Kau hadir dengan sebuah alasan klise yaitu cinta untukku si pemain cinta.
Dan kini setelah semua yang kita alami,kau memberiku sejuta alasan untukku tetap Mencintaimu.
Setelah merasakan cinta kini aku tau kenapa kau menolakku KARINA. Tapi kini kau menarikku jauh kedalam sayap kerinduan. Dan aku tidak akan membiarkan masa lalu mendorongmu jauh dari cintaku karena tanpamu cintaku tak kan sempurna KARINA ADESTA.
Meskipun kau memberiku pelangi dan hujan secara bersamaan tapi entah kenapa hatiku tak bergeming sedikitpun dari ruang cinta ini.
Aku tidak menyangka akan bisa bertahan sampai akhir dengan cinta yang seperti air di samudera luas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ang lin Hua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah aku mulai jatuh cinta padamu
Rommy menawarkan jasa mengantarnya, tetapi ditolak mentah-mentah Karina karena dia menghawatirkan Anggi. Ia pun berangkat ke rumah Gerald dengan menggunakan taksi. Rommy dan Anggi masih menghabiskan waktu berdua, mereka masih menikmati pertemuan mereka.
Gerald masih terbaring lemah di atas kasurnya. Seluruh tubuh berkeringat dan demamnya semakin tinggi. Layar ponsel dan iPad-nya menyala secara bergantian. Seluruh panggilan termasuk email ia abaikan.
Karina telah sampai di rumah Gerald yang gelap, hanya lampu taman yang menyinari sekitar meskipun hanya bias remang-remang. Mata Karina terpasang jeli, menerawang ke sekeliling. Perlahan ia berjalan hingga masuk rumah yang tidak terkunci.
"Gila! Pintu aja sampai nggak dikunci. Gimana kalau ada maling masuk? Mampus deh lo, Gerald. Waahh! Ini rumah luas amat! Mana saklarnya, ya?" gerutu Karina mengendap-endap menelusuri ruangan tamu.
Tangannya meraba-raba tembok dan menemukan sebuah plastik kecil menempel, SAKLAR, ya! Dia pun segera menekan tombol dan seketika lampu hias menerangi seluruh isi ruangan. Matanya semakin membelalak melihat pemandangan indah dalam kediaman Gerald.
"Wow! Selera tuan muda ini tinggi juga, tapi mana kamarnya, ya? Banyak sekali ruangan di rumah sebesar ini."
Dari salah satu ruangan, terdengar suara batuk Gerald yang terdengar sangat kencang. Karina langsung bergegas menuju kamar itu.
Ceklekk!
Karina terkejut melihat kondisi Gerald yang sangat memprihatinkan ia mendekat dan segera memeriksa tubuh pria itu.
"Astaga! Demam lo tinggi banget, Ge!" pekiknya pelan.
Gerald tak merespons Karina. Ia hanya diam dan menyerah pada kondisinya yang semakin melemah. Karina mengacak seisi dapur dan matanya melihat ke seluruh sudut rumah Gerald untuk mencari kotak P3K, dan melihat beberapa obat untuk mengatasi penyakit Gerald sementara dokter datang.
"Oooh, ini dia!" ucap Karina saat matanya menangkap lemari etalase yang menempel di dinding dekat dapur Gerald. Ia pun meraih botol obat satu per satu, membacanya serta mengamati keterangan setiap obat.
Karina kembali ke kamar Gerald dengan membawa baki berisi botol obat dan segelas air minum. Ia pun duduk dan mulai merawat Gerald. Satu per satu Karina memasukkan obat ke mulut Gerald. Diangkatnya kepala Gerald setengah menunduk dan mulai meminumkannya.
Gerald menjadi penurut untuk saat itu, bahkan ia tidak mampu berkata-kata hanya menggigil dan menahan demamnya. Karina lagi-lagi mengecek demam Gerald. Ia pun berjalan ke lemari baju Gerald dan mengambil sebuah sweter tebal lalu mengganti baju kantor Gerald.
"Ge-Gerald ...," panggilnya. "Lo bisa duduk bentar aja, nggak?" lanjutnya.
Gerald terkejut ketika Karina mulai membuka kancing kemeja Gerald satu per satu.
"Lo mau apa?" ucapnya dengan lemah.
"Ya, gantiin lo baju! Udah lo nurut aja."
Karina membantu Gerald duduk dan mengenakannya baju sweter yang baru saja diambilnya, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal yang ditindih Gerald sejak tadi. Ia pun melepas sepatu dan kaus kaki Gerald.
"Gila! Berarti nih anak nggak sempet ganti baju atau apa pun? Masa iya sejak di kantor dia udah nggak enak badan? Pantes dia cuekin gue, ternyata dia …," gerutu Karina lagi.
Sesaat ia mengamati tubuh Gerald dan duduk di tepi kasur. Tiba-tiba tangannya melayang di wajah Gerald, dan tanpa sadar ia menyungging senyum manis ke arah Gerald.
Ternyata ganteng juga nih cowok. Gerald Pratama, gila! Kulit lo mulus kayak kulit bayi gitu. Hhmmm … ternyata lo selemah ini, Ge. Maafkan gue, gara-gara gue … lo jadi sakit gini, Ge. Lo sih ngeselin, tapi meskipun gitu, lo tau nggak kalau gue mulai suka sama lo Gerald? Tapi ... lo udah punya pacar, ucap Karina dalam hati menikmati pesona wajah Gerald saat terbaring tak berdaya.
Karina segera tersadar dan mengecup kening Gerald, lalu beranjak pergi menyiapkan bubur hangat untuk disantap Gerald selagi pria itu masih tidur. Karina berlari keluar dari kamar Gerald, ia menyentuh dadanya dan merasakan detak jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya.
"Kok gue kayak gini, sih? Aahhh, sadar Karina! Sadar!" gerutunya.
Karina merogoh ponselnya dan menekan nomor Anggi. "Gi, gue nggak pulang malam ini. Gue nginep kasian Gerald, kondisinya parah. Gue udah telepon dokter mungkin lagi otw."
"Ya udah, gue juga udah di kos nih. Take care, ya."
"Mmmm."
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa