"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Baper Maksimal
Chilla melangkah riang sepanjang koridor menuju kelas. Besar harapannya dapat melihat Jonas sekilas ketika melewati kelas X MIA 1 sebelum jumpa di kantin saat istirahat nanti. Maka ia memicingkan mata, meneliti lembar-lembar kaca di sepanjang kelas Jonas. Sayangnya harapannya harus pupus. Sosok yang ia cari tak dapat ia jumpai.
Pluk!
Chilla merasakan rambutnya yang dikuncir ekor kuda di tepis kencang. Membuat langkahnya terhenti.
"Eh, Sumi udah sembuh sakitnya!" seru Arnas ceria, melangkah mundur menjauhinya. Wajahnya sungguh tampol-able.
"Sumi? Siapa Sumi?!" teriak Chilla, pada Arnas yang sudah kian jauh memunggunginya. Ia sama sekali tak peduli pada setiap pasang mata di koridor yang memandanginya.
"Panggilan sayang dari Arnas buat kamu mungkin."
Sebuah suara merdu menyapa telinga Chilla, diikuti aroma segar nan maskulin, meredam amarahnya yang tadi mulai berkobar. Lalu jutaan kupu-kupu seperti terbang gaduh di perutnya, menciptakan sensasi mulas yang membuat ketagihan.
"Apaan sih, Jo..." bantah Chilla, merona.
Jonas yang berada di sisi kanannya hanya tersenyum. Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah santai.
"'Gimana perut kamu? Masih sakit?"
Menggeleng Chilla. "Makasih, ya."
Ia betul-betul bersyukur dan berterima kasih atas sebotol jamu berwarna kuning yang di antarkan Jonas kemarin. Jamu itu sungguh manjur, rasanya juga tak terlalu buruk.
"Bilangin sama ibu kamu juga, makasih."
Jonas mengangguk sambil lalu. "Kalo kurang bilang aja, nanti biar aku bisa minta Ibu bikinin lagi."
"Ih, ngerepotin nanti," tolak Chilla. Lagipula jamu yang kemarin masih sisa setengah botol lagi.
"Enggak kok, Ibu malah seneng bisa bantu. Katanya kayak punya anak cewek lagi."
Tersenyum Chilla mendengar ucapan Jonas itu. Jika ibu Jonas merasa memiliki anak gadis lagi, ia—untuk pertama kalinya—merasakan bagaimana rasanya punya ibu.
"Aku boleh gak sih sesekali main ke rumah kamu?" tanya Chilla.
"'Kan aku udah pernah bilang, boleh. Sering-sering kalo bisa. Ibu bakal seneng banget. Apalagi Arnas," goda Jonas.
"Ih, Jo! Aku itu gak ada apa-apa loh sama Arnas..." rengek Chilla.
"Iya, iya," Jonas menunjukan cengiran lebarnya. "Tahu, kok."
"Terus kalo tahu kenapa masih ngeledekin?"
"Lucu aja lihat reaksi kamu."
Niat hati ingin cemberut, apa daya Chilla lemah di hadapan Jonas. Alih-alih, ia malah tersenyum malu.
"Gemes," tambah Jonas.
Jika memungkinkan, barangkali Chilla sekarang sudah tersangsang di langit-langit karena melayang, atau lumer seperti es krim di atas penggorengan. Tapi karena ia hanya manusia normal, maka yang terjadi tak seekstrim itu. Ia cuma merona seraya menahan keinginan untuk menjerit-jerit dan melompat-lompat kegirangan.
Dari sudut mata, Chilla sudah melihat pintu kelasnya. Untuk pertama kali setelah kebagian kelas nyaris di ujung koridor, ia berharap kelasnya berada lebih jauh lagi.
"Udah sampe," ujar Jonas, berhenti di depan pintu kelas Chilla.
"Ya udah, aku masuk, ya," pamit Chilla. Dan situasi ini membuatnya benar-benar merasa lebih dari sekedar teman Jonas.
Seraya tersenyum, Jonas mengangguk.
Chilla sudah akan berbalik ketika sebuah kesadaran menyambarnya. Heran sendiri bagaimana ia bisa lupa.
"Eh, Jo," kata Chilla. "Kelas kamu kan udah lewat, ya?"
"Oh itu..." Sedetik Jonas tampak kebingungan sebelum lanjut berkata, "Aku mau ke kantin, beli minum."
"Gitu..." Chilla manggut-manggut, mengerti. Ia pun menghela botol minum dari sisi ranselnya lalu diulurkan pada Jonas. "Ambil punyaku aja. Belum diminum kok, botolnya juga bersih, baru dicuci Mbak."
Tersenyum, Jonas meraih botol minum itu. "Makasih."
"Sama-sama."
"Masuk sana," suruh Jonas. "Aku juga mau balik ke kelas."
"Bye."
"Bye."
Namun, baik Chilla mau pun Jonas tak beranjak sedikit pun. Hal itu membuat keduanya saling melempar senyum sebelum mulai tertawa.
"Udah sana masuk," ujar Jonas, di sela tawa yang kian reda.
"Oke, oke. Aku masuk dulu. Dah..."
"Dah."
Setelah lima langkah jauhnya Chilla tempuh, ia berputar, berharap Jonas masih di posisi. Namun harap tinggal harap, Jonas telah hilang.
Drrrt... drrrt...
Chilla merasakan ponselnya bergetar. Segera ia meraihnya dari saku. Hatinya melonjak senang saat melihat nama pengirim pesan. Seketika bisingnya kelas jadi semerdu alunan instrumen pengiring dalam kisah-kisah roman yang saban hari ia nikmati. Bahkan cempreng suara Arnas yang sedang berdebat dengan Clarine sama sekali tak mengusik.
Calon Pacar: Aku hutang satu minuman, ya.
Calon Pacar: Kamu sukanya apa?
Chilla menangkup mulutnya dengan sebelah tangan, menutupi senyum lebar yang tak tertahankan. Ia ditanyai suka apa coba, cuma karena sebotol air putih. Manis sekali...
Sebenarnya ia ingin membalas: apa aja aku suka kalo dari kamu, namun mempertimbangkan image elegannya, ia memilih untuk lebih rendah hati.
Me: Gak usah, gak pa-pa, kok. Cuma air putih doang.
Calon Pacar: Tetap aja hutang. Nanti di kantin aku bayar, ya.
Kepastian. Sejak kemarin ia berharap bisa bertemu Jonas di kantin hari ini, dan sekarang harapan itu sudah menjadi sebuah kepastian. Kurang bahagia apa ia hari ini.
Me: Terserah kamu aja, deh.
Chilla melangkah riang menuju bangkunya. Membayangkan bunga-bunga tumbuh pada bekas-bekas langkahnya berpijak, dinding-dinding kelabu kusam berubah secerah langit hari ini. Berlebihan memang, tapi mau bagaimana lagi, kasmaran.
Suasana mood cerah Chilla bertahan melewati pelajaran pertama—walau ia mesti menepuk wajahnya beberapa kali agar berhenti menerka-nerka kemungkinan yang dapat terjadi antara dirinya dengan Jonas, dan fokus belajar. Kendati demikian, itu adalah pelajaran ekonomi yang paling ia nikmati sejauh ini, meski ia tak mengerti materi apa yang mereka pelajari hari ini. But it's ok. Pelajaran bisa ia ulangi di rumah nanti, tapi mood baik belum tentu besok datang lagi.
Mulus melewati pelajaran pertama, sayangnya pelajaran kedua tak begitu. A perfect day-nya rusak seketika.
"Achilla!" cerca Ibu Fatma, guru sosiologi, selepas salam ia lontarkan. "Dua plus! Nilai kamu lebih rendah dari skor rabun jauh saya."
Chilla kicep. Berat hati maju ke depan mengambil lembar ulangan hariannya minggu lalu. Tak ada lagi bunga-bunga atau musik romantis, dinding-dinding pun kembali kelabu.
