NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Cinta Pertamanya

Ternyata Aku Cinta Pertamanya

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!

Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.

Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.

Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Barisan Pertahanan yang Runtuh

Langkah kaki tegap seragam PDH kowad milik Shaneen perlahan melewati pos penjagaan depan Gedung Utama Mako Batalyon. Begitu sosoknya terlihat, para bintara dan tamtama yang sedang berjaga di pos depan langsung mengambil posisi siap sempurna dan memberikan hormat jajar yang teramat segan kepada istri sang komandan tertinggi mereka. Shaneen membalas hormat tersebut dengan anggukan formal dan senyuman tipis, sebelum melangkah masuk ke dalam gedung bernuansa hijau pudar itu dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Shaneen berjalan menyusuri koridor yang sunyi hingga akhirnya tiba di depan sebuah pintu kayu jati besar yang kokoh. Di atas pintu tersebut, terdapat sebuah papan nama kayu berukir rapi dengan tulisan tegas, KOMANDAN BATALYON.

Shaneen menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keteguhan mentalnya, lalu mengetuk pintu kayu besar itu sebanyak tiga kali dengan ketukan yang konstan.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk," terdengar sambutan suara bariton yang berat, dalam, dan teramat familier menggema dari dalam ruangan.

Shaneen perlahan membuka pintu kayu tersebut dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang berukuran luas. Udara dingin dari mesin pendingin ruangan langsung menyambut kulitnya. Shaneen menutup pintu kembali, berjalan beberapa langkah, lalu langsung mengambil posisi siap sempurna di depan meja kerja besar suaminya.

"Siap. Lettu dr. Shaneen menghadap, Letkol." ucap Shaneen dengan nada suara yang berusaha dia buat seprofesional mungkin di hadapan atasannya.

Letkol Infanteri Reyes Adrian Miguel yang saat itu sedang duduk di kursi kebesarannya sembari membaca berkas dokumen taktis operasional perlahan-lahan menutup map tebal tersebut. Sepasang mata elangnya yang tajam dan mengintimidasi langsung terangkat, mengunci sepenuhnya sosok mungil yang sedang berdiri tegak di depannya.

Reyes bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. Tubuh raksasanya yang menjulang setinggi 204 sentimeter dengan otot-otot dada yang bidang di balik seragam PDL-nya tampak begitu dominan di dalam ruangan. Reyes menyambar tongkat komando komandan batalyon miliknya, lalu melangkah lebar dengan ritme kaki yang berat dan tegas mendekati posisi Shaneen. Hanya butuh beberapa langkah besar bagi Reyes untuk memangkas jarak di antara mereka, hingga tubuh mungil sang istri seketika tenggelam di bawah bayangan tubuh raksasanya yang tegap.

Reyes meletakkan tongkat komando tersebut di atas meja kerja dengan ketukan pelan, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya yang jangkung demi bisa menatap lurus ke arah sepasang netra sayu milik istrinya. Jarak wajah mereka kini begitu dekat, hingga Shaneen bisa mencium aroma maskulin khas parfum kayu cedar milik Reyes. Tatapan mata Reyes turun sejenak, memperhatikan bagaimana pipi manis Shaneen perlahan mulai merona merah samar, menyembunyikan sepasang lesung pipi unik yang selalu berhasil membuat sang Letkol gemas setengah mati.

"Lettu dr. Shaneen," ucap Reyes dengan intonasi suara bariton yang sengaja dia rendahkan beberapa oktaf, terdengar begitu seksi namun sarat akan otoritas mutlak kepemilikan. "Seingat saya, baru kemarin sore saya menandatangani sebuah memo dispensasi libur resmi yang sah untuk Anda. Tujuan memo itu jelas: agar perwira medis saya ini bisa mengistirahatkan tubuhnya dan mengawasi proses pemindahan barang-barang pribadinya dari Mess Kowad menuju Rumdisjab kita hari ini. Boleh saya tahu, mengapa Anda justru mengabaikan perintah saya dan berkeliaran di ksatrian pada jam yang seharusnya Anda gunakan untuk istirahat?"

Shaneen menelan ludahnya dengan pelan. Di bawah kepungan tatapan mata elang Reyes yang teramat intens dan mengunci seluruh pergerakannya dalam jarak sedekat ini, Shaneen berusaha keras mempertahankan fondasi mental kowadnya agar tidak goyah atau terlihat gugup.

