NovelToon NovelToon
Who Is He?

Who Is He?

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Misteri / Contest / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:151.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: ItsMeMar

"Kau takkan bisa lepas dariku, Diana. Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku, selamanya."

Sesosok pria asing datang dan mengatakan hal itu padaku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan layaknya karakter fantasi. Aku yang hanya manusia biasa hanya bisa apa? Apa yang harus kuperbuat untuk menyingkirkan stalker ini?

.

.

.

Publish: 20 Januari 2021

>Diperkenankan komentar positive
>Yang mau saling dukung dimohon like dari bab akhir, ya. Sekian terima kasih :))

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ItsMeMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WIH #21

Happy Reading!

Diana membuka matanya kala alarm menggugahnya, gadis itu menggeliat pelan di ranjang yang terasa begitu luas. Hari ini ia mendapat hal yang tidak biasa. Ya, Sean yang biasa menyapanya di pagi hari kini sudah tak lagi di sana. Sejujurnya, gadis itu merasa hampa mendapati sisinya yang kosong.

Flashback ON

"Kau mau apa, Diana?" tangan Sean menahan pintu yang hendak Diana buka.

Gadis itu nampak begitu murung, bahkan dirinya seperti bukan Diana yang Sean kenal. Setelah kejadian yang menimpanya, gadis itu berubah 180 derajat. "Aku mau tidur," jawab Diana tanpa mengalihkan matanya dari daun pintu di depannya.

Merasakan aura Diana yang tak biasa, pria itu kembali menarik tangannya. Tanpa lirikkan sedikitpun, gadis itu melangkah masuk kemudian mengunci pintunya, mengabaikan Sean yang masih berdiri di luar.

"Mulai sekarang, biarkan aku sendiri, Sean. Aku harap kau segera pulang ke duniamu," ucap Diana dari balik pintu.

"Tunggu, apa maksudmu?"

Sean mencoba membuka pintu kamar Diana, namun hasilnya nihil meski pria itu terus menggedor dan menyerukan nama gadisnya. Sementara Diana hanya berdiri mematung membelakangi pintu, gadis itu nampak diam di luar, namun ia menghiraukannya dari dalam.

Sesungguhnya Diana tak tahu, apa makhluk-makhluk sebangsa Sean berbahaya bagi manusia biasa? Sejauh ini, ia belum tahu, tapi setelah melihat bagaimana mereka bertarung, Diana tak berani ambil keputusan bahwa 'mereka' tidak berbahaya.

"Apa aku menganggapnya berlebihan?"

"Apa tindakanku tepat untuk menjaga jarak dengan orang-orang sekitarku?"

"Apa tindakanku benar namun terlalu keras?"

Diana mencengkeram ujung pakaiannya seiring dengan matanya yang terpejam erat.

Di sisi lain, Sean bisa saja berteleport atau membuka paksa pintu kamar Diana, namun suasana diri Diana membuatnya harus mengurung niat dan bersabar menunggu waktu.

Flashback OFF

Seperti biasa, Diana menjalani aktifitas paginya dengan perasaan datar, sesekali pikirannya memutar kejadian kemarin atas perilakunya yang mungkin menyakiti hati Sean.

Tangan Diana terhenti ketika hendak memutar knop pintu, pikiran negativenya tentang Sean menari-nari di kepalanya, membuat gadis itu takut membawa langkahnya keluar kamar.

Diana menarik kemudian menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menarik daun pintu dengan pelan.

"Apa? Kosong?"

Pandangan Diana mengedar, mencari sosok yang biasa mengenakan pakaian hitam. Namun, hanya aroma makanan yang datang dari meja makan yang menyambutnya. Gadis itu sempat menoleh ke segala arah sebelum akhirnya mendekat dan melahap sarapannya dengan perasaan tak nyaman.

Usai dengan aktifitasnya, Diana menuntun langkahnya ke luar rumah dan disanalah gadis itu berdiri mematung, mendapati Sean yang entah sejak kapan menetap di dalam mobil dengan kaca terbuka.

