NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Aku Menunggumu

“Aku sudah menunggumu sangat lama.”

Suara Aurora menggema dari seluruh penjuru pegunungan.

Lembut.

Tenang.

Namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menyeramkan.

Pintu utama Ark perlahan terbuka.

Suara logam raksasa bergesekan memenuhi udara malam.

GRRRRKKK...

Kabut bergerak pelan di sekitar bangunan itu.

Membuat Ark terlihat seperti makhluk hidup yang baru saja bangun dari tidur panjang.

Tak ada yang bergerak.

Untuk beberapa detik.

Karena semua orang sedang mencoba mencerna kenyataan di depan mereka.

“Yah.”

Arsen akhirnya angkat bicara.

“Saya resmi mencabut semua komentar saya tentang hidup yang normal.”

“Baru sekarang?”

tanya Reina.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Namun Nayra tidak mendengar mereka.

Tatapannya terpaku ke pintu besar itu.

Karena semakin lama ia berada di dekat Ark—

semakin kuat perasaan aneh itu.

Seolah tempat ini mengenalnya.

Dan yang lebih buruk—

sebagian dari dirinya mengenali tempat ini.

Deg.

“Nayra.”

Suara Zavian terdengar di sampingnya.

“Hm?”

“Kamu nggak harus masuk.”

Nayra langsung menoleh.

“Apa?”

“Kita bisa cari cara lain.”

Tatapan cowok itu serius.

Tidak bercanda.

“Kamu tahu itu nggak mungkin.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Bukan berarti aku harus suka.”

Deg.

Nayra terdiam.

Karena di balik semua sikap dingin dan keras kepala Zavian

ada satu hal yang selalu sama.

Ia selalu mengkhawatirkannya.

Bahkan saat dunia sedang runtuh.

Bahkan saat kakaknya sendiri sedang disandera.

Cowok itu masih memikirkan dirinya.

Dan entah kenapa—

itu membuat hati Nayra terasa hangat sekaligus sakit.

“Kita masuk bersama.”

katanya pelan.

Zavian menghela napas.

Lalu mengangguk.

“Bersama.”

Mereka melangkah memasuki Ark.

Udara di dalam langsung terasa berbeda.

Dingin.

Terlalu dingin.

Dinding logam hitam membentang panjang.

Lampu putih menyala di sepanjang loridor.

Namun anehnya—

tak ada seorang pun.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada ilmuwan.

Tidak ada siapa-siapa.

Dan justru itu yang membuat semuanya lebih mengkhawatirkan.

“Ini jebakan.”

kata Reina.

“Ya.”

jawab Arsen.

“Jelas sekali.”

“Dan kita tetap masuk.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Arsen menunjuk Nayra.

“Karena protagonis selalu bikin keputusan buruk.”

“AKU DENGAR ITU.”

“Memang sengaja.”

Untuk sesaat—

Nayra ingin menendangnya.

Namun sebelum sempat melakukannya—

seluruh lorong mendadak menyala.

BZZZZT.

Semua layar di dinding hidup bersamaan.

Dan wajah Aurora muncul di setiap layar.

Deg.

Nayra langsung membeku.

Karena sekarang ia bisa melihat perempuan itu lebih jelas.

Wajah yang sama.

Mata yang sama.

Bahkan cara berkedipnya terasa mirip.

Seolah sedang melihat dirinya sendiri dari cermin yang salah.

“Selamat datang.”

Aurora tersenyum lembut.

“Aku senang akhirnya kalian sampai.”

“Di mana Hyren?”

tanya Zavian langsung.

Tak ada basa-basi.

Aurora memandangnya beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Kamu mirip sekali dengannya.”

Deg.

“Aku tanya sekali lagi.”

Suara Zavian mulai dingin.

“Di mana Hyren?”

Aurora tidak terlihat terganggu.

“Mereka belum membunuhnya.”

Belum.

Kata itu langsung membuat semua orang waspada.

“Belum?”

ulang Reina.

Aurora mengangguk pelan.

“Waktu kami tidak banyak.”

“Kami?”

tanya Nayra.

Untuk pertama kalinya—

senyum Aurora memudar sedikit.

“Aku dan kamu.”

Deg.

“Aku nggak kenal kamu.”

“Kamu salah.”

jawab Aurora lembut.

Tatapannya terasa aneh.

Sedih.

“Dari semua orang di dunia ini…”

Ia tersenyum tipis.

“…kamulah yang paling mengenalku.”

Jantung Nayra langsung berdetak lebih cepat.

Karena kalimat itu terasa salah.

Namun juga terasa benar.

Dan ia membenci perasaan itu.

“Apa maksudmu?”

Aurora tidak menjawab.

Sebaliknya—

semua layar mendadak mati.

Lalu sebuah pintu terbuka di ujung lorong.

Perlahan.

“Datanglah.”

Suara Aurora kembali terdengar dari pengeras suara.

“Aku akan menunjukkan semuanya.”

Mereka mengikuti lorong itu.

Semakin dalam.

Semakin jauh.

Dan semakin lama mereka berjalan—

semakin banyak hal aneh yang mereka temukan.

Ruangan kosong.

Laboratorium tua.

Mesin-mesin yang masih menyala meski terlihat berusia puluhan tahun.

Seolah seluruh tempat ini membeku dalam waktu.

“Ngeri.”

gumam Arsen.

“Sedikit?”

tanya Reina.

“Banyak.”

Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan besar.

Dan begitu pintu terbuka—

semua langsung membeku.

Karena ruangan itu penuh kapsul.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Berjejer rapi.

Dan di dalam setiap kapsul—

ada manusia.

Deg.

“Nggak mungkin…”

bisik Nayra.

Beberapa masih anak-anak.

Beberapa remaja.

Beberapa dewasa.

Semuanya tertidur.

Semuanya diam.

Semuanya tampak seperti eksperimen.

“Ini apa?”

bisik Reina.

Tak ada yang menjawab.

Karena semua orang terlalu terkejut.

Lalu suara Aurora terdengar lagi.

“Mereka adalah kegagalan.”

Deg.

Ruangan terasa lebih dingin.

“Gagal?”

ulang Nayra.

“Ya.”

Aurora muncul di layar besar di ujung ruangan.

“Mereka semua mencoba menjadi penerus.”

“Penerus siapa?”

tanya Arsen.

Aurora menatap Nayra.

Lama.

Sangat lama.

Lalu menjawab.

“Penerusku.”

Deg.

Nayra langsung merasa mual.

“Tidak.”

bisiknya.

Namun Aurora terus bicara.

“Setelah aku gagal…”

Tatapannya melembut.

“Founder mencoba lagi.”

“Satu kali.”

“Sepuluh kali.”

“Seratus kali.”

Deg.

“Mereka tidak pernah berhenti.”

Nayra merasakan kakinya melemah.

Karena perlahan—

potongan-potongan teka-teki mulai menyatu.

Aurora.

Eksperimen pertama.

Lalu semua orang setelahnya.

Dan akhirnya...

dirinya.

“Jadi aku...”

Suaranya bergetar.

“Aku cuma eksperimen lain?”

Sunyi.

Aurora menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya—

kesedihan terlihat jelas di wajah perempuan itu.

“Tidak.”

katanya pelan.

“Kamu yang berhasil.”

Deg.

Dunia terasa berhenti.

Tidak.

Tidak.

Tidak.

Nayra tidak mau mendengar itu.

Ia bukan proyek.

Bukan eksperimen.

Bukan hasil penelitian.

Ia manusia.

Ia Nayra.

Dan ia mati-matian mempertahankan identitas itu selama ini.

“Aku bukan milik kalian.”

Aurora tersenyum sedih.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu nggak tahu.”

Napas Nayra mulai bergetar.

“Aku capek.”

Matanya memanas.

“Aku capek terus dianggap benda.”

“Aku capek terus dijadikan alasan.”

“Aku capek semua orang pengen memiliki aku.”

Deg.

Ruangan hening.

Dan untuk beberapa detik—

tak ada yang bicara.

Lalu Aurora mengangguk pelan.

“Aku juga.”

Sunyi.

Nayra membeku.

Karena nada suara itu...

terdengar tulus.

Sangat tulus.

“Apa?”

“Aku juga capek.”

Aurora tersenyum kecil.

“Sudah sangat lama.”

Deg.

Tiba-tiba—

alarm keras menggema di seluruh Ark.

WIIIIIIING!

Lampu berubah merah.

Semua layar berkedip liar.

“Apa yang terjadi?”

teriak Arsen.

Namun Aurora tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya—

wajahnya terlihat panik.

Benar-benar panik.

“Tidak.”

bisiknya.

“Tidak sekarang.”

Deg.

“Nayra.”

Suara Aurora berubah.

Mendesak.

Takut.

“Kamu harus pergi.”

“Apa?”

“SEKARANG!”

Seluruh Ark bergetar.

Dinding logam berguncang.

Mesin-mesin mulai menyala sendiri.

Dan tepat saat itu—

suara lain terdengar.

Suara yang membuat darah semua orang membeku.

Tepuk tangan.

Pelan.

Santai.

Datang dari belakang mereka.

Clap.

Clap.

Clap.

Semua langsung berbalik.

Dan seorang pria berdiri di pintu masuk ruangan.

Tinggi.

Berjas hitam.

Rambut sedikit beruban.

Senyumnya tenang.

Namun matanya...

dingin.

Sangat dingin.

Pria itu memandang Aurora.

Lalu Nayra.

Dan tersenyum.

“Akhirnya.”

katanya pelan.

“Seluruh keluarga berkumpul lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!