NovelToon NovelToon
Takdir Yang Dipaksakan Cinta Yang Ditemukan

Takdir Yang Dipaksakan Cinta Yang Ditemukan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Misteri
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: noel_piss

Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.

Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.

Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

##Selamat membaca kawan²🤗

Pagi itu, langit kota tampak cerah. Suara kendaraan dan tawa mahasiswa terdengar dari kejauhan, tetapi di salah satu sudut kampus, Alya duduk di bangku taman, memeriksa catatannya sambil menunggu Arka. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu, hari ini bukan sekadar hari biasa Arka ingin membicarakan sesuatu penting.

Tidak lama, Arka muncul dari arah lorong gedung fakultas, langkahnya tenang namun pasti. Matanya langsung mencari Alya, dan begitu bertemu, ada sedikit senyum yang membuat Alya merasa hangat meski hatinya masih ragu.

“Alya, maaf membuatmu menunggu. Hari ini aku ingin kita bicara sedikit lebih serius,” kata Arka sambil duduk di sebelahnya.

Alya mengangguk, menelan ludah. “Tidak apa-apa, Pak. Aku siap mendengar.”

Arka menatapnya, dan sejenak keduanya hanya diam, menikmati udara sore yang hangat. Daun-daun berguguran perlahan, diterpa angin lembut yang membawa aroma bunga dari taman kecil di dekat mereka.

“Alya… aku tahu ini semua dimulai karena perjodohan. Aku tahu kau merasa terpaksa, dan itu wajar. Aku sendiri… awalnya juga merasa canggung. Tapi aku ingin kau tahu satu hal: aku ingin kau merasa nyaman dan dihargai, bukan hanya karena kewajiban,” kata Arka dengan suara rendah tapi mantap.

Alya menunduk sebentar, menahan perasaan campur aduk. “Pak… aku juga ingin mencoba. Aku ingin menghargai keadaan ini, meski awalnya terasa dipaksakan. Aku ingin belajar memahami Bapak, seperti Bapak juga mencoba memahami aku,” jawabnya pelan.

Arka tersenyum tipis, matanya menatap Alya penuh perhatian. “Aku senang mendengar itu. Perjalanan kita memang panjang, Alya. Tidak ada yang instan, tapi aku percaya dengan saling pengertian, kita bisa melangkah perlahan namun pasti.”

Sejenak, mereka hanya duduk di bangku taman, menikmati suasana sekitar. Suara mahasiswa yang lewat, tawa anak-anak di dekat lapangan, dan kicau burung yang terdengar dari pohon membuat suasana terasa damai. Alya mulai merasa lega. Meski hati kecilnya masih ragu, ada sedikit rasa nyaman yang mulai tumbuh.

“Pak… boleh aku jujur?” tanya Alya tiba-tiba, suaranya gemetar.

“Tentu, Alya. Apa pun yang kau rasakan, katakan padaku,” jawab Arka lembut.

“Aku… aku takut. Aku takut kalau perasaan ini hanya muncul karena Bapak selalu perhatian, bukan karena aku benar-benar menyukai Bapak. Aku takut jatuh cinta hanya karena situasi ini memaksa,” ucap Alya, matanya menatap jauh ke jalan setapak di depan mereka.

Arka menghela napas, menatap Alya dengan serius. “Aku mengerti. Aku juga takut membuatmu merasa terpaksa. Tapi yang bisa kita lakukan adalah… melangkah perlahan, tanpa terburu-buru, saling jujur, dan saling menghargai. Aku tidak ingin kau merasa tertekan, Alya. Setiap perhatian yang aku tunjukkan… bukan untuk memaksamu, tapi karena aku ingin kau merasa aman dan dihargai.”

Alya menunduk sejenak, lalu menatapnya kembali. Ada ketulusan yang sulit dibantah. “Aku… aku ingin mencoba, Pak. Aku ingin belajar menghargai dan memahami Bapak, perlahan.”

Hari itu, mereka menghabiskan waktu lebih lama di taman, berbicara tentang hal-hal sederhana: kuliah, teman-teman, buku favorit, dan hal-hal kecil yang membuat mereka tersenyum. Perlahan, Alya menyadari bahwa Arka bukan hanya dosen yang tegas, tapi juga sosok yang perhatian, manusiawi, dan hangat.

###

Beberapa hari kemudian, orang tua Arka mengundang Alya untuk makan siang di rumah mereka. Saat Alya memasuki rumah, aroma masakan yang hangat dan suara tawa keluarga Arka menyambutnya. Ibu Arka tersenyum ramah.

“Alya, senang kau datang. Semoga kau merasa nyaman di sini,” kata ibu Arka sambil menuntunnya ke meja makan.

“Terima kasih, Bu. Saya merasa diterima,” jawab Alya sopan, hatinya mulai lega.

Bapak Arka menambahkan, “Kami tahu hubungan ini tidak mudah, tapi yang penting adalah kalian saling menghargai dan memahami satu sama lain. Jangan terburu-buru, biarkan semuanya berjalan alami.”

Makan siang berlangsung hangat. Percakapan mengalir ringan, dari cerita masa kecil Arka, makanan favorit Alya, hingga hal-hal lucu yang terjadi di kampus. Alya merasa nyaman bukan karena diwajibkan, tapi karena kehangatan keluarga Arka membuatnya rileks dan aman.

Setelah makan, mereka duduk di ruang tamu. Arka menatap Alya dengan lembut.

“Alya, aku ingin kau tahu… aku tidak ingin kau merasa dipaksa. Aku ingin setiap langkah kita diambil dengan kesadaran dan pengertian. Aku ingin kau merasa aman dan dihargai.”

Alya tersenyum tipis, hatinya berdebar. “Pak… aku merasa lebih tenang sekarang. Aku ingin mencoba, benar-benar mencoba memahami dan menerima Bapak.”

Hari demi hari, kedekatan mereka semakin nyata. Arka mulai menanyakan kabar Alya lebih sering, menawarkan bantuan dengan tugasnya, dan sesekali tersenyum tipis saat Alya tersenyum. Hatinya yang awalnya ragu, perlahan mulai menerima bahwa meski hubungan ini dimulai dari perjodohan, ada perhatian dan rasa tulus yang tumbuh.

Malam itu, sebelum Alya pulang, Arka mengantar hingga depan pintu rumahnya. Angin malam berhembus lembut, daun-daun bergoyang pelan.

“Alya, aku ingin kita melangkah perlahan tapi pasti. Aku ingin setiap perhatian yang aku tunjukkan bukan karena kewajiban, tapi karena aku tulus,” kata Arka.

“Aku… aku mengerti, Pak. Aku juga ingin mencoba melangkah perlahan, dan aku mulai merasa nyaman,” jawab Alya.

Di rumah, Alya duduk di kamarnya, merenung. Ia menyadari bahwa perjodohan yang awalnya terasa memaksa perlahan menjadi kesempatan untuk memahami dan menghargai satu sama lain. Hatinya mulai terbuka, meski ia tahu jalan mereka masih panjang dan penuh tantangan.

Dan Arka, menatap langit malam dari balkon rumahnya, tersenyum pelan. Ia sadar perjalanan ini belum selesai. Tapi setiap langkah kecil yang mereka lalui percakapan hangat, perhatian diam-diam, dan pengertian membuatnya yakin bahwa hubungan ini bisa berkembang menjadi tulus, meski awalnya dimulai dari perjodohan.

1
Forta Wahyuni
sdh mnikah koq tdk satu rmh
noel_piss: mohon d baca dari awal kak🙏kalau dari alurnya belum menikah kak🙏
semoga kk suka sama alur ceritanya ya☺️♥️
total 1 replies
Agnes💅
semangat kak ayok aku selalu nungguin kk up 😄
noel_piss: iya kak, sekarang belum bisa up lg kak soalnya lagi sakit🙏 nanti kalau udah sembuh ak langsung up banyak♥️
total 1 replies
Agnes💅
lanjut kak bgus cerita nya suka🙏
noel_piss: syukurlah kalau kakak sukaa😍semoga teman-teman yang lain suka juga sama cerita perdana ak yang ini kak 😭
total 1 replies
Agnes💅
maaf kak sedikit saran, penulis nya udah menarik udah rapi tapi kurang rapi kayak novel novel yang lain nya, kalo bisa di kasi rapi lagi kak

maaf lancang🙏🙏🙏
noel_piss: makasih banyak kak sarannya 🙏 sangat membantu banget saran dari kakak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!