NovelToon NovelToon
Suami Malaikatku

Suami Malaikatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa Modern / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:110k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.

Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21. Rabian Sukses Menyingkirkan Ular

"Maureen." ucap Gibran yang kaget melihat wanitanya sudah berada di ruang kerjanya pagi itu.

"Aku sengaja menghampiri mu biar kita bisa ke kampus sama-sama nanti." tutur Maureen.

Gibran tersenyum lembut lalu memeluk tubuh Maureen.

"Gibran, banyak yang melihatnya. Ini kantor." bisik Maureen yang ingin melepaskan pelukan itu namun Gibran enggan melepasnya.

"Aku kan adik iparnya Abian Malik, biarkan saja."

Maureen terkekeh mendengar kesombongan calon suaminya itu. "Astaga sejak kapan kau berubah jadi angkuh seperti ini? sepertinya kakak iparmu itu menularkan sikapnya padamu yah." ucap Maureen.

Di sisi lain, Abian baru saja tiba di kediamannya. Ia terkejut melihat sosok Rabian yang tengah duduk di depan tangga dengan bersimpuh menggunakan kedua tangannya.

"Hey anak Papah, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Abian sembari menatap wajah istrinya dan juga yang lainnya.

"Kau terlalu memanjakan Rabian, Bi." sahut Indira.

"Sudahlah, kasihan dia. Bi Qila biar ikut dengan kami." ucapnya seger menuju ke mobil menggendong putranya.

Abian sudah membawa Rabian menuju ke kantor bersama Bram. Indira hanya bisa pasrah melihat kepergian suaminya.

"Lama-lama anaknya tidak mau sekolah kalau seperti itu. Biar saja langsung jadi direktur di sana." gerutu Indira menahan kesal.

Semua kini kembali masuk ke dalam rumah, Nyonya Veren dan Nyonya Ningrum sudah duduk bersama dengan Indira.

Gia pun ikut bergabung dengan mereka sembari menikmati tontonan berita di televisi.

"Ya Tuhan virus itu sudah mulai masuk ke negara kita." tutur Nyonya Veren.

"Semoga saja masih jauh dari kehidupan kita yah Bu." sahut Indira.

"Iya sayang, kalau sampai terjadi tidak tahu bagaimana nasib kita semua." ucap Nyonya Veren.

Tak lama kemudian Indira pun mendapat sebuah telepon dari tim fotografer yang biasa memotret dirinya dan Rabian.

"Iya halo," ucap Indira lembut.

"Nyonya Indira, kapan kami bisa melakukan pemotretan untuk Tuan muda Rafael?" tanya seorang wanita dari seberang sana.

Sebelum kelahiran Rafael, Indira memang sudah meminta mereka untuk melakukan sesi foto selain untuk iklan sebuah produk sabun bayi, Rafael sudah mendapatkan tawaran dari beberapa tempat yang memproduksi peralatan bayi termasuk selimut yang berkualitas.

"Nanti saya akan beritahu tunggu usianya sedikit kuat yah." ucap Indira.

Sambungan telepon pun terputus setelah mereka berbincang-bincang singkat.

"Ada apa?" tanya Nyonya Ningrum penasaran.

"Itu Mami, Rafael akan melakukan sesi pemotretan. Tapi Indira masih tunggu beberapa hari agar tubuh Rafael tidak terlalu lemah." ucapnya.

Nyonya Ningrum dan Nyonya Veren hanya tersenyum menggelengkan kepala mereka. "Kau ini, anak baru lahir sudah di suruh jadi model saja."

"Hehehe siapa tau ada yang mewarisi keahlian Mamahnya kan Mami." seru Indira.

"Kalau begitu apa kau tidak ingin tahu jika kami berdua apa memiliki keahlian seperti mu juga?" Nyonya Veren pun bersuara.

"Serius Ibu dan Mami mau? kalau mau nanti Indira coba." ucapnya begitu antusias.

"Hahaha tidak, tidak. Kalau Ayahmu tahu Ibu akan di kurung di kamar nanti." tutur Nyonya Veren tertawa geli.

"Apa Ayah secemburu itu, Bu?" tanya Indira tak menyangka.

"Kau belum tahu Ayahmu, Nak. Ayahmu itu kadang bertengkar dengan Ibu hanya karena masalah mata orang melirik ke arah Ibu tanpa sengaja saat berpapasan. Kadang ia pun menuduh jika pria itu adalah mantan Ibu dan liannya lagi."

"Astaga, sungguh Indira pikir hanya Abian laki-laki langka seperti itu. Ternyata Ayah sama bahkan jauh lebih parah kalau seperti itu." ucapnya tak menyangka.

Mungkin apa yang Indira dapat dari Abian adalah sebuah karma dari Tuan Kriss yang ia lakukan pada Nyonya Veren.

Hari itu Abian sangat sibuk, ia yang baru menyelesaikan pekerjaan di ruangannya sudah harus bergegas menuju ruang meeting bersama Bram.

