Kania indira putri dipaksa menikah dengan anak Majikan yang sedang patah hati.
Padahal ia tahu sejak Awal bertemu Aran sangat membenci dirinya.
Dia kerap menjadi ajang pelampiasan kekasalan Aran.
Tapi apa hendak di kata karena hutang dan balas Budi Kania harus menerima takdir menjadi istri Seorang Aran Maheswara yang dingin dan angkuhnya tidak ketulungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh dua. Tanda tangan persetujuan operasi.
Dokter kembali keluar dari Ruang UGD menemui Aran.
Tapi ganbaran wajahnya sangat sedih dan kecewa.
Ghiff merasa akan mendengar kabar buruk.
Dia di gelayuti rasa takut yang sangat. kemungkinan- kemungkinan terburuk.
" Apa..Silvia me...Oh tidak! semoga tidak..." Aran mengepalkan tangannya menahan perasaan takut yang semakin bergejolak.
" Maaf, Tuan. Saya terpakasa harus menyampaikan berita buruk untuk anda dan teman anda."
"Berita apa dok...Apa teman saya dalam bahaya?" Aran bertanya tak sabar
"Teman wanita Anda selamat, hanya saja kondisinya buruk. Juga janin dalam kandungannya tidak berhasil kami selamatkan. Akibat benturan yang sangat keras di bagian perut dan juga mengalami pendarahan hebat membuat janin itu tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi..
Aran membeku.
tidak percaya harus mendengarkan langsung berita yang sangat menyakiti hati silvia sekaligus hatinya
Tapi dokter itu belum berhenti.
Satu hal lagi..."
Dokter itu menunduk
terkesan ragu- ragu.
" Dia harus segera menjalani operasi pengangkatan rahim..."
" Apa!?..." Mata Aran seketika membola nyaris melompat dari kelopaknya
" Sebaiknya,Anda segera menghubungi keluarga nya. Terutama suaminya. Karena operasi itu harus dilakukan secepatnya."
Aran berusaha menguatkan diri.kedua berita itu sungguh membuat dirinya sangat terpukul. Ditambah satu lagi.
Operasi pengangkatan rahim..!? wanita mana yang rela melakukannya.
Tak terbayang kan bagaimana reaksi Silvia saat tahu dirinya akan kehilangan rahim untuk selamanya.
Aran duduk lemas di kursi tunggu lorong rumah sakit. saat ini kepalanya teras sangat berdenyut.
Bagaimana caranya menghubungi keluarga Adi Wijaya...Keluarga Silvia sangat benci padanya, dia juga tidak memiliki nomor kontak salah satu dari mereka.
Semetara phonsel Silvia masih tertinggal di Apartemen.
Perlukan dia meminta Lee mengambil Phonsel itu?
Rasanya terlalu lama.
Aran ingat, Ibunya pernah menjalin kerja sama dengan Abimanyu.
Pasti Mama memiliki daftar kontak pria itu.
"Aran..!! kau kemana saja!!" Aran langsung menjauhkan phonselnya dari telinga.
Teriakan nyaring Kinasih nyaris membuat gendang telinga Aran pecah.
"Mama, kalau bicara pelan- pelan.. kenapa,sih? kuping Aran sakit tahu!"
" Kau ini..! sudah bikin salah, bukan minta maaf. malah lebih galak dari Mama. Katakan, dimana kamu sekarang?"
"Aran di rumah sakit, Ma. Silvia keguguran..."
" Silvia keguguran?"
Kinasih terdiam cukup lama.
" Ma..." Panggil Aran
" Memangnya Suami dan keluarga nya kemana? kenapa merepotkan mu dengan urusan Silvia?" tanya Kinasih masih ketus tapi suaranya sudah jauh lebih lunak.
" Aran juga tidak memgerti, kenapa Silvia justru menghubungi Aran dari sekian banyak orang yang dia kenal.."
" Lantas tujuanmu menghubungi Mama, apa?. kau ingin Mama, mengunjungi Silvia? Maaf Aran, tapi keluarga Kita dan keluarga Adiwijaya sedang tidak akur...Mama tidak mau mereka kembali menyalahkan kita atas musibah yang menimpa putrinya. kau juga sebaiknya pulang saja. Jangan libatkan dirimu lagi dengan mereka."
Aran melihat jam yang melingkar di tangan..." Bu ini bukan saatnya memikirkan konflik keluarga kita dan Adi wijaya. Silvia ldalam bahaya. Dia harus segera di operasi.."
" operasi!?, Apakah kondisinya segawat itu?"balik Kinasih.
"Dia harus melakukan operasi pengangkatan rahim. Para dokter butuh konfirmasi suaminya untuk prosedur operasi. Mama punya nomor Abimanyu, Bukan?"
Kinasih kembali terdiam, tidak menyangka bila situasi segawat ini.
" Mama cek dulu, nanti Mama hubungi kamu."
" Sekarang dong, Ma. Jangan nanti- nanti.." Protes Aran
"Ish! kau ini, Iya sekarang maksud Mama. Aran..!"
Kinasih langsung membuka daftar kontak di Phonsel dan menemukan nomor Abi manyu masih tersimpan di sana.
Dia segera mengirimkan pada Aran.
