NovelToon NovelToon
Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:557.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Komalasari

Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.

Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.

Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melanjutkan yang Tertunda

Dua minggu sudah Nathania menjalani hari-harinya sebagai Ny. Adhitama Gunardi. Ia harus mulai membiasakan diri dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sang suami, terutama dengan peraturannya yang terkadang membuat Nathania merasa sakit kepala.

Nathania harus selalu tampil cantik di depan Elang, ia juga harus selalu siap jika sewaktu-waktu Elang mengajaknya untuk menghadiri acara-acara penting yang berkaitan dengan bisnisnya, kehidupan kedua dari pria itu.

Ya, Elang memang seorang pebisnis sejati.

Seperti halnya malam ini. Nathania tampak cantik dan anggun kala memakai dress panjang berwarna merah dengan bordiran berwarna gold di bagian atasnya. Dress dengan lengan 3/4 itu terlihat sangat pas di tubuhnya yang ramping dan semampai itu. Ia pun menyanggul rapi rambutnya, namun tanpa hiasan apapun. Dan lipstick merah itu, telah berhasil membuat Elang terus-terusan meliriknya meskipun nyatanya ia tengah sibuk dengan perbincangannya bersama beberapa kolega bisnisnya.

Adalah sebuah perbincangan yang sangat membosankan bagi Nathania. Dan ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah para pria yang memakai setelan batik itu bahas malam ini. Itu adalah sebuah obrolan tentang pekerjaan, tender, dan entahlah ada banyak sekali istilah-istilah yang asing di telinga Nathania, yang memang bukan seorang pebisnis seperti sang suami.

Nathania pun hanya sesekali tersenyum ketika ada dari salah seorang istri dari kolega Elang yang menyapanya. Ia berusaha untuk tampil seramah mungkin. Ia tidak boleh memperlihatkan rasa tidak nyamannya ketika berada diantara para wanita yang rata-rata telah berusia jauh diatasnya itu.

Sesekali nyonya muda itu melirik sang suami yang malam itu tampil sangat gagah dengan setelan batik lengan panjang khas Pekalongannya. Wajah blasterannya sama sekali tidak mengurangi nilai sakral dari batik yang dipakainya. Ia terlihat sangat cocok dengan baju yang dipakainya malam itu.

Sikap kalemnya, senyum simpulnya, dan ekspresi wajahnya. Entah sejak kapan Nathania mulai memperhatikan hal-hal seperti itu. Bahkan sepertinya ia pun kini mulai menemukan ritme dari gairah rasa yang selama ini hanya menjadi sesuatu yang hambar baginya.

Mungkinkah Nathania mulai jatuh cinta kepada Elang? Secepat itukah Elang telah berhasil membuatnya jatuh cinta? Entahlah.

Karena nyatanya, rasa benci itu masih selalu saja hadir. Terlebih jika pria itu sudah memperlihatkan arogansinya terhadap dirinya. Nathania jelas tidak menyukai hal itu.

Entah kapan acara makan malam resmi itu akan berakhir. Nathania sudah tampak gelisah. Ia sudah benar-benar tidak nyaman berada disana, dan ia pun ingin segera melepas gaun malam serta sepatu high heels nya.

Kakinya sudah terasa sangat pegal. Lagipula gaun malam itu, terasa sangat sesak untuknya. Nathania pun tampak semakin gelisah.

Sesekali, Elang melirik sang istri. Ia tahu dan seakan mengerti dengan rasa tidak nyaman yang ditunjukan oleh raut muka dan tatapan teduh itu. Ia harus melakukan sesuatu.

Elang menurunkan tangan kirinya.

Seketika rasa gelisah dalam hati Nathania pun hilang, ketika tiba-tiba ia merasakan tangan kiri Elang menggenggam jemarinya dengan erat, di bawah meja makan panjang yang dipenuhi aneka hidangan mewah itu.

Nathania tertunduk. Ia pun tersipu malu ketika tangan Elang itu mulai memainkan jemarinya dengan lembut. Ia hanya dapat tersenyum pada dirinya sendiri.

Elang masih terlihat sibuk dengan perbincangan hangatnya. Namun, pria itu tidak membiarkannya merasa sendiri.

