CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM HUJAN DAN SELIMUT TIPIS
Hari mulai sore, awan hitam perlahan menutupi langit kota. Suasana yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita dalam sekejap. Angin bertiup kencang, menerpa pepohonan hingga berderit nyaring.
Di dalam rumah, Ayunda sedang berdiri di depan jendela besar, menatap langit dengan wajah cemas. Dia baru saja pulang dari main futsal tadi siang, tapi badannya terasa tidak enak. Kepalanya pusing, tenggorokannya gatal, dan tubuhnya terasa dingin sekali padahal cuaca tidak terlalu mendukung.
"Gila... gue kayaknya kena flu deh nih," gumamnya pelan sambil mengusap pelan pelipisnya. "Panas dingin gini rasanya."
Tiba-tiba...
TRRRR!!!
Petir menyambar sangat terang, diikuti oleh suara guntur yang sangat keras mengguncang bumi. Dan tidak lama kemudian, hujan pun turun. Bukan rintik-rintik, tapi turun dengan sangat deras, seolah langit sedang menangis tersedu-sedu. Air menghantam atap dan kaca jendela dengan suara yang sangat berisik.
Ayunda yang memang agak takut dengan suara guntur, langsung memejamkan mata dan menutup telinganya dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup kencang banget.
"Ya ampun... kenceng banget," bisiknya takut.
Dari arah ruang kerja, Giovanni keluar. Dia juga mendengar suara itu. Matanya langsung mencari sosok istrinya, dan saat melihat Ayunda yang terlihat gemetar sedikit di depan jendela, dia langsung berjalan mendekat dengan cepat.
"Kamu kenapa? Kaget ya?" tanya Gio lembut. Dia berdiri di samping Ayunda, menutupi sebagian pandangan ke luar jendela agar cewek itu tidak terlalu takut melihat kilatan petir.
"Enggak... enggak kaget kok," jawab Ayunda berbohong dengan suara yang sedikit bergetar. "Cuma... suaranya emang gede banget ya."
Gio tersenyum tipis, dia tahu istrinya sedang takut tapi gengsi mengaku. "Iya, badai kali ini kayaknya gede banget. Listrik bisa saja mati sewaktu-waktu."
Seperti persis dugaan Gio, baru saja kalimat itu selesai diucapkan...
MATI!
Tiba-tiba seluruh lampu di rumah itu padam total. Gelap gulita. Hanya cahaya kilat sesekali yang menerangi ruangan sejenak lalu hilang lagi.
"WAH!" Ayunda spontan memegang lengan Gio erat-erat, tubuhnya menempel ke badan cowok itu karena panik. "Gio! Gelap banget!"
"Udah udah, tenang. Aku disini," suara Gio terdengar tenang dan menenangkan. "Jangan lepasin tangan ya, aku cari senter dulu."
Dengan bantuan cahaya HP yang dinyalakan, Gio akhirnya menemukan senter besar dan menyalakannya. Cahaya kuning yang hangat menerangi ruangan, meski tidak secerah lampu listrik, tapi cukup untuk membuat suasana tidak terlalu menyeramkan.
"Tapi... dingin banget Gio," kata Ayunda pelan. Suaranya terdengar lemah.
Gio menoleh, lalu meraba pelan dahi Ayunda dengan punggung tangannya.
"Ya ampun! Panas banget!" seru Gio kaget. "Kamu demam! Ya maklumlah, tadi kan main futsal terus kena angin, terus hujan gini. Bodoh banget sih, gak jaga diri."
Meskipun memar, tapi tangan Gio langsung mengusap punggung Ayunda dengan lembut.
"Ayo ke kamar. Kita tidur, biar badan kamu hangat dan cepat sembuh."
Mereka berdua pun naik ke kamar tidur utama. Suasana di kamar juga dingin sekali karena AC yang masih menyisakan udara dingin, dan hujan di luar membuat suhu semakin turun.
Gio membantu Ayunda berbaring di kasur. Dia mengambil selimut tebal dan membungkus tubuh Ayunda sampai rapat.
"Tutup sampai leher ya. Jangan dibuka-buka," perintah Gio. Dia lalu duduk di tepi kasur, memandangi wajah istrinya yang terlihat pucat dan mengantuk.
"Lo... lo gak tidur Gio?" tanya Ayunda dengan mata setengah terpejam.
"Nanti dulu. Aku mau tungguin kamu tidur dulu. Lagian kan listrik mati, siapa tau butuh apa-apa," jawab Gio sambil mengelus rambut Ayunda pelan.
Tapi badai di luar semakin kencang. Angin menderu-deru, dan hujan semakin deras. Suhu di kamar makin lama makin dingin, menusuk tulang. Ayunda yang sedang demam menggigil kencang di bawah selimut. Tubuhnya bergetar hebat.
"Gio... d-dingin..." suaranya terdengar bergetar parah. Giginya bergemeretak.
Gio panik melihatnya. "Ya ampun, kenapa dingin banget gini. Selimutnya kurang tebal kali ya."
Dia mencoba mencari selimut lagi, tapi cadangan di lemari tipis semua. Situasi makin sulit karena Ayunda semakin menggigil, wajahnya pucat pasi.
Hati Gio tidak tega. Dia tidak mau istrinya sakit keterusan.
Tanpa pikir panjang, tanpa rasa gengsi, Gio langsung membuka selimut dan masuk ke dalamnya. Dia berbaring di samping Ayunda.
"G-Gio? Lo ngapain?" Ayunda terkejut, matanya terbuka lebar.
"Shhh... diam aja. Cara paling cepet buat bikin badan kamu hangat itu adalah dengan bertukar panas tubuh," bisik Gio di telinga Ayunda. Suaranya rendah dan serak di tengah kegelapan.
Lalu, dengan gerakan cepat tapi lembut, Gio langsung menarik tubuh Ayunda dan memeluknya sangat erat.
Wajah Ayunda langsung menempel di dada bidang Gio yang hangat. Kaki mereka saling bersentuhan. Hembusan napas Gio terasa hangat di atas kepala Ayunda.
"Nah... gini kan jadi hangat," gumam Gio puas. Dia melingkarkan satu kakinya di atas kaki Ayunda agar cewek itu tidak menggigil lagi. Tangannya yang besar mengusap punggung Ayunda dengan gerakan memutar, memberikan kehangatan yang luar biasa.
Ayunda sendiri saat ini merasa jantungnya mau copot. Detak jantungnya berpacu sangat cepat, bahkan lebih kencang dari suara hujan di luar sana. Wajahnya panas, entah karena demam atau karena malu dan deg-degan.
Tubuh Gio hangat sekali, sangat hangat dan menenangkan. Bau parfum maskulin bercampur dengan baju bersihnya membuat Ayunda merasa sangat aman dan nyaman. Rasa takut akan gelap dan guntur tadi hilang seketika.
"Gio..." panggil Ayunda pelan, suaranya hampir tak terdengar.
"Hm?"
"Lo... lo gak risih apa? Gue kan lagi sakit, badan juga pasti panas gini," tanya Ayunda lembut.
Gio mengeratkan pelukannya sedikit, menempelkan dagunya di puncak kepala Ayunda.
"Risih apanya. Kamu istri aku. Tugas aku kan nemenin kamu, jagain kamu. Lagian..." Gio berhenti sejenak, menarik napas panjang seolah mengumpulkan keberanian. "Aku juga suka rasanya. Rasanya punya kamu deket banget gini. Rasanya kamu milik aku sepenuhnya."
Ayunda tersenyum kecil di dalam kegelapan. Air mata haru hampir menetes.
"Makasih ya Gio..."
"Sama-sama, sayang."
Malam itu, di tengah badai yang mengamuk dan kegelapan yang mencekam, mereka berdua berbagi kehangatan. Tidak ada lagi kata 'kaku', tidak ada lagi kata 'badung'. Yang ada hanyalah dua insan yang saling menyayangi, saling membutuhkan, dan saling melengkapi.
Ayunda perlahan tertidur pulas di dalam pelukan hangat itu, merasa terlindungi sepenuhnya. Dan Gio pun ikut memejamkan mata, tersenyum damai sambil terus memeluk istrinya seolah tidak mau melepaskan bahkan untuk sedetik pun.
Malam hujan yang dingin, berubah menjadi malam yang paling hangat dan romantis bagi mereka berdua.