Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Begitu duduk di tempatnya, rekan setimnya yang bernama Mia langsung menoleh dengan penuh rasa penasaran.
“Kalian ngapain di atas?”
Yurika yang masih belum sepenuhnya tenang segera menyalakan komputernya.
“Tidak ada. Cuma urusan pekerjaan.”
Mia menatapnya curiga. “Benarkah?”
“Benar," jawab Yurika dengan nada datar meski keadaan jantungnya masih berdebar tak karuan.
“Kenapa wajahmu merah?," tanya Mia yang memperhatikan keanehan padanya
“Karena panas.” jawab Yurika seadanya.
Setelah itu ada jeda beberapa detik sebelum Mia berkata, “AC kantor menyala dua puluh dua derajat.”
Yurika terdiam beberapa saat.
“Kalau begitu mungkin aku sedang sehat.”
Mia hanya menggelengkan kepala sebelum kembali bekerja.
Sebagai pegawai baru, kemampuan Yurika memang cukup menonjol. Belakangan ini Joshua juga mulai memberinya tanggung jawab yang lebih besar. Banyak orang menganggap masa depannya di perusahaan akan sangat cerah.
Namun justru karena itulah Yurika merasa harus bekerja lebih keras. Ia tidak ingin hanya dikenal sebagai pegawai yang beruntung.
Menjelang pulang kerja, ponselnya bergetar, itu adalah pesan dari Gerson.
Gerson: [Yurika, apa kamu ada rencana malam ini?]
Yurika: [Belum. Ada apa?]
Gerson: [Aku mau traktir kamu makan malam.]
Yurika tersenyum kecil.
Yurika: [Selamat. Apa kamu akhirnya dapat pacar?]
Tak sampai lima detik, balasan langsung masuk.
Gerson: [Hei! Kok bisa tahu?]
Yurika: [Austin pernah bilang.]
Gerson: [Wah, informasi kalian lengkap sekali. Pokoknya kau wajib datang malam ini. Aku kirim lokasinya nanti.]
Yurika baru saja membaca pesan itu ketika ponselnya kembali bergetar.
Kali ini adalah pesan dari Austin.
Austin: [Turun ke parkiran. Aku antar.]
Yurika langsung mengetik balasan singkat.
Yurika: [Baik, Pak.]
Setelah menjawab itu, Yurika segera naik lift menuju garasi bawah tanah dan mendapati Austin yang sudah menunggu di dalam mobil.
Namun alih-alih langsung masuk, gadis itu justru melihat ke kanan dan kiri terlebih dahulu, memastikan tidak ada rekan kerja yang mengenalnya.
Melihat tingkahnya, sudut bibir Austin terangkat tipis.
Begitu Yurika masih ragu-ragu, ia menekan klakson dua kali. Bunyi singkat itu membuat Yurika buru-buru menghampiri mobil dan masuk ke kursi penumpang.
“Maaf membuat Anda menunggu, Pak.”
“Tidak masalah.”
Austin menyalakan mesin.
“Pakai sabuk pengaman.”
“Baik.”
Perjalanan berlangsung cukup tenang. Mungkin karena tidak ingin suasana terlalu canggung, Austin menyalakan musik.
Lagu Under Pressure karya Jazzinuf memenuhi kabin mobil dengan melodi lembut dan romantis.
Yurika yang sedang menatap keluar jendela mendadak menoleh.
“Anda juga suka lagu ini?”
Austin meliriknya sekilas. “Kadang-kadang.”
Mata Yurika berbinar. “Aku sering memutarnya saat bekerja.”
“Kalau begitu selera musik kita tidak terlalu berbeda.”
Entah kenapa, jawaban sederhana itu membuat senyum Yurika semakin lebar.
Sisa perjalanan diisi alunan musik dan pemandangan kota yang berlalu di balik jendela.
Sesampainya di restoran, Austin menyerahkan kunci mobil kepada petugas parkir. Setelah itu mereka berjalan menuju ruang privat yang telah dipesan Gerson.
Bahkan sebelum pintu dibuka, suara tawa sudah terdengar dari dalam.
Begitu mereka masuk, Gerson langsung berdiri.
“Ah, akhirnya kalian datang!” Ia menarik seorang gadis yang duduk di sampingnya.
Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibanding biasanya.
Dengan bangga ia berkata, “Perkenalkan, ini pacarku. Namanya Beibei.”
Beibei tersenyum ramah lalu mengulurkan tangan. “Senang bertemu dengan kalian.”
“Senang bertemu juga,” jawab Yurika sambil menjabat tangannya.
Setelah berbasa-basi sebentar, Beibei tiba-tiba menatap Yurika dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kau Yurika, kan?”
Yurika mengangguk. “Ya.”
“Aku dengar dari Gerson kalau lukisan kerawang yang viral itu buatanmu?”
“Benar.”
Mata Beibei langsung berbinar kagum.
“Luar biasa. Kerajinan tangan sedetail itu pasti membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Aku bahkan tidak bisa membuat sesuatu yang rapi hanya dalam lima menit.”
Yurika tertawa kecil. “Sebenarnya tidak sesulit itu kalau sudah terbiasa.”
“Jangan merendah,” sela Gerson. “Aku pernah mencobanya sekali dan hasilnya seperti karya anak TK.”
“Ternyata kau sadar juga,” komentar Austin datar.
“Eh, kenapa kau selalu menyerangku?”
“Karena itu fakta.”
Ruangan langsung dipenuhi tawa, sementara suasana makan malam menjadi semakin hangat. Namun tanpa disadari Yurika, setiap kali ia berbicara atau tersenyum, Austin selalu memandangnya beberapa detik lebih lama daripada yang seharusnya.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