Pandangan Sean yang awalnya tertuju ke depan kini teralih pada Diana yang masih di posisinya, sampai suara bariton Sean membuyarkan lamunannya. "Apa yang kau lihat? Ayo masuk, sebelum kau terlambat."

"Ah i-iya," balas gadis itu dengan gagap.

Teringat akan tekatnya, Diana menahan kakinya yang hendak melangkah, membuat raut Sean berubah bingung. "Ada apa? Cepat masuk."

Diana bungkam, gadis itu sempat menjatuhkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya kembali membuka suara, "t,tidak, terima kasih. A,aku naik bis saja." usai menyelesaikan kalimatnya, gadis itu berbalik, meninggalkan Sean dengan mimik penasarannya.

Blam!

Diana sedikit tersentak mendengar suara pintu mobil yang ditutup. Ya, apalagi kalau bukan Sean yang mengejarnya. Reflek, ia mempercepat langkahnya dengan pandangan lurus ke depan.

"Diana, tunggu!" Hanya dalam sekian detik, Sean berhasil meraih tangan Diana meski gadis itu merasa cukup cepat menjauh darinya. "Apa maksudmu melakukan ini? Masuklah ke mobil, aku ingin membahas tentang ucapanmu kemarin."

Bagai tersambar petir, gadis itu tertunduk dengan bibir mengatup rapat. Di detik selanjutnya, Diana menarik tangannya dari genggaman Sean dan bergegas melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

Merasa diabaikan, pria itu mendahului dan bergegas menghadang gadisnya, "turuti perkataanku, Diana. Masuk ke mobil atau--"

"Atau apa?!" potong Diana seraya mengangkat wajahnya dengan mata menantang, "tidak bolehkah aku berjalan sendiri ke sekolah?? Kau tidak ingat apa kataku kemarin?" Diana menjeda dialognya, "aku mau sendiri, Sean. Mulai hari ini, jangan menggangguku."

Alis Sean tertaut mendengarnya, melihat keterdiaman Sean, Diana melintasinya dengan langkah lebar, mengabaikan suara Sean yang memanggil namanya.

"Dasar, karenamu aku jadi terlambat naik bis," gumam Diana di tengah pacuan langkahnya. Berselang menit kemudian, ia memberhentikan langkahnya di bawah teduhan tempat pemberhentian bis. Nafasnya terengah dengan sedikit bulir keringat yang mengembun di sekitar wajahnya.

Diana mengangkat pergelangan tangannya yang dililit jam tangan, seketika gadis itu berdecak kesal mengetahui kepergian bis beberapa menit yang lalu.

Tak lama kemudian, sebuah mobil dengan kaca terbuka berhenti di hadapannya. "Cepat masuk!" titah Sean di tengah keramaian kendaraan.

Diana mendengus kasar sebelum akhirnya bergegas menempati kursi samping kemudi. Gadis itu merasa malu atas ucapan yang ia lontarkan pada Sean sebelumnya. Diana merasa dirinya seakan memerankan tokoh sinetron, ujung-ujungnya meraih kekalahan dan menuruti apa kata tuannya.

"Untuk kali ini saja, aku ikut denganmu. Di lain waktu, aku akan pergi sendiri," ujar Diana tanpa mengalihkan matanya dari jendela samping.

"Kenapa begitu?" Sean berucap datar dengan pandangan lurus ke depan.

Diana terdiam, tangannya memainkan tali ransel dan batinnya mendesak waktu untuk berlalu dengan cepat.

Tak mendapati balasan dari Diana, Sean melirik ke samping, "katakan, apa maksudmu mengatakan hal 'itu' kemarin." sempat tercipta jeda sebelum Sean menambah dialognya, "katakan padaku, apa masalahmu. Apapun itu, aku akan mendengarkannya, atau jika perlu aku turun tangan membantumu menyelesaiannya."

"Apa? Aku tidak ada masalah, jangan ngelantur!" alibi Diana dengan nada ketus.

Sean tertawa ganjil, meski samar, Diana bisa melihat seringaian pria itu dari samping wajahnya.

"Cepat atau lambat, 'sesuatu' itu akan terbongkar, Diana."

.

.

.

Mobil Sean terhenti di depan gerbang sekolah yang terbuka lebar, beberapa murid berlarian dan sisanya berjalan santai diselingi perbincangan dengan temannya.

"Akrablah dengan teman barumu, mereka akan menjadi sahabat yang baik," ujar Sean membuat Diana dihinggapi rasa penasaran.

"Teman baru? Sahabat? Apa maksudmu?"

Hening, tidak ada balasan dari Sean. Diana memutar bola matanya jengah dan memilih pergi, namun pintu mobil itu tak kunjung terbuka meski Diana sudah mencobanya beberapa kali. Menyadari akan kesengajaan Sean, gadis itu membawa pandangannya ke samping, "kenapa kau masih mengunci pintunya?" tanya Diana dengan dingin.

Sean bungkam, tangannya merogoh saku jasnya yang menampung dompet miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari sana.

"Ambil, ini untuk uang jajanmu." Sean menyodorkan lembaran tersebut pada Diana yang terdiam di tempat.

"Untuk apa kau memberiku uang jajan? Kau bukan orang tuaku," balas Diana tanpa berniat menyambut uang Sean meski dalam jumlah cukup banyak, "sekarang bukakan pintunya, Sean. Aku akan terlambat."

"Aku suamimu, kewajibanku memberimu uang, dan pintu itu akan terbuka setelah kau menerima uang ini," sahut Sean langsung.

"Lagi-lagi ngelantur ..." batin Diana dengan decihan.

"Tidak usah berdecih, cepat ambil uangnya." berselang detik kemudian, Sean menyeringai, "atau mungkin kau sengaja melakukan ini untuk berlama-lama disini bersamaku?"

"Tentu saja tidak!" tukas Diana menahan semu merah yang mulai menghiasi pipinya. Dengan cepat, gadis itu menyambar selembaran uang yang Sean sodorkan.

Dan benar saja, seketika pintunya terbuka seakan uang tersebut adalah kunci mobilnya. Gadis itu tahu, bahwa Sean mempermainkannya dengan kekuatannya, namun ia memilih tak peduli, dan fokus pada sekolahnya.

...WHO IS HE?...

...To be continue ......

kurleb visualnya begituh

1
hawari hafiz
hmm mendalami banget aku jadi sean
hawari hafiz
makin penasaran untuk crita selanjutnya.. gass baca lagii🤭
hawari hafiz
karyanya keren.. dari bahasa penulisan.. jadi inspiratif buat seorang penulis
Putudina Nurhayanti
tulisannya bagus rapi
Putudina Nurhayanti
visual keren
Di Elva
kren sih ceritanya.. agak menguras otak 😶
Shue Narti Zulkarnaen
baru mulai baca
Ika Purbaningsih
mantap,,, 👍👍👍
Clara Safitri
kok visual diana tak ada thor?
Win
yuhuuu
Win
hadir kak😁

like dan fav uda mendarat.

salam dari "Pernikahan impian."

makasih😁😁
Nurul nurul
yg jadi pertanyaanku itu apa Diana ngk ada ortu??trs Sean itu sejenis apa sihh...
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir, salam dari Terpaksa Menikahi Tuan Pangsit Rebus 🤗🥰
KaiRA🎉PUCUK~SQUAD🌱🐛🌱🐛🥀🐛
hallo kak aq mampir,krna liat kak senja mnyukai novel ini😂
Mei Shin Manalu
Semangat kak
Mei Shin Manalu
2 like untukmu
Mei Shin Manalu
Mampir kak
🎀ᵀᵗᵇ'ˢ Inka24#BTBM❤️
semangat up nya Thor 😁❤️
saling support yaa 🙏
Mei Shin Manalu
3 like untukmu
Mei Shin Manalu
Likeee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!