"Pergi beresin kiriman buku baru di perpustakaan setelah jam pelajaran saya selesai. Semua harus sudah beres sebelum bel masuk kalo kamu mau dapat nilai KKM."
Chilla mengangguk, barbalik menuju mejanya lagi. Memang beginilah cara Ibu Fatma memperbaiki nilai anak-anak, dia merasa remedial konvensial sama sekali tak berguna dan berfaedah.
Tapi kenapa harus istirahat nanti, sih?!
Ingin rasanya ia merosot ke lantai seraya merengek agar remedialnya ditunda, tapi Ibu Fatma bukanlah tipe orang yang bisa diajak kompromi. Ia juga hilang berani melihat wajahnya yang garang sekali.
"Yaksa! Satu koma lima! Sepertinya nanti istirahat kamu lebih baik pel lapangan basket sampe kinclong. Siapa tahu otak kamu jadi lebih encer setelah dipanasin matahari."
Pasrah. Hal yang bisa dilakukan Chilla hanya berserah.
Begitulah....
ΔΔΔ
Kira-kira sudah selusin kali Chilla mendesah dalam sepuluh menit terakhir. Gondok dengan ukuran kardus yang besar-besar sekali hingga rasanya tak usai-usai pekerjaan ini. Bahkan satu kardus pun belum kosong juga, padahal masih ada tiga kardus lain yang belum dibuka, sedang waktu istirahat akan berakhir dua puluh menit lagi. Alamat diserang Ibu Fatma dengan lidahnya yang pahit itu.
Chilla beranjak dari lantai, membawa setumpuk buku untuk di susun di rak. Ke sana kemari ia mencari rak yang sesuai untuk ditempati. Ia sungguh tak ahli dalam hal ini. Perpustakaan bukanlah teritorialnya.
Setelah menemukan space kosong di rak yang sesuai, Chilla berusaha secepat mungkin menyusun bukunya. Cukup sulit karena ruang yang tersedia tak terlalu lebar, sehingga ia harus mendesakkan buku terakhir dengan kekuatan penuh agar muat di sisa celah.
Setelah mendesah lega, Chilla melangkah gontai ke posnya di pojok belakang ruang. Sekali lagi terbenam dalam pekerjaan paling membosanankan dan membuang-buang waktu.
Nyes!
Chilla tersentak, merasakan sejuk mengecup pipinya. Ia mengangkat wajah, menemukan Jonas berjongkok di hadapannya bersama senyum terkembang.
Sejak kapan laki-laki hadir? Kenapa ia tak sadar?
Mendadak segala kekesalan dan rasa kantuknya sirna, seperti tak pernah ada. Bahkan rak-rak yang menguarkan bau apak juga atmosfer perpustakaan ini yang super membosankan mendadak jadi jauh lebih menyenangkan dengan kehadiran Jonas. Memang benar, kebahagian tak tergantung pada di mana tempat kita berada, tapi bersama siapa kita.
"Serius banget," tegur Jonas, mengulurkan sebotol minuman dingin.
Chilla menyengir, menerima pemberian Jonas disentai ucapan terima kasih. Setelah minuman itu mendarat dalam genggamannya, ia baru sadar betapa hausnya ia. Maka cepat saja isi botol itu tinggal setengah.
"Haus banget?" tanya Jonas, sudah mengambil alih sisi Chilla. Duduk bersila dengan sebagian punggung menempel pada dinding.
Mengangguk Chilla seraya menutup botol minuman berperisa stroberi itu.
"Kamu tahu dari mana aku di sini?"
"Arnas," santai, Jonas menjawab. Tangannya sedang sibuk membuka sebungkus roti yang tampaknya berisi selai stroberi. "Tadi di kantin aku cari kamu gak ada."
Chilla bersyukur mereka ada di bagian paling ujung ruangan hingga penjaga perpustakaan tak akan mendengar suara percakapan dan menegur mereka. Ia juga bersyukur masih bisa mengendalikan ekspresinya mndengar Jonas mencarinya di kantin.
"Nih." Jonas menyodorkan roti yang sudah ia bukakan bungkusnya. "Makan dulu, biar gak lemes menuju jam istirahat kedua nanti."
"Makasih," ujar Chilla, sekali lagi menerima pemberian Jonas.
Begitu satu gigitan Chilla ambil, Jonas beranjak dari duduknya. Ia kira laki-laki itu mau pergi, nyatanya dia malah mendekati kardus dan mengeluarkan dengan cepat semua sisa buku di kardus pertama kemudian langsung ditumpuk berkelompok. Ia sama sekali tak yakin bagaimana Jonas mengelompokkan buku yang berjudul sama namun berbeda jilid tanpa sama sekali terlihat membaca sampul bukunya, seolah asal saja, padahal tidak.
Ketika Jonas berdiri membawa segendongan buku, segera Chilla bersuara.
"Jo, biar aku aja."
"Gak pa-pa. Yang jaga perpus lagi keluar. Tadi waktu aku masuk dia minta tolong jagain perpus sebentar. Bu Fatma gak bakal tahu aku bantuin kamu," Jonas menenangkan, lalu pergi begitu saja.
Begitu Chilla menandaskan roti dan minumannya, Jonas sudah menyelesaikan sebuah dus baru. Lalu bersama-sama keduanya pun menyelesaikan sisa dua dus lain.
"Jangan banyak-banyak," Jonas mengambil separuh buku dari tengadah tangan Chilla, "berat." Ia tersenyum. Membuat jantung Chilla berlarian ditempat.
Chilla sungguh terkesan dengan kecepatan dan ketepatan Jonas menyusun buku. Beda memang jika penduduk asli perpustakaan.
"Kayaknya kamu hari ini kamu happy banget," bisik Jonas, ketika melewatinya di lorong antara rak buku sejarah.
Chilla tak menanggapi karena Jonas sudah keburu pergi. Namun ia sangat sadar ketika kedua sudut bibirnya terangkat.
Ya, hari ini ia memang senang sekali. Dan tampaknya itu terpancar jelas di wajahnya.
Chilla melirik arlojinya. Sudah mepet sekali jam sebelas. Sebentar lagi bel pasti akan segera berbunyi.
Ia memandang berkeliling, mencari celah di rak yang muat untuk dijejalkan dua buku astronomi terakhir di tangannya. Lehernya sampai sakit menoleh ke sana-sini setengah jam terakhir.
Mendengus ia ketika melihat satu-satunya ruang yang terisisa berada di puncak rak. Menyusahkan sekali. Ia sampai harus berjinjit-jinjit menyorongkan dua buah buku yang masing-masing setebal lima ratus halaman itu.
Sebuah tangan lain mengambil alih buku di ujung jemari Chilla. Menyesaki indra penciuman Chilla dengan aroma yang familier sampai ia tak berani menghela napas lagi. Punggungnya ikut sekaku punggung buku.
"Selesai," suara itu dijadikan Chilla tanda untuk kembali bernapas. Ia pun menurunkan tangannya dan berputar di tempat.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Jonas, memeperhatikan Chilla dengan saksama. "Pucet gitu. Capek, ya?"
"Sedikit," gumam Chilla. Masih berusaha keras mengatur degup jantungnya yang liar.
"Coba lihat tangan kamu," pinta Jonas.
Chilla membuka satu tangannya. Kebingungan.
"Dua-duanya."
Sebelah lagi tangan Chilla terangkat, menengadah seperti orang berdoa.
"Kamu butuh banyak gula kayaknya," ucap Jonas. Lalu ia mengucurkan segenggam penuh permen jeli stroberi ke atas tangan Chilla.
"Ya udah, yuk, balik ke kelas. Udah mau masuk."
Chilla mengangguk dengan mata berbinar. Riang sekali melangkah di sisi Jonas.
ΔΔΔ
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh