlewati, "maaf ...."
Widya dan Arnold yang mengetahui kabar Mei pun segera berangkat ke Amerika untuk melihat keadaan wanita itu.
akhirnya Mei kembali sadar dan dia tetap tak bisa menginggat masalalu nya.
Mei dan Ron pun menjalani hidup dari saling mendukung, meski begitu sibuk Ron tetap menyempatkan diri mengantar Mei melakukan cek up ke dokter.
akhirnya Mei melahirkan bayi laki-laki yang begitu sehat, Ron pun begitu bahagia melihat bayi itu.
"akan di beri nama siapa?" tanya Ron.
"bolehkah Daddy yang memberikan nama, karena selama ini Daddy yang terus menjaganya dan diriku," kata Mei.
"bolehkah?" tanya Ron.
"tentu, aku bahkan tak pantas menjadi ibu yang baik, menginggat siapa yang menghamiliku saja ...."
"Samuel Reagan Carter, dia akan di kenal sebagai putra Reagan Carter," jawab Ron sambil menghapus air mata Mei.
"terima kasih, karena terus membantu dan menjagaku."
Mei pun memeluk ton, dan Ron mengusap kepala Mei dengan lembut.
"aku akan selalu menjagamu," kata Ron yakin.
mereka pun hidup sebagai pasangan bahagia meski tanpa ikatan, karena semua demi Samuel.
Mei sedang melihat keduanya yang sedang berenang dengan tawa, saat itulah Mei berani mengatakan isi hatinya.
"Daddy! mau menjadi ayah Sam, menjadi suamiku!" teriaknya dengan yakin.
mendengar itu tak hanya Ron, Arnold dan Widya bahkan terkejut karena Mei mengajak Ron menikah.
"ya! kau wanita gila?" teriak Widya.
"ya aku gila karena baru sadar jika menyukai pria yang selalu bersama kami," jawab Mei sambil tersipu malu.
sukses.....semangat
mksh
sukses....semangat
mksh
biar kebuka kedok widya,,,
Dan mei bisa balikan dgn david
ron jg penjahat
orang baik mah harusnya gak nyulik kek gt, mey jelas punya keluarga malah diculik.
parah gilak
coba dia ga bawa pergi si mei, david jelas berubah baik kok.
maling treak maling ini mah namanya