Novel yang berkisah tentang kisah cinta kedua setelah cinta pertamanya berakhir karena takdir maut memisahkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roselita Riani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati ke hati
Waktu paling ditunggu itu ya akhir pekan, bisa santai di rumah. Pekan ini lagi malas jalan, boro-boro ketemu Susi. Kami janjian untuk bertemu pun tidak sejak pertemuan yang tidak terduga sebelumnya saat bersama anak-anak.
Ku melihat Kevin seperti mau pergi, langsung kupanggil. "Kevin, sini! " Kataku. "Iya bah", jawab Kevin. Kemudian duduk di sampingku. " Ada apa bah? ", tanya nya. " Mau kemana?", tanyaku. "Kevin mau ke tempat Pak RT minta surat pengantar nikah ke kelurahan, mau urus surat-surat persiapan pernikahan biar nanti cepat selesai. Jadi kalau sudah dapat surat nya Kevin tinggal menyerahkan ke Sinta Bah, pihak sana nanti melanjutkan berkas buat ngurus di KUA kapan jadwal nikah kami, apakah bisa di tanggal yang telah disepakati. Soalnya tidak terasa sudah dekat waktu nya", jelas nya. " Ya udah, kamu segera selesaikan urusanmu, jadi kamu nya tenang an", jawabku. "Iya bah, Kevin pergi dulu ya", Kevin menjawab ku sambil beranjak pergi.
Setelah Kevin pergi, tinggal diriku sendiri. Rasanya sepi sekali. Angan ku melayang, andai istriku Fatma masih ada, mungkin diriku tidak merasa sepi saat anak-anak sudah mulai dewasa semua. Dan akhirnya aku sendiri saat mereka sudah mempunyai kehidupannya masing-masing, mereka akan terbang mengepakkan sayap setinggi-tingginya. Dan aku masih sendiri, dengan harapan hidup yang rendah.
"Bah, lagi melamun ya? ", sapaan Kevin yang membuatku beranjak dari lamunan. " Sudah pulang kamu Vin. Ah tidak juga Vin, abah hanya berpikir kalian berdua sudah besar-besar dan suatu saat akan meninggalkan abah", jawabku.
Kevin kemudian duduk di ruang tamu. "Kevin juga merasa seperti itu bah saat mama baru meninggalkan kita, Kevin malah merasa tidak ada artinya hidup tanpa mama. Tapi seiring waktu, Kevin tersadar, ketidakadaan mama, bukan akhir segala nya, kita yang masih hidup tidak boleh berputus asa, karena semua ada masa waktu nya sendiri. Kita pun juga akan meninggalkan dunia ini bah, cuman itu masih rahasia Tuhan kapan waktu nya. Dan Kevin juga yakin mama yang sudah di sana tidak ingin kita larut dalam kesedihan seperti ini", jawab Kevin. " Kamu sudah dewasa Vin", kataku.
Kevin kemudian berkata lagi, "Abah kalau berpikir ingin menikah lagi, silahkan Bah. Kevin dan Adam sepakat tidak akan melarang. Tapi abah juga harus lihat juga wanita yang ingin abah nikahi, apakah benar-benar tulus sama pian". Aku terdiam memikirkan kata-kata Adam, selama ini aku terpesona dengan kecantikan Susi yang terpaut 20 tahun denganku. " Maksudmu Susi? ", tanyaku. " Kevin tidak bermaksud menyebutkan kalau orang yang dimaksud adalah Tante Susi, cuman abah harus jeli melihat nya. Kevin tidak menyalahkan kalau wanita ingin mendapatkan laki-laki mapan secara finansial untuk menopang hidup nya, karena itu hak dia", jelas nya. "Iya Vin, kamu benar. Susi bercerai dari suaminya karena dulu pekerjaan nya swasta alias tidak tetap, tidak seperti bapak yang pegawai yang tidak mungkin tidak berpenghasilan", kataku. " Kevin bukan nya menakuti bah, gaji pegawai juga tidak sebesar yang dibayangkan orang. Takutnya ekspektasi berlebihan", jelas Kevin. "Dan lagian bah, apakah abah berpikir juga kalau menikah lagi abah akan menambah tanggung jawab lagi yang besar. Dengan kondisi sekarang, tanggung jawab abah terhadap Kevin sebentar lagi selesai, karena Kevin bentar lagi mau menikah, dan Adam sekarang kuliah, paling beberapa tahun lagi juga akan selesai. Sedangkan seandainya abah me milih menikah dengan Tante Susi, abah menambah tanggung jawab dengan menafkahinya dan juga membiayai anak-anak nya. Kevin lihat anak-anak nya masih kecil lo bah", terang Kevin panjang lebar. Ku melihat Kevin kali ini bicara dengan tatapan serius.
Aku merasa Kevin memperhatikan kegalauan ku selama ini, ingin menikahi Susi namun banyak pertimbangan. Kadang ingin maju, tapi juga takut untuk mundur. " Abah tidak tahu Vin, abah juga berpikir ke sana, nasib anak-anak Susi bagaimana seandainya umur abah di dunia ini tidak bisa sampai 10 tahun lagi. Siapa yang tahu. Susi dengan anak-anak nya bagaimana? ", keluhku. " Ya, abah pikirkan baik-baik. Kami mendukung saja bah, tapi ingat ya bah janjinya kalau menikah lagi tunggu Kevin nikah duluan. Abah juga kalau nikah cek benar-benar itu wanita", ingat nya Kevin. "Ah kamu Vin, sok tua kamu", candaku. Kevin yang tersenyum meninggalkan ku di ruang tamu.
Aku mulai memikirkan kata-kata Kevin, ada benar nya mencek dulu apakah Susi tidak memiliki motif apa pun terhadap ku. Apa lagi keputusan menikah bukan perkara gampang, banyak yang harus di perhatikan.
bagus thor cerita nya.. cuman mungkin harus diperhatikan POV nya aja.. soalnya masih nyampur niih, kadang POV org pertama (aku), kadang POV org ketiga (pak Yahya)
bahasanya jua nyampur,, Susi ngomong bahasa Banjar,, pak Yahya menjawab pakai bahasa Indonesia..
artinya author nya orang banua jua..
salam kenal Thor.. ulun hanyar membaca novel pian nah.. ulun di Binuang 😁😁