NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Sayap-Sayap Internasional

Lampu-lampu kota Singapura berkilauan bagai hamparan berlian di bawah langit malam yang cerah. Dari lantai teratas Hotel Marina Bay Sands, pemandangan Selat Singapura yang dipenuhi oleh ratusan kapal tangker dan kargo raksasa menyajikan simbol kekuasaan maritim dunia. Di dalam ruang VIP lounge yang privat, atmosfer terasa begitu eksklusif. Aroma cerutu mahal dan denting gelas kristal beradu dengan obrolan berbisik

para taipan finansial Asia Tenggara.

Malam ini adalah malam pembukaan Asean Economic Summit, sebuah forum elit yang hanya dihadiri oleh para pemimpin korporasi beraset di atas seratus triliun rupiah.

Di sudut ruangan dekat dinding kaca besar, Kirana berdiri dengan keanggunan yang luar biasa. Dia mengenakan gaun malam beludru hitam panjang dengan potongan minimalis namun sangat elegan, dipadukan dengan kalung berlian murni yang berkilau lembut di leher indahnya. Rambut panjangnya disanggul rapi, menampilkan garis wajahnya yang tegas namun tetap feminin. Di sampingnya, aku berdiri mengenakan setelan tuksedo hitam formal yang dijahit khusus oleh perancang busana terbaik Milan.

Penampilanku yang rapi, ditambah dengan postur tubuh tegap berkat aliran energi Seni Bela Diri Dewa Asura, membuat beberapa investor asing yang lewat menaruh pandangan segan.

"Adrian, lihat ke sana," bisik Kirana sambil sedikit mendekatkan tubuhnya ke arahku, matanya melirik ke arah sekelompok pria paruh baya berkulit putih dan bermata sipit yang sedang berkumpul di tengah ruangan. "Pria tua berbaju batik merah itu adalah Tan Sri Nasaruddin, taipan energi terbesar dari Malaysia. Dan di sebelahnya adalah Somchai, penguasa pelabuhan Bangkok. Mereka berdua sejak tadi terus menatap ke arah kita dengan pandangan yang kurang bersahabat."

Aku mengulurkan tangan kiriku, mengambil dua gelas minuman sari buah dari nampan pelayan yang lewat, lalu menyerahkan satu gelas kepada Kirana. Aku tersenyum tipis, menatap target-target besar itu dengan pandangan dingin yang penuh teka-teki.

"Biarkan saja mereka menatap, Kirana," ujarku dengan nada suara yang sangat tenang. "Mereka merasa terancam karena dalam satu minggu terakhir, *Asura Digital Bank* telah memotong hampir tiga puluh persen pangsa pasar transaksi remitansi mereka di selat ini. Mereka tahu, kedatangan kita ke Singapura bukan untuk berteman, melainkan untuk mengambil alih wilayah kekuasaan mereka."

[Ding! Mengaktifkan Pemindaian Jaringan Global 'Mata Penilai Dewa'...]

[Nama Target: Tan Sri Nasaruddin | Status: Pemilik Utama Malaya Energy Corp]

[Kelemahan: Mengalami krisis likuiditas tunai sebesar 2 Miliar Dolar AS akibat kegagalan proyek ladang gas di Laut Cina Selatan.]

[Nama Target: Somchai Chijinda | Status: Direktur Utama Bangkok Port Holdings]

[Kelemahan: Sedang diselidiki secara rahasia oleh otoritas Thailand atas kasus penyelundupan komoditas ilegal.]

Membaca rentetan data rahasia yang berkedip di atas kepala kedua taipan regional tersebut melalui sistem jiwaku, senyuman dingin di sudut bibirku semakin melebar. Informasi adalah senjata terbaik di dunia bisnis tingkat atas, dan Sistem Penguasa Dewa selalu memberiku amunisi yang paling mematikan sebelum pertempuran dimulai.

Tepat saat aku sedang menganalisis data tersebut, Tan Sri Nasaruddin dan Somchai perlahan melangkah membelah kerumunan, berjalan lurus menuju ke arah posisi berdiriku dan Kirana. Langkah kaki mereka tampak angkuh, dikelilingi oleh beberapa asisten pribadi yang membawa dokumen operasional.

"Ah... jadi ini wanita muda yang menghebohkan dunia perbankan nusantara belakangan ini? Direktur Utama Kirana Wijaya?" ucap Tan Sri Nasaruddin dengan logat melayu yang kental, nadanya terdengar ramah di permukaan namun sarat akan sindiran meremehkan di dalamnya. Dia mengabaikan keberadaanku sepenuhnya, menganggapku hanya sebagai pengawal pribadi atau pria pajangan Kirana.

Kirana meletakkan gelas kristalnya ke atas meja kecil di sampingnya, lalu menjabat tangan Nasaruddin dengan senyuman profesional yang sangat tenang. "Selamat malam, Tan Sri Nasaruddin. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan legenda industri energi Asia Tenggara di forum ini."

Somchai, pria paruh baya dari Thailand dengan wajah persegi yang ketat, ikut menimpali menggunakan bahasa Inggris yang kaku. "Nyonya Kirana, keberhasilan bank digital Anda memang mengagumkan di Indonesia. Namun, Singapura dan selat malaka adalah wilayah dengan hukum laut dan regulasi keuangan yang jauh lebih ketat. Membawa Asura Digital Bank ke sini tanpa memiliki jaringan pelabuhan fisik yang kuat... sama saja dengan mengantar domba ke kandang harimau."

Mendengar provokasi terang-terangan dari kedua penguasa lama tersebut, Kirana tidak tampak panik atau tertekan seperti dulu. Pengalaman membersihkan internal Wijaya Group dan menghadapi faksi ibu kota telah membentuk mentalnya menjadi sekeras baja.

"Tuan Somchai, Anda bilang kami tidak memiliki jaringan fisik yang kuat?" Kirana terkekeh pelan, menatap Somchai dengan tatapan mata yang tajam. "Mungkin asisten Anda terlambat memperbarui berita malam ini. Dua jam lalu, Wijaya Group telah resmi menandatangani nota kesepahaman pengambilalihan lima puluh satu persen saham operasional Singapore Logistics Hub secara tunai melalui pendanaan penuh dari Asura Bank."

Deg!

Wajah Somchai dan Tan Sri Nasaruddin mendadak menegang. *Singapore Logistics Hub* adalah salah satu urat nadi bongkar muat terbesar di selat ini. Membeli saham mayoritas tempat itu secara tunai membutuhkan dana segar setidaknya tiga ilmiah dolar Amerika! Dari mana perusahaan daerah seperti Wijaya Group mendapatkan likuiditas sebesar itu dalam waktu sesingkat itu?

Aku melangkah maju satu tapak, berdiri tepat di samping Kirana, lalu mengaktifkan keterampilan Presidensi Pemikat Massa yang dipadukan dengan aura intimidasi Dewa Asura. Getaran vokal suaraku saat berbicara mendadak membuat suasana di sekitar sudut lounge itu terasa sangat berat dan menekan mental mereka.

"Tan Sri Nasaruddin, Tuan Somchai," ujarku dengan nada suara yang sangat rendah namun beresonansi kuat di dalam dada mereka. "Daripada memikirkan bagaimana cara membendung laju Asura Digital Bank, saya sarankan Anda berdua lebih fokus pada masalah internal perusahaan Anda sendiri. Tan Sri... dana jaminan dua miliar dolar untuk proyek ladang gas Anda akan jatuh tempo dalam tiga hari, bukan? Dan Tuan Somchai... dokumen manifestasi kapal kargo ilegal Anda di pelabuhan dalam beberapa bulan terakhir tampaknya sudah berada di meja inspektorat jenderal Bangkok sore ini."

Mendengar kata-kataku yang menyebutkan rahasia paling fatal dan paling sensitif milik mereka secara mendetail, kedua taipan internasional itu mendadak membelalakkan mata mereka dengan rasa kengerian yang luar biasa. Cangkir dan gelas di tangan mereka hampir saja terlepas karena seluruh tubuh mereka mendadak gemetar hebat. Rahasia yang bisa menghancurkan reputasi dan menjebloskan mereka ke dalam penjara seumur hidup, bagaimana bisa diketahui oleh seorang pria muda misterius dari Indonesia ini?

"K-kamu... siapa kamu sebenarnya?!" bisik Tan Sri Nasaruddin dengan bibir yang memucat menahan syok batin yang teramat sangat.

"Aku adalah Adrian Pratama," jawabku dingin, menatap mereka dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Besok pagi jam sepuluh, aku ingin melihat draf proposal kerja sama merger antara Malaya Energy dan Bangkok Port dengan Wijaya Group sudah berada di meja kerja istriku di hotel ini. Jika tidak... bersiaplah melihat dinasti bisnis kalian runtuh sebelum bursa saham Singapura dibuka."

Tanpa menunggu jawaban dari kedua pria tua yang sudah kehilangan seluruh keangkuhannya itu, aku menggandeng tangan Kirana, lalu berbalik dan melangkah gagah meninggalkan ruangan VIP lounge menuju balkon luar.

Di bawah langit Singapura yang megah, aku menatap hamparan laut luas yang gelap. Di dalam kepalaku, pemberitahuan dari Sistem Penguasa Dewa kembali berdengung dengan sangat nyaman, menandakan bahwa langkah awal ekspansi globalku telah menanamkan ketakutan yang mendalam di hati para penguasa Asia Tenggara.

[Ding! Progres Misi Global Tahap Pertama: Singapura & Malaysia Berhasil Dipenetrasi 60%!]

[Evaluasi Dampak: Mutlak dan Mengguncang Pasar Regional.]

Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Kirana, menyongsong fajar baru di mana nama kami akan tertulis sebagai pemilik sejati dari seluruh urat nadi ekonomi Asia.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!