Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Obrolan yang Menghangatkan
Dalam keheningan yang menenangkan, Medisya berusaha menetralkan kegugupannya. Saat ini ia sedang menunggu Alvian di ruang tamu.
Kedatangan Melinda tadi membuat Medisya semakin yakin untuk menerima pernikahan ini. Wanita yang telah melahirkan suaminya itu memberikan banyak nasihat untuk Medisya. Ia juga mengajarkan bagaimana caranya menjadi istri yang baik dan juga cara terlihat menarik di mata suami.
Medisya menerima ajaran itu dengan cepat. Tapi kata Melinda, menerima saja tidak cukup. Medisya harus mempraktikan ajaran itu secara langsung.
Dan yang ia lakukan saat ini merupakan bagian dari ajaran Melinda. Setelah wanita itu pulang karena terlalu lama menunggu Alvian, Medisya segera mandi dan merias diri.
Melinda berkata laki-laki pasti akan lelah setelah bekerja seharian. Setidaknya jika tidak bisa membantu menghilangkan rasa lelah itu, jangan menambahnya dengan beban lain. Para wanita harus tampil menarik untuk suaminya yang telah bekerja keras untuk menafkahinya.
Medisya tersentak ketika seseorang membuka pintu apartemen. Menyambut suami dengan senyuman, membantu membawakan tasnya dan membuatkan minuman. Itu yang ingin Medisya lakukan. Namun nyatanya tubuhnya terlalu kaku untuk digerakan.
Medisya pikir itu akan mudah, tapi entah kenapa sangat sulit untuk melakukannya.
"Assalamualaikum," sapa Alvian kemudian menghampiri Medisya.
Laki-laki itu menarik dasi yang terasa mencekik lehernya, meletakan tas kerjanya di sofa lalu menekuk lututnya di hadapan Medisya.
"Hey."
Medisya mengerjapkan matanya cepat ketika Alvian menjentikan jari di depan wajahnya.
"Eh, iya, waalaikumsalam," ucap Medisya menjawab salam Alvian yang terabaikan tadi.
"Mas Alvian udah pulang?"
Bodoh! Medisya merutuki dirinya sendiri ketika pertanyaan yang keluar dari mulutnya justru berbeda dengan hal yang ingin ia tanyakan. Seharusnya medisya bertanya, 'Mas Alvian mau langsung mandi? Nanti aku siapin air hangatnya' atau 'aku udah siapin makanan, Mas Alvian mau makan?'
Melihat istrinya sangat gugup membuat Alvian mengangkat satu alisnya. Perempuan itu jelas sekali sedang mencoba menyambutnya. Alvian sangat tau, pasti mamahnya telah meracuni Medisya dengan kebiasaan yang sering ia lakukan untuk Abraham.
Sayang sekali, Alvian tidak bisa menegur mamahnya karena tadi, Melinda pamit untuk pulang lewat telfon. Ia tau maksud Melinda baik. Tapi jika itu membuat Medisya tidak nyaman, Alvian tidak menyukainya. Alvian hanya ingin Medisya berusaha karena kemauannya sendiri.
"Kamu cantik," ucap Alvian sembari tersenyum menatap Medisya. Ia bangkit lalu mengusap kepala Medisya pelan. Dapat ia lihat pipi perempuan itu merona karena pujiannya.
"Aku mau mandi," lanjut Alvian lalu meraih tas kerjanya dan berniat ke kamar.
"Mas, mau pakai air hangat? Entar aku siapin," tawar Medisya menghentikan langkah Alvian.
"Tidak perlu. Siapkan saja makanan untukku," balas Alvian kemudian berlalu.
Setelah Alvian pergi, Medisya menggigit bibirnya kemudian memukul dahinya sendiri karena merasa gagal bersikap layaknya seorang istri pada Alvian. Sangat berat untuknya melakukan itu karena tatapan tajam Alvian menganggunya meski Alvian bersikap lembut.
Menghela nafasnya, Medisya bangkit dan menyiapkan dua piring nasi untuknya dan Alvian lalu menghangatkan ayam mercon yang tadi ia buat dengan Melinda. Sebenarnya ia ragu untuk menyajikan masakan itu mengingat rasanya sangat pedas. Bahkan Medisya sendiri sampai menghabiskan dua gelas air setelah mencoba sepucuk sendok ayam mercon itu untuk mencoba rasanya. Tapi kata Melinda Alvian sangat menyukainya.
Untungnya Medisya juga membuat chicken katsu dengan saos BBQ sebagai pelengkapnya. Jadi ia bisa menemani Alvian makan tanpa harus mencoba ayam mercon itu lagi.