Sekitar jam 21.00 acara itu baru selesai. Akhirnya Nathania dapat bernafas lega. Setelah saling berpamitan, Elang segera menggenggam erat tangan sang istri dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

Roll Royce hitam itupun melaju dengan anggunnya, membelah jalanan malam kota kembang di malam Selasa itu.

Elang duduk di jok belakang bersama sang istri yang malam ini tampil sangat mempesona baginya.

Nathania tampak sangat lelah dan mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.

Elang pun melirik sang istri dan tersenyum. Ditariknya dengan perlahan kepala nyonya muda itu, hingga kini bersandar di pundaknya yang kokoh. Ia juga terus menggenggam jemari sang istri dan sesekali menciumnya.

Nathania hanya tersenyum. Ia pun kembali memejamkan matanya, dan ia membiarkan saja ketika Elang bermain-main dengan jari-jemarinya.

Entah apa yang membuat Elang tiba-tiba begitu sangat baik kepada Nathania. Dengan proses yang begitu cepat, ia sudah dapat menunjukan semua perasaannya kepada wanita muda itu.

Apakah sudah seluruhnya?

Hanya seperti itu saja, Nathania sudah merasa sangat bahagia, meskipun ia juga belum sepenuhnya dapat mencintai pria dengan watak seperti roller coaster itu.

Bayangan Wangsa, masih terkadang menghantuinya. Entah kenapa, karena wajah pria berkacamata itu masih saja datang dalam sebagian mimpi-mimpi Nathania. Padahal pria itu sudah jelas-jelas mencampakannya begitu saja.

Beberapa saat lamanya diperjalanan, mobil mewah itupun akhirnya memasuki halaman luas dari istana megah milik Elang. Mobil itupun berhenti tepat di depan teras pintu masuk.

"Tania, bangun!" Elang menepuk pipi sang istri dengan lembut.

Nathania pun membuka matanya dengan perlahan. Sesaat ia menatap Elang yang juga masih menatapnya.

"Ayo, turun!" ajak Elang.

Nathania menurut saja. Setelah Elang membukakan pintu untuknya, Nathania pun segera turun.

Lagi, pria itu kembali menggenggam tangannya dengan erat menuju kamar mereka yang mewah.

Mereka pun masuk keruang ganti. Nathania ingin segera berganti pakaian. Ia sudah tidak tahan dengan gaun malam itu. Namun, seperti biasanya, Nathania kesulitan melepas resleting gaunnya.

Tanpa diminta, Elang segera membantunya, menurunkan resleting itu dari atas kebawah dengan perlahan. Setelah itu, ia pun membuka gaun merah itu kebagian depan dan membiarkannya terkumpul di bagian pinggang sang istri.

Ditatapnya punggung mulus berwarna kuning langsat itu. Ia pun menciumnya berberpa kali.

Nathania hanya terpaku dan memperhatikan apa yang Elang lakukan itu, dari pantulan cermin yang berdiri hampir setinggi dirinya. Ia membiarkan sang suami melakukan apapun yang diinginkannya.

Perlahan ciuman itu mulai merayap pada pundak dan seluruh leher Nathania. Sementara itu, gerakan tangan Elang pun mulai menjalar dari perut hingga menelusup kedalam bahan dengan renda warna hitam itu.

Nathania pun mendesah dan mendongakan kepalanya. Diremasnya bagian bawah baju batik sang suami, sementara kedua mata indahnya hanya dapat terpejam dengan suara desahan yang makin lama semakin sering.

Nafasnya terasa kian berat. Nathania masih berusaha untuk menguasai dirinya agar tetap berdiri, meskipun kini ia telah sepenuhnya bersandar pada tubuh tegap sang suami.

Dengan cekatan, Elang melepas pengait yang berada di punggung sang istri. Ia pun melepas benda dengan renda cantik berwarna hitam itu, dan membiarkannya terjatuh begitu saja.

Apa yang dilakukan Elang saat itu, telah membuat Nathania menjadi sangat gelisah. Wanita muda itu menatap Elang dengan sorot matanya yang mulai sayu. Ia berharap sesuatu dari pria itu.

Elang tersenyum. Ia tidak ingin terburu-buru. Ia masih ingin sedikit bermain-main dengan istrinya yang malam ini tampil sangat cantik di matanya.

Ia kembali menciumi leher sang istri. Kedua tangannya bergerak lembut seperti seseorang yang sedang menguleni sebuah adonan tanpa mixer. Tidak berselang lama, ia pun membalikan tubuh Nathania dan menciumnya dengan hangat. Sementara kedua tangannya masih asik bermain dengan 'adonan' itu.

Nathania merintih pelan. Suara rintihannya berbaur dengan suara dering telepon yang sejak tadi menggema dari dalam saku baju batik Elang.

Elang pun menghentikan semua permainannya.

"Sial!" gerutunya seraya menjawab panggilan itu.

"Ada apa Ron? Kenapa menghubungiku malam-malam begini?" tanyanya dengan kesal. Ia pun berlalu keluar dari ruang ganti itu. Bahkan kini Elang keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerjanya.

Elang meninggalkan Nathania dengan kondisi semi telanjang.

Seperti itulah Elang. Sesuka hatinya sendiri.

Nathania pun segera berganti baju. Ia pun keluar dari kamar itu dengan lingeri merahnya. Ia merasa sangat haus. Apa yang Elang lakukan barusan, telah membuat tenggorokannya menjadi kering. Ia pun beranjak ke dapur.

Segelas air putih, nyatanya tak jua menghilangkan kering di tenggorokannya. Ia pun memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan ditepian kolam renang.

Nathania tertegun. Ia menghentikan langkahnya sejenak ketika melihat seseorang yang tengah duduk sendirian di tepi kolam renang itu.

Nastya. Ia tampak tengah termenung. Entah apa yang sedang difikirkan gadis itu saat ini?

Nathania pun melanjutkan langkahnya dan menghampiri gadis itu.

"Nastya," sapanya pelan.

Nastya tampak terkejut. Ia menoleh sebelum akhirnya memalingkan mukanya, dan kembali menatap air kolam yang berkilauan karena terkena cahaya lampu.

"Mau apa kamu kemari?" tanyanya kepada Nathania yang berdiri tidak jauh darinya.

"Aku biasa duduk disitu, di tempat yang sekarang kamu duduki," tunjuk Nathania dengan isyarat matanya.

Nastya hanya mendelik dan mencibir kepada Nathania.

Nathania pun memilih untuk duduk di tempat lain. Ia menurunkan kakinya ke dalam kolam. Airnya terasa sangat dingin. Namum itu sangat menyergarkan.

"Kamu senang karena telah berhasil memikat kakakku?" tanya Nastya dengan ketus dan wajah penuh cibiran kepada sang kakak ipar mudanya.

Nathania hanya menggumam pelan.

"Aku heran apa yang kakakku lihat darimu?" keluh Nastya. Ia tidak mengerti dengan jalan fikran Elang, kakaknya.

"Tanyakan sendiri padanya. Karena sampai sekarang, akupun tidak pernah tahu apa maksud Elang yang sebenarnya dengan menikahiku," jawab Nathania dengan tenangnya.

Nastya tertawa pelan. "Seberapa penting dirimu sampai-sampai aku harus menanyakan hal itu kepada kakakku? Aku tidak peduli. Dan jangan pernah berharap, jika aku akan memanggilmu dengan sebutan "kakak". Itu tidak akan pernah terjadi," Nastya dengan sombongnya dihadapan Nathania.

Nathania tertawa pelan. "Terimalah kenyataannya, karena sekarang aku memanglah kakak iparmu," jawab Nathania dengan tenangnya.

"Najis," cibir Nastya dengan wajah jijik yang ia tunjukan kepada Nathania.

Akan tetapi, Nathania masih bersikap tenang. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar dari mulut Nastya. Ia pun menganggap itu hanya sebagai suara hembusan angin malam yang tak berarti.

"Aku tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi padaku. Menjadi istri dari seorang Elang, bukanlah impianku. Namun, nyatanya jalan takdir membawaku kemari lagi," Nathania memperhatikan riakan air yang dihasilkan dari gerakan kakinya.

"Sejujurnya aku ingin sekali memilliki seorang kakak perempuan. Tetapi tentu saja bukan dirimu. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan malah mengirimkanmu untuk menjadi kakak iparku. Menyebalkan," gerutu Nastya. Ia pun memainkan kakinya yang masih berada di dalam air.

"Awas saja jika sampai kamu membuat kakakku kecewa, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!" ancam Nastya seraya menyeringai kepada Nathania.

Nathania menoleh dan tersenyum. "Seharusnya, kamu mengatakan hal itu kepada kakakmu yang luar biasa itu. Apa yang bisa kulakukan untuk membuat kakakmu kecewa? Aku bahkan tidak berani menatap matanya terlalu lama," Nathania kembali mengalihkan pandangannya pada air kolam yang mulai tenang itu.

Nastya tertawa pelan.

"Itu artinya kamu belum terlalu mengenal kakakku. Kasihan sekali!" Nastya kembali tertawa. "Kakakku adalah seorang pria dengan kepribadian yang sangat unik. Dia sangat istimewa untukku," Nastya senyum -senyum sendiri.

"Elang pria yang sulit untuk dipahami," gumam Nathania, tanpa menoleh sedikitpun pada gadis yang ada disebelahnya.

"Untuk sebagian orang, mungkin memang seperti itu, tapi ... aih, kenapa aku harus berbincang denganmu seperti ini? Buang-buang waktu saja!" Nastya pun memutuskan untuk beranjak darisana. Tanpa basa-basi lagi, ia meninggalkan Nathania sendirian.

Nathania tersenyum simpul. Ia kembali memainkan kakinya yang masih berada di dalam kolam renang itu. Duduk termenung sendirian.

Fikirannya kembali tertuju kepada sang kakak, Rahman.

Entah berada dimana ia dan keluarganya kini? Entah kemana Nathania harus mencari mereka?

Ataukah Nathania harus meminta bantuan kepada Elang?

Ya, pria itu berkuasa. Ia pasti bisa membantunya menemukan Rahman dan keluarganya dengan cepat.

Nathania terus termenung. Akan tetapi, lamunannya tiba-tiba buyar dengan kehadiran Elang disana.

Ia berdiri dengan bathrobes nya seraya tersenyum simpul kepada Nathania.

Nathania pun mengeluarkan kakinya dari dalam kolam, ia pun berdiri.

Perlahan, Elang melangkah dan menghampirinya. Ia pun meletakan bathrobes yang ia bawa, dan melepaskan bathrobes ia pakai saat itu.

Nathania hanya terpaku ketika melihat Elang hanya dengan celana renangnya saja.

"Mau menemaniku berenang?" tanya Elang perlahan. "Aku tahu jika kamu suka berenang malam-malam begini," lanjutnya seraya melepas tali kimono yang dipakai Nathania malam itu

"Kamu ... suka melihatku berenang?" Nathania tertunduk malu. Ia ingat jika hal itu ia lakukan, sebelum Elang merenggut kesuciannya malam itu.

"Ya," jawab Elang singkat.

Nathania mengeluh pelan. Ia masih tertunduk malu.

Elang menggumam pelan. Ia pun menyentuh dagu sang istri dan mengangkatnya dengan ujung telunjuknya.

Nathania pun mendongakan wajahnya.

"Kenapa harus menunduk dan merasa malu?" bisik Elang.

Nathania menggeleng pelan. "Kenapa, tiba-tiba kamu menjadi berubah seperti ini, Elang?" Nathania merasa aneh dengan perubahan drastis dari sikap Elang padanya.

Elang tertawa pelan. "Kamu bertanya kenapa? Tentu saja, jawabannya karena kamu adalah istriku. Dan aku harus memperlakukan istriku dengan baik. Atau ... kamu ingin bermain kasar denganku? Baiklah, ...."

Seketika Nathania membelalakan matanya. Namun, sebelum sempat ia mengatakan apapun Elang terlebih dahulu mengangkat tubuhnya dan menceburkannya ke dalam kolam renang.

Nathania tersentak, sementara Elang hanya tersenyum lebar. Tidak lama kemudian, ia pun ikut menceburkan dirinya ke dalam kolam renang itu.