" jangan lupa, setelah keluarga Silvia datang. Kamu harus segera pulang." pesan Kinasih sebelum menutup teleponnya.
Aran tidak menjawab.
Dia sungguh tidak rela dan tidak bisa meninggalkan Silvia dalam kondisi segenting ini...Bagaimanapun perasaanya terhadap Silvia belum berkurang sedikit pun.
Aran langsung menghubungi SuaminSilvia, tapi selalu operator yang bicara.
Phonsel pria itu sedang tidak aktif.
Lelaki itu benar- benar memancing emosi.
Sudah memninggalkan Silvia tanpa pengawasan.Malah SE enaknya saja mematikan phonselnya.
Suami macam apa dirinya.
Mebiarkan istri yang hamil di Apartemen sendirian.
Aran ingin sekali menghajarnya saat bertemu nanti.
" Bagaimana, Tuan... sudah menghubungi keluarganya?" Tanya dokter kembali.
"Saya khawatir teman anda tidak bisa bertahan lebih lama lagi..."
Mendnegar penuturan Dokter, Aran semakin kalut.
Tak ada pilihan
Aran menghubungi Lee, meminta pria itu datang ke kediamamn Keluarga Adi Wijaya.
Tak menunggu lama keluarga besar Adiwijaya datang bersama rombongannya.
Tanpa bertanya dan bicara apa pun pria itu langsung menghajar Aran.
Untung saja Lee ikut menyusul ke rumah sakit.
Melihat Atasan nya di hajar oleh keluarga Silvia dia pun ikut turun tangan.
Lee, mencekal lengan Adi Wijaya yang kembali ingin membogem wajah Tampan Aran.
Lee mendorong tubuh Adi Wijaya hingga tersungkur ke lantai.
"Pria tua tidak tahu diri..!!di tolong bukannya berterima kasih, malah memukuli orang yang menolong.."
" Lee, hentikan!"
Aran menghentikan Aksi Lee yang kembali ingin menghajar Adi Wijaya.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"Dok, keluarga pasien sudah datang. Anda bisa langsung melakukan prosedur operasinya." Kata Aran menunjuk pada Rombongan Adi Wijaya.
" Apa operasi!?.putri saya kenapa, Dok?" Tanya Ibu Silvia dengan pipi yang di penuhi linangan air mata.
Dokter kembali menjelaskan situasi Silvia pada Keluarga besar Adiwijaya.
" Semua ini pasti salahmu" Adiwiajya kembali menyalahkan Aran, di iringi tatapan membunuh dari saudara- saudara kandung Silvia.
" Apa yang kau lakukan di Apartemen Silvia. kenapa bisa kamu yang membawanya ke rumah sakit?" Bentak Adi Wijaya kembali tak terkontrol.
Dia malah mengcengkram kerah Aran.
"Tuan.. mohon tenang jangan bikin keributan. Sebaiknya seggera anda tangani, berkas persetujuan operasinya. Nyawa putri Anda dalam bahaya".
dokter itu lembut menyarankan.
Tapi Adi Wijaya masih tersulut emosinya.
" Apa tidak ada cara lain Dok, bagaimana mungkin rahim nya di angkat. Jika dia tidak punya rahim bagaimana melahirkan putra dan putri berdarah biru untuk keluarga Suseno. Saya tidak bisa menandatangani berkas persetujuan operasiitu. Putri saya bisa di remehkan oleh keluarga mereka. Abimanyu putra tunggal dan harapan besar keluarga Suseno sebagai penerus generasi. Tolong dok..jangan operasi Silvia.."
Adiwijaya menyentuh Dokter itu penuh harap agar mau mendengarkan keinginannya.
" Tuan..Nyawa putri anda sedang dipertaruhkan. Anda tidak paham. Bila tidak di operasi, dia bisa meninggal." kata dokter itu mulai tidak sabar.
" Lebih baik dia mati. Wanita yang tidak punya rahim...saya tidak Sudi punya putri yang membuat malu keluarga. Bagaimana saya menghadapi keluarga Suseno dengan menyerahkan putri yang tidak sempurna. "
Adiwijaya mengusap rambutnya kalut
"Anda benar- benar manusia yang tidak punya hati" Umpat Aran.
Padahal semua orang sudah sangat panik. Pria itu masih memikirkan soal harga diri dan hal- hal tentang derajat dan status sosial.
" Saya..saya.. yang akan tanda tangan, dok."
Tiba- tiba Ibu Silvia maju ke depan dan mengambil berkas - berkas yang di pegang oleh seoang perawat
Tanpa bicara wanita itu segera menanda tanganinya, Setelah selesai, ia kembalikan pada perawat.
Merah padam wajah Adiwijaya, tidak terima dengan keputusan yang di buat istrinya
"Berani sekali kau mendahului keputusanku."
Mengcengkram bahu istrinya dengan mata Nyalang menyala.
"Kau bisa mengatur seluruh hidupku sesuka hatimu, Mas. Tapi kau tidak bisa menghapuskan naluri seorang ibu untuk mencintai anak- anaknya melebihi apa pun di dunia ini." ucap wanita itu dengan tegas, sama sekali tak gentar menghadapi kemarahan Adi Wijaya.
Lanjut thor
Lanjut thor
Semangat thor