Selang beberapa menit setelah Medisya menyajikan masakannya, Alvian keluar dari kamar dengan menggunakan celana pendek hitam dan kaos berwarna senada. Rambut laki-laki itu masih basah. Jelas sekali Alvian tidak mengeringkannya terlebih dulu.
"Kamu belajar masak seharian sama mamah?" Tanya Alvian sembari menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Medisya.
"Enggak. Kita masak mulai jam setengah dua," balas Medisya. Ia mendorong kecil sepiring nasi untuk Alvian dan menyendokan ayam mercon itu ke piring itu.
"Terus paginya?"
"Mamah ngajak aku belanja untuk stok kulkas. Terus nemenin mamah ke salon," balas Medisya jujur.
Alvian mengangguk kecil kemudian mulai memakan masakan istrinya. Rasanya tidak buruk, tapi juga tidak seenak buatan mamahnya.
"Nggak pedas, mas?" Tanya Medisya polos melihat Alvian makan dengan tenang dan lahap.
Sontak pertanyaan itu membuat Alvian menatapnya dengan alis bertaut. "Kamu tidak mencobanya tadi?"
"Aku cobain, kok. Sedikit, tapi pedas banget."
"Ya namanya juga ayam mercon, pasti pedas."
"Tapi Mas Alvian nggak keliatan kepedasan," kata Medisya.
Alvian tersenyum kecil menanggapinya. "Aku sudah biasa memakannya."
Melihat nasi di piring Medisya masih utuh membuat Alvian menaikan dagunya. "Makan, Sya," titahnya.
Medisya mengangguk dan mulai memakan makanannya. Dengan gerakan anggun ia memotong chicken katsu-nya menjadi beberapa bagian dan mulai menyuapkannya ke mulut.
Cukup lama keheningan terjadi sampai mereka selesai makan. Dengan cekatan Medisya membereskan piring kotor dan beranjak untuk mencucinya.
"Teman kamu di divisi pemasaran siapa namanya?" Tanya Alvian tiba-tiba membuat Medisya mengerutkan keningnya.
"Banyak, mas. Ada Angga, Mita, Gi--"
"Yang waktu itu menolak kontrak iklan dengan Bintang Media," sela Alvian.
"Ayunda?" Sebut Medisya tidak yakin meski ia tau bahwa memang Ayunda yang dimaksud oleh Alvian.
"Nah iya. Dia sekarang jadi pembangkang di kantor. Absennya juga banyak sejak menikah dan punya anak," keluh Alvian mengingat ada nama Ayunda di data yang menunjukan paling banyak izin libur.
Alvian mungkin bisa memberinya toleransi jika perempuan itu menghadapnya. Namun Ayunda justru menghindar saat ia panggil.
"Mungkin suaminya melarang Ayunda bekerja, mas. Dia memang nggak diizinkan buat kerja. Tapi katanya sayang kalau posisi pekerjaannya sekarang ditinggalin. Tapi bukannya ada karyawan yang mengantikannya kalau Ayunda cuti, mas?"
Alvian mendengus kecil. "Ada, tapi belum ada penggantinya untuk mewakili bagian pengiklanan. Kamu juga mengundurkan diri dari perusahaan," ucap Alvian.
Sedangkan Medisya tersenyum canggung mengingat ia mengundurkan diri karena tidak ingin bertemu Alvian lagi. Tapi sekarang ia justru tinggal bersama atasannya itu.
"Tapi aku belum menyetujui pengunduran dirimu," lanjut Alvian membuat Medisya mengangkat satu alisnya.
"Kenapa?" Tanyanya penasaran.
Alvian menatap punggung Medisya yang terbalut kaos putih. "Sepertinya aku membuang surat itu."
"Jadi aku masih harus beker--"
"Tidak!" Seru Alvian menyela perkataan Medisya. "Absen kamu juga sudah banyak jadi otomatis kamu dipecat dari perusahaan."
"Lagian aku juga tidak akan mengizinkan kamu bekerja. Selagi uangku cukup untuk memberi nafkah, kamu hanya perlu menjaga diri kamu dan juga anakku."
Kalimat sederhana itu ternyata mampu membuat hati Medisya menghangat. Tidak dapat dipungkiri jika dulu Medisya sangat ingin mempunyai suami yang seperti ini. Mungkin Tuhan mengabulkan keinginannya sekarang dengan menjadikan Alvian sebagai suaminya. Meskipun dengan cara yang salah dan menyakitkan.
###