Dengan segera ia meraih tubuh sang istri yang masih memakai lingerie merahnya. Elang medekapnya dengan erat, dan Nathania melingkarkan tangannya di pundak sang suami.

Ia pun tertawa lebar. Sesuatu yang jarang, bahkan sepertinya tidak pernah ia lakukan selama ini.

Elang tersenyum lebar melihat Nathania yang tertawa lepas dalam pelukannya. Ia pun menghadiahi sang istri dengan sebuah ciuman hangat. Ciuman yang mengawali sebuah goncangan lembut dalam kolam renang itu. Goncangan yang penuh irama dengan suara-suara yang menggugah jiwa. Suara-suara yang dapat membuat siapapun yang mendengarnya merasa terhanyut dalam alunan rasa, yang tak dapat dilukiskan dengan puisi seindah apapaun.

Pada akhirnya, mereka berdua kini melanjutkan sesuatu yang tadi sempat tertunda. Mereka menuntaskan semuanya di dalam kolam renang itu, bersamaan dengan goncangan air yang menjadi saksi ketika Nathania mengejang hebat dalam dekapan Elang, yang telah membawanya terbang tinggi.

"Oh ... Tuhan," Nastya segera menutup tirai jendela kamarnya. Ia tidak ingin melihat pemandangan menggelikan itu. Ia pun segera naik ke atas tempat tidurnya dan memilih untuk menghubungi makaroni seblak nya.

1
Cassie
bagusss bangettt💫🎉🥀😻💃🤍😍💐🌺🌷🌹💋🌻😘🫂🔥❤️‍🔥
Lusy Purnaningtyas: banyak banget emotnya... 😂
total 2 replies
Rahmawati
bagus banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak
total 1 replies
Widi Yanti
keren
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak 🥰
total 1 replies
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Titik pujiningdyah
makaroni I missssssyouuuuuu
Titik pujiningdyah: tiba2 kngen aj sama elang
total 2 replies
Henym
Luar biasa
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
dewi andarini
terima kasih untuk cerita nya.
semangat selalu dalam menulis
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih juga sudah mampir. Jangan lupa baca juga cerita yang lain, kak
total 1 replies
dewi andarini
dari banyak cerita di novel... jarang yg buat irisan bawang lumer dimata ku.
cerita ini bikin baper banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Aduh, terima kasih, kak. Silakan lanjut
total 1 replies
dewi andarini
kok jadi tiba2 ada bawang dimata
dewi andarini
ceritanya bikin baper
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
rindu rindu
widih end deh.. walaupun baru baca tp puas sm ceritanya, tiap baca bikin nyeri badan, nyeri hati juga senyum2 sendiri.. ohhhh othor kau buat diri ku selalu berdenyut nyut nyut nyut... ☺
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak. Lanjut ke judul lain saja. Tak kalah seru
total 1 replies
rindu rindu
Wealah.. Rahman sama Titiek gak pake Puspa ajah... 🤣
rindu rindu
merinding cuy baca suratnya.. 😭😭
rindu rindu
ya Tuhan, Roni sadis.. masaklah ke tukang jagal... 🤣🤣🤣
rindu rindu
bandung sdh kayak jakarta ye.. macet syelaluhhh
rindu rindu: bukan sih.. saya di bekasi tp kl ke Bandung.. euhhh macet parah, susah cari lahan parkir juga.
total 2 replies
rindu rindu
si othor lagunya, lagu2 jaman ku dulu, kirain cerita nya thn 97..hihii
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Sama, kak. Saya juga tua😂
total 3 replies
rindu rindu
ceritanya sedih banget, nyeri dan ser2an perasaan bacanya, tapi seru bikin merinding dan penasaran.
rindu rindu
ga usah dipikirin Tan, yg penting udah dah jd istrinya, masa depan menanti, masa lalu hanya jd kenangan. tinggal jd istri yg baik aja biar Elang makin cintrong
Anita noer
itu actor thailand y thor
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Bukan, kak. Itu Takeshi Kaneshiro
total 1 replies
rindu rindu
boddo bgt si cuy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!