NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Vigilante, Dokter Alvian Wira

Setelah berita penangkapan Bram disiarkan diberita TV lokal, siang harinya Pak Dimas ditemani oleh dua rekannya, ditambah dengan Clarissa pergi mengunjunginya di kantor polisi.

Saat itu Bram masih ditempatkan di ruang interogasi setelah melakukan sesi tanya jawab dengan petugas kepolisian. Dia duduk dengan tangan terborgol, sementara pakaiannya sudah berganti dengan baju tahanan.

"Ini hasil yang kami dapatkan. Mulutnya sangat keras, tidak bicara apapun tentang obat palsu." Kapten polisi keluar sambil menjepit keningnya. Meletakkan catatan, bicara kepada Pak Dimas dan beberapa orang di sekitarnya.

Pak Dimas melihat catatan hasil interogasi tersebut. Semua pertanyaan dijawab kecuali yang berhubungan dengan obat palsu.

"Kami ingin bertemu dengannya," ucap Clarissa.

Kepala polisi sejenak menatap ke ruang interogasi melalui kaca satu arah yang ada di samping pintu.

"Maksimal hanya dua orang yang masuk."

Mendengar ini akhirnya Clarissa dan Pak Dimas masuk menemui Bram.

Tampak tatapan pria itu terlihat cukup mengerikan saat memandang bergantian Clarissa dan Pak Dimas.

Keduanya duduk. Cukup lama diam sebelum Clarissa angkat bicara. "Kami berharap kamu bersedia bekerja sama. Ini juga demi kebaikanmu sendiri. Kamu bahkan bisa mendapatkan hukuman yang lebih ringan."

"..."

Tidak ada suara dari Bram. Pria kurus itu mengubah posisi duduknya, mencondongkan kepala ke depan sambil memangku dagu dengan tangan.

Ekspresi provokatif ditunjukkannya membuat Clarissa tidak nyaman.

Pak Dimas menggebrak meja. "Kau tahu yang kau lakukan itu membahayakan banyak orang? Katakan dari mana kau dapatkan obatnya. Katakan siapa yang berada di balik semua ini!!"

Bram mencibir. "Tidak ada siapa-siapa di belakang. Aku yang buat obatnya. Aku yang jual. Lalu kau mau apa? Persetan dengan orang-orang itu, yang penting aku dapat uang."

Tangan Clarissa terkepal menahan marah. Sama seperti yang dikatakan kepala polisi, mulut pria itu benar-benar keras seperti batu.

Pak Dimas dan Clarissa berada di dalam ruang interogasi sekitar setengah jam. Tapi keduanya tidak mendapatkan apapun dari mulut Bram. Pria itu memilih mengakui semuanya tindakan sendiri dibanding harus menyebut satu nama di belakang meski tahu hukuman yang diterimanya akan lebih berat.

Pintu ruang interogasi terbuka. Clarissa dan Pak Dimas keluar dengan frustrasi.

"Sepertinya memang harus gunakan cara lain untuk memancing ikan besar keluar dari persembunyiannya." Pak Dimas mengeluarkan ponsel, mengirim pesan pada seorang rekannya.

Pada waktu yang sama dua petugas BPOM yang menunggu di luar tadi memberikan catatan hasil penyelidikan yang dikumpulkan oleh kepolisian mengenai proses penangkapan Bram di gudang terbengkalai.

Clarissa juga melihatnya, dan fokusnya tertuju pada keterangan "luka aneh, parah tetapi tidak fatal. Kemungkinan pelaku adalah dokter bedah atau seseorang yang pernah kuliah kedokteran."

Dokter bedah?

Clarissa dan Pak Dimas saling berpandangan. Namun mereka juga tidak mungkin menebak siapa pelaku tersebut karena di jakarta ada ribuan dokter bedah yang terdaftar.

Kecuali memiliki petunjuk, mencari tahu tentang vigilante itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

---

Klinik Aditya Medika.

Alvian benar-benar bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Dia masih bisa membuka kliniknya tepat jam delapan, melayani belasan pasien hingga bergosip dengan ibu-ibu PKK yang kali ini datang entah tujuannya apa.

"Dok, Kang Ujang lewat. Katanya tadi tunggu bakso Kang Ujang."

Alvian menoleh ke arah Mbak Sati yang berdiri di depan pintu. "Tolong beliin, Mbak. Dua porsi jadi satu. Cacing-cacing diperut sudah keroncongan."

"Oke, siap!"

Saat Mbak Sari masih beli bakso, mobil Clarissa berhenti tepat di belakang gerobak Kang Ujang. Dia turun dan menghampiri Mbak Sari. "Alvian di mana, Mbak?"

"Eh! Dok Clara. Dokter di dalam, Dok. Ini saya belikan bakso untuk Dokter. Dok Clara mau sekalian."

"Makasih Mbak, saya sudah makan siang. Ke sini hanya mampir."

