Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak*
"Tuan, semua sudah siap. Kami menunggu perintah anda." Ujar Lukas menghampiri Edward yang sedang mengecek amunisi pada pistol kesayangannya.
"Ya. Siapkan dirimu. Kita akan segera berangkat." ucap Edward datar.
Lukas mengangguk dan berlalu dari hadapan Edward.
Walau tubuhnya terasa lelah usai melakukan perjalanan udara yang ditempuh bukan dengan jarak yang dekat, tapi pria itu terlihat bugar dan siap untuk bertarung. Pria itu saat ini tampak sedang memberi pengarahan singkat pada anggota GL yang akan melakukan misi penyelamatan Brian.
"Kak." Sapa Aurora yang sudah siap dengan setelan serba hitam berjalan menghampiri Edward yang seperti sedang menunggunya. Pria itu mengamati penampilan Aurora dari atas hingga ke bawah dan menggeleng tak suka.
"Kamu seperti anak punk." Komentarnya.
Aurora tersenyum kecil, sama sekali tak tersinggung dengan ucapan kekasihnya. Gadis itu meraih krah jaket hitam milik Edward dan mendekatkan wajahnya.
"Aku bukan anak punk, Tuan Mafioso. Aku gadis mafiamu."
Edward memalingkan muka. Tak ingin matanya bersirobok dengan mata Aurora yang menatapnya dalam seakan menelusuri relung jiwanya. Pria itu tak kuat jika ditatap seperti itu.
"Ehm. Jangan seperti ini."
Edward sedikit memundurkan tubuhnya memberi jarak.
"Sayang, berjanjilah untuk tidak mengenakan pakaian seperti ini lagi. Aku menyukai jika kamu berpenampilan feminim."
"Tidak janji, tapi akan aku usahakan."
Edward mengangguk.
"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, aku akan membuka jalan terlebih dahulu, baru kamu boleh masuk. Hati hati dan jaga dirimu, aku tak ingin kamu terluka, terlebih pada perutmu. Kamu masih harus melahirkan banyak putra untukku. Apa kamu mengerti."
"Tak."
"Ck. Ayolah, jangan becanda. Aku akan meninggalkanmu jika kamu terluka." Ujar Edward seraya memasang alat yang mirip dengan jam tangan di pergelangan tangan Aurora.
"Tekan ini, jika kamu mendapat masalah atau dalam keadaan terdesak. Aku akan segera berusaha menolongmu. Kau mengerti." sambil menunjuk tombol merah pada alat itu.
"Oke."
Setelah memberi pengarahan singkat, mereka semua berangkat dengan mobil beriringan. Mobil Edward berada di barisan paling depan bersama Lukas, sedangkan Aurora di mobil paling belakang bersama tiga kawannya.
Mobil mobil itu akhirnya berhenti tak jauh dari sebuah bangunan yang disinyalir markas Black Dragon. Edward langsung memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan bola bola peledak kearah gerbang markas itu.
Dentuman bersahut sahutan begitu Lukas menekan pemicunya. Pria itu tersenyum licik dibalik masker hitam yang dipakainya.
Aurora yang melihat itu menelan ludah, gadis itu baru menyadari jika kekasihnya bukanlah orang sembarangan.
"Mereka orang orang berbahaya Nona." Komentar David yang duduk di kursi kemudi.
"Ya, maka dari itu, kamu harus selalu menjaga temanku. Orang orang berbahaya hidupnya dipenuhi musuh yang berbahaya pula. Bersiaplah Ra, setelah ini hidupmu tidak lagi mudah. Aku sarankan untuk tidak terlibat di keanggotaan Dark Queen. Serahkan saja pada orang kepercayaanmu. Calon suamimu sudah menantang bahaya, kau jangan ikut ikutan." Ujar Listy sambil melirik Aurora yang fokus mengamati keadaan di depan.
Aurora tak menyahut. Dalam hati, gadis itu membenarkan ucapan sahabatnya.
Keadaan di dalam bangunan.
Alarm terminator berbunyi nyaring membuat suasana menjadi sangat riuh. Orang orang berseragam hitam berlarian mengambil senjata untuk menghalau serangan.
Anggota pasukan terlatih milik GL sudah lebih dulu masuk dengan membawa senapan laras panjang dan melumpuhkan semua musuh yang ditemuinya.
Tembakan saling bersahut sahutan. Entah sudah berapa banyak orang yang tumbang akibat timah panas itu.
Edward dan Lukas yang sudah berada disana juga tak segan segan menikam dan menembak mereka yang menghalangi jalannya mencari keberadaan Brian. Dua pria itu terlihat lincah dalam menghalau serangan.
Aurora yang baru saja masuk ke dalam terperangah melihat situasi di dalam. Tempat itu sudah dipenuhi orang orang yang tergeletak tak berdaya.
