NovelToon NovelToon
Lingerie Merah Dikamar Adikku

Lingerie Merah Dikamar Adikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.

Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????

Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.

Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Fauzan kembali masuk, Bu Sarah menegurnya. "Loh, katanya mau jengukin keponakanmu?"

"Bentar, Bu... Maya telfon," katanya sambil menyeret tombol hijau itu. Fauzan kini berjalan keluar kembali.

"Fauzan, gimana kabarnya Tante Sarah?" suara Maya tersirat rasa cemas.

Fauzan berhenti di ujung teras dekat taman. Wajah pria itu datar, senyumnya bahkan nyaris hilang. "Alhamdulillah udah sadar dan membaik kok. Gimana tesnya?"

"Aku tunda dulu, Zan! Aku ini baru saja sampai Bandara Jogja. O ya, kamu bisa jemput? Kalau nggak ya, biar aku naik grab aja," Maya sadar jika Fauzan hanya sendirian di rumah sakit.

Fauzan sejujurnya tak tega. Tapi entah mengapa perasaanya ingin sekali melihat keadaan Kakak Iparnya~Alena.

"Maya maafin aku, ya... Aku belum bisa jemput kamu karena aku lagi di perjalanan mau jenguk keponakan aku. Kamu langsung dateng aja ke rumah sakit," ucap Fauzan dengan hati-hati.

Di sebrang, Maya mencoba mengerti. "Ya udah, nggak papa! Aku langsung ke sana aja."

Begitu panggilan terputus, Fauzan kembali masuk ke dalam ruangan Ibunya. Bu Sarah sedang berada di kamar mandi.

"Bik, titip Ibu bentar ya! Saya mau keluar dulu," pamitnya pada sang Pelayan.

Wanita bernama Bik Surti itu mengangguk. "Baik, Den! Hati-hati ya...."

*

Sementara di Bendara, sambil menunggu grab datang. Maya duduk sambil membuka cake di dalam kardus itu. Padahal, niat kedatanganya selain menjenguk Bu Sarah, Maya juga ingin merayakan aniversary hubunganya dengan Fauzan yang sudah 2 tahun itu.

Meskipun hubungan keduanya selayaknya teman biasa, dan tak ada hal-hal romantis di dalamnya, namun Maya cukup bahagia dengan sikap lembut Fauzan selama ini.

Senyum tulus berselimut luka itu mengembang. Maya tatap dalam-dalam cake tadi yang bertuliskan 'Happy Aniversary ke 2 th' itu.

"Semoga setelah dua tahun ini, Fauzan dapat menerima perasaanku seutuhnya," ucap Maya penuh harapan besar.

Mobil grab Maya sudah tiba. Ia rasa, karena memang sudah kenal cukup dekat dengan keluarga Kakak kekasihnya, jadi Maya memilih menyusul Fauzan ke rumah Alena saja. Mungkin sekalian ia ingin melihat bayi calon Kakak Iparnya itu.

"Sekalian aja deh. Aku juga udah lama nggak ketemu Alena. Sekalian silaturahmi," Maya sengaja tidak mengabari kekasihnya itu.

Sementara di kediaman Juragan Dewantara, Hasbi baru saja selesai menyerahkan sertifikat yang sudah balik nama tadi. Sekalian, Alena juga menyelesaikan pembayarannya dengan bertanda tangan.

"Oh ya, Mbak... Saya hampir lupa," Hasbi menepuk dahinya sendiri. Buah tangan yang seharusnya ia berikan pada Bu Sarah, kini ia ambil dari jok motor dan di berikan kepada Alena.

Alena agak menyipitkan mata. "Ini buat Mbak Alena. Nggak papa, dimakan saja ya Mbak!" Ujar Hasbi.

"Terimakasih ya, Mas Hasbi...." Alena cukup menghargai pemberian itu.

Hasbi sudah bangkit sambil menggedong ranselnya kembali. Namun pria itu belum juga bergerak. Wajahnya agak ragu ingin sekedar menanyakan bagaimana keadaan putra Alena. Bahkan, hanya melihat wajah tampan itu Alena sudah ingin tertawa.

"Ada apa lagi, Mas Hasbi?"

Hasbi kembali tersenyum kuda, "Hehe... Nggak, Mbak! Ya udah saya balik dulu ya," pamitnya.

Baru saja akan berbalik, baik Hasbi dan Alena - mereka di kejutkan dengan langkah kaki seseorang yang tampak tergesa, dan kini mengendurkan langkahnya tiba di ambang pintu.

"Mas Fauzan?" Alena cukup terkejut melihat Adik Iparnya itu.

Sementara Hasbi, ia memalingkan wajah sekilas dengan tatapan malas. "Om ini... Lagi! Anda kenapa sih ngintilin saya terus?!"

Fauzan sudah menajamkan matanya. "Panggil Om lagi saya remes mulut lemes kamu itu!"

"Dih, Om ini nggak terima, Mbak Alena. Kan emang Om-Om ya?" sindirnya sambil menatap Alena sekilas.

Fauzan sudah menggeram. Tapi Alena malah tertawa. "Tapi emang iya sih, haha... Delan kalau panggil emang Om!"

"Alena ayolah plisss! Kok kamu malah belain bocah ingusan ini sih?" Fauzan kini mendekat ke arah Kakak Iprnya sangat dekat. Bahkan, Alena yang tertawa reflek mundurkan langkahnya.

"Eh, eh, eh... Nggak sopan banget, ada saya malah deketin Mbak Alena! Saya ini orang loh, Mas?" Hasbi menarik lengan Fauzan.

"Eh, anakan curut... Lebih baik kamu cepetan pergi dari sini! Kamu mau pulang kan sejak tadi?!" Fauzan bersedekap dada di hadapan Hasbi.

Hasbi tampak ngedumal, "Orang yang punya rumah aja nggak ngusir, ini malah-"

"Malah apa?" Sahut Fauzan menaikan wajahnya. "Kamu mau saya adukan sama atasan kamu, kalau Pegawai satunya ini sering sekali ngegodain customernya. Biar nanti kamu di kasih SP!"

"Apaan sih, udah main ancem-anceman segala. Nggak solid. Dah, Mbak Alena... Saya permisi, mari...." suara Hasbi dibuat selembut mungkin.

Alena hanya mengangguk, karena sejak tadi tak henti-hentinya tertawa.

"Bahagia banget di datengin dia," wajah Fauzan menekuk, lalu duduk di atas sofa begitu saja.

Alena juga ikut duduk. Napasnya mulai teratur. Tawanya berangsur reda. "Tapi lucu loh, Mas Hasbi nya."

Sejenak, suasana menjadi hening. Alena rasa, ada sesuatu yang aneh dengan Fauzan. Namun, ia mencoba mengenyahkan itu semua. Meskipun sebelumnya keduanya sudah cukup berteman baik, tapi bagi Alena, sifat Fauzan tetap sama. Selalu perhatian dan hangat.

"Jangan suka ceroboh, Alena!"

Masih ingat betul kala Fauzan mengobati kaki Alena di saat gadis cantik itu terkena siraman air panas.

Sambil menahan perih, Alena cukup tertawa. "Namanya juga nggak sengaja, Dok! Saya juga nggak mau sih setiap harinya apel ke klinik ini. Pasti kalau pulang nanti di bawakan obat," gerutunya.

Fauzan yang masih bersimpuh, mengangkat wajahnya tampak tersenyum tipis kala mendegarkan Alena bercerita. Karena kebetulan klinik yang Fauzan tempati ada di sebelah toko roti tempat Alena bekerja. Jadi, selama di Semarang itu, Fauzan cukup kenal dengan baik.

"Kenapa sejak dulu wajah kamu nggak pernah berubah Alena? Saat kamu cerita juga. Semuanya masih sama," batin Fauzan menundukan kepalanya.

Namun setelah itu ia menolah ke arah nakas di sampingnya. Mata Fauzan menyipit, tanganya menyapu kartu nama tadi.

"Danu Albiru?"

Alena sudah kembali membawakan segelas air hangat untuk Fauzan. "Dia menawarkan simbiosis mutualisme kepada saya, Mas," jawab Alena setelah duduk.

Fauzan semakin mengerutkan dahinya. Ia kini bahkan berpindah duduk di dekat bangku Alena. "Maksud kamu?"

"Tadi pagi Pak Danu datang ke Pabrik. Dia menawarkan pernikahan kontrak. Jika saya bersedi, semua masalah dana saham dan sertifikat Pabrik akan dia kembalikan. Tapi saya rasa... Semua itu demi masa depan Delan juga sih," jelas Alena. Tatapanya seolah di paksa kuat.

Deg!

Fauzan menggelengkan kepala cepat. "Nggak, Len! Saya nggak setuju! Jika hanya karena masa depan Delan, lebih baik saya sendiri yang menikahi kamu! Saya yang akan melunasi semua hutang-hutam Mas Dewan!"

Alena syok mendengar itu. Wajahnya menegak. Tak menyangka Fauzan akan berkata senekad itu.

"Mas Fauzan, kamu bicara apa? Nggak! saya nggak mau di katain orang dengan pernikahan itu. Saya nggak mungkin bisa terima itu semua. Mas Fauzan adik Ipar saya. Dan saya nggak mau membalas ke busukan mereka dengan permintaan Mas Fauzan tadi. Mas, kamu sudah punya Maya! Sadar!" Alena berusaha menyadarkan Iparnya.

Deg!

Deg!

Brug!

Kotak cake itu terjatuh di depan pintu. Maya membekap mulutnya kuat-kuat, air matanya perlahan luruh terasa sesak.

1
Soraya
lanjut thor
Machmudah
Ayo Danu....maju terus jgn kasih kendor...💪💪💪
Dew666
💟💟💟💟
nunik rahyuni
cepat urus perceraian nya lena ..rasa muak aq sama dewan ...g tau diri tebal muka...dulu pas ngeloni gundik ja terbang melayang g ingat anak bini duit milyaran raib di slangkangan gundik...dan skrg g mau nglepas lena..maunya apa sih...rasa mau ta tabok pke kawat beduri beracun...kok kya sok cakep aja😡😡
Ariany Sudjana
Dewantara aja ga tahu diri, sudah menikah siri dengan pelacur murahan kok masih kepo sama Alena? sudah urus saja pelacur murahan kesayangan kamu itu Dewantara 😂😂🤣🤣
nunik rahyuni
thor hilang g ada kabar🤔🤔🤔🤔
nunik rahyuni
emang bener kan apel istri orang...kan
nunik rahyuni
nama nya sering tetukar thor..dewan kan bspaknya
tinie
hihiii Hasbi
emang mulutnya lemes banget
nunik rahyuni
lanjuuuut jut jut juuuut
nunik rahyuni
seru ni klo lena sama daru...ly tikus dan kucing jd rame
Soraya
lanjut
tinie
jika kamu sudah menikahi Tiyas
maka kamu harus melepaskan alena
Marko Taik
lagi seru ni Thor lanjuttt thorrt
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Ig:@septi.sari21: macihhh akak😍😍
total 1 replies
Kusmini Kusmini
Iiih bkin greget crita nya,lnjut trus 👍
Ig:@septi.sari21: stay tune akak😍✋
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭
Ig:@septi.sari21: kak dew macihhh😍😍
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
tinie
semangaatt Lena


aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
tinie
ooh ayolah Zan kamu fokuskan sama kekasihmu
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!