Setelah itu Clarissa langsung masuk ke klinik dan menemukan Alvian di meja resepsionis. Tentu saja, seperti biasanya, Alvian sangat antusias ketika melihat sang istri datang.

"Perasaan belakangan ini kamu jadi sering datang. Apa hari ini juga hanya untuk mengecek AC?"

Meskipun tidak memiliki maksud lain, tetapi entah kenapa Clarissa merasa seperti sedang diolok-olok oleh Alvian. Karena terakhir kali dia mengaku datang hanya untuk mengecek AC, sekarang alasan itu malah digunakan saat menyambut dirinya.

Clarissa menarik nafas dalam dan berjalan melewati Alvian.

"Baru kembali dari kantor polisi. Kebetulan satu jalur, jadi mampir sekalian," ucap Clarissa.

Alvian manggut-manggut sambil berjalan ke belakang, mengambil air mineral.

"Jadi bagaimana hasilnya? Apa Bram mengatakan sesuatu?"

"Tidak. Dia ...." Clarissa tiba-tiba berhenti dan kedua alisnya menyatu. "Aku tidak bilang untuk apa aku ke kantor polisi. Bagaimana kamu tahu aku pergi untuk menemui Bram?"

Alvian tertegun sejenak. "Bukankah tadi pagi beritanya tayang di TV? Kamu bilang dari kantor polisi, jika bukan tentang pria itu, apakah ada urusan lain?"

"..."

Masuk akal. Clarissa hampir lupa jika tadi pagi saat menyalakan TV masih ada Alvian di sampingnya. Tentu saja berita itu Alvian juga melihatnya.

"Dok, ini baksonya. Dua porsi jadi satu, tanpa seledri."

"Wah! Ini baru mantap." Alvian menjilat bibir. "Istri mau bakso juga?"

"Tidak. Aku sudah makan siang. Kamu makan saja."

"Oke."

Alvian tanpa sungkan mulai menyantap bakso di hadapan Clarissa yang hanya duduk memandangnya. Cukup lama tanpa melakukan apapun. Kemudian, tiba-tiba mengeluarkan ponsel, menunjukkan foto Bram yang ia dapatkan dari kepala polisi.

"Bagaimana menurutmu? Luka-luka ini, bukankah dibuat terlalu sempurna? Terutama di bagian leher, sedikit saja meleset pasti sudah mengambil nyawanya."

Alvian berhenti makan sejenak, menatap foto, mengangguk sekali sebelum lanjut menyeruput mie bihun.

Ekspresinya tidak berubah sedikitpun. Sangat tenang. Bahkan terlalu tenang hingga membuat Clarissa berpikir Alvian sedang menyembunyikan sesuatu.

"Mungkinkah... Dia... "

Clarissa memejamkan mata, kemudian menggelengkan kepala kuat menepis pikiran konyol di kepalanya.

Tidak mungkin. Tidak mungkin sosok vigilante adalah suami KTP-nya, Alvian.

"..."

___

Pada saat yang sama, di sebuah apartemen di daerah SCBD.

"Bagaimana? Siapa pelaku yang sudah menangkap Bram? Di mana hasil penyelidiknya?" Pria berusia tujuh puluh tahun, mengenakan topi koboi, duduk di sofa sambil meletakkan kakinya di atas tangan bawahannya yang sedang berlutut.

Dia menyesap perlahan cerutu di tangannya, melepaskan asap putih ke wajah bawahan tersebut.

"Ngomong! Jangan diam saja. Apa kau bisu?!"

Pria bertubuh kekar yang berusia lebih muda itu berusaha mengatur ekspresinya. Berkata, "Pelakuknya... Sampai saat ini belum ada petunjuk, Tuan Keempat."

Kriak!

Akh!!!

Suara jeritan lolos dari mulut pria kekar itu saat tangannya hancur diinjak lebih kuat. Meski begitu dia tidak berani menarik tangannya, dan masih mempertahankan sikap berlututnya di tempat.

"Kau tahu, yang paling kubenci adalah anak buah yang tidak becus. Aku sudah memberimu kesempatan sekali saat kau gagal menemukan keberadaan Hades tiga tahun lalu. Sekarang, jangan bilang kau juga tidak bisa menemukan orang yang sudah mempermalukanku?"

Pria kekar itu berkeringat dingin. Dengan gugup berkata, "Tuan Keempat. Kali ini, aku tidak akan gagal. Secepatnya pasti temukan orang yang sudah menculik dan menyiksa Bram."

Pria tua yang juga disebut Tuan Keempat melambaikan tangan. Bawahannya langsung pergi, tapi tak lama bawahan lain datang dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

Cukup lama pria tua itu diam sebelum mengangguk beberapa kali. "Ya. Untuk sementara kita akan menarik diri. Kasus obat palsu sudah terlalu banyak menarik perhatian. Waktunya beristirahat."

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!