KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Di habisin ya sarapannya." Ucap retno sambil menuangkan susu dalam gelas rangga.
"Mas, maaf ya nanti umi tidak bisa jemput mas ke sekolah. Hari ini umi sedang ada urusan, nanti bibik yang akan jemput mas."
"Ia umi."
"Umi pulang malam, umi titip adek ya."
"Baik umi."
Ting.. tong.. ting... tong...
"Biar saya saja bik." Retno mencegah asisten rumah tangganya untuk membukakan pintu rumahnya.
"Sebentar, umi ke depan dulu ya." Retno mengelus kepala rangga kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu depan rumahnya
Retno sangat terkejut ketika melihat bahwa lyra lah yang bertamu ke rumahnya, ia langsung menutup pintu rumahnya, namun belum sempat retno menutup pintunya lyra dengan cepat menahan pintu tersebut.
"Tunggu ret, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap lyra.
"Mau apa kau datang kesini?" Tanya retno.
"Aku ingin meminta nomor kontak pak reino ayahanda mba ana."
"Untuk apa kau minta padaku? bukankah dia tinggal denganmu sekarang?"
"Saat ini mba ana sedang koma, aku mau menggubungi keluarganya."
"Itu bukan urusanku." Retno kembali menutup pintu rumahnya.
"MBA ANA KOMA KARENA DI TABRAK OLEH SUAMIMU." Teriak lyra dengan kencang agar suaranya bisa terdengar oleh Retno.
Iya benar saja, Retno mendengarnya dengan jelas dari dalam kediamannya, wanita itu kembali membukakan pintu rumahnya untuk lyra.
"Jangan asal bicara kau lyr." Retno masih tidak percaya dengan perkataan lyra.
"Aku tidak bohong ret, aku punya bukti-buktinya."
lyra menujukan foto-foto saat julio di amankan oleh karyawan kakaknya pasca insiden penabrakan itu, beberapa karyawan kakaknya memotret kejadian itu sebagai barang bukti.
Tak hanya itu lyra juga menunjukan rekaman CCTV pada saat insiden itu terjadi, rekaman itu berasal dari CCTV yang terpasang digerai kakaknya.
"Suamiku memang sedang terlibat kasus kecelakaan karena ia telah menabrak seseorang."
"Ret, yang suamimu tabrak adalah mba ana. Suamimu mengincar itu kakakku, ia ingin membunuh mas rio, namun mba ana menyalamatkan mas rio, sehingga mba analah yang kini terbaring di rumah sakit." Mata lyra mulai berkaca-kaca, mengingat kondisi ana yang sedang koma.
"Tapi untuk apa suamiku mengincar kakakmu?"
"Karena suamimu cemburu pada mas rio yang telah bertunangan dengan mba ana, percayalah padaku ret, mba ana sama sekali tidak pernah bermaksud merebut suamimu."
"Mana ada pelakor yang mau mengakuinya lyr, kamu saja yang telah di bodohinya."
"Coba kau fikir kembali apa pernah mba ana menghubungi suamimu setelah mba ana mengetahui suamimu telah memiliki istri? dan coba kau fikir jika mba ana benar-benar berniat merebut suamimu untuk apa mba ana mau menerima lamaran kakakku?" Lyra menunjukan foto-foto kebersamaan kakaknya dengan ana
"Terkadang fakta itu menyakitkan, tapi kau harus membuka matamu untuk bisa melihat kenyataan yang ada, Suamimulah yang terobsesi dengan mba ana. kita bersahabat sudah dari SD aku tak akan mungkin membohongi sahabatku sendiri untuk masalah sebesar ini."
Retno menangis tersedu-sedu memeluk lyra, lyra menerima pelukan retno dengan hangat. lyra merasa lega akhirnya kesalah pahaman ini berakhir, akhirnya sahabatnya mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Setelah tangisan retno mereda, retno menyuruh asisten rumah tangganya mengambilkan dompet dirinya.
Tak lama setelah asisten rumah tangganya memberikan dompet miliknya, retno memberikan kartu nama pak reino kepada lyra.
Lyra mengucapkan banyak terima kasih kepada retno kemudian bergegas pergi dari kediaman rumah retno.
Tanpa retno sadari di balik pintu ada ibu mertua dan putra sulungnya yang mendengar semua percakapan antara retno dan lyra.
"Ibu di apuro yo nduk hiks...."
*Maafkan ibu ya nduk hiks...
Sambil memutar roda di kursi rodanya, perlahan bu ratih mendekat ke arah retno.
"Ibu.." Retno memeluk ibu mertuanya sambil menangis bersamanya.
Bu ratih benar-benar malu terhadap perbuatan yang telah dilakukan oleh julio, ia merasa menjadi ibu yang gagal dalam mendidik putra sulungnya.
"Ibu mboten sisah nyuwun pangapunten, ibu mboten lepat."
*Ibu tidak perlu minta maaf, ibu tidak salah apa-apa.
Retno mengelus punggung ibu mertuanya dengan lembut.
"Ewo dene, awakmu arep pegat. Ibu ikhlas, awakmu lan anak-anakmu duwe hak kanggo urip bahagiyo."
*Jika kamu ingin menceraikannya, ibu ikhlas nduk. Kamu dan anak-anakmu berhak bahagia.
Ucap ratih dengan lirih, ia mendukung sepenuhnya apa pun yang menjadi keputusan retno, ratih menilai apa yang di lakukan oleh putranya benar-benar sudah kelewat batas, bahkan ia meminta Retno agar Retno tak membantu proses hukum putranya, ia ingin agar putranya bertanggung jawab sendiri atas apa yang telah di perbuat olehnya.
Retno menganggukan kepalanya, ia berjanji kepada ibu mertuanya meski ia dan julio telah berpisah nanti, ia akan tetap merawat ibu mertuanya dengan sepenuh hatinya.
"Matur nuwun yo nduk"
*Terima kasih ya nduk.
Ratih tidak bisa berkata-kata lagi, ia benar-benar tak habis pikir dengan putranya yang tega menyakiti hati wanita sebaik retno.
"Umi..." Rangga melangkah mendekat ke arah retno, kemudian memeluknya, seolah ia memberi dukungan kepada uminya.
"Ia sayang." Retno mengelus dan mencium kening putra sulungnya.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini