NovelToon NovelToon
Anne Dan Anna

Anne Dan Anna

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Contest / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:270.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: tompealla kriweall

Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.

Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.

Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.

Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XXI

Katakan pada dunia

Jika aku merindukannya

Katakan pada dunia

Ada jiwa yang sedang nelangsa

Rindu ini ada

Tapi tak ada kabar darinya

Bolehkah aku mencarinya

Dalam angan yang entah dimana

*****

Malam yang tenang selalu memberikan warna tersendiri bagi setiap orang. Bintang bertaburan mewarnai langit malam. Bulan mengintip malu dengan sabitnya yang masih kecil.

Anna sedang duduk termenung di teras samping sembari mencari angin. Terlihat ada beberapa buku yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Mungkin tadi Anna bermaksud mencari ketenangan saat belajar, tapi entah kenapa malah jadi termenung. Mungkin karena ikut hanyut dalam suasana malam hari yang tenang, seperti malam ini.

"Seandainya semua anak bisa memilih saat dilahirkan, tak akan ada nasib anak-anak seperti diriku dan juga Anjani. Begitu juga dengan semua anak di dunia ini." Anna berguman seorang diri tanpa sadar.

"Tapi Tuhan punya rencana dan rahasia sendiri dengan nasib setiap makhluk-Nya. Cukup di syukuri saja, dan yakin jika semua akan baik-baik saja." Anna kembali berguman lirih. Seakan-akan menjawab atas kegundahan hatinya karena cerita Anjani tadi sore.

Kini Anna mencoba mencerna setiap kata yang dia ucapkan sendiri pada Anjani kecil. Dia sadar jika dirinya sendiri kadang juga protes pada takdir, jika hatinya sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin wajar bagi manusia mengeluh, kecewa dan protes. Tapi apapun yang terjadi atas kehidupan ini, semua atas kehendak dari Tuhan.

"Hah..." Terdengar hembusan nafas kasar saat Anna mencoba membuang sesak yang ada dalam dadanya.

"Gadis cantik, napa melamun sendiri malam-malam? Awas ke sambet setan tampan lho!" Terdengar suara seseorang yang menegur kegiatan Anna yang sedang melamun.

Dengan cepat Anna menoleh saat sadar jika ada seseorang yang menegurnya. Anna terlihat tersenyum saat melihat siapa yang menegurnya. "Tidak kok Bu, ini sedang cari angin saja sekalian belajar." Anna menjawab dengan sedikit gugup dan tersenyum kikuk.

"Belajar apa melamun?" tanya ibu Mala meledek Anna.

"Hehehe..." Anna hanya terkekeh karena merasa tak bisa membohongi ibu Kumala. Ibu asuh yang sedari bayi merawatnya.

Ibu Kumala berjalan mendekat dan akhirnya ikut duduk di bangku panjang yang sama dengan yang diduduki Anna. Dengan tersenyum lembut, ibu Kumala berkata pada Anna, "apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"

"Tidak ada kok Bu, Anna hanya sedang menikmati suasana malam yang tenang ini saja" jawab Anna berusaha untuk mencari alasan. Anna kemudian mengambil salah satu bukunya untuk menutupi rasa gugup karena sudah berbohong.

"Yakin? apa ibu tidak boleh tahu?" tanya ibu Kumala lagi memancing kejujuran dari Anna.

"Hehehe..." Anna terkekeh malu karena tidak mungkin dia bisa berbohong dengan ibu asuhnya yang tentu saja sangat mengenalnya.

Akhirnya Anna bercerita juga tentang kejadian tadi sore saat Anjani menangis karena mengingat bullyan teman-teman sekolahnya.

"Benarkah? wah ibu kok tidak tahu tadi" kata ibu Kumala sedih. Dia pasti mengerti bagaimana perasaan Anjani saat mendengar bullyan teman-temannya di sekolah.

"Nanti ibu akan datang ke kamarnya dan menghibur serta menasehatinya agar tidak sedih lagi." Ibu Kumala kembali berkata menanggapi cerita Anna dengan masalah Anjani di sekolah.

"Besok ibu akan mengantar anak-anak yang sekolah disana. Biar teman-teman sekolahnya tahu jika Anjani dan saudara yang lainya juga punya ibu." Setelahnya ibu Kumala beranjak dari tempat duduknya dan pamit pada Anna.

"Ibu ke kamar Anjani dulu. Kamu kalau gak jadi belajar mending masuk ya, jangan lama-lama diluar. Udara malam gak bagus!" Dengan tersenyum ibu Kumala berjalan ke arah belakang, menuju bangunan tempat kamar anak-anak berada.

Anna tersenyum lega, kemudian membereskan buku-bukunya yang sedari tadi hanya diam menemaninya melamun. Setelah beres, Anna pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke kamarnya sendiri.

*****

Saat pagi hari disekolah.

Suasana kelas Anna yang selalu ramai memang tampak berbeda dibandingkan dengan jelas lainnya. Selain ada Dinda dan kawan-kawan yang selalu saja ribut dengan berbagai bahasan, ada Alan yang juga suka bercanda.

