Hidup Luna sudah sempurna. Memiliki kekayaan dan popularitas di usia muda. Punya Casey, Kekasih baik hati yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Dia berpikir akan terus bahagia seperti itu.
But everything’s gonna change along the time. Pekerjaan mulai membebaninya, membatasi ruang gerak Luna. popularitasnya berusaha menghancurkan segala batas privasinya. Dan Casey ternyata terlalu menginginkan yang terbaik hingga tidak sanggup mentolerir perubahan Luna yang baru beranjak dewasa.
Luna merasa dirinya sedang berada di titik bawah hidupnya. Hingga Bagian terburuk dari semua itu mulai tampak, Luna harus bertemu Drey Charleville. Cassanova dengan segala catatan buruknya. Menggunakan pesonanya, Drey berusaha keras menjerat Luna dan menambahkan namanya dalam catatan wanita yang pernah ditaklukannya. Betapapun kerasnya Luna mencoba untuk tidak goyah, Drey selalu punya cara manis untuk menggodanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarashina18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Big Day, Bad Day
Aku merapatkan mantelku menghalau rasa dingin. Suhu Hari ini lebih rendah dari biasanya dan tidak Ada cukup sinar matahari. Rasanya tubuh Dan kakiku membeku akibatnya.
Hatiku juga terasa dingin. Sejak semalam aku tidak berhasil menemui Drey. Tadi pagi saat waktunya jogging aku masih sempat mendatanginya. Namun ternyata dia sudah pergi Tanpa memberitahuku. Aku sudah mengirimkan pesan padanya, itu juga diabaikannya. Dibaca pun tidak.
Padahal ini Hari pertama syutingku. Aku berharap bisa menyelesaikan masalah kami. Agar aku bisa fokus bekerja. Aku juga dengar jika Hari ini dia Akan diperkenalkan ke publik secara resmi oleh klubnya. Jadi aku ingin memberikan dukungan padanya.
Ini Hari yang besar bagi kami. Namun juga dimulai sangat buruk.
"Apa kalian masih bertengkar?"
Tanya Daniel yang seperti biasa selalu dipenuhi rasa penasaran. Mungkin akibat memperhatikan ekspresi wajahku sejak datang menjemput.
Biasanya sebagai jawaban, aku akan melampiaskan emosiku pada Daniel. Tetapi aku bahkan tidak ada minat melakukannya. Aku hanya mengabaikan Daniel apapun yang dia katakan.
Syuting awal dilakukan di sebuah studio di pusat Kota London. Sedikit jauh dari tempat tinggalku. Saat aku datang, di Sana sudah ramai orang. Usai menyapa para staff, aku pergi bersiap juga.
Aku harus menyiapkan make up dan penampilanku sebelum kembali ke set. Adegan pertama yang Akan diambil adalah adegan pertemuanku dengan Casey. Banyak dialog panjang di adegan ini. Mungkin Akan memakan waktu lama menyelesaikannya.
Aku sudah merasa lelah duluan. Terlebih bayangan untuk melihat Casey lagi. Kami belum menyelesaikan masalah sebelumnya, aku mungkin akan canggung melihatnya.
"Apa aku boleh masuk?"
Baru saja aku memikirkannya, Casey sudah muncul di depan ruanganku. Sejujurnya aku belum siap menemuinya. Apalagi sedang tidak Ada siapapun di ruangan ini. Tetapi tidak mungkin aku mengusirnya. Jadi aku mempersilahkan Casey masuk juga.
Casey mengambil kursi untuk duduk di sampingku. Dia juga membawakan segelas coklat hangat. Dulu saat kami masih bersama, dia selalu membelikanku minuman itu. Karena aku tidak bisa minum kopi. Rupanya Casey masih mengingat kebiasaan itu.
"Bagaimana kabarmu?"
Casey memulai pembicaraan. Aku bisa melihat dia begitu gelisah. Dia pasti sedang gugup. Sehingga aku mencoba bersikap seperti biasa untuk mencairkan suasana.
Kebanyakan kami hanya bertukar kabar. Namun cukup sukses menghilangkan kecanggungan yang muncul karena perdebatan kami.
"Maafkan sikapku yang terlalu ikut campur dengan urusanmu sebelumnya"
Setelah sekian lama, akhirnya aku menerima permintaan maaf Casey juga.
"Aku harap Kita bisa bekerja sama dengan baik di film ini"
Tambah Casey.
"Aku juga sudah bersikap berlebihan"
Jawabku. Dan akhirnya kami sepakat mengakhiri masalah kami untuk fokus pada film. Meski kecil, cukup berarti mengurangi bebanku saat bekerja.
*******************************
Hari pertama syutingku berjalan dengan baik. Hasil latihanku dengan Drey kemarin tidak sia-sia, sehingga aku tidak banyak membuat kesalahan. Kalau Casey, jangan tanyakan lagi kemampuan aktingnya. Itu alasan dia begitu populer. Walaupun ini akting pertamaku dengannya, Casey tidak pernah gagal dalam menggambarkan karakternya.
Hari sudah cukup malam saat Daniel mengantarku pulang. Sudah lewat dari waktu makan malam. Jadi aku tidak berharap Drey Akan menungguku.
Di perjalanan pulang, aku masih sempat menonton video Drey saat diperkenalkan tadi siang. Drey juga cukup professional. Dia terlihat tenang Dan bisa tersenyum seperti biasa. Drey tidak terlihat seperti orang yang memiliki masalah.
Namun yang merasa memiliki masalah adalah aku. Saat aku sampai di rumah, tempat itu gelap sekali. Lampunya belum dinyalakan. Artinya Drey tidak datang ke rumahku sama sekali.
Begitu masuk rumah, Hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke rumah Drey. Seperti halnya tempatku, rumah Drey juga gelap. Bedanya lampu malam sudah dinyalakan. Menandakan bahwa Drey ada di rumah.
Aku langsung ke kamar Drey karena tidak menemukannya di ruangan lainnya. Pintunya ditutup. Mungkin karena dia sudah tidur. Padahal aku ingin sekali bicara padanya. Jika masalah kami dibiarkan terus berlarut-larut, kami Akan semakin menjauh.
Sangat lama aku berdiri di depan pintu Drey. Bingung. Aku ingin mengetuk pintu, tetapi takut mengganggunya. Ini adalah pertama kalinya Drey marah padaku. Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya. Akhirnya aku hanya meninggalkan pesan di atas kertas untuknya, yang kuletakkan di bawah pintunya.
**********************************
Hari ini Drey masih belum menemuiku juga. Seperti kemarin, dia pergi sebelum aku bangun. Ketika aku mendatangi kamarnya, tulisan yang kutulis semalam juga masih di tempatnya. Antara Drey tidak melihatnya atau tidak mempedulikannya.
Rumah sangat sepi tanpa Drey. Tidak Ada candaan atau celotehannya. Meja makanku juga sepi. Karena biasanya Drey selalu mengatur menu makanku, aku tidak tahu apa yang mesti kumakan juga. Selama Dua Hari ini aku hanya makan seadanya. Meskipun tidak cukup menghilangkan rasa laparku.
Lalu pergi bekerja setelahnya. Seperti itu terus. Namun aku tidak ingin masalahku dengan Drey mengganggu pekerjaan. Untuk menjadi seorang Artis professional, aku harus menanggalkan kehidupan pribadiku di depan kamera.
Aku selalu mengusahakan agar menghubungi Drey di waktu istirahat. Tak henti aku mengirim pesan berisi permintaan maaf padanya. Tak Ada satupun yang dibaca. Panggilanku diabaikan juga. Bahkan aku sampai menggunakan ponsel Daniel untuk menghubunginya, juga diacuhkannya.
Aku juga rajin stalking media sosialnya. Aku mengira bisa memantau kegiatannya dari Sana. Namun dia belum pernah mengunggah Hal baru sejak pindah ke Inggris. Sama sepertiku yang selalu disibukkan dengan Hal lainnya.
Dan semua usahaku itu nihil.
Selain meminta maaf atau membujuk Drey, Tidak Ada lagi yang bisa kulakukan. Meskipun dia sangat marah, tidak mungkin aku mundur dari film ini. Tidak mungkin juga aku meminta agar naskahnya atau pemeran Luke diganti.
Hari demi Hari berlalu seperti itu. Drey masih menghilang dari pandanganku. Kadang aku sampai berpikir jika Mungkin saja aku Akan melupakan wajahnya. Saking lamanya aku tidak melihatnya.
"Apa kau masih tidak bisa menghubunginya?"
Tanya Daniel. Satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara mengenai Drey. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dari kebiasaanku yang terus menatap ponsel, Daniel pasti tahu bahwa Drey masih marah padaku.
"Tapi kau hebat juga bisa bertahan. Kalau Luna yang kukenal, sekarang ini pasti sudah kabur dari rumah lalu membuat Surat ancaman agar dimaafkan"
Ujar Daniel setengah menyindir sifat jelekku yang suka menghindari masalah. Dia memang benar. Aku yang biasanya tidak bisa mengalah pada kemarahan orang lain. Aku ini cukup egois. Anehnya, aku masih mencoba begitu keras bersabar dengan Drey.
Mungkin karena Drey selalu mengatakan padaku agar menghadapi masalahku.
"Kenapa kau tidak Tanya pada Lara saja? Dia adiknya Kan?"
Saran Daniel. Orang dekat Drey yang kukenal memang cuma dia. Tapi aku tidak terlalu dekat dengan Lara.
"Aku tidak punya nomornya"
Jawabku beralasan.
"Aku punya"
Sahut Daniel cepat. Dia sudah menyodorkan nomor Lara di ponselnya padaku.
Aku hanya bisa menatap Tak simpatik pada Daniel. Dia pasti punya motif tersendiri mendapatkan nomor itu. Daniel selalu menyimpan nomor-nomor wanita cantik di ponselnya. Dengan berbagai alasan dia selalu berhasil mendapatkannya.
Namun karena Daniel sudah memberikannya padaku, aku mengirim pesan pada Lara. Berharap Saran Daniel ini berhasil.
"Kau ingin makan siang apa?"
Tanya Daniel saat aku masih sibuk menulis pesan untuk Lara. Tumben sekali dia bersikap perhatian seperti itu padaku.
"Apapun. Restoran di dekat sini pun tidak masalah"
Meski banyak yang ingin kumakan, aku masih dalam kondisi diet. Jadi aku berpikir pergi ke tempat Paling dekat lebih praktis. Menghemat waktu perjalanan juga.
"Baiklah. Kalau begitu Kita berpisah di lobi depan. Aku Ada janji makan siang di tempat lain"
Aku hanya bisa bengong mendengar kata-kata Daniel. Manusia memang sulit untuk berubah. Daniel Akan tetap menjadi Daniel. Dia hanya Akan memberiku perhatian saat ada yang diinginkannya. Karena manajer harusnya tidak boleh meninggalkan Artis selama bekerja. Dan Daniel bersikap baik hanya karena ingin diberikan ijin keluar.
Aku sudah terlanjur kesal jadi aku membiarkan Daniel pergi. Sedangkan aku juga pergi sendirian makan di salah satu restoran dekat studio.
"Meja untuk satu orang"
Aku segera memesan tempat sampai di sana. Namun aku bicara bersamaan dengan orang lain. Sehingga aku langsung melihat ke arah orang itu.
"Ah..ternyata kau"
Sapa orang yang tidak lain adalah Casey itu padaku. Tidak disangka kami datang ke restoran yang sama.
Kami berakhir duduk di meja yang sama karena sama-sama sedang sendirian. Casey juga tidak ditemani oleh manajernya.
"Apa kau hanya makan itu?"
Tanya Casey heran saat melihat makanan yang kupesan. Hanya salad Dan buah.
"Aku sedang diet"
Jawabku Dan Casey tidak bertanya lebih jauh lagi. Walaupun sepertinya dia kelihatan tidak terlalu sreg dengan jawabanku. Mungkin karena porsinya terlihat tidak cukup.
Sebenarnya aku juga ingin makan sesuatu yang lebih mengenyangkan. Tetapi menu diet yang kuketahui selama ini hanya versi Drey atau Daniel. Berhubung Drey sudah berhenti mengatur makananku, aku sekarang mengikuti versi Daniel.
"Ah iya, sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi aku lupa mengganti alamat pengiriman barang yang kubeli, jadi pasti Ada barangku yang tidak sengaja dikirim ke apartemenmu. Aku Akan segera mengambilnya saat kembali"
Ujar Casey kemudian. Saat berpacaran denganku, Casey memang selalu menggunakan alamat apartemenku sebagai alamat pengiriman barang yang dibelinya.
"Ya, tidak apa-apa. Kau masih suka membeli barang untuk pendakian?"
"beberapa barangku kuberikan pada temanku. Dan selesai Syuting ini aku berniat mendaki di Edale"
"Edale? Dimana itu?"
Secara alamiah pembicaraan kami mulai mengarah pada hobi Casey itu. Dia selalu terlihat bersemangat setiap kali membicarakannya. Tanpa bisa kuhindari, Cara bicaranya, Cara tertawanya, mengingatkanku pada Masa lalu.
Telah terjadi banyak Hal di antara kami hingga aku lupa bahwa kami pernah memiliki waktu semacam ini. Aku juga lupa bahwa sisi antusias Casey ini yang telah membawaku jatuh cinta padanya.
Kupikir lukaku telah sembuh. Kupikir Masa itu telah berlalu, begitupun perasaanku. Ternyata aku salah. Berbicara dengan Casey menghidupkan banyak kenangan dalam diriku. Membangkitkan getaran yang sempat hilang di hatiku.
"Apa kau mau bergabung juga? Kau bisa mengajak Drey. Semakin banyak teman mendaki semakin menyenangkan"
Ajak Casey saat mengakhiri ceritanya. Mengingatkanku pada Hal yang lebih penting.
Ah... benar juga. Saat ini aku adalah kekasih Drey. Sementara Casey adalah masa laluku. Tetapi kenapa aku tidak menyukai Hal itu sekarang ini.
"Sudah lama aku tidak mendaki. Aku hanya Akan menghambat perjalananmu nanti"
Tolakku halus.
*******************************
Kami kembali ke lokasi Syuting usai makan. Harusnya ada adegan lain yang diambil Hari ini. Namun mendadak dibatalkan. Ada permintaan untuk perubahan set oleh sutradara. Sehingga aku bisa pulang lebih cepat Hari ini.
Aku sudah cukup bersemangat dengan libur setengah Hari ini. Biasanya aku pulang larut Dan Drey sudah tidur. Sehingga kami tidak punya waktu untuk bicara berdua. Hari ini aku punya kesempatan untuk menemuinya.
Begitu sampai di rumah, aku segera memastikan bahwa Drey tidak Ada di rumah. Mobilnya juga tidak Ada. Dan saat Daniel sudah pergi, aku segera memanggil taksi untuk pergi keluar.
Aku ingin membuat kejutan dengan menjemput Drey di klubnya. Biasanya jam segini dia memang belum pulang. Aku harus pergi diam-diam karena tidak ingin Daniel merusak acaraku. Berdasarkan pengalaman, aku tidak tahu Daniel itu Ada di pihakku atau tidak. Aku bahkan tidak bisa memastikan apakah dia tidak melaporkan keseharianku pada Drey saat kami bertengkar.
Namun rencana kejutanku itu gagal total. Saat sampai di Sana, ternyata latihan Hari ini sudah selesai. Hanya Ada sesi latihan pagi Hari ini. Drey juga sudah pulang.
Aku hanya bisa termangu di depan klub. Bingung. Drey tidak di rumah Dan tidak di klub. Lalu kemana lagi pria itu Akan pergi? Aku belum terlalu mengenal Drey hingga tidak tahu apapun tentangnya.
Di saat itu telfonku berbunyi. Panggilan masuk dari Lara. Kami berbicara sebentar Dan Lara menjemputku.
"Dia tidak memberitahumu bahwa dia pergi berpesta?"
Tanya Lara begitu sampai. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Ini pertama kalinya aku mendengar mengenai Hal itu. Cukup Mengejutkan juga Drey ternyata pergi ke pesta di saat seperti ini.
Lara sedikit banyak bercerita bahwa akhir-akhir ini dia sering bertemu dengan Drey secara tidak sengaja di klub malam. Minggu terakhir di musim dingin memang biasanya banyak undangan pesta di Sana. Tetapi Lara juga memberitahuku bahwa Drey selalu berpesta tiap kali memiliki masalah. Dia Akan jarang kembali ke rumah seperti itu.
Sepanjang perjalanan Lara membahas mengenai kehidupan Drey yang tidak aku tahu. Orang tua mereka menikah sekitar Lima tahun yang lalu. Dan ibu Lara adalah wanita keempat yang akan dinikahi Ayah Drey. Karena itu Drey sempat menolak pernikahan itu. Dia selalu pergi berpesta tiap malam Dan pulang dalam keadaan mabuk sebagai bentuk protesnya. Entah bagaimana akhirnya Drey mengijinkan ayahnya menikah lagi. Begitulah Drey Dan Lara akhirnya menjadi saudara tiri.
Namun setahun belakangan, hubungan orang tua mereka memburuk, hingga memilih pisah rumah. Ayah Drey tinggal di Swiss sementara Lara Dan ibunya tinggal di London sini. Walaupun sampai sekarang mereka belum bercerai.
Meski kelihatannya easygoing, Drey cukup tertutup dengan kehidupan pribadinya. Dia jarang pulang ke rumah, jarang bicara dengan keluarganya, Dan selain semua kebiasaan buruk itu Lara tidak tahu apapun lagi mengenai Drey. Berbeda dengan yang kulihat, Drey Dan Lara tidak sedekat itu.
Bahkan mengenai tinggal denganku, Drey tidak mengatakannya pada siapapun. Lara baru mengetahuinya saat datang ke rumah kami. Lara khawatir aku hanya Akan menjadi satu dari sekian banyak wanita yang hanya diajak bermain dengan Drey. Sampai sekarang pun dia masih berpikir seperti itu.
Pembicaraanku dengan Lara tentang Drey semakin membuatku terbebani. Jika Drey sampai melakukan kebiasaan buruknya. Artinya dia pasti sangat kecewa padaku. Dia pasti sangat benci aku bekerja di film ini atau bertemu dengan Casey. Namun tidak Ada yang bisa kulakukan dengan itu. Drey seperti memberiku pilihan. Melepaskannya atau melepaskan pekerjaan ini. Dua Hal yang sama berharganya untukku.
sayang sekali dri awal sdh sangat bagus tpi eksekusi di akhir nya malah ga nyambung klo bagi saya😁😁
di tunggu ya thor right chapter nya🥰🥰