Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
Georgina turun dari mobilnya dan berlalu menuju pintu utama restoran. Dari ambang pintu, Georgina menyaksikan keberadaan Ibnu di dalam restoran. Pria itu bergabung bersama beberapa ibu-ibu berpenampilan sosialita.
Menyadari kedatangan Georgina, Ibnu lantas bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita itu yang masih berdiri mematung pada posisinya.
"Kamu ikut arisan bareng ibu-ibu apa gimana sih?." Lirih Georgina setelah Ibnu berdiri di hadapannya.
"Ck....." Ibnu berdecak lidah mendengar kalimat beraroma sindiran yang terucap dari mulut wanita itu. "Salah satu dari mereka adalah mamah aku." Aku Ibnu.
Georgina lantas memandang ke arah meja yang huni oleh para ibu-ibu sosialita tersebut. Salah seorang diantaranya nampak tersenyum padanya.
"Yang itu mamah aku." Kata Ibnu saat menyadari Georgina membalas senyuman dari salah seorang ibu yang duduk di sana.
"Kamu bilang kita akan bertemu dengan mamah kamu, tapi kenapa kenyataannya malah ketemu ibu-ibu arisan satu RT begini sih, Ibnu." Ujar Georgina dengan kesal tertahan.
Ibnu mengusap tengkuknya.
"Aku juga tidak tahu kalau hari ini mamah akan mengajak teman-teman arisannya ketemuan di sini." Ibnu tidak bermaksud menipu, karena kenyataannya pria itu juga tidak tahu-menahu bila ibunya akan mengajak teman-teman arisannya berkumpul seperti ini.
Kepalang basah, ia pun sudah tiba di sini, terlebih telah berjanji pada Ibnu untuk membantu pria itu. Georgina lantas memutuskan untuk lanjut, berjalan mendekat bersama Ibnu menghampiri meja yang ditempati oleh para ibu-ibu sosialita.
"Selamat pagi menjelang siang ibu-ibu."
Mendengar sapaan Georgina membuat para ibu-ibu tersenyum.
"Calon mantu jeng Ira cantik dan juga menggemaskan." Salah seorang teman arisan ibunya Ibnu terdengar mengomentari sikap Georgina.
Salah seorang wanita yang tadi sempat tersenyum pada Georgina, wanita yang diakui Ibnu sebagai ibunya, tersenyum mendengarnya.
Calon mantu? Ya, janji yang ditagih oleh Ibnu adalah mempertemukan Georgina dengan ibunya sebagai calon istrinya, lebih tepatnya berpura-pura menjadi calon istrinya. Jika ditanya mengapa, karena sehari sebelum Georgina mendatanginya, Ibnu telah berjanji akan mengenalkan ibunya dengan calon istrinya. Calon istri yang saat itu dimaksud oleh Ibnu tentu saja adalah Reka. Namun semua rencananya berantakan karena permintaan Georgina yang ingin ia melepaskan Reka untuk Leon. Tidak ingin sampai mengecewakan ibunya, Ibnu lantas meminta Georgina untuk menemui ibunya sebagai calon menantu.
"Silahkan duduk, sayang!." Kata ibunya Ibnu dengan lembut pada Georgina.
"Terima kasih, aunty...." Georgina lantas menarik kursi yang kosong di samping Ibnu dan menempatinya. Di sudut sana masih ada satu kursi yang kosong dan bisa jadi masih ada satu dari teman arisan Ibunya Ibnu yang belum tiba. Namun begitu, Georgina tak mau ambil pusing. Ia hanya perlu duduk manis hingga nanti waktunya meninggalkan restoran tiba.
"Apa kalian sudah berencana menikah?." Teman arisan Ibunya Ibnu yang lain terdengar bertanya.
"Iya..."
"Belum."
Ibnu dan Georgina kompak menjawab namun jawaban keduanya terdengar berbeda, dan hal itu tentu saja sedikit mencurigakan. Keduanya saling melempar pandangan singkat, sebelum akhirnya Ibnu kembali bersuara untuk mengoreksi jawaban mereka barusan.
"Maksudnya, kami memang berencana menikah, tapi belum dalam waktu dekat ini."
"Oh begitu rupanya."
Georgina bernapas lega pada saat teman-teman arisan ibunya Ibnu terlihat percaya begitu saja.
"Kata Ibnu, nak Georgina berprofesi sebagai dokter spesialis anak ya..." Ibunya Ibnu hanya sekedar bertanya, bukan untuk melakukan validasi pada calon menantu.
"Benar, aunty."
"Wah.... anaknya jeng Ira benar-benar pandai mencari calon istri."
Georgina hanya tersenyum sungkan mendengarnya. Sesekali gadis itu melirik pada jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, seolah menghitung waktu demi waktu yang terasa begitu menyesakan. Untuk ibunya Ibnu sendiri, wanita itu cukup kalem dan tidak terlalu kepo, berbeda dengan teman-teman arisan sosialitanya.
Merasakan getaran ponselnya, Georgina lantas merogoh tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya. Rupanya pesan dari salah seorang perawat yang bertugas di poli anak bersamanya.
"Jeng Tika....." Nama yang baru saja diserukan oleh salah seorang teman arisan Ibunya Ibnu mampu mengalihkan perhatian Georgina dari layar ponselnya.
Deg.
"Mommy...."Batin Georgina. Tubuh Georgina gemetar seketika. Rupanya bukan namanya yang mirip, namun wanita yang kini berjalan ke arah meja mereka benar-benar ibunya. "Mati aku...."
"Geo....."
Saat ibunya menyerukan namanya, Georgina seperti ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi.
"Mom....mmy......"
"Mommy....." Cicit semuanya, termasuk Ibnu dan ibunya.
Ibnu menatap Georgina. Masalah baru sudah didepan mata.
"Rupanya calon istri dari putranya jeng Ira itu putrinya jeng Tika."
"Calon istri?." Ulang mommy-nya Georgina. Putrinya telah bertunangan dengan Leonardo Fernandez, putra bungsu dari keluarga Fernandez. Lalu, mengapa tiba-tiba putrinya diakui sebagai calon istri dari pria lain?
Wanita itu kemudian menatap pada putrinya, seolah meminta penjelasan.
"Sepertinya, besok aku tidak akan melihat cahaya matahari lagi." Batin Georgina dengan putus asa. Ibnu pun mulai sedikit gelisah.
"Boleh saya minta waktu sebentar untuk mengobrol berdua dengan putri saya, jeng Ira." Meskipun kesal dan marah namun mommy-nya Georgina tidak ingin sampai mempermalukan putrinya di depan orang lain.
"Silahkan...jeng Tika."
Georgina langsung bangkit dari duduknya saat menyadari sorot mata tajam mommy-nya.
Di toilet wanita, di sinilah Georgina di seret ibunya untuk mengobrol berdua.
"Apa-apaan ini, Geo? Kamu sudah bertunangan dengan Leon, tapi kenapa kamu masih menjalin hubungan dengan pria lain?. Pokoknya mommy tidak mau tahu, kamu harus putuskan hubungan kamu dengan putranya jeng Ira!."
Melihat putrinya masih diam saja, mommy lantas berkata. "Baiklah, kalau kamu tidak mau maka mommy akan menghubungi mommy-nya Leon dan meminta agar pernikahan kalian segera dilaksanakan secepatnya." Mommy-nya Georgina bukan melihat Leon dari status sosial keluarganya, namun mommy-nya Georgina adalah orang yang tidak suka ingkar janji, terlebih untuk hubungan perjodohan yang telah diatur sedemikian rupa oleh kedua keluarga. Lagipula sepengetahuannya, jeng Ira bukan berasal dari keluarga sembarangan. Jadi, status sosial bukalah alasan wanita paruh baya tersebut sampai menolak Ibnu.
Kalau sudah begini, bisa dipastikan rencananya mempersatukan Leon dan Reka akan gagal total. Tidak menutup kemungkinan keluarga Fernandez akan mengiyakan permintaan mommy-nya demi yang namanya menjaga hubungan baik antar keluarga.
"Jangan, mom...!." Georgina merebut ponsel mommy-nya. "Georgina tidak mungkin menikah dengan Leon jika kenyataannya Georgina sedang mengandung anaknya mas Ibnu."
"Maafkan Geo, mom.....Geo terpaksa berbohong pada mommy." Batin Georgina. Gadis itu memejam mata singkat.
"Apa kamu bilang? Kamu sedang hamil?." Tubuh mommy-nya Georgina sampai mundur beberapa langkah, saking syok nya. "Kamu benar-benar keterlaluan, Geo. Mommy tidak menyangka kamu bisa sampai melakukan hal serendah ini, nak."
Ibnu lebih gila lagi...