Genre : Action, Adventure, Magic,Romance and Superpower.
[Jangan Lupa Like, Coment dan Vote buat mensupport author]
Ray pemuda dari Indonesia yang sedang berkuliah di Tokyo,Jepang. Dia hanya pemuda biasa yang berumur 23 tahun tetapi saat kecelakaan itu terjadi menimpa Ray, dia tewas dan di hidupkan lagi oleh suara yang tidak dikenal olehnya.
Kemudian jiwa dia ditransfer dari bumi ke Dunia yang menggunakan mana sihir,Dunia tersebut disebut Benua Alluria. Ray yang dihidupkan kembali di Dunia tersebut menjadi reinkarnasi Raja Iblis.
Bagaimana kelanjutan kisah Ray? Penasaran? Saksikan petualangan dari Ray dan nikmatilah cerita mereka.
NB : Apabila ada kesalahan dalam kata atau kalimat, mohon dimaklumi yha dan akan update sehari satu chapter saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fardiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21. Terbentuknya Desa Raygia
"Baiklah kita mulai, silahkan Nak Ray." ujar Paman Dave.
"Terima kasih,Paman Dave. Disini para kepala keluarga telah berkumpul, jadi saya mau membahas siapa yang cocok memimpin desa yang akan saya dirikan." ujar Ray meminta saran kepada semua pria yang berkumpul disini.
"Sebelum itu, Ray bisa jelaskan terlebih dulu nama wilayah yang engkau pimpin tersebut urusan desa ini setelah kamu menjelaskannya." ucap salah satu pria yang usianya diatas Ray 2 tahun.
Ray melihat ketiga orang yang ada di belakangnya, setelah melihat mereka menganggukkan kepalanya seperti ada tersendiri.
"Baiklah, saya akan menjelaskan wilayah saya buat ini. Wilayah sekarang kan tepatnya di pinggir Kerajaan Brithania yang sangat dekat dengan wilayah selatan yang merupakan bekas wilayah para iblis, saya berencana membuat sebuah Kerajaan saya sendiri di masa depan nanti dan pondasi dari semua itu saya harus membuat sebuah wilayah yang mendukung saya serta mengumpul teman-teman yang dapat membantu mewujudkan ambisi saya..."
"...Meskipun ambisi saya terlalu besar, saya sanggup mewujudkan semua itu. Maka dari itu saya akan menjadikan wilayah pinggir Kerajaan Brithania menjadi wilayah saya sebagai pondasi tersebut, nama dari wilayah saya yaitu Wilayah Akrithania." jelas Ray.
( Kata 'Akri' berasal dari bahasa Yunani yang berarti pinggir, 'thania' di ambil dari Kerajaan Brithania. )
Pria yang sedang berkumpul tersebut mendengar penjelasan Ray yang penuh dengan ambisi, tetapi salah satu dari mereka sedikit menentang yaitu yang berdebat dengan Paman Dave tadi.
"Nak Ray, kami semua sangat suka ambisimu tetapi membuat wilayah ataupun Kerajaan harus membutuhkan pasukan yang siap melakukan apa saja di Kerajaan tersebut." ujar Paman Rith yang sedikit menentang Ray.
"Pasukan Militer? Paman Rith tidak usah khawatir tentang itu kami sudah memiliki pasukan itu, sekarang pasukan itu sedang berlatih mandiri di desa Aretha." jawab Ray yang tersenyum kecil.
Paman Dave yang melihat ambisinya yang besar serta rencananya sebelum menyiapkan segala hal dapat ditangani dengan mudah oleh Ray yang masih muda.
"Kamu sudah mempersiapkan pasukan tersebut?" tanya Paman Dave yang sangat kagum dengan Ray.
"Iya,Paman Dave. Kan sebelum berambisi kita harus menyiapkan rencana-rencana untuk mewujudkan ambisi tersebut, jadi saya kumpulkan kalian semua disini memohon untuk mendukung saya." Ray yang meminta dukungan dari para pria yang sedang berkumpul tersebut.
"Baiklah aku menyetujuimu sebagai pemimpin wilayah ini." Paman Rith yang melihat Ray yang mengenang masa mudanya dulu.
"Kami juga."
"Kami pun."
"Tentu saja aku juga mendukungmu,Nak Ray." sahut Paman Dave yang memberikan jempol ke Ray.
"Kalian semua, terima kasih." jawab Ray.
"Baiklah, semua disini juga sangat setuju apabila kamu yang menentukan nama dari desa yang akan kamu dirikan Ray." ujar Paman Rith sambil melihat para pria yang berkumpul.
"Saya,..seharusnyakan kita memilih siapa kepala desa lalu menentukan nama desa, Paman Rith." ujar Ray.
"Kami semua juga sudah memutuskan itu juga, kamulah yang akan menjadi kepala desa dan memimpin dari Wilayah Akrithania ini." sahut Paman Dave.
"Iya, Ray. Kami melihat ambisimu itu sudah cukup menjadikanmu sebagai kepala desa." salah satu pria yang berkumpul.
"Benar, maka dari itu tunjukan dan wujudkan ambisimu itu."
Ray yang senang melihat para pria memilihnya serta mendukung dirinya, "Terima kasih telah memilih saya menjadi kepala desa dan pemimpin, tentu saja saya akan mewujudkan ambisi tersebut jadi mohon bantuannya." Ray yang berterima kasih lagi kepada para pria tersebut.
"Jadi, nama apa yang cocok dengan desa ini?" tanya Paman Dave ke Ray.
"Saya memiliki beberapa nama, tapi tergantung kalian setuju yang mana?" jawab Ray yang masih ragu.
"Sebutkan saja jangan ragu kamu sudah menjadi Pemimpin disini!!" ujar Paman Rith.
Ray meminta kertas putih yang sedang dibawa Liliana, "Liliana tolong kertas putih yang kamu bawa." ujar Ray sambil mengulurkan tangannya.
"Ini,suamiku." sahut Liliana.
Ray tersenyum manis ke Liliana kemudian melanjutkan membahas nama desa tersebut.
"Saya hanya ada dua pilihan saja itu tergantung kalian suka atau tidak." Ray sambil menulis nama di atas kertas. "Ini...Agia dan Anogia. Kalian setuju yang mana?" lanjut Ray.
"Ehm,.kedua nama ini kalau kita pakai nama Nak Ray akan terlihat cocok. Ehm misal yang ini Ray-Agia dan yang ini Ray-Anogia. Bagaimana?" ujar Paman Dave.
"Rayagia...Raygia dan Rayanogia....Raynogia. Biar mudah bacanya saja." salah satu dari pria tersebut memberi usul.
Semua memilih nama yang dibuat oleh mereka, hingga mereka setuju satu dari kedua nama tersebut.
"Yap...kami sepakat nama desa ini adalah Desa Raygia." ucap Paman Dave yang melihat para pria yang setuju dengan nama tersebut.
"Raygia..." Ray memandangi orang yang dibelakangnya.
"Tuan, nama tersebut terlihat cocok dengan desa yang akan tuan buat, jadi saya setuju." ujar Leon yang senang dengan nama desa tersebut.
"Yap,..saya juga setuju,Tuan." Asdella pun setuju dengan nama tersebut.
"Raygia,..aku juga senang kamu terima saja, suamiku." ucap Liliana ke Ray.
Ray pun berbalik kembali ke pembahasan tadi lalu setuju dengan nama tersebut.
"Baiklah,aku setuju desa kita dengan nama Desa Raygia." ucap Ray yang ikut senang setelah membahas ini.
Para pria yang sedang berkumpul di kediaman Ray senang karena desa yang lama ditinggalkan kini akan didirikan lagi oleh seorang pemuda yang bernama Ray.
Tiba-tiba seorang wanita berlari ke kastil tempat Ray dengan berteriak, wanita tersebut adalah istri dari Paman Rith
"Ahh..." wanita yang berteriak ketakutan.
"Emili, ada apa?" Paman Rith bertanya ke istrinya.
"Suamiku, segerombolan monster **** berkepala api menyerang rumah David."
"Apa? Benarkah, Nyonya Emili." tanya David salah satu pria yang berkumpul di kastil berlari ke arah rumahnya.
"Istri David sekarang sudah di rumah kita dia aman, pasti David sedang menyusul ke rumahnya, tolong hentikan para monster itu dan tolong David." ujar Emili ke Paman Rith.
"Baiklah." sahut Paman Rith.
Saat hendak pergi pundak Paman Rith di pegang oleh Ray, "Paman, tolong evakuasi penduduk desa ke kastil saya,Paman. Biar saya tangani monster **** itu." Ray yang terlihat tenang tetapi dia menahan amarahnya karena kediamannya yang baru telah diserang oleh monster.
"Asdella Leon kamu berjaga saja dan juga evakuasi penduduk desa secepatnya, Liliana tolong jaga yang sudah ada disini." lanjut Ray yang pergi dengan cepat menuju segerombolan **** berkepala api yang tepat di rumah David.
"Baik,Tuan." jawab Asdella dan Leon bersamaan.
"Baik,suamiku." jawab Liliana.
...---------------------------------...
Di hutan tepat di dekat rumah David 5 **** berkepala api telah sampai di dekat rumah David.
'Ough'
'Ough'
'Brakk'
'Ough'
Suara **** berkepala api yang menyerang rumah David, David yang melihat 5 **** itu sudah menghancurkan rumahnya.
"Tidak, Lemi dan anakku Jihan masih di rumah. TIDAKKK!!!!." teriak David yang berlari ke rumahnya.
Saat David berlari, tiba-tiba suara datang dari belakangnya dengan cepat.
"David,tunggu. Jangan gegabah, biar aku yang mengalahkan **** itu dan coba cek rumahmu." ujar Ray yang masih menggunakan kecepatan memancing **** itu menjauh dari rumah David.
'Sihir angin : Sabit Angin.'
Sebuah serangan mengenai salah satu **** lalu mengejar Ray.
"Hei ****, lawanmu adalah aku kemarilah." Ray yang menantang para ****.
'Ough'
'Ough'
**** berlarian ke arah Ray, lalu menyerang Ray dengan semburan api dari kepalanya. Ray menghindari dan siap menyerang balik **** tersebut.
'Demon of Aurora...Sihir angin : Pemotong Angin'
Salah satu **** terpotong menjadi dua oleh kekuatan Ray, **** yang melihat semakin emosi karena salah satu mereka dibunuhnya. Para **** menyerang bersamaan dengan serangan yang sama tetapi digagalkan oleh sihir angin Ray.
'Sihir angin : Pusaran Tornado'
Para **** yang menerima serangan Ray terpelental menjauh dari Ray, sangat **** bangkit lagi serangan Ray dari langit berupa pedang angin yang turun ke arah para **** dan seketika mati semua para **** berkepala api tersebut.
'Sihir angin : Hujan Pedang Angin'
'Ough'
'Ough'
Suara teriak **** seketika hilang, lalu Ray menghampiri David yang sedang mengecek rumahnya.
"Tidak,..Istriku dan anakku tidak ada dimana mereka." ujar David yang kebingungan.
"David, istrimu telah ditempat Nyonya Emili. Mungkin sekarang dia sudah ada di tempat kita berkumpul tadi." jelas Ray.
"Benarkah." ujar David yang memegang pundak Ray.
"Coba mari kita lihat saja." sahut Ray.
David sedikit tenang dan berjalan ke kastil tempat kita berkumpul dan sesampainya disana semua penduduk berkumpul disana,baik anak-anak sampai orang dewasa yang jumlahnya 47 orang, David pun mencari istri dan anaknya. Melihat semua selamat akhirnya Ray merasa lega yang berhasil menyelamatkan penduduk desa adalah tugasnya sebagai kepala desa yang baru di desa ini serta pemimpin di wilayahnya sekarang.
BERSAMBUNG.
pertama salah gak apa munkin thor nya sedang buru buru buat atau gak fokus dan yang kedua salah lagi gak apa apa munkin ada gaang guang yang ketigaaa!! salah lagiii!! ti-tidak masalh munkin ada salah teknis yang kee empatttttttt!!!!!! salah lagiiii??? mana bisa gitu thor tolong perbaiki besuk besuk besuk besuk besuk besuk terus salah aja nulis besok