Kelanjutan cerita dari "The Promise"
Setelah tubuh Bianca kembali ternyata membawa dampak buruk bagi Arsenio.
Arse menderita Thantophobia yaitu ketakutan akan kehilangan seseorang. Yang mana membuat dirinya begitu posesif terhadap Bee, dia melakukan segala sesuatu secara berlebihan.
Bagaimana cara Arse untuk kembali sembuh?
Kembali hadirnya Lyra dan Bellena menambah kemelut hubungan mereka.
Mereka dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit.
Apakah hubungan mereka bisa bertahan?
Simak kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membujuk Cello
🐝🐝🐝
Sesampai dirumah Bianca segera membersihkan dirinya, saat bercermin betapa kagetnya dia melihat bibirnya yang bengkak. Sepertinya dia harus membatalkan acara menginap malam ini, Bianca tidak ingin sahabatnya melihat keadaannya yang begini pasti jiwa kepo mereka akan meronta-ronta.
Bianca meraih ponselnya dan segera menelpon sahabatnya bergantian. Setelah selesai menelpon Bianca hanya bisa mendengus kesal, ini semua gara-gara pacar gilanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada kekasihnya itu dia begitu labil dan susah dimengerti.
"Bee.. apa kau sudah sampai?"
"Bee.. jangan membuatku khawatir!"
"Bee.. maafkan aku!"
"Bee.. bunuh saja aku!"
Sederet pesan masuk ke dalam ponsel Bianca.
Bianca enggan membalas tapi kalau tidak dibalas ponselnya akan terus berdering menerima pesan masuk yang dari tadi tak kunjung berhenti.
Akhirnya Bianca pun membalas.
"Aku baik-baik saja! mulai besok Anna dan Mark tidak usah mengantarku ke kampus!"
Pesan terkirim dan Bianca langsung mematikan ponselnya dia ingin tenang sejenak sambil memikirkan langkah yang akan dia ambil selanjutnya. Hari ini begitu melelahkan, kedatangan Lyra dan sikap Arse yang menggila rasanya kepala Bianca mau pecah.
Tengah malam Bianca terbangun dari tidurnya karena lapar memang tadi dia sengaja melewatkan makan malam karena tidak ingin Jaya atau Lili melihat bibirnya yang bengkak. Dia pun segera keluar kamar menuju dapur tapi keningnya tiba-tiba mengkerut melihat Cello yang duduk sendirian di meja makan.
"Cello, kenapa belum tidur?" tegurnya.
Tapi Cello hanya diam saja tidak seperti biasa.
"Mau kakak buatkan susu coklat hangat?"
Cello pun akhirnya mengangguk.
Bianca segera membuat dua susu coklat hangat untuknya dan juga untuk adiknya tersayang.
"Minumlah! setelah itu tidur kembali," perintah Bianca sambil menyodorkan gelas berisi susu yang dia baru saja buat.
"Malam ini Cello tidur sama kakak, boleh?"
"Tentu, tapi tidak ada baca dongeng. Cello harus cepat tidur, besok kan sekolah."
"Cello tidak mau sekolah lagi kak."
Bianca mengerutkan keningnya lagi, kenapa adiknya ini pikirnya.
"Kenapa cerita sama kakak!"
"Teman-teman di sekolah mengataiku bahwa Cello anak seorang pelakor! hiks hiks hiks.. "
Tiba-tiba Cello menangis, Bianca pun langsung memeluknya dengan sejuta tanya.
Pelakor? bagaimana anak umur delapan tahun bisa berbicara seperti itu dan atas dasar apa mereka membully adiknya begitu. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, dia harus mencari tahu.
"Apa mama sudah tahu?" tanya Bianca.
Cello menggeleng "Aku benci mama!" ucap Cello setengah berteriak.
"Cello, tidak boleh bicara begitu! mama bukan pelakor seperti yang mereka bilang. Besok kakak akan antar Cello ke sekolah ya," bujuk Bianca.
Setelah menghabiskan susunya Bianca membawa adiknya ke kamarnya. Dielus punggung adiknya itu sampai tertidur.
"Belum selesai masalah satu tumbuh masalah baru lagi," gumam Bianca dalam hati.
🐝🐝🐝
Pagi harinya di kediaman Bianca tampak riuh pasalnya banyak karangan bunga berjejer di halaman rumah. Lili dari tadi berteriak memanggil Bianca di kamarnya, Bianca pun dengan cepat menyelesaikan urusannya untuk berangkat ke kampus.
"Akhirnya keluar juga," ucap Lili seraya menarik tangan Bianca ke halaman depan.
"Coba lihat itu, Bee!" pekik Lili.
Bianca melongo pasalnya puluhan karangan bunga memenuhi halaman rumahnya dan bertuliskan "bunuh aku". Sudah bisa ditebak siapa yang mengirim itu semua.
"Bee, memang siapa yang ingin dibunuh?" tanya Lili polos.
"Menantu idamanmu itu Ma, siapa lagi."
Bianca segera masuk ke dalam lagi dan mencari Cello, sesuai janjinya dia akan ikut mengantarnya ke sekolah.
