NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19- Tidak bisa mundur lagi

Tidak Bisa Mundur Lagi

Ruangan CEO terasa begitu sunyi setelah Sandra masuk.

Hujan di luar masih turun deras, menciptakan suara samar yang justru membuat ketegangan di dalam ruangan terasa semakin jelas.

Mona berdiri kikuk di dekat meja kerja.

Wira masih di depannya.

Sementara Sandra berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tidak marah, tapi jelas terluka.

“Sekarang aku mengerti,” ulang Sandra pelan sambil tersenyum tipis. “Kenapa kamu terus menghindariku.”

Wira menghela napas pendek. “Kamu datang tanpa izin.”

“Aku hanya ingin bicara.”

“Kita sudah bicara.”

Sandra tertawa kecil. “Belum. Karena setiap kali aku mencoba membahas perasaanmu, kamu selalu lari ke pekerjaan.”

Tatapan Sandra lalu berpindah ke Mona lagi dan kali ini, Mona benar-benar merasa tidak nyaman berada di sana.

“Saya keluar dulu,” ucap Mona cepat.

Namun lagi-lagi, “Tidak usah.” Wira menahannya.

Sandra mengangkat sebelah alis kecil. “Kamu bahkan tidak mau dia pergi?”

Nada suaranya tetap tenang, tapi justru itu yang membuat suasana semakin tegang.

Wira tidak menjawab dan diamnya kali ini terasa seperti jawaban.

Sandra menunduk sebentar sebelum akhirnya tersenyum pahit. “Aku tidak pernah lihat kamu seperti ini dulu.”

Mona menggenggam tablet di tangannya semakin erat. Ia benar-benar ingin menghilang sekarang, namun kakinya terasa sulit bergerak.

“Pak Wira…” bisiknya pelan.

Wira akhirnya menoleh ke arah Mona. Tatapannya langsung sedikit melembut dan perubahan kecil itu tidak lolos dari perhatian Sandra.

“Oh Tuhan…” Sandra tertawa kecil tanpa suara. “Kamu benar-benar jatuh cinta.”

Kalimat itu seperti menghentikan waktu beberapa detik. Jantung Mona langsung berdegup kacau.

Sementara Wira membeku. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya… Mona melihat Wira kehilangan jawaban.

***

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Sandra menatap Wira lekat-lekat, seolah menunggu bantahan, namun pria itu tetap diam dan diamnya terasa lebih jujur daripada kata-kata.

Mona perlahan menunduk. Dadanya terasa penuh. Takut, gugup dan entah kenapa… bahagia, namun sebelum suasana semakin rumit, Wira akhirnya bicara pelan,

“Pulanglah, Sandra.” Nada suaranya tidak dingin, justru terlalu tenang.

Sandra menggigit bibirnya pelan sebelum mengangguk kecil.

“Oke.”

Wanita itu melangkah mundur perlahan, namun sebelum benar-benar pergi, ia kembali menatap Mona.

“Kamu beruntung.”

Mona terkejut. “Hah?”

Sandra tersenyum tipis. “Karena akhirnya ada seseorang yang bisa membuat dia berubah.”

Lalu wanita itu pergi.

Pintu tertutup dan ruangan kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih berbahaya, karena sekarang… tidak ada lagi yang bisa mereka sembunyikan.

***

Mona berdiri diam sambil menatap lantai. Ia tidak berani melihat Wira, tidak setelah apa yang baru saja terjadi.

Suara hujan di luar masih terdengar dan jantung Mona masih belum normal.

“Pak…”

“Aku tidak akan minta maaf.”

Mona langsung mengangkat wajah.

Wira berdiri di dekat jendela sekarang. Tangannya masuk ke saku celana, tatapannya mengarah keluar, bukan ke Mona.

“Apa maksud Bapak?”

“Aku tidak akan minta maaf kalau memang perasaanku berubah.”

Deg

Kalimat itu membuat dada Mona terasa panas.

Wira akhirnya menoleh perlahan. Tatapannya tidak lagi bisa disebut tatapan seorang atasan biasa. Terlalu lembut, terlalu jujur.

“Aku mencoba menjaga jarak,” lanjutnya pelan. “Tapi gagal.”

Mona menggigit bibirnya. Ia tahu sekarang. Semua perhatian kecil itu nyata, semua sikap berbeda itu nyata dan yang paling menakutkan… perasaannya sendiri juga nyata.

“Tapi ini salah,” bisik Mona lirih.

Wira mengernyit sedikit.

“Karena saya sekretaris Bapak.”

“Itu masalah terkecil.”

“Hah?”

Wira berjalan mendekat lagi, namun kali ini langkahnya jauh lebih pelan, seolah memberi Mona kesempatan untuk mundur, tapi Mona tidak bergerak.

“Aku lebih takut,” ujar Wira pelan, “kalau suatu hari kamu pergi seperti Sandra.”

Mona membeku. Itu pertama kalinya Wira bicara sejujur itu tentang ketakutannya. Pria yang selalu terlihat kuat dan tidak peduli ternyata menyimpan luka sebesar itu.

“Pak Wira…”

“Aku tidak pandai mempertahankan orang,” lanjutnya lirih. “Dan aku benci menyadari kalau sekarang aku mulai ingin mempertahankan kamu.”

Mata Mona mulai terasa panas, bukan sedih, tapi karena kalimat itu terasa terlalu tulus.

Wira mengangkat tangan perlahan. Jemarinya menyentuh rambut Mona yang sedikit berantakan dengan gerakan lembut, sangat lembut.

“Mona.”

“Iya…”

“Apa aku terlambat?”

Deg

Jantung Mona benar-benar kacau sekarang. Karena di balik pertanyaan sederhana itu… ada ketakutan yang nyata dan Mona bisa merasakannya. Ia menatap Wira lama, lalu perlahan menggeleng kecil.

“Belum.”

Untuk pertama kalinya… ekspresi Wira benar-benar berubah. Bukan senyum tipis seperti biasanya, tapi sesuatu yang lebih hangat, lebih lega dan lebih berbahaya bagi hati Mona.

***

Namun tepat di saat suasana itu mulai berubah, ponsel Mona tiba-tiba berdering keras. Mereka sama-sama tersadar.

Mona buru-buru mundur sedikit sambil mengambil ponsel dari tas, namun wajahnya langsung berubah pucat saat melihat nama yang muncul.

“Ibu…”

Wira langsung menyadari perubahan ekspresinya.

“Ada apa?”

Mona mengangkat telepon dengan tangan sedikit gemetar. “Halo, Bu?”

Suara panik langsung terdengar dari seberang.

“Mona! Ayahmu pingsan!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!