Pagi ini pun Alan sudah terlihat seperti biasanya, terlihat segar dan penuh semangat. Tidak seperti kemarin saat pulang sekolah. Manyun dan kesal karena keadaan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.

"Hai Anna...!" sapa Alan dengan menaik turunkan alisnya menggoda Anna. Dia baru saja datang dan langsung duduk di dekat Anna dengan menarik kursi yang lain.

"Hai juga Alan!" Anna pun menjawab tak kalah semangatnya.

"Siap menerima pelajaran hari ini?" tanya Anna setelah Alan duduk dengan baik di dekatnya.

"Sudah dong... Bambang Alan siap menerima pelajaran. Apalagi jika pelajaran menaklukkan hatimu!" Alan menjawab dengan plesetan yang sudah menjadi kebiasaannya.

Anna tertawa kecil mendengar Alan yang sudah bersikap seperti kemarin-kemarin dulu.

"Bisa aja kamu Al bercandanya." Anna tersenyum dan tersipu juga karena Alan juga ikut tertawa lepas karena candaannya sendiri.

"Ada yang ingin kamu ceritakan sama aku?" tanya Anna setelah keduanya berhenti tertawa. Tapi Alan malah melihatnya bingung.

"Cerita apa?" tanya Alan mencari tahu apa yang ingin didengar oleh Anna darinya.

"Apa saja lah seperti biasanya. Mumpung jam masuk belum di mulai" kata Anna memancing Alan agar mau bercerita.

"Hem... kayaknya hari ini gak ada cerita menarik yang bisa membuat kamu tertawa nantinya" jawab Alan sambil menodongkan wajahnya seperti orang yang sedang berpikir.

"Ah masak?" tanya Anna seperti orang yang tidak percaya. Alan tertawa melihat wajah Anna yang menurutnya sangat lucu saat ini.

"Ihsss ihsss ihsss... jangan tertawa begitu!" Anna pura-pura cemberut dan kesal karena ditertawakan oleh Alan.

Anna berpikir jika Alan masih sama seperti dirinya yang punya pemikiran labil layaknya anak-anak.

"Iya iya gak tertawa deh..." kata Alan di sela-sela tawanya yang belum juga berhenti.

"Gak ada yang lucu Al...!" sungut Anna dengan wajah yang dibuat kesal.

"Iya deh gak tertawa lagi!" Alan berkata sambil memberikan kode V untuk dua jarinya.

"Gak tertawa Anna... tapi ngakak!" Setelahnya tawa Alan kembali pecah karena melihat wajah Anna yang melongo saat sadar setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Alan barusan.

Anna mengeleng mendapati sikap Alan yang seperti aneh pagi ini. Dia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Alan saat ini.

"Woi... diem! ngakak aja pagi-pagi!" Teriak Dinda dari tempat duduknya.

"Syirik...!" Sahut Alan cepat dan tanpa menoleh ke arah Dinda yang sedang melotot ke arahnya.

"Sudah... sana ke tempat duduk kamu sendiri Al." Anna berkata pada Alan agar tidak meladeni ucapan Dinda. Bukan tanpa sebab, karena sedari tadi Dinda dan kawan-kawanya juga cekikikan saat sedang bercerita.

"Udah biarin. Sedari tadi juga dia berisik!" Alan tidak menghiraukan ucapan Dinda maupun Anna yang yang memintanya kembali ke tempat duduknya sendiri.

"Masih ada tiga menit Ann... udah deh. Nanti aku juga balik sendiri gak usah pake diusir!" Alan berkata dengan bersungut-sungut. Tentu saja ini membuat Anna jadi merasa semakin aneh saja dengan sikap Alan.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya bel jam pelajaran segera dimulai. Guru-guru sudah mulai keluar dari ruangan dan berjalan di koridor sekolah menuju ke kelas masing-masing sesuai dengan jadwal yang ada .

1
Luciana Dwiningyad
lha kok sampe sekarang ga berlanjut, judul sama ceritanya ga nyambung
Dyah Oktina
lah... dgantung thor... kpn lanjut ceritannya..
Dyah Oktina
eh...iya... thor kla larry sdh curiga siapa adeknya knp ngak tes DNA aja.. dari pd penasaran & kelamaan kasihan mama yolanda
Dyah Oktina
yg pop tadi bukannya larry ya kok pop end nya jd alan ya thor???
TK
Kamu kapan ini Aku tulis lagi 🙊
triana 13
semangat kak
triana 13
lanjut
triana 13
like
triana 13
lanjut
triana 13
like
Restviani
lanjut
Restviani
maaf, baru bisa datang lagi
Restviani
gintani datang lagi yaaa...
lanjut...
Reo Ruari Onsiwasi
mampir lagi
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
done
🐾Ocheng🐾
hai, ocheng datang bawa Like👍semangat 💪
🐾Ocheng🐾
hadir bawa Like👍
👑Meylani Putri Putti
nyicil
👑Meylani Putri Putti
like selalu
👑Meylani Putri Putti
hadir kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!