Usai sarapan pagi, mereka melakukan aktifitas masing-masing. Jaya pergi ke kantor, Bianca pergi kuliah dan Cello ke sekolah.
Sebelum berangkat mereka selalu membiasakan saling berpamitan satu sama lain semenjak Bianca sadar dari koma memang keluarga itu lebih harmonis. Tidak ada Bianca yang judes dan ketus seperti biasanya.
Tapi hari ini berbeda pasalnya Cello tidak mau berpamitan dengan Lili bahkan sejak kemarin disentuh pun tak mau, hal itu membuat Lili begitu sedih.
"Biar Bee yang urus Ma," hibur Bianca pada Lili.
Bianca dan Cello berangkat bersama diantar supir pribadi Jaya, sesuai permintaan Bianca tadi malam bahwa Anna dan Mark tidak perlu mengantarnya lagi.
Untuk masalah karangan bunga, Bianca sudah menyuruh asisten rumah tangga untuk membersihkan semua. Bianca ingin fokus dulu mengurus Cello ketimbang pacar gilanya.
Sesampai di sekolah, Cello tampak enggan masuk ke kelasnya. Bianca berusaha membujuk adiknya.
"Tunjukkan pada kakak mana anak itu?"
Dengan ragu-ragu Cello menunjuk dua anak lelaki yang saat ini akan masuk kelas.
Bianca segera mendekati dua anak tersebut, dia penasaran bagaimana anak kecil polos seperti mereka bisa berkata hal yang tidak baik seperti yang dilakukannya pada Cello.
"Hei, adik kecil," sapa Bianca.
Dua anak tersebut menoleh ke arah Bianca seketika wajah mereka berbinar ada kakak cantik yang memanggil mereka.
"Kakak, memanggil kami?" tanya salah satu anak itu.
"Tentu, apa boleh kakak bertanya sesuatu?"
Kedua anak itu mengangguk secara bersamaan.
Bianca mengeluarkan coklat dalam tasnya dan memberikannya pada dua anak itu.
"Ini kakak kasih coklat tapi jawab pertanyaan kakak dengan jujur! kenapa kalian berdua bisa menyebut Cello sebagai anak pelakor? dapat kata-kata dari mana itu? apa orangtua kalian yang mengajari hal itu?"
"Kami hanya disuruh saja kak," jawab mereka kompak.
"Disuruh? Disuruh siapa kalo kakak boleh tahu?" tanya Bianca makin penasaran.
"Seorang ibu yang memberikan kami banyak mainan."
Bianca makin tambah dibuat penasaran.
"Ibu-ibu? apa dia bekerja di sekolah ini?"
Kedua anak itu menggeleng dan menatap Bianca dengan intens.
"Wajahnya mirip dengan kakak," celetuk salah satu anak itu.
Deg!
Mirip dengannya? apa maksud anak ini. Tiba-tiba pikiran Bianca jadi beku, apa jangan-jangan mama Lyra? Tapi kenapa, apa tujuannya? Sepertinya dia harus cepat mencari tahu. Jika benar ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisanya mempengaruhi anak-anak kecil yang begitu polos.
"Baiklah, kalian masuk ke kelas ya. Jangan bicara seperti itu lagi pada Cello. Itu hal yang tidak baik adik kecil.Jika kalian jadi anak yang baik kakak akan memberi banyak coklat nanti," ucap Bianca.
Kedua anak itu tersenyum dan berjanji pada Bianca untuk tidak akan mengatakan hal itu lagi. Dan Bianca semakin yakin bahwa kedua anak polos itu cuma dijadikan alat perantara oleh orang yang menyuruhnya.
Bianca kini beralih pada adiknya lagi, dan membujuknya untuk masuk dalam kelas.
"Cello, jangan takut lagi ya. Kakak sudah bicara pada mereka, ingat ya tidak boleh berpikiran buruk tentang mama Lili, nanti malam Cello boleh tidur sama kakak lagi. Kakak akan baca dongeng yang sangat banyak dan asal Cello tahu kakak buat komik sekarang dan adikku sayang ini yang akan jadi pembaca pertama," bujuk Bianca.
Cello pun tersenyum mendengar penuturan kakaknya. Dia segera masuk ke kelasnya karena bel masuk akan segera berbunyi.
Bianca mendengus lega akhirnya bisa membujuk adiknya tapi pertanyaan terus saja muncul di kepalanya.
"Apakah itu benar perbuatanmu, Ma," gumam Bianca.
🐝🐝🐝
arse buang ke laut
aku senang arse nelangsa slma 7 mlm
keren banget kak..
marvelous.. marvelous.. marvelous..
kisah ini sungguh luar biasa..
walopun tetap didominasi dg kesomplakan Arse, tapi alur ceritanya sungguh mengharu biru bikin termehek-mehek.. 🥺🥺😭😭
tapi akhirnya tetap happy ending.. 🥰🥰🥰
g sabar baca sekuel lanjutannya..
sehat2 terus ya kak.
tetap semangat untuk berkarya.. 😘😍🥰🤩