Gadis itu lalu memerintahkan anggotanya untuk membantu mengevakuasi orang dari pihak mereka yang terluka. Sedangkan dia sendiri memilih segera mencari keberadaan Brian.
"Selamat datang Aurora."
Suara berat seorang pria bertopeng menyapa indra dengarnya begitu Aurora masuk ke dalam ruangan dan seketika pintu itu otomatis tertutup rapat.
Aurora membeku ditempatnya berdiri. Dia sudah seperti seekor kelinci yang masuk ke dalam kandang ular.
Gugup, tapi sejurus kemudian matanya menangkap sosok Brian yang tergantung diatas crane.
"Apa maumu. Mengapa kalian menculik putraku!"
"Itu salahmu sendiri. Bukankah aku sudah berbaik hati menjemputmu kemarin? Kalian malah membunuh anak buahku. Jadi jangan salahkan jika aku memancingmu kemari dengan bocah itu."
Aurora terdiam. Jadi penculikan ini terjadi karena dirinya. Ia jadi merasa bersalah.
"Siapa kalian! Apa yang kalian mau dariku!Aku sudah ada disini. Sekarang bebaskan Brian!"
Pria itu memainkan rahangnya terlihat berpikir, tapi sejurus kemudian tersenyum mengejek.
"Kamu tak mengenal kami? Ck! Aku tak percaya jika benar ini kamu baby. Kita bahkan pernah melewati hari bersama. Kau tak kenal dengan suaraku? Ck!" Pria itu menggelengkan kepala.
Aurora mencurigai seseorang, tapi ia tak yakin dengan dugaannya. Tidak mungkin jika dia pria itu.
"Kami adalah Black Dragon. Penguasa di wilayah ini." Pria itu perlahan melepaskan topeng pada wajahnya.
"Kau!" Tuding Aurora tak percaya.
Pria tampan itu tersenyum sinis menatap Aurora.
"Kenapa?Tak percaya jika aku Aldi? Selamat datang di markas besar kami Aurora. Menurutlah padaku maka kau akan baik-baik saja."
"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku. Bukankah kita berteman baik? Apa selama ini kau hanya berpura-pura? Tolong hentikan semua ini sebelum kamu menyesalinya." Ujar Aurora lambat-lambat.
Aldi terkekeh mendengar penuturan Aurora. Dia tidak pernah berpura-pura jika berhubungan dengan gadis itu, tapi keadaanlah yang menuntunnya seperti ini. Menghalalkan segala cara untuk bisa mewujudkan keinginannya.
"Oke, kita akhiri drama ini. Aku akan membebaskan anak itu, tapi kamu harus menikah denganku!"
Mata Aurora membulat. Gadis itu jadi teringat ucapan pria yang kemarin ia tusuk. Benarkah telinganya tak salah dengar?
"Tidak Al. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku tidak mencintaimu. Andai kau hadir sebelum kak Edward, mungkin aku masih bisa memikirkannya."
Aldi menggertakkan giginya. Pria itu memerintahkan anak buahnya untuk memutus satu tali yang mengikat tubuh Brian.
"No! Jangan lakukan itu!" Teriak Aurora.
Aurora mulai merangsek maju , tapi ia dihadang puluhan penembak laras panjang berdiri melindungi tuannya.
"Al, please jangan lakukan itu padaku. Anak itu sama sekali tak ada hubungannya dengan kita. Lepaskan dia! Dia bukan barang!"
Aurora diam diam memencet tombol merah pada jam tangannya.
"Sudah aku bilang, aku akan melepaskan jika kamu menikah denganku. Ah, apa aku harus membunuh pria itu dulu sebelum menikahimu?"
"Kau sudah gila Al."
"Ya. Aku memang sudah gila. Aku gila juga karena kamu, karena ulah ayahmu! Pria bajingan itu yang sudah membuatku seperti ini. Aku akan membunuhnya jika dia tidak mau menikahkan kita!" Teriak Aldi dengan nafas memburu.
"Apa maksudmu! Kenapa menghina ayahku!" Seru Aurora tak kalah sengit.
"Apa kau pernah berpikir jika ayahmu pernah mencintai dan memperkosa ibuku? Apa kau tau jika ayahmu yang sudah membunuh ayahku? Apa kamu tau kehidupan kami setelah itu? Apa kamu tahu akibat yang ditimbulkannya? Apa kamu tahu ibuku menjadi gila setelah itu? Apa kamu tahu, bajingan itu meninggalkan ibuku setelah tahu dia gila? Apa kau tau semua itu Aurora!"
Aurora menggeleng tak percaya. Papanya adalah pria baik dimatanya, tidak mungkin berlaku seperti itu.
"Kau yang harus melakukan penebusan dosa jika tak ingin orang disekelilingmu yang menjadi korbannya." Lanjutnya.
"Jangan coba coba memanipulasi keadaan atau aku akan membencimu di seumur hidupku Al!"
Aldi tersenyum sinis.
"Kau tak percaya padaku? Baiklah jika itu adalah pilihanmu. Potong talinya!" Seru Aldi geram.
"No!"
"Oke. Oke. Itu adalah masalah kita, tolong jangan libatkan orang lain. Aku akan menurutimu." Tegas Aurora.
"Bagus. Itu artinya kamu setuju menikah denganku. Kemarilah."
Aurora melangkah maju, tapi suara berat itu menghentikan langkah kakinya.
"Tidak Aurora. Jangan lakukan itu." Ujar Edward yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakangnya dengan mengacungkan pistol bersama anggota GL yang lainnya. Entah lewat mana pria pria itu.
"Lepaskan putraku dan aku akan mengampunimu." Ujar Edward dengan sorot mata tajam berkilat marah.
"Baiklah, aku akan melepaskan putramu, tapi kau harus melepaskan Aurora untuk aku nikahi."
"Dia tidak mencintaimu!" Seru Edward yang tak terima.
"Aku tak peduli! Cinta ataupun tidak. Dia harus melakukan penebusan dosa ayahnya! Dan Kau. Tidak bisa ikut campur!" Tuding Aldi.
Edward mengepalkan tangannya. Kenapa harus ada keadaan yang seperti ini.
"Aurora! Kemari atau aku akan memutus 1 tali terakhirnya! Satu.. Dua.. "
"Jangan Aurora!" Seru Edward.
"Maaf Kak. Aku tidak bisa egois saat ini. Ini berawal dariku. Aku yang harus menyelesaikannya. Kasihan Brian, dia sudah terlalu lama disana."
Edward menggertakkan giginya, tak terima dengan keputusan kekasihnya. Pria itu memberi kode anggotanya untuk melumpuhkan musuh didepannya. Ia tak ingin cinta yang ia perjuangkan berakhir sia sia.
"No! Hentikan tembakan! Berhenti menembak!" Teriak Aurora.
Edward tak peduli. Desingan peluru tak berhenti walau Aurora yang memintanya. Gadis itu sampai ikut berlindung bersama Aldi agar tak terkena timah panas itu.
"Dasar gila." Umpat Aurora yang tak tahu harus berbuat seperti apa.
Aldi yang saat itu memegang pinggul Aurora dari belakang terkekeh mendengarnya. Ia sendiri bahkan sudah gila lebih dulu ketika mendengar kabar Aurora telah bertunangan dengan Edward.
"Lepaskan aku. Aku harus menghentikan ini." Aurora menatap kesal Aldi.
"Jangan bodoh! Aku tak bisa membiarkanmu terluka."
"Cih! Kemarin saja kau mengirimkan orang untuk mencelakaiku!"
Listy yang mengetahui jika Aurora dijadikan sandera oleh seorang pria, mengangkat senjata dan memfokuskan bidikannya pada kepala belakang targetnya. Hitungan mundur dalam hati mengiringi keluarnya selongsong timah panas itu.
"No! Jangan tembak!" Teriak Aurora yang tahu jika temannya sedang membidik Aldi.
DOR
Agh.
Sekuat apapun, jika keberuntungan tidak berpihak padanya, semua terasa sia-sia saja. Niat hati ingin menolong, tapi malah mengenai dirinya sendiri.
Aurora langsung terkapar, begitu peluru itu menembus dadanya. Teriakan Aurora membuat Aldi reflek menghindar, tapi malah menyasar ke tubuh Aurora sendiri.
Limbung. Tiba-tiba ruangan menjadi gelap, hanya suara yang memanggil penuh kekhawatiran yang masih dapat ia dengar. Darah mulai merembes keluar dari baju yang dikenakannya.
"Aurora! Buka matamu Aurora!" Teriak Aldi yang berusaha membangunkan gadis itu.
Listy melemas melihat kejadian ini. Ia tak menyangka jika akan mengenai sahabatnya sendiri. Harusnya jika Aurora tak berteriak mencegahnya, pasti peluru itu tak berbelok arah. Dia begitu terkejut mendengar perintah dadakan itu hingga hal yang tak diinginkan pun terjadi.
Aurora tersenyum kecil menatap netra Aldi. Samar samar ia melihat pria itu dengan tatapan bersalahnya.
"Aku melakukan penebusan dosa untuk ayahku. Atas nama ayahku, aku minta maaf padamu. Tolong hentikan semua kegilaan ini Al. Kamu orang baik. Kembalilah ke jalan yang benar. Maaf aku tak bisa membalas cintamu. Tolong hapus rasa cintamu padaku, a aku hanya akan menganggapmu sebagai seorang kakak. Maaf." Ujar Aurora lambat lambat sebelum gadis itu tak sadarkan diri.
"No! Aurora bangun Aurora! Jangan lakukan ini padaku! Buka matamu Aurora!"
.
.
.
######
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya