NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.

"Aku tetap tidak mau!" teriakku, suaraku parau karena tangis yang mulai pecah. "Kalian tidak bisa membeliku seperti barang! Aku bukan jaminan utang! Aku manusia!"

Erlan Grisham tidak berkedip. Dia hanya menatapku datar, seolah teriakanku hanyalah suara bising lalat yang mengganggu. Dia mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat kecil kepada dua pria di belakangku.

"Sayang sekali," gumam Erlan dingin. "Padahal kamar di atas jauh lebih hangat daripada lantai beton di sini. Bawa dia masuk."

"Lepaskan! Lepas!"

Aku meronta, menendang, dan mencoba mencakar tangan-tangan kekar yang mencengkeram lenganku. Namun, kekuatanku tidak ada apa-apanya. Mereka menyeretku kasar menuju sebuah sel di sudut ruangan yang paling gelap. Bau besi berkarat dan udara lembap langsung menyergap indra penciumanku.

BRAKK!

Tubuhku terjerembap ke lantai yang sangat dingin saat mereka mendorongku masuk. Suara besi yang beradu—KLANG!—menandakan pintu sel itu telah dikunci rapat. Aku segera bangkit dan mencengkeram terali besi yang dingin.

"Keluarkan aku! Tuan Erlan, tolong! Ini melanggar hukum!" teriakku histeris.

Erlan berjalan perlahan mendekati selku. Dia berdiri tepat di depan terali, menatapku dari balik kacamata hitamnya yang gelap.

"Hukum?" Erlan mendengus remeh. "Di sini, akulah hukumnya, Lily. Kau bicara soal keadilan? Keadilan adalah saat seseorang membayar apa yang mereka pinjam. Ayahmu meminjam nyawa dariku, dan sekarang aku menagihnya."

"Tapi kenapa harus menikah dengan putramu?" tanyaku sambil terisak. "Kenapa kalian begitu terobsesi menjadikanku bagian dari keluarga iblis ini?"

Erlan mencondongkan wajahnya ke arah terali. "Putraku, Darrel... dia butuh sesuatu yang bisa menjadikannya pemimpin yang sempurna. Dia butuh kelemahan yang bisa dia kuasai sebelum musuh-musuhnya yang menguasainya. Dan kau... kau adalah alat yang sempurna untuk itu."

"Aku bukan alat!"

"Untuk saat ini, kau hanyalah sampah di dalam sel," potongnya tajam. "Nikmati malammu di sini. Suhu di ruang bawah tanah ini bisa mencapai sepuluh derajat saat tengah malam. Tanpa selimut, tanpa bantal. Hanya kau dan penyesalanmu."

"Tunggu! Jangan pergi!" aku berteriak saat dia mulai membalikkan badan.

Erlan berhenti sejenak, tanpa menoleh. "Aku akan kembali besok pagi. Jika saat itu kau masih keras kepala, aku akan mengirim anak buahku ke toko bunga itu. Siapa namanya? Elsa? Mungkin dia akan lebih kooperatif saat melihat tokonya rata dengan tanah... atau saat dia melihatmu sudah menjadi mayat."

"Jangan sakiti Bibi Elsa! Dia tidak tahu apa-apa!"

"Maka buatlah keputusan yang benar, Lily," ucapnya dingin sebelum langkah kakinya menjauh, meninggalkan gema yang mengerikan di ruangan sunyi itu.

Lampu gantung di luar sel dipadamkan satu per satu, meninggalkanku dalam kegelapan total. Aku merosot ke lantai, memeluk lututku sendiri. Lantai beton ini terasa seperti es yang mulai menusuk kulitku. Aku menggigil hebat, suara isak tangisku menjadi satu-satunya bunyi di penjara bawah tanah yang menyeramkan ini.

Ayah... apa yang sebenarnya Ayah lakukan? Kenapa kau meninggalkan beban seberat ini untukku?

***

Gelap. Duniaku saat ini hanya berisi kegelapan yang pekat dan udara yang semakin tipis. Kepalaku terasa berat, berdenyut-denyut seperti dihantam godam. Rasa takut yang luar biasa membuat napas dan detak jantungku tidak beraturan. Aku meringkuk di pojok sel, berusaha mencari sedikit kehangatan dari tubuhku sendiri.

"Tolong... siapa pun..." bisikku parau, tapi hanya gema suaraku yang menyahut.

Kelelahan fisik dan mental akhirnya menarikku ke dalam tidur yang tidak nyenyak.

 Aku tidak tahu sudah berapa jam aku terlelap di atas lantai beton yang keras itu, sampai sebuah suara merobek keheningan.

"ARRGGHHH! CUKUP! KUMOHON CUKUP!"

Aku tersentak bangun. Jantungku mencuat ke tenggorokan. Suara jeritan itu begitu dekat, begitu nyata. Aku membuka mata dan segera menutup mulutku agar tidak berteriak. Ruangan itu kini remang-remang, diterangi lampu kuning yang berkedip di luar sel.

Aku menoleh ke arah sel di sebelahku yang sebelumnya kosong. Di sana, seorang pria tergantung dengan rantai di pergelangan tangannya. Bajunya sudah robek-robek, memperlihatkan kulit yang tercabik-cabik. Cairan kental berwarna merah gelap menetes dari tubuhnya, membasahi lantai.

"Bun uh aku... kumohon... bun uh saja aku..." rintih pria itu. Suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan yang teramat dalam.

Dua orang pengawal bertubuh raksasa berdiri di depan pria itu. Salah satunya memegang cambuk kulit yang tebal dan panjang. Ia mengayunkan cambuk itu dengan santai, seolah-olah sedang memegang mainan.

"Tuan Erlan belum mengizinkanmu m*ti, bajingan," ucap pengawal itu dengan nada bosan. "Kau harus bicara dulu. Di mana kau sembunyikan kiriman senjata itu?"

"Aku tidak tahu... aku bersumpah..."

CETARRRR!

Suara cambuk yang membelah udara terdengar begitu nyaring. Ujung cambuk itu mendarat tepat di punggung pria itu, merobek sisa kulit yang ada.

"AGHHH!"

Aku gemetar hebat di pojok selku. Air mata mengalir deras tanpa suara. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh pria itu tersentak setiap kali cambuk itu mendarat. Bau amis darah yang menyengat kini memenuhi indra penciumanku, membuat perutku mual luar biasa.

"Berhenti! Kumohon hentikan!" teriakku tanpa sadar, suaraku pecah karena tangis.

Kedua pengawal itu menoleh serentak ke arahku. Salah satunya tersenyum menyeringai, sebuah pemandangan yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Oh, lihat ini. Gadis kecil pilihan Tuan Erlan sudah bangun," katanya sambil melangkah mendekati terali besiku. Ujung cambuknya yang berlumuran darah terseret di lantai beton. "Kenapa, Nona? Kau terganggu dengan suaranya?"

"Jangan... jangan lakukan itu lagi," bisikku sambil memeluk lutut, mencoba menjauh dari terali.

"Dunia ini tidak seindah toko bungamu, manis," pengawal itu mencondongkan wajahnya, aroma rokok dan keringat tercium tajam. "Jika kau tidak segera memutuskan untuk naik ke atas dan menjadi Nyonya Darrel, mungkin besok atau lusa, kau yang akan tergantung di sebelah sana. Dan percayalah, aku tidak akan segan meski kau punya wajah cantik."

Ia kemudian berbalik dan kembali mengayunkan cambuknya ke arah pria malang itu.

CETARRRR!

Setiap bunyi cambuk itu terasa seperti menghantam jiwaku sendiri. Aku menutup telinga rapat-rapat, memejamkan mata, dan meringkuk sekecil mungkin. Di tengah suara jeritan dan lecutan cambuk, aku menyadari satu hal yang mengerikan: Erlan Grisham tidak sedang menggertak. Tempat ini adalah neraka, dan aku sedang berada di depan pintunya.

**

Aku masih menutup telinga, berusaha meredam suara lecutan cambuk yang terasa seperti menyayat kulitku sendiri. Namun, suara langkah kaki yang berat dan berirama menghentikan segalanya. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, bahkan para pengawal yang tadi tertawa bengis kini berdiri tegak dengan kepala tertunduk.

Erlan Grisham datang. Dia tidak sendiri, puluhan pengawal berbaju hitam mengiringinya seperti pasukan maut.

Erlan berhenti sejenak di depan selku. Dia tidak bicara, hanya memberikan senyum tipis yang jauh lebih mengerikan daripada gertakan anak buahnya. Matanya seolah berkata, 'Lihat, inilah dunia yang akan kau hadapi.'

Tanpa kata, ia melangkah menuju pria yang tergantung itu. Seorang pengawal dengan sigap membawakan kursi kayu kokoh dan meletakkannya tepat di hadapan korban yang sudah sekarat. Erlan duduk dengan tenang, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya. Asap putih mengepul, menari-nari di bawah lampu remang penjara.

"Mari kita coba sekali lagi," suara Erlan terdengar tenang, namun dinginnya menusuk tulang. "Di mana senjata itu disembunyikan?"

"Sa-saya... benar-benar tidak tahu, Tuan..." pria itu merintih, darah menetes dari sudut bibirnya yang pecah.

Erlan menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan keheningan yang mencekam menyiksa mental pria itu selama beberapa detik. Tiba-tiba, ia bangkit dari duduknya. Tanpa peringatan, ia menempelkan ujung rokok yang masih membara tepat di dada pria itu.

"ARGGHHHHH!" jeritan itu memenuhi seluruh ruangan, membuatku tersentak hingga kepalaku terbentur dinding sel.

Erlan menekan rokok itu perlahan, mematikannya di atas kulit manusia seolah-olah pria itu hanyalah asbak. Bau kulit terbakar mulai tercium, membuat perutku mual luar biasa.

"Kau adalah kaki tangan kepercayaan Marthin Winston," desis Erlan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari pria itu. "Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Marthin menyabotase pengiriman senjata klan Grisham di pelabuhan. Bagiku, itu sama saja dengan dia mengibarkan bendera perang. Dan kau tahu apa yang kulakukan pada mereka yang mengajakku berperang?"

Aku mendekap mulutku, tubuhku bergetar hebat. Marthin Winston. Nama itu melintas di kepalaku seperti petir. Siapa yang tidak tahu nama itu? Winston dan Grisham adalah dua raksasa yang menguasai kota ini. Kabar burung mengatakan mereka dulu adalah saudara, rekan bisnis yang tak terpisahkan sebelum pengkhianatan besar memecah mereka menjadi dua kubu yang paling haus darah.

"Jawab!" bentak Erlan, suaranya menggelegar menghantam dinding beton. "Atau aku akan mengirim potongan tubuhmu satu per satu ke depan pintu rumah Marthin malam ini!"

"Tolong... Tuan Erlan..." pria itu terisak, sudah tidak berdaya.

Erlan berbalik, tatapannya kini jatuh padaku yang meringkuk di balik terali. Dia berjalan mendekat, membiarkan pria malang itu tergantung dalam kesakitan.

"Kau lihat itu, Lily?" tanyanya, suaranya kembali lembut namun beracun. "Dunia luar menganggapku pengusaha sukses, tapi di sini, aku adalah iblis. Jika kau menikah dengan Darrel, kau akan berada di bawah perlindunganku. Tidak akan ada satu pun orang seperti Winston yang berani menyentuh seujung rambutmu."

Ia mencengkeram besi selku, membuatku terlonjak. "Tapi jika kau tetap di sini... kau hanyalah saksi yang tidak berguna. Dan kau tahu kan apa yang dilakukan mafia pada saksi yang tidak berguna?"

"Kenapa harus aku?" tanyaku dengan suara yang nyaris hilang. "Kenapa bukan wanita lain untuk putra Anda?"

"Karena hanya kau yang memiliki 'darah' yang diinginkan klan ini, dan hanya kau yang bisa memastikan Darrel tetap di jalurnya," jawabnya misterius. "Pikirkan baik-baik, Lily. Suara cambuk itu akan terus berlanjut sepanjang malam sampai kau memberikan jawaban 'ya' padaku."

***

Bersambung...

1
Syarwiti Aulia
episode ny sdikit,,bttul Nungguin ny lma bnget
MissSHalalalal: baik, Author usahakan lebih banyak lagi. 🙏
total 1 replies
Mia Camelia
semangat thor😄👍
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
Tuti Handayani
bagus banget
MissSHalalalal: terimakasih kk🙏
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰🥰🥰
Mia Camelia
thor ceritaiin dong siapa ortu nya liliy???? kepoo nih thor🥰🥰🥰🥰
Mita Paramita
lagi Thor update 🔥🔥🔥
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Vanni Sr
semkiin kereen yaaaa , mungkin lily ank angkt org tua nya dlu py kuasa
Mia Camelia
darel kejam gak mau denger penjelasan lily😔
Nanik Arifin
mengertilah Lily, Darrel hanya ingin melindungimy. dr awal hanya itu yg ingin Darrel lakukan, tapi kamu aj yg keras kepala, pakai acr kabur segala. sepertinya Darrel ingin memutus generasi klan ini. sepak terjang klan ini tak sejalan dg rasa kemanusiaan Darrel yg begitu besar. nyata dia seorang dokter yg empati & jiwa menolongnya tinggi.
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mia Camelia
semangat thor, 🥰🥰🥰
Erna Tazmania
seru..semangat tor
Mita Paramita
lagi Thor update lagi 😘😘😘
seru banget ceritanya
Vanni Sr
kereeeen darrel mulai cmburuu
Mia Camelia
gak sabar mau ngliat pesta nya , mpe lily merasa tertekan😂
Mia Camelia
ceritaiin sedikit thor tentang kaka nya darel ky gimana ??? jdi penasaran😂
Mia Camelia
seru banget thor🥰, ayoo update lgi yg banyak☺😄
Mita Paramita
lagi Thor 🤣🤣🤣seru banget ceritanya
Mia Camelia
seru banget ini👍🥰😄
Fariza Imut: seru aku suka ceritanya
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut lagi double up 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!