Rabian tampak heboh berlari kesana kemari dengan Bi Qila yang antusias mengejarnya. "Tuan muda Rabian, berhenti." Bi Qila bersuara dengan nafas yang sudah tersengal karena usianya memanglah tak lagi semuda di masa Abian dulu masih bayi.

"Ada apa, Bi?" tanya Abian yang tanpa sengaja lewat ketika hendak menuju ruang rapatnya.

"Tuan muda Rabian tidak mau bermain di ruang bermain, Tuan. Ia terus meminta berlari keluar mungkin karena bosan." terang Bi Qila.

"Biarkan saja, Bi. Rabian mau apa jangan di larang. Ini juga rumah untuknya." ucap Abian.

"Ba-baik Tuan." sahut Bi Qila.

"Rabian main dengan Bibi yah, Papah rapat dulu." ucapnya sembari mencium wajah bocah yang sudah berkeringat karena terlalu aktif.

Akhir-akhir ini Rabian sudah semakin aktif bahkan bisa di bilang ia terlalu aktif, seperti seorang yang tengah melakukan protes jika dirinya masih ingin di utamakan sejak kelahiran adiknya.

"Papah, Bian mau main yah." ucapnya berlari lagi melepas tubuhnya dari pelukan Abian.

Abian dan Bram melangkah meninggalkan Rabian dengan Bi Qila.

Tanpa ia tahu saat ini Rabian sudah menemui beberapa pekerja lainnya.

"Uncle." panggil Rabian yang menghampiri pekerja yang tengah sibuk dengan laptopnya.

"Maaf, ayo Rabian ikut dengan Bibi." Bi Qila berusaha menggendong Rabian namun anak itu sudah mendengarkan tangisannya begitu memenuhi ruangan.

Beruntung ruangan Abian kedap suara jika tidak meeting hari itu bisa tertunda.

"Sudah biarkan saja, Bi." sahut pria itu yang merasa takut jika Abian akan marah mendengar tangisan anak kesayangannya itu.

Lagi pula Bi Qila ingat saat Abian meminta Bi Qila untuk tetap menurut apa yang Rabian inginkan.

Akhirnya Bi Qila hanya berdiri menatap Rabian yang sudah duduk di pangkuan pekerja tadi.

Tangannya sudah semakin lincah mengotak atik laptop itu tanpa suara. Ia kembali bosan hingga akhirnya Rabian turun dengan menyeret laptop pekerja itu.

"Astaga." ucap pria itu dengan meneguk kasar salivahnya melihat laptop miliknya merek apple yang masih baru itu.

"Sudah biarkan saja." tutur Bi Qila.

Rabian tampak leluasa di ruangan itu, beberapa pekerja lainnya juga ia minta untuk menggendongnya hingga ada yang menjadi kuda untuknya lagi. Semua tidak ada yang bisa fokus bekerja, sedangkan Bi Qila yang melihat tingkah Rabian hanya menggelengkan kepala dengan memijat pelan keningnya.

"Mengapa anda bisa seaktif ini Tuan? apa karena Tuan dan Nyonya melakukannya dengan lincah jadi hasilnya terlalu lincah begini." gumam Bi Qila menyerah.

Para pekerja bergantian menjadi kuda, mereka semua di minta Rabian untuk berposisi dengan berjajar rapi, jika Rabian bosan dengan yang satu ia segera turun di tuntun Bi Qila dan segera menuju yang lainnya lagi.

"Aduh pinggang ku sakit." rintihnya.

"Iya, Tuan muda sudah yah mainnya." ucap salah satunya lagi.

"Bian macih mau." teriaknya dengan wajah geram.

"Astaga anak sekecil ini bisa mengerikan seperti itu." gumam yang pekerja lainnya lagi.

Sementara di sisi depan gedung Malik Company, Afrah yang baru tiba dari rumah sakit memperlihatkan dengan jelas wajah yang terbalut perban kecil di bagian alisnya itu.

"Oke, setidaknya di tempat ini aku tidak bertemu dengan bocah nakal itu." tuturnya tersenyum menyeringai dengan tekad yang begitu kuat untuk bisa masuk menemui Abian.

Wanita itu melangkah masuk ke dalam gedung, salah satu staf menemuinya.

"Permisi, anda ingin bertemu dengan siapa?" tanyanya sopan.

"Saya mau bertemu dengan pimpinan perusahaan ini." ucap Afrah dengan wajah angkuhnya.

"Maaf, Tuan sedang-"

Afrah sudah melangkah masuk menerobos tanpa mau mendengarkan penjelasan staf itu. Ia mendorong kasar staf yang berada di depannya dan segera menerobos masuk ke lift hingga staf itu ikut menyusulnya ke dalam lift juga.

"Maaf Nona, Tuan sedang meeting." ucapnya namun Afrah tak menggubris sama sekali justru ia fokus merapikan penampilannya di pantulan lift itu.

Sesampainya ia di lantai tempat kebesaran Abian matanya terkejut melihat para pekerja yang sudah berantakan dan memperlihatkan Rabian yang tengah menunggangi salah satu manusia kuda itu.

