NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Win or Lose

Bagian ini mengandung kata-kata kasar (sudah disamarkan mestinya), harap bijak dalam membaca. Terimakasih.

"Bu Hanum!!" seru salah satu karyawan butik Hanum ketika dia memasuki butik lamanya itu. Semua mata menyaksikan langsung kedatangan Bu Hanum.

"Bu! Kamu kangen banget sama Bu Hanum, apa Ibu mau ngurus butik ini lagi?" ucap Rubiah, salah satu karyawan itu kepada Hanum.

"Nggak, Ru.., aku mau cari bos kamu. Dimana Vanya?" tanya Hanum langsung. Membuat orang-orang itu terdiam sesaat.

"Nyonya Vanya ada di ruangannya, Bu..," kata Rubiah menjawab.

Nyonya? Pikir Hanum sejenak.

"Ya udah aku mau kesana dulu," kata Hanum. Sedangkan para karyawan itu saling bertatapan heran. Melanjutkan kembali pekerjaannya.

Hanum melihat banyak perubahan yang terjadi di butiknya, dia sempat melihat beberapa paket di gudang yang masih tersegel dan dibiarkan begitu saja.

"Lah, ini kenapa, Andro?" tanya Hanum pada Andro, salah satu karyawan logistik nya.

"Ah, Bu Hanum.., ini paket yang ditolak sala pembeli, Bu. Banyak dari mereka yang mengeluh karena kualitas produk yang diberikan buruk. Gak sepadan sama harganya..," terang Andro pada Hanum. Membuat Hanum tak habis pikir.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Hanum lagi.

"Semenjak Bu Hanum gak di sini, Nyonya yang ngurus butik ini nyuruh kami ganti barang-barang nya sama yang kurang bagus, Bu. Sempat Karmila tolak sebab gak baik untuk dilakukan, tetapi Nyonya itu malah marah dan langsung memecatnya. Jadi, kami semua di sini cuma bisa menjalankan tugas saja..," ucap Andro lagi sembari menatap sedih pada tumpukan paket yang ternyata bekas di reject itu.

Hanum tampak prihatin dengan kondisi yang menimpa bekas usahanya ini. Terlebih dia juga paham betul kenapa para karyawan itu hanya nurut saja agar mereka tidak kehilangan pekerjaannya. Tahu sendirilah bagaimana susahnya mencari pekerjaan di negara ini, ditambah mereka hanyalah lulusan SMP SMA dari kampung.

"Vanya ada di dalam?" tanyanya pada Andro.

Andro mengangguk. "Iya, Bu," jawabnya.

Segera Hanum menggedor-gedor pintu itu.

"Vanya! Buka cepat! Saya mau bicara!" seru Hanum sambil terus menggedor-gedor pintu.

"Siapa sih resek amat?" terdengar suara wanita itu dari dalam. "Lo berani ya? Mau gue pecat?" Suaranya terhenti ketika dia membuka pintu dan menatap Hanum di depannya.

Lalu dia pun tertawa. "Haha, ngapain lo kemari? Kangen ya sama butik ini?"

Vanya mencoba untuk meredakan tawanya, "Ya udah, gue izinin cuma lima menit ya. Abis itu gue suruh satpam buat usir lo," katanya lagi.

"Diam kamu. Aku kesini bukan untuk itu!" jawab Hanum dengan ketus.

Vanya pun terdiam sejenak. Mengetahui maksud kedatangan Hanum untuk serius, dia pun memasang wajah datar. "Terus, Lo ngapain kemari?"

"Kamu kan yang udah hancurin butik Dela?" ucap Hanum langsung terus terang.

"Apa? Butik siapa?" Vanya pura-pura tidak dengar. "Dela, ya?"

"Jangan banyak bacot kamu!" ucap Hanum lagi. Membuat Vanya cukup terkejut dengan perubahan sikap Hanum yang biasanya lemah lembut dan sopan.

"Wah wah wah, seorang Hanum bisa berubah gini ya. Oke oke tenangin diri dulu. Lo mau minum apa? Jus, kopi, teh manis?" tawar Vanya lagi sambil melangkah masuk ke dalam. Membuat Hanum ikut dan duduk di salah satu kursi ruangan itu.

Vanya menyuruh pelayannya untuk membuat jus alpukat. Lalu dia duduk di depan Hanum.

"Jawab pertanyaan ku tadi, Vanya!" seru Hanum menatap tak suka pada Vanya.

Wanita itu balik menatap tajam. Lalu dia menghembuskan napasnya dengan kasar.

"Ah iya, baiklah..., memang gue yang rusakin butik jelek itu. Gak layak untuk jadi lawan bukan?" katanya dengan angkuh.

Hanum ingin sekali melayangkan tendangan ke wajahnya. Tak masalah jika dia saat ini masih mengenakan busana yang hijabi.

"Oh wait, lo.. Jangan bilang lo kerja disono?" tebak Vanya lagi.

"Ya, aku kerja di sana. Vanya, kamu keterlaluan tau gak?" kata Hanum sambil menatapnya penuh ketidaksukaan.

"Gak tau tuh," Vanya tersenyum tipis. "Udah lah, lagi pula butik itu memang perlu dimusnahkan."

Vanya mencabut salah satu mawar merah dari dalam vas bunga yang ada di atas meja.

"Anggap aja gue lagi bersaing sama butik tempat lo kerja. Sesama atasan," katanya lagi.

"Tapi, Vanya." Kali ini Hanum mencoba untuk sopan. Mengatur napasnya yang terburu emosi. "Itu keterlaluan..," ucapnya pelan.

"Kalau kamu dilaporkan polisi sama Kak Dela bagaimana? Memang kamu mau?" Hanum mengingatkan resiko perbuatan si pelakor itu.

"Terus? Gue mesti takut gitu? Ya nggak dong!" Vanya tertawa terbahak-bahak. "Sekalipun gue 'bunuh' orang..," Dia menekankan kata itu. "Gue gak takut, Hanum," katanya lagi. Kali ini pandangannya benar-benar tampak mengerikan. Begitu tajam sekali.

"Bilang ke bos lu, gue gak ganggu lagi kok. Tenang aja," kata nya. Lalu Vanya mengeluarkan sebatang rokok dari dalam tasnya. Menawarkannya pada Hanum.

"Gak!"

Vanya tertawa kecil. Kini tampak dia mengisap rokoknya.

Dalam hatinya, Hanum terus beristighfar melihat sosok manusia berhati iblis di depannya ini.

"Aku cuma mau ingetin kamu, Vanya. Jadi, sekali lagi. Kamu yang menyuruh anak buah kamu buat rusakin butik itu?" tanya Hanum lagi.

Vanya menatap tajam. Lalu dia tersenyum lebar. "Kepo amat sih lu," katanya.

"Kalo iya gimana? Puas?"

Hanum membuang napasnya dengan kasar. "Aku hanya mau tahu, Vanya. Kamu itu jahat dan aku coba untuk menghentikan ulah mu," kata Hanum lagi.

"Haha, malah nyocot gitu. Sok suci padahal kayak b**i lu," Vanya menghembuskan asap rokok yang mengepul dari mulutnya. Membuat Hanum terbatuk-batuk.

"Kurang ajar kamu," Berdiri dari tempat duduknya, Hanum segera pergi meninggalkan ruangan itu.

Selang beberapa menit, pelayan suruhan Vanya tiba dengan membawa nampan berisi dua gelas jus alpukat.

"Bu Hanum tadi kemana, Nyonya?" tanyanya pada Vanya yang kini duduk sambil menyandarkan kakinya di atas meja.

"Pergi. Lo buang aja itu minuman, gue gak selera," kata Vanya sambil mengisap rokoknya.

Pelayan itu pun mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan itu, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hanum memesan taksi hendak kembali ke kantor. Selama di perjalanan dia mengecek ponselnya, ada pesan yang masuk dari Devan.

"Aku udah nyampe. Kamu lagi apa? Bilang ke Bunda jangan telat makan. Kamu juga."

Seulas senyum muncul di bibir Hanum. Harusnya kamu yang diingetin kayak gitu.

Dia pun membalasnya.

"Syukurlah. Masih kerja, iya kamu juga ya. Semangat!"

Centang satu. Barangkali pria itu sedang sibuk. Hanum lalu membuka aplikasi rekaman. Memastikan dia merekam ucapan Vanya tadi. Setibanya di butik, dia bergegas masuk ke ruangan Dela. Lalu dia menunjukkan rekaman itu pada Dela.

"Sudah aku tebak, Hanum. Memang dia pelakunya!" kata Dela.

"Lalu bagaimana selanjutnya, Kak?" tanya Hanum lagi.

"Tunggu apa lagi? Kita proses segera," kata Dela dengan mantap.

"Tidak bisa begitu, Kak. Meskipun dia dijebloskan ke penjara dengan cara ini dia tetap leluasa menyogok beberapa oknum yanh terkait..," ujar Hanum.

Dela terdiam sejenak. Betul juga.

"Bagaimana kalau kita pakai plan ini saja," Hanum menunjukkan rencana selanjutnya.

Tahu apa itu?

Viralkan

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!