NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Bukan Mainan

BAB 21 — Aku Bukan Mainan

Malam itu, hujan turun lagi di kota London, seolah langit pun tahu bahwa badai besar akan segera meledak di dalam apartemen itu.

Alena datang dengan wajah datar, mata merah, dan hati yang penuh beban setelah seharian menahan tangis dan rasa tidak adil. Dia tidak lagi membawa senyum, tidak lagi membawa rasa ingin memeluk. Yang dia bawa hanyalah amarah dan kekecewaan yang sudah meluap-luap.

Adrian yang sedang duduk di sofa menunggunya, langsung menyadari ada yang tidak beres. Tatapan gadis itu dingin, jauh lebih dingin dari biasanya.

"Kenapa wajahmu muram begitu? Kau sakit?" tanya Adrian standar, berdiri ingin mendekat.

Tapi Alena mundur selangkah, menghindari sentuhan yang hendak terulur. Gerakan itu membuat langkah Adrian terhenti di tengah jalan.

"Jangan dekati aku dulu," ucap Alena dingin, suaranya bergetar menahan ledakan emosi. "Aku mau bicara serius. Sangat serius."

Adrian mengerutkan kening, aura dinginnya mulai muncul kembali. "Ada apa? Soal apa?"

"Soal kita! Soal hubungan gila ini!" Alena tidak bisa menahannya lagi, suaranya meninggi memecah keheningan malam. "Aku sudah tidak kuat, Adrian! Aku sudah tidak kuat menjalani semua ini sendirian!"

 

🗣️ Ledakan Emosi

Alena melangkah maju, menatap mata pria itu tajam-tajam, matanya memancarkan luka yang sangat dalam.

"Kau tahu rasanya bagaimana?! Pagi hari aku harus pura-pura jadi orang asing, pura-pura takut sama kau, padahal malamnya aku tidur di pelukanmu! Aku harus menahan cemburu melihat Sophia bebas mendekatimu, memberimu makan, menyentuhmu seenaknya... sementara aku?! Aku cuma bisa diam di sudut gelap!"

"Alena, tenang dulu..."

"JANGAN SURUH AKU TENANG!" potong Alena keras, air matanya mulai mengalir deras. "Kau bilang kau sayang aku? Kau bilang aku milikmu? Kalau sayang kenapa biarkan aku terluka begini?! Kenapa biarkan aku merasa sepi dan tidak berharga setiap hari?!"

Alena menarik napas panjang, dadanya naik turun hebat. Dengan suara penuh penekanan dan rasa sakit yang luar biasa, dia melontarkan tuduhan yang paling menyakitkan.

"Menurutku... kau tidak benar-benar mencintaiku, Adrian!"

Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Adrian. Wajah pria itu berubah kaget, lalu berubah gelap.

"Apa yang kau bicarakan?!" bentak Adrian, suaranya jauh lebih keras dan menggelegar.

"Aku bilang apa yang aku rasakan!" Alena tidak mundur, dia justru maju menantang. "Menurutku... kau cuma menginginkanku saat kau butuh kenyamanan! Saat kau kesepian! Saat kau butuh tempat pelarian dan kepuasan! Begitu pagi datang, begitu dunia melihat... aku langsung kau buang jauh-jauh! Aku cuma pelengkap di malam hari! Cuma mainan yang kau keluarkan saat kau bosan!"

BRUK!

Adrian memukul meja di sampingnya dengan keras, membuat gelas-gelas di atasnya bergetar dan berbunyi nyaring.

"BERANI KAU BILANG BEGITU?!" rahang Adrian mengeras, matanya memancarkan amarah yang membara. "KAU TIDAK TAHU APA-APA! KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA BESARNYA USAHAKU UNTUK MELINDUNGI KAU! KAU TIDAK TAHU BERAPA BANYAK HAL YANG KAU KORBANKAN DEMI MENJAGA KITA BERDUA!"

"KORBAN APA?!" teriak Alena tak kalah keras, air matanya membanjiri wajah. "YANG KORBAN ITU AKU! AKU YANG HANCUR HATINYA SETIAP HARI! Kau pikir enak apa?! Di depan orang lain aku angin, di belakang pintu aku jadi ratu?! Aku tidak butuh cinta macam itu! Aku butuh sesuatu yang nyata! Sesuatu yang bisa aku pegang di siang bolong!"

"INI SUDAH NYATA!"

"BELUM!" Alena menangis histeris. "Selama masih ada rahasia, selama masih ada topeng... ini semua bohong! Kau cuma nyaman karena aku ada di sana pas kau mau! Kalau aku benar-benar berharga, kenapa kau biarkan orang lain menghinaku diam-diam?! Kenapa kau biarkan Sophia merasa dia masih punya hak lebih dariku?!"

 

🔥 Perang Ego yang Keras

Adrian berjalan mendekat, wajahnya merah padam menahan amarah yang luar biasa. Dia mencengkeram kedua bahu Alena kuat-kuat, bukan untuk memukul, tapi karena dia frustrasi setengah mati.

"DENGARKAN AKU, ALENA! AKU MELAKUKAN INI KARENA AKU TAKUT KEHILANGAN KAU!" teriak Adrian tepat di wajah gadis itu. "AKU INI PRIA YANG TIDAK SEMPURNA! AKU PUNYA MASA LALU, AKU PUNYA REPUTASI, AKU PUNYA SEGALA MACAM BEBAN! TAPI JANGAN PERNAH BILANG AKU CUMA MAIN-MAIN! JANGAN PERNAH BILANG AKU CUMA MAU BADANMU SAJA!"

"TERUS BUKTIKAN!" Alena mendorong dada pria itu sekuat tenaga, meski tubuhnya jauh lebih kecil. "Buktikan kalau bukan mainan! Kenapa rasanya aku cuma dipakai buat isi waktu luangmu?! Saat kau butuh kasih sayang, kau cari aku. Saat dunia butuh kau, aku langsung kau buang!"

"AKU TIDAK MEMBUANG MU!"

"SUDAH! SUDAH KAU BUANG!" isak Alena keras, memukul-mukul dada bidang itu dengan kepalan tangannya kecilnya, melepaskan semua kekesalan, semua rasa sakit, semua rasa lelah yang dia pendam berbulan-bulan. "Kau egois, Adrian! Kau sangat egois! Kau mau semuanya sesuai maumu! Kau mau aku ada pas kau mau, kau mau aku hilang pas kau mau! Kau pikir aku ini apa?! Boneka?! Atau alat pemuas nafsu yang bisa kau simpan di lemari?!"

Pukulan-pukulan kecil itu tidak menyakitkan fisik Adrian, tapi setiap pukulan itu terasa seperti menghantam jantungnya dengan palu godam.

"AKU CINTA KAMU!" teriak Adrian akhirnya, suaranya pecah, matanya juga mulai memerah menahan emosi yang meluap. "AKU MENCINTAI MU LEBIH DARI YANG KAMU BAYANGKAN! TAPI AKU TIDAK TAHU CARANYA! AKU TIDAK TAU BAGAIMANA CARANYA MEMILIKI KAMU DENGAN CARA YANG BENAR! AKU TAKUT SALAH LANGKAH! AKU TAKUT MERUSAK HIDUP MU!"

"JANGAN PAKAI TAKUT JADI ALASAN!" balas Alena tak mau kalah, suaranya parau dan hancur. "Kalau takut kenapa mulai?! Kalau takut kenapa sentuh aku?! Kalau takut kenapa bilang aku milikmu?! Kalau kau tidak bisa jadi orang yang tepat, lebih baik jangan beri harapan sama sekali!"

Suasana di ruangan itu panas, sangat panas. Teriakan, tangisan, dan rasa sakit memenuhi setiap sudut ruangan.

Ini bukan lagi sekadar cekcok pasangan biasa. Ini adalah pertarungan antara dua hati yang saling mencinta tapi sama-sama terluka, sama-sama merasa tidak dimengerti, dan sama-sama kehabisan cara untuk berkomunikasi.

Adrian melepaskan cengkeramannya di bahu Alena, dia mundur beberapa langkah, memegang kepalanya dengan tangan gemetar.

"Kau... kau tidak mengerti apa-apa..." gumam Adrian parau, tatapannya menyakitkan. "Kau tidak tahu betapa beratnya aku menahan diri setiap hari agar tidak langsung menarikmu ke pelukanku di tengah kampus. Kau tidak tahu betapa sakitnya aku harus berpura-pura tidak peduli padahal jantungku mau copot melihat orang lain mendekatimu."

"Kalau sakit kenapa dilakukan?!"

"KAREN AKU CINTA!"

"KAU TIDAK CINTA! CINTA ITU TIDAK MEMBUAT ORANG YANG DICINTAI MENANGIS SETIAP MALAM!"

 

💔 Kata Terakhir yang Mematikan

Hening sejenak. Hanya suara isak tangis Alena dan suara hujan di luar jendela.

Alena menatap Adrian lekat-lekat, tatapan itu penuh kekecewaan mendalam, tatapan yang seolah dia sudah menyerah pada segalanya.

"Aku lelah, Adrian..." ucap Alena pelan, tapi suaranya terdengar sangat tegas dan dingin. "Aku lelah berjuang sendirian. Aku lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti."

Dia berbalik, meraih tasnya dengan tangan gemetar, siap pergi dari tempat yang dulu dia anggap surga, tapi sekarang terasa seperti neraka.

"Alena... mau ke mana?" tanya Adrian, suaranya berubah ragu, sedikit panik melihat gadis itu.

"Aku pulang."

"Tunggu! Kita belum selesai bicara!"

"Sudah selesai!" Alena menoleh kembali, menatap pria itu dengan mata yang kosong dan hancur. "Aku sadar sekarang. Kita memang tidak seharusnya bersama. Kita beda dunia, beda cara pikir, dan beda cara mencinta."

Langkahnya berhenti di ambang pintu. Dia menggenggam gagang pintu erat-erat, lalu dengan suara bergetar yang akan selalu teringat selamanya, dia berkata:

"Aku bukan mainanmu..."

"Jangan cari aku lagi kalau kau cuma butuh teman mengisi waktu atau memuaskan hasrat. Aku punya hati. Aku punya harga diri. Dan aku tidak mau terus-terusan dikhianati oleh perasaanku sendiri."

KLIK.

Pintu terbuka.

"SELAMAT TINGGAL, DR. VALE."

Dan pintu itu ditutup dengan keras.

DORRR!!

Meninggalkan Adrian berdiri sendirian di ruangan yang gelap dan sunyi, dengan kata-kata itu bergema di kepalanya, menghancurkan dunianya berkeping-keping.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!