"Siap, Letkol. Mohon izin menjelaskan," jawab Shaneen, matanya berkedip beberapa kali berusaha mengalihkan pandangan dari bibir kokoh suaminya. "Ada situasi darurat yang terjadi di tim seleksi Pusdikmil pagi ini. Dua dokter penguji utama mengalami kecelakaan, dan saya dihubungi langsung oleh Kapolkes karena saya memegang kualifikasi spesialis KFR yang dibutuhkan untuk bertanggung jawab penuh atas hasil pemeriksaan fisik rehabilitasi bintara remaja hari ini. Sebagai prajurit, saya tidak bisa menolak panggilan tugas negara, Letkol."

Reyes terdiam sejenak, mendengarkan pembelaan taktis dari istrinya dengan saksama. Mata elangnya menatap lekat-lekat tahi lalat cantik yang berada tepat di bawah mata kanan Shaneen yang tampak sedikit lelah setelah memeriksa ratusan orang sejak pagi tadi. Rasa gemas, bangga, sekaligus protektif yang amat besar kembali bergejolak di dalam dada sang Letkol. Pria jangkung itu kemudian mengalihkan pandangan matanya ke bawah, melirik ke arah paper bag cokelat yang sejak tadi didekap erat oleh sepasang tangan ramping Shaneen di depan dadanya.

"Alasan tugas negara yang sangat mulia, Dokter," Reyes menaikkan satu alis tebalnya, sebuah senyuman tipis yang penuh arti mulai terukir di bibirnya. "Namun, boleh saya tahu, apakah di dalam tas cokelat yang Anda dekap seerat itu juga berisi dokumen rahasia negara? Atau itu adalah menu makanan hangat yang juga merupakan bagian dari instruksi medis darurat dari Kapolkes Pusdikmil, Lettu Shaneen?"

Deg.

Wajah Shaneen seketika memerah padam sempurna hingga ke batas lehernya. Sisi gengsinya yang tinggi mendadak memberontak hebat karena rahasia kecilnya—tentang membawa bekal makanan porsi ganda yang dia siapkan secara khusus untuk mereka berdua—telah dibongkar habis tanpa sisa oleh singa jantan di depannya.

"Letkol... tolong jangan mulai membahas itu di sini," bisik Shaneen dengan nada setengah memohon yang terdengar seperti gerutuan ketus yang teramat menggemaskan di telinga Reyes. Sepasang lesung pipi indahnya mendadak muncul karena dia benar-benar salah tingkah. Shaneen melirik panik ke arah pintu ruang kerja, takut-takut ada staf atau ajudan yang tiba-tiba masuk dan melihat interaksi mereka. "Ini... ini cuma makanan biasa. Saya memasak porsi lebih pagi tadi sebelum berangkat... karena saya mengira... mengira kita bisa makan siang bersama setelah rapat Anda selesai."

Mendengar pengakuan jujur yang polos dari bibir istrinya, Reyes tidak bisa lagi menahan diri. Pria jangkung itu terkekeh rendah—sebuah suara tawa seksi, dalam, dan teramat langka yang hampir tidak pernah didengar oleh seluruh prajurit di area Markas Komando Batalyon.

Reyes kembali menegakkan tubuh raksasanya dengan gerakan yang teramat gagah. Bukannya kembali ke meja kerja, Reyes justru melangkah lebar menuju pintu utama ruang kerjanya. Dengan satu gerakan tangan yang taktis, dia memutar kunci pintu kayu jati tersebut dari dalam, berbunyi klik yang solid, memutus total seluruh akses komunikasi dan pandangan dari dunia luar markas.

Setelah memastikan privasi mereka aman, Reyes kembali berbalik menatap Shaneen yang kini semakin mematung menahan malu di tengah ruangan. Reyes berjalan mendekat, lalu mengarahkan tangan kanannya dengan gerakan lembut namun tegas menunjuk ke arah sebuah sofa beludru hitam yang nyaman di sudut ruangan, tepat di samping jendela besar yang menyajikan pemandangan lapangan markas.

"Kebetulan yang teramat luar biasa, Lettu Shaneen. Rapat taktis saya baru saja selesai sepuluh menit yang lalu, dan saya saat ini belum menyentuh makanan siang sama sekali," ujar Reyes dengan senyuman lebar yang membuatnya terlihat teramat tampan dan menawan, menanggalkan sejenak topeng dingin komandan batalyonnya.

"Bawa tas cokelat Anda ke sana, duduk, dan buka wadahnya. Kita akan melakukan evaluasi asupan energi dan memeriksa hasil masakan Anda secara bersama-sama sekarang juga. Ini adalah perintah dinas resmi di bawah yurisdiksi teritori saya, dan perwira medis saya tidak memiliki hak untuk mengajukan penolakan," tegas Reyes dengan kilat mata yang dipenuhi rasa puas.

Shaneen hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari melangkah pasrah dengan pipi yang masih merona merah menuju sofa beludru tersebut. Di dalam hatinya, dia menyadari dengan sangat jelas bahwa taktik pengepungan dan strategi intelijen dari Letkol Reyes kini telah sukses menguncinya sepenuhnya—tidak hanya di dalam ruang kerja Mako Batalyon siang ini, melainkan di dalam ruang lingkup kekuasaan mutlak suaminya untuk selamanya.

Dengan cekatan, Reyes membuka isi paper bag dan mengeluarkan dua wadah kotak bekal ganda. Begitu tutupnya dibuka, aroma harum dari tumis daging sapi lada hitam dan sup sayur bening segar langsung menyeruak memenuhi ruangan.

Sebenarnya, sebelum Yudha melapor, Reyes sudah lebih dulu menerima pesan singkat dari kepala pelayan di rumahnya. Pesan itu mengabarkan bahwa sang nyonya rumah sudah berangkat ke markas dengan membawa kotak makan hasil masakannya sendiri karena menolak dibantu sama sekali oleh para pelayan. Namun, melihat wujud fisik makanan itu langsung di depannya tetap memicu rasa hangat yang luar biasa di dada sang Letkol.

"Kamu sendiri yang memasak semua ini?" tanya Reyes sembari menatap Shaneen lumat-lumat, mengonfirmasi pesan dari pelayannya tadi.

Shaneen hanya menganggukkan kepalanya dengan santai tanpa ada drama salah tingkah yang berlebihan. "Iya. Saya sudah biasa melakukan hal ini sendiri. Lagipula, porsi bahan di kulkas tadi pagi terlalu banyak, jadi sekalian saja saya buatkan untuk Letkol."

Reyes tidak bisa menyembunyikan binar kekaguman di matanya. Pria itu mengambil sendok, menyendok potongan daging lada hitam itu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa gurih, manis, dan pedas hangat yang pas langsung memanjakan lidahnya.

"Tampaknya reputasimu sebagai koki andalan saat pendakian gunung memang bukan sekadar rumor."

"Tentu saja. Jadi Letkol tidak perlu khawatir akan keracunan," balas Shaneen tenang, meski diam-diam ada secuil rasa lega dan senang di hatinya karena pujian itu.

Mereka menikmati makan siang itu dalam suasana yang jauh lebih tenang dan santai. Shaneen menyendok nasinya dengan ritme teratur, sesekali menjawab pertanyaan Reyes mengenai jalannya seleksi bintara remaja hari ini. Tidak ada kecanggungan yang berarti, melainkan sebuah transisi alami dari seperti sepasang kekasih lama yang kini harus membiasakan diri berbagi ruang hidup yang sama.

Setelah kedua kotak makan itu kosong, Shaneen bergerak merapikan wadah plastik tersebut kembali ke dalam paper bag. Reyes memperhatikan setiap gerakan tangan istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Pria itu kemudian meletakkan punggungnya di sandaran sofa, lalu memutar seluruh tubuh tegapnya menghadap Shaneen. Jarak mereka kini terkikis drastis. Sentuhan maskulin yang intim mulai terasa saat tangan kiri Reyes yang besar bergerak perlahan naik, menyusup ke belakang tengkuk Shaneen, memberikan usapan-usapan kecil yang teramat menenangkan di sela sanggul rambutnya.

Ditatap seintens itu dalam jarak sedekat ini, barulah pertahanan santai Shaneen sedikit goyah. Detak jantungnya mulai berirama berisik, memicu semburat merah samar yang alami di kedua belah pipinya, menonjolkan sepasang lesung pipi unik yang teramat manis.

"Shaneen, terima kasih untuk makanan ini," bisik Reyes, suaranya merendah menjadi begitu dalam dan sarat akan emosi yang tertahan. "Dan terima kasih... karena sudah bersedia searah denganku sekarang."

Shaneen tertegun, memahami betul arah ucapan Reyes yang merujuk pada lembar dokumen mualafnya di berkas pernikahan mereka kemarin. Rasa haru yang halus seketika menyelimuti hati Shaneen. Dia tidak menyangka bahwa detail sekecil itu begitu dihargai oleh suaminya.

Sebelum Shaneen sempat membalas ucapan itu dengan untaian kata logisnya, Reyes menundukkan kepalanya secara perlahan.