"Sial, mengapa ada bocah ini lagi." umpat kesal Afrah yang mengencangkan rahang-rahangnya geram.

Perlahan Afra membalikkan tubuhnya berusaha menghindar dari Rabian.

"Aunty." teriak Rabian yang sudah turun berlari cepat menemui Afrah saat itu juga.

"Eh Rabian, aunty pulang dulu yah." Afrah yang hendak masuk ke dalam lift di tarik oleh Rabian.

Bocah itu lagi-lagi merengek untuk Afrah bisa ikut bermain dengannya.

Afrah yang ingin mendorong kasar Rabian melihat cctv yang sudah terpasang di segala sudut.

"Sial, hidupku tidak akan tenang jika bocah tengil ini masih ada." umpatnya dalam hati.

Mau tidak mau Afrah terpaksa menurut dengan wajah yang tersenyum paksa. Bi Qila hanya menatap sembari memperhatikan tingkah Afrah pada Rabian.

Ia menikmati kenakalan Rabian pada wanita ular itu.

"Ini seru Tuan muda, sebaiknya Nyonya harus melihat hiburan ini." ucap Bi Qila terkekeh.

Ia meraih ponselnya dan mengirimkan video pada Indira. Afrah beberapa kali meminta Rabian untuk berganti ke tubuh pekerja yang lainnya namun bocah itu terus menolaknya.

"Rabian, sudah yah aunty lelah." ucap Afrah yang merasa kepalanya pusing akibat benturan kecelakaan tadi.

"Bian masih mau aunty." ucap bocah itu.

Selang beberapa menit setelah itu, Abian dan Bram pun keluar dari ruang meeting dan kembali naik melalui lift.

Saat pintu lift terbuka matanya terkejut melihat Rabian yang tengah menunggangi Afrah dengan tawa cerianya.

Sementara Afrah sudah kelelahan kali itu. "Abian, akhirnya kau datang." ucap Afrah seketika ambruk dan hampir menjatuhkan Rabian.

"Rabian." Abian segera meraih tubuh putranya dengan sigap.

lalu menggendongnya. "Bi ini semua ulah Rabian?" tanyanya syok melihat ruangan yang sudah berserakan seperti kapal pecah.

"I-iya Tuan. Tuan muda Rabian mengamuk jika saya mengambilnya atau mencegahnya.

"Yasudah kita pergi Bi." ajak Abian menggendong putranya yang tengah berkeringat kelelahan.

Abian dan yang lainnya sudah menuju kantor cabang di mana ada Gibran dan juga Rayker.

"Tuan." ucap Bram yang ingin menanyakan apa yang harus ia lakukan untuk Afrah yang terbaring di lantai itu.

"Biarkan saja dia." ucap Abian acuh.

1
Heliati Mamonto
lanjut
bundan@ furqan
ika widya
lucky ma dita ja,, sprtiny lucky org yg baik
nhiena Ali
💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝❤❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
sarianum manurung
bakalan kangen SM keluarga malik...Abian i love u
Retno Marsudi
sukses selalu thorrrr
Retno Marsudi
waduhhhh tamat deh,, padahal aku suka novelnya nih,,
Retno Marsudi
bucinnya dikau tuan abiannnnnn
Retno Marsudi
Bayiku,, bukan bayi kami 🤣🤣🤣🤣
Retno Marsudi
Baper akut diriku sama kamu tuan abian malik
Yuni Ati
Jauh-jauhin tuh si ular cobra afrah Thor
Lutfiati Puzz
ak gk bisa mve on dari Abian Malik😭😭😭
ig: monalisa_n28: Hehehe Terimakasih kak🙏🙏
total 1 replies
harap_tenang😌
bi qila mulai lagi deh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
may Saka
kak bikin versi mauren sama gibran don kepo kelanjutan cerita cita mereka berdu nihhh plissssssssssssss.....................
Aris Mamae Rakha
extra part nya dong kak thor...😁😁😘😘
ig: monalisa_n28: Hehehe udah mentok selesainya kak
total 1 replies
Ghea_yuni_Aprinsa
yg berikut'y pa thor.....?
semoga lbh seru y....😘
ig: monalisa_n28: amin kak terimakasih yah kak
total 1 replies
Sri Hendrayani
up lgi donk thor
Sri Hendrayani: buat bonus upnya kak..
cerita bagus banget... 😍😘🥰
total 2 replies
Aris Mamae Rakha
Indira wanita yang lembut, anggun bisa berubah menjadi wanita jadi2an 🤣🤣 bahkan seperti monster kata Bram, 🤭🤭🤭🤭
Aris Mamae Rakha
bener2 cari mati berurusan dengan Abian
ajiu jiu
tamat sdh cerita ringan yg tdk bkin stress , ap akhirnya kita "pisah" di sni Thor 🤔🤔 rasa ny ngk mau novel in tamat 😢😢😢
ig: monalisa_n28: hehehe terimakasih kak sudah setia sampai akhir
total 1 replies
Erna Watie AZ
buat kisah si rabian thorr,,,
ig: monalisa_n28: hehehe masih di pikir dulu yah kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!