Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utopia
Ponsel Davina berdering ketika dia berjalan ke luar dari rumahnya. Nama Tante Angel tertera disana. Calon mama mertuanya.
"Hi, Tante..." sapa Davina sambil membuka pintu mobil.
"Kok masih pakai Tante sih? Kan sebentar lagi jadi Mama," seloroh Angel dari ujung sana.
"Oh iya, Ma. Kebiasaan soalnya." Davina tertawa. Dalam hati dia mengutuk diri. Orangtua Raka saja dipanggilnya Papa dan Mama. Kenapa begitu sulit untuk mengganti panggilan orangtua Nikolas, kekasihnya sendiri?
"Dasar! Kamu hari ini kemana, Dav?" tanya Angel.
"Ke Espoir, Ta—, Ma. Ada jadwal ngajar," kata Davina, sambil meletakkan tasnya ke bagasi mobil. Sebenarnya harus berapa kali dia bisa mengoreksi dirinya sendiri?
Setelah itu dia berjalan menuju kursi kemudi dan masuk ke dalam.
"Hmm..." Angel bergumam.
"Emang kenapa, Ma?"
Davina menyalakan mobil.
"Mama mau ngajak kamu shopping. Habisnya Mama bosan di rumah."
"Oh, Mama mau pergi jam berapa—" Davina kehilangan kata-kata saat matanya beralih dari lubang kunci ke kemudi mobilnya. Kakinya batal menginjak pedal gas karena dia melihat sesuatu tertempel di kemudi mobilnya. Secarik kertas post-it dengan kalimat singkat.
Use your seatbelt, Babe.
-R
Davina tertegun. Dia tahu betul tulisan ini. Dia tahu betul inisial ini. Dan dia tahu betul kapan ritual penempelan post-it ini dimulai dulu. Hanya satu orang yang tahu tentang kebiasaan buruknya yang kadang lupa mengenakan sabuk pengaman di mobil. Bahkan beberapa kali dia terpaksa membayar denda karena ditilang oleh polisi lalu lintas.
"Jam satu. Kamu udah selesai ngajar gak disitu?" Angel bertanya balik. Tapi Davina masih belum pulih dari keterkejutannya.
"Dav?" Angel memanggil Davina.
Tapi pikiran Davina malah sibuk berpetualang ke masa lalu. Masa-masa di mana si brengsek "R" ini mengajarinya mengemudikan mobil. Dari sana lah dia tahu tentang kebiasaan buruk Davina itu.
"Davina, kamu kenapa? Ini telepon masih nyambung gak sih?" tanya Angel, tidak sabar.
Davina langsung tertarik lagi ke masa sekarang karena mendengar sungut-sungut Angel. Demi langit dan bumi, dia kan sedang bertelepon dengan calon mertuanya!!! Berani-beraninya dia mengabaikan pertanyaan wanita terpenting dalam hidup Nikolas itu.
"So-sorry, Tante, Davina tadi lagi letakin barang." Davina berbohong.
'Well, nice, Dav. Lo bohong sama calon mertua sendiri karena Raka!' Davina memaki dirinya sendiri, dalam hati.
"Tante lagi, Tante lagi..."
"Eh, sorry banget, Ma. Davina lagi gak fokus karena mau nyetir. Kalau pergi jam empat bisa, Ma? Biar Davina temenin, soalnya masih ada kelas sampai jam tiga."
Angel menghela nafas di ujung sana.
"Kamu sih. Disuruh berhenti kerja gak mau. Padahal gaji Nikolas kan udah lebih dari cukup, Dav," kata Angel.
Giliran Davina yang diam-diam menghela nafas. Sampai kapan dia harus menjelaskan pada keluarga Nikolas bahwa dia akan terus bekerja? Balet adalah salah satu yang terus mengobarkan semangat hidupnya. Mana mungkin dia membuangnya begitu saja.
"Biar Davina tetap kurus, Ma. Biar Nikolas gak kemana-mana. Ini kan olahraganya Davina." Davina mencoba berseloroh.
Dalam hati, dia meledek dirinya sendiri. Olahraga? Kata-kata itu sungguh mengecilkan kecintaannya pada balet.
"Ah, bener juga. Ya udah deh, nanti Mama jemput jam empat di Espoir. Gimana?"
"Eh, kita langsung ketemu di PI aja, Ma. Soalnya Davina bawa mobil sendiri."
"Ya udah deh. Kamu hati-hati ya bawa mobilnya."
"Oke, Ma. Sampai ketemu nanti."
"Iya, Sayang."
Davina menghela nafas lagi setelah hubungan telepon diputuskan. Dan seperti beum cukup saja kepusingannya pagi ini, pikirannya kembali disibukkan dengan selembar post-it tadi.
Raka sialan!
Berani-beraninya dia mengirimkan kalimat penuh perhatian ini, seperti yang selalu dia lakukan dulu! Davina segera menarik kertas tersebut sampai terlepas dari kursi mobilnya. Dia meremasnya sampai tidak berbentuk lagi.
Dulu dia begitu naifnya dengan cinta. Begitu butanya. Sampai-sampai surprise-surprise kecil seperti inilah yang membuatnya terlalu larut dalam perasaannya pada Raka.
Dan inilah yang diinginkan Raka kembali. Agar Davina kembali pada perasaan terkutuknya dulu.
"Aku gak sudi, Ka!" maki Davina, lalu membuang kertas itu ke luar jendela mobil.
Dia pun melajukan mobilnya. Tapi ajaibnya, dia tidak melupakan sabuk pengamannya kali ini.
***
Utopia adalah sebuah kondisi dimana semua hal berjalan dengan sempurna. Beberapa orang mengaitkannya sebagai surga.
Tentu saja kita tidak akan bertemu utopia di dunia ini. Karena selama kita hidup, kita hanya akan menemukan satu demi satu ketidaksempurnaan. Begitu pun dengan hidup Davina. Semua orang bisa mengatakan bahwa hidupnya penuh keberuntungan dan kesempurnaan.
Di beberapa hal, YA.
Tapi di beberapa hal lain, TIDAK.
Hidup sempurna bagaimana sih kalau pernikahan sendiri batal karena sang mantan tiba-tiba sadar kalau dia masih cinta? Dan lebih gawat lagi, Davina sendiri saja masih belum yakin seratus persen sudah melupakan mantannya yang kelewat brengsek itu.
"Dav, yang ini kayaknya bagus deh buat kamu." Angel menunjukkan sebuah gaun putih yang sangat elegan pada Davina. Gaun itu jatuh melantai dengan sempurna. Davina akan sangat sempurna mengenakannya.
"Iya, bagus, Ma. Tapi emangnya mau Davina pakai buat apa?" Davina terkekeh.
Angel menepuk lengan Davina.
"Calon suami kamu itu punya banyak acara penting, Dav. Beberapa acaranya bahkan dihadiri sama pejabat-pejabat penting. Kamu harus menjaga penampilan!" kata Angel.
Sekejap saja, ingatan Davina kembali ke masa-masa kecilnya. Saat Diana, mamanya pertama kali masuk ke dalam keluarga Mahardhika. Seperti seorang selebriti pada umumnya, Mamanya itu menyukai pakaian terbuka dan mencolok. Memang itu kan tujuannya, dia harus menjadi sorotan, tempat semua mata semua tertuju. Sudah mendarah dalam diri Diana sejak awal.
Sementara seluruh perempuan di keluarga Mahardhika selalu menjaga sopan santun dalam berpakaian. Hal ini adalah keharusan dari sang kakek. Bahkan neneknya yang notabene adalah seseorang yang mengelola sebuah production house, tidak punya suara sama sekali untuk menentang.
Davina beberapa kali harus menyerah pada baju olahraga, tipe baju yang menjadi favoritnya sejak mengenal balet. Tapi di depan kakeknya, dia tetap harus terlihat sempurna.
Bagaimana mungkin dia kembali harus terjebak dalam hal itu lagi sekarang?
"Memangnya harus baju yang kayak gini banget, Ma?" tanya Davina lagi.
"Iya dong. Suami kamu business man, Dav. Kamu harus jaga nama suami kamu. Atau kamu ada rencana ganti suami?" Angel bertanya dengan suara menuduh.
Tentu saja, Angel sudah mendengar tentang taruhan Raka dan Nikolas!
Davina menghela nafas, "Gak ada lah, Ma."
"Makanya kamu harus nurut ya, Dav."
Dia berkali-kali mengingatkan diri bahwa dia sangat mencintai Nikolas sehingga dapat menerima segalanya demi pria itu. Apalagi saat dari toko demi toko, Angel selalu menyuruhnya untuk membeli hal-hal yang tidak pernah Davina kenakan lagi setelah kakeknya meninggal.
Setelah selesai belanja, Davina dan Angel pun masuk ke dalam sebuah coffee shop. Angel meninggalkan Davina sebentar untuk ke toilet.
Davina membuka ponsel dan betapa kagetnya dia saat melihat beberapa puluh notifikasi chat. Seluruhnya menanyakan hal yang sama.
Lo balikan sama Raka???
Davina mengurut kening. Apalagi yang dilakukan Raka kali ini???
Lalu dia tertegun saat melihat nama Raka men-tag nya di sebuah postingan media sosial.
Dengan gemetar Davina membuka postingan Raka.
Gambarnya saat menari balet di Espoir. Raka pasti mengambilnya saat menemani Jihan dulu!
Judul postingan itu hanya satu kata saja : Utopia.
Davina langsung sakit kepala. Perhatiannya kembali pada keadaan di sekelilingnya, dia mengamati seluruh kantong belanjaan yang berserakan di lantai.
Hidupnya yang rumit ini!!! Utopia dari Hongkong!!!
***
Kalau mau author semangat untuk lanjutin cerita ini, bantu author yuk kasih tahu teman2 kalian untuk baca kisah si anak rawon ini 🙂
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian