NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Keheningan Yang Membunuh

Malam itu, hujan yang mengguyur Jakarta telah berhenti, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan aroma tanah basah yang menyeruak masuk melalui jendela mansion yang terbuka sedikit.

Namun, bagi Kinara, udara di dalam kamar utama terasa jauh lebih dingin daripada badai di luar sana.

Ruangan yang biasanya menjadi tempat Arlan merengek manja atau memeluknya secara posesif, kini terasa hampa, sunyi, dan mati.

​Kinara berdiri di tengah ruangan dengan tubuh yang bergetar hebat.

Dokumen-dokumen yang tadi ia curi dari brankas Arlan kini berserakan di lantai marmer seperti serpihan bom yang baru saja meledakkan seluruh dunianya.

Ia baru saja mengetahui kebenaran yang mengerikan: bahwa monster yang sebenarnya bukanlah pria yang tidur di sampingnya selama ini, melainkan paman kandungnya sendiri.

Dan Arlan... Arlan adalah malaikat pelindung yang bersedia menanggung kebenciannya demi melindunginya dari kenyataan pahit itu.

​"Arlan..." bisik Kinara. Suaranya pecah, nyaris tidak terdengar.

​Di depannya, Arlan duduk di tepi ranjang besar mereka. Ia masih mengenakan kemeja yang kusut, namun matanya kosong.

Pria itu tidak sedang menatap Kinara; ia menatap lurus ke arah dinding kosong dengan pandangan yang sangat datar.

Tidak ada amarah yang meledak-ledak, tidak ada tangisan manja, bahkan tidak ada kilatan obsesi yang biasanya terpancar dari matanya.

​Arlan seolah-olah sudah menutup seluruh pintu hatinya dan mengunci dirinya sendiri di dalam sebuah ruang hampa di mana tidak ada lagi rasa sakit yang bisa menyentuhnya.

​Kinara melangkah maju.

Kakinya terasa begitu berat, seolah-olah setiap langkahnya tertahan oleh ribuan ton rasa bersalah.

Begitu sampai di depan Arlan, Kinara tidak sanggup lagi berdiri.

Ia menjatuhkan dirinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin di antara kedua kaki Arlan.

Dengan gerakan putus asa, ia melingkarkan lengannya di pinggang Arlan, memeluk pria itu dengan kekuatan penuh—seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Arlan akan menguap menjadi udara dan menghilang selamanya dari hidupnya.

​"Maaf... Maafkan aku, Arlan..." Kinara terisak, wajahnya tenggelam di dada Arlan yang biasanya terasa hangat namun kini terasa sedingin es.

"Aku bodoh... aku sudah dibutakan oleh benci.

Aku benar-benar wanita paling jahat di dunia ini..."

​Kinara meremas kemeja Arlan, menangis tersedu-sedu hingga bahunya berguncang hebat.

"Aku sudah mencoba menghancurkanmu... aku sudah mengirimkan data itu... aku ingin melihatmu hancur karena aku pikir kau yang membunuh Ayah. Ternyata selama ini kau yang menjagaku... kau yang menyelamatkan warisan Ayah... Maafkan aku, Arlan. Tolong maafkan aku..."

​Namun, Arlan tidak bergerak sama sekali.

Tangannya yang biasanya akan langsung mendekap Kinara dengan posesif, kini terkulai lemas di sisinya. Ia tidak membalas pelukan itu.

Ia bahkan tidak mengusap rambut Kinara yang basah oleh air mata. Keheningan Arlan terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan paling keras yang pernah Kinara dengar.

​"Arlan, bicaralah..." Kinara mendongak, menatap wajah suaminya. Air mata mengalir deras di pipi Kinara, membasahi wajahnya yang pucat.

"Pukul aku, Arlan. Marahi aku. Usir aku dari rumah ini jika kau mau... tapi tolong jangan diam seperti ini. Aku mohon, Arlan. Katakan sesuatu!"

​Hening.

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti suara palu yang menghantam jantung Kinara. Arlan tetap diam, matanya yang merah—mungkin karena terlalu lelah atau menahan tangis yang sudah kering—tetap menatap kosong ke depan.

​Kinara semakin panik.

Rasa takut kehilangan Arlan kini jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada Arlan sebelumnya..

Ia mengguncang bahu Arlan dengan putus asa, mencoba memancing reaksi apa pun dari pria itu.

​"Aku tahu aku salah! Aku sudah mencoba menghancurkan suamiku sendiri! Aku adalah pengkhianat di rumah ini!" Kinara berteriak di tengah tangisnya.

"Tapi tolong... lihat aku, Arlan. Katakan kau membenciku! Katakan kau ingin menceraikanku! Tapi tolong jangan biarkan aku sendirian dalam keheningan ini. Aku tidak sanggup!"

​Kinara menempelkan telinganya di dada Arlan, mencoba mencari detak jantung yang dulu selalu menenangkannya. Detak jantung itu masih ada, namun terasa begitu pelan dan teratur, seolah Arlan sudah menyerah pada segala emosi.

​"ARLAN!!!" Kinara akhirnya membentak, suaranya menggelegar dan bergema di dalam kamar yang sunyi itu. Ia mencengkeram kerah kemeja Arlan dengan kedua tangannya, memaksa pria itu untuk menatap matanya secara langsung.

"TOLONG JANGAN DIAM! BICARA, ARLAN! BICARA PADAKU!"

​Mata mereka akhirnya bertemu.

Namun, Kinara justru merasa dunianya runtuh saat melihat sorot mata itu. Tidak ada binar cinta, tidak ada kemanjaan, bahkan tidak ada dendam. Yang ada hanyalah sebuah ruang hampa yang sangat dalam.

​"Kau ingin aku bicara?" suara Arlan akhirnya keluar. Sangat rendah, sangat serak, dan benar-benar hampa.

​Kinara mengangguk cepat, penuh harap meskipun hatinya sesak.

"Iya... apa pun, Arlan. Tolong bicara padaku..."

​Arlan perlahan menarik napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah setiap udara yang masuk ke paru-parunya adalah beban.

Ia melepaskan tangan Kinara dari kerah bajunya dengan gerakan yang sangat lembut namun tegas—sebuah penolakan halus yang lebih tajam dari pisau.

Arlan berdiri, membuat pelukan Kinara terlepas, dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman.

​"Apa lagi yang harus dibicarakan, Kinara?" tanya Arlan pelan, membelakangi istrinya.

"Kau sudah melihat semua dokumen itu. Kau sudah merencanakan semuanya dengan sangat rapi di belakangku. Kau bahkan sudah menekan tombol 'kirim' untuk menghancurkan hidupku."

​Arlan tersenyum kecil—sebuah senyuman pahit yang terlihat dari pantulan kaca jendela.

"Ternyata, selama ini aku memang benar-benar sendirian. Di rumah ini, di tempat tidur ini... aku memberikan seluruh duniaku padamu, aku memberikan kejujuranku, aku bahkan mencoba menjadi pria paling bodoh agar kau bisa tersenyum. Tapi di matamu, aku tetaplah seorang monster yang pantas untuk kau hancurkan."

​"Tidak, Arlan... aku hanya tidak tahu kebenarannya... aku pikir—"

​"Masalahnya bukan pada apa yang kau pikirkan, Kinara," potong Arlan dengan tenang, namun setiap katanya terasa seperti paku yang tertancap di hati Kinara.

"Masalahnya adalah kau tidak pernah sedikit pun mencoba untuk percaya padaku. Kau lebih memilih percaya pada dendammu daripada pria yang setiap malam memelukmu dan memohon agar kau tidak pergi."

​Arlan berbalik, menatap Kinara yang masih bersimpuh di lantai.

"Aku tidak marah padamu. Untuk apa marah? Marah hanya untuk orang yang masih punya harapan. Dan aku... aku sudah kehilangan harapan itu malam ini."

​"Arlan, tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaikinya," Kinara merangkak mendekati kaki Arlan, memegang ujung celana pria itu.

"Aku akan melakukan apa pun... aku akan menjadi istri yang kau inginkan... aku tidak akan pergi lagi..."

​Arlan menatap tangan Kinara di kakinya, lalu ia berlutut agar wajah mereka sejajar.

Ia mengelus pipi Kinara dengan ibu jarinya—sebuah sentuhan yang dulu selalu membuat Kinara merasa dilindungi, namun kini terasa seperti sebuah perpisahan.

​"Sudah terlambat, Kinara," bisik Arlan. "Pria yang selalu memohon padamu, pria yang manja padamu, pria yang gila karena cintamu... dia sudah kau bunuh malam ini dengan rencana penghancuranmu itu."

​Arlan berdiri kembali. "Tidurlah. Aku akan tidur di ruangan lain. Besok, pengacaraku akan datang.

Kau sudah mendapatkan warisan ayahmu kembali. Kau sudah merdeka dari monster ini."

​"ARLAN! JANGAN PERGI! AKU MOHON!" Kinara berteriak saat Arlan melangkah menuju pintu.

​Arlan tidak berhenti.

Ia terus berjalan dan menutup pintu kamar dengan sangat perlahan. Bunyi klik kunci dari luar terdengar seperti suara pintu penjara yang tertutup selamanya bagi Kinara. Kinara merosot di balik pintu, memukuli kayu pintu itu dengan tangan kosong hingga memerah.

​"MAAF! MAAFKAN AKU, ARLAN! JANGAN DIAM! BICARA PADA KINARA! ARLAAAN!!!"

​Namun, di luar pintu itu, Arlan hanya berdiri diam.

Ia menyandarkan kepalanya di daun pintu, mendengarkan isak tangis istrinya yang memilukan.

Air mata akhirnya jatuh dari mata Arlan, namun ia tetap tidak membuka pintu itu.

Ia tahu, jika ia membukanya sekarang, ia hanya akan kembali menjadi pria lemah yang akan disakiti lagi. Dan Arlan sudah tidak punya kekuatan lagi untuk terluka.

​Malam itu, di mansion yang megah, dua orang yang saling mencintai justru terjebak dalam keheningan yang paling mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!