Cup.

Sebuah kecupan yang teramat lembut, hangat, dan lama mendarat di dahi Shaneen. Reyes menyalurkan seluruh rasa hormat, perlindungan, dan janji setianya melalui sentuhan sakral tersebut. Shaneen memejamkan matanya, merasakan bibir hangat Reyes yang seolah sedang menempel kepemilikan mutlak di sana.

Dari dahi, bibir Reyes bergerak turun secara runut, bergeser pelan menyusuri pelipis, lalu mengecup kelopak mata kanan Shaneen tepat di bagian tahi lalat cantiknya. Kecupan yang singkat namun sarat akan rasa gemas yang dalam. Tak berhenti di situ, Reyes menggeser kembali kecupannya menuju pipi kanan Shaneen, mengecup dalam tepat di atas lekukan lesung pipinya yang kini semakin terlihat jelas karena Shaneen diam-diam menahan senyum. Lalu dihidung mungil imut itu.

Terakhir, Reyes menjauhkan wajahnya hanya sejauh dua sentimeter. Napas hangatnya yang teratur berembus pelan di permukaan kulit wajah Shaneen. Sepasang mata elangnya mengunci lekat-lekat bibir tipis kemerahan milik istrinya yang tampak sedikit basah setelah makan siang.

Reyes tidak langsung menyerang atau terburu-buru mengambil tindakan yang agresif. Dia sengaja diam di posisi intim itu, membiarkan keheningan ruang transit menjadi saksi bagaimana atmosfer di antara mereka berubah menjadi semakin pekat dan mendebarkan. Reyes memberikan jeda yang cukup panjang, seolah memberikan waktu bagi Shaneen untuk memproses debaran manis yang kian merajalela di dalam rongga dadanya.

Merasakan ketulusan mutlak, kelembutan, serta rasa aman yang luar biasa yang dihadirkan oleh suaminya, Shaneen tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menghindar. Dia bukan lagi gadis SMA yang akan menendang tulang kering Reyes jika didekati.

Tangan ramping Shaneen bergerak naik secara perlahan, jemarinya mencengkeram pelan ujung kain seragam PDL Reyes di bagian dada—sebuah gestur bawah sadar untuk mencari pegangan karena kakinya mendadak terasa lemas. Bersamaan dengan cengkeraman itu, Shaneen memberikan sebuah anggukan kecil yang teramat samar, seolah memberikan ridha dan izin yang sah dari lubuk hatinya.

Mendapat lampu hijau yang sah dari sang pemilik hati, Reyes mengikis sisa jarak di antara mereka tanpa ragu lagi. Dengan gerakan yang teramat penuh perasaan, berhati-hati namun penuh penekanan yang pasti, Reyes menautkan bibirnya di atas bibir manis Shaneen.

Sebuah kecupan yang hangat, tenang, namun mengikat seluruh jiwa mereka berdua akhirnya tercipta dengan sempurna di balik keheningan ruang transit kerja komandan batalyon. Reyes melumatnya dengan ritme yang lambat dan lembut, seolah sedang menegaskan bahwa mulai detik ini, Shaneen adalah miliknya yang paling berharga.

Di sela-sela momen manis yang memabukkan itu, Shaneen memejamkan matanya dengan damai, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat sang suami. Barisan ketakutan akan masa lalu dan trauma dicampakkan kini benar-benar telah runtuh, digantikan oleh keyakinan utuh bahwa di dalam dekapan pria raksasa ini, dia telah menemukan rumah yang sesungguhnya untuk bersandar tanpa perlu lagi berpura-pura menjadi kuat.

1
Niken Dwi Handayani
Reyes yang bucin parah ditantang. yud dilakoni🤭
Anis Roodhiyah
thor, ini bagus bgt. tp bahasanya berat buat sekelas novel online 🤣🤣 ini kayak gaya bahasa novel di buku2 yg udah terbit yang beratus2 halaman itu loh.
Nuna Bae: Halo kak 😍 Terimakasih Banyak Ya😍🙏
total 1 replies
Dewi Selvia Indah
semangat nulisnya thor ceritanya keren 💪
Nuna Bae: terimakasih ya 😍🙏
total 1 replies
Sisilia Haryadi
ceritanya bagus sekali saya bacanya marathon. dan saya ulang terus karena nggak ngebosenin
Nuna Bae: Terimakasih ya 😍🙏
total 1 replies
Heriyani Lawi
maaf ga jd baca, novelmu mengandung sara thor
Nuna Bae: terimakasih ya 😍🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!