NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:77.4k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di dalam kelas, Aleta sama sekali tidak mengikuti pelajaran dengan serius. Gadis itu lebih banyak menguap dan menyembunyikan kepalanya di antara lengannya.

Penjelasan dari guru hanya di anggap sebagai angin lalu oleh Aleta, hingga tepukan di pundaknya membuat Aleta menoleh.

"Apa?" Tanya Aleta.

"Jangan tidur terus, