Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Layang-layang
Pagi itu kawasan pesisir Pantura berubah jauh lebih ramai dibanding biasanya. Deretan tenda warna-warni berdiri memanjang di sekitar area dermaga baru yang masih dihiasi janur dan bendera peresmian. Suara musik tradisional bercampur dengan debur ombak membuat suasana festival terasa begitu hidup.
Puluhan peserta mulai berdatangan sambil membawa layang-layang terbaik mereka masing-masing.
Angin laut yang bertiup cukup kencang membuat beberapa layang-layang kecil sudah mulai menari di udara. Tawa anak-anak dan suara para pedagang yang menawarkan dagangannya bercampur menjadi satu, membuat festival itu terasa semakin meriah.
Ada yang berbentuk naga raksasa. Burung elang. Bahkan ada layangan modern dengan warna mencolok dan lampu kecil di bagian ekornya. Sementara di tengah keramaian itu…
Kai berdiri diam sambil memeluk layang-layang biru laut miliknya erat. Matanya bergerak ke sana kemari penuh kagum sekaligus gugup.
Jujur saja… ini pertama kalinya ia melihat festival sebesar ini secara langsung.
“Ma…”
Suara kecil Kai membuat Alena langsung menoleh. “Iya, Sayang?”
Kai menggigit bibirnya sendiri pelan sebelum akhirnya berbisik. “Layang-layang Kai jelek nggak?”
Kai merasa minder dada keempat wanita itu terasa sesak karena di tengah layang-layang peserta lain yang terlihat mahal dan megah… Kai mulai merasa kecil.
Senna langsung melotot. “Siapa bilang jelek?!”
Anne ikut mengangguk cepat. “Bagus sekali malah.”
“Bahkan paling punya arti,” tambah Rina sambil mengusap pelan kepala anak itu.
Namun Kai tetap menatap layang-layang peserta lain cukup lama mulai dari benang mereka yang terlihat mahal lalu baju yang mereka kenakan terlihat begitu bagus. Dan beberapa anak bahkan datang bersama keluarganya sambil membawa kamera besar.
Sementara dirinya? Hanya anak pesisir biasa.
Dengan empat ibu yang bahkan harus bekerja mati-matian demi biaya pendaftaran. Melihat tatapan Kai mulai turun, Alena buru-buru berjongkok di depan anaknya.
Bagaimana jika ia kalah? Bagaimana jika semua pengorbanan mereka berakhir sia-sia? Pikiran itu membuat jemarinya tanpa sadar menggenggam benang layang-layang lebih erat.
“Kai.”
Anak itu perlahan menatap ibunya.
“Kamu tahu nggak…” suara Alena melembut. “Di festival ini mungkin banyak layang-layang mahal.”
“Tapi belum tentu…” jemarinya menyentuh dada kecil Kai pelan. “Semua dibuat dengan hati sebesar punya kamu.”
Kai terdiam. Ingatannya melayang pada hari-hari saat ia menyisihkan uang sedikit demi sedikit demi bisa berdiri di tempat ini.
Sementara Senna langsung menyahut seolah tidak mau anaknya itu patah semangat.
“Betul!”
Wanita itu menunjuk layang-layang Kai dengan bangga.
“Lihat punya mereka keren karena uang.”
“Tapi punya anakku?” dadanya membusung sombong. “Keren karena cinta!”
“Bu Senna…” Kai sampai malu sendiri.
Seketika tawa kecil pecah di antara mereka.
Dan perlahan… rasa gugup Kai mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Kai sesekali menatap layang-layang miliknya itu dari corak yang ia gambar, semuanya ia lukis dengan cinta, dan hal itu justru membuat bibirnya terangkat sedikit.
"Aku harus tampil percaya diri ya?" tanyanya pada keempat ibunya.
"Harus, menang kalah itu sudah biasa yang penting anak Ibu sudah berusaha semaksimal mungkin," tutur Senna.
Sementara Kai dan keempat ibunya mulai menikmati suasana festival, perhatian sebagian warga justru perlahan beralih ke pintu masuk dermaga.
Namun tanpa mereka sadari di sisi lain area festival… suasana justru berubah tegang. Beberapa panitia terlihat sibuk merapikan barisan sambil berbicara panik melalui HT.
“Mobil Tuan Kael sudah masuk!”
“Cepat sterilkan area VIP!”
“Jangan sampai ada wartawan mendekat dulu!”
Beberapa warga langsung menoleh bersamaan, mendengar suara panitia mulai panik.
"Dia datang..."
"Siapa?"
"Orang yang membeli dermaga ini."
"Astaga... kenapa dia datang ke acara begini?"
"Ssst! Jangan keras-keras kalau ngomong."
Suara warga terdengar samar dan tidak lama kemudian...
Brmmm—
Deretan mobil hitam mewah perlahan memasuki kawasan dermaga. Suasana mendadak berubah sunyi. Aura mencekam langsung terasa bahkan sebelum pintu mobil terbuka.
Kai yang berdiri cukup jauh ikut menoleh penasaran.
“Ma…” gumamnya pelan. “Itu siapa?”
Alena juga masih memperhatikan sama halnya dengan sang anak yang masih penasaran dengan orang tersebut. Namun sebelum Alena sempat menjawab—
Cklek.
Pintu mobil utama terbuka perlahan. Sepasang sepatu hitam mahal turun lebih dulu menyentuh tanah pesisir itu.
Lalu… seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan sorot mata dingin yang langsung membuat suasana sekitar terasa menekan.
Hembusan angin laut membuat jas hitamnya bergerak pelan. Meski tidak mengucapkan sepatah kata pun, kehadirannya berhasil membuat beberapa orang menundukkan kepala secara refleks.
Kael Ardion.
Pria itu berdiri tegak sambil menatap area festival sekilas. Wajahnya datar dan dingin seolah terlalu berbahaya untuk suasana seramai ini.
Beberapa panitia langsung membungkuk gugup menyambut kedatangannya.
“Selamat datang Tuan Kael.”
Namun pria itu bahkan tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan menyapu area festival, hingga tanpa sadar… matanya berhenti pada satu layang-layang biru laut di tengah keramaian.
Rembulan putih. Empat wanita. Persis seperti yang ia lihat kemarin, di bibir pantai. Kael menyipitkan mata pelan, entah kenapa hati kecilnya terus terdorong dan mulai mencari sosok pemilik layang-layang tersebut di antara keramaian manusia.
Sementara di sisi lain— Kai justru sedang sibuk membereskan benangnya tanpa sadar bahwa sepasang mata tajam sedang memperhatikannya dari jauh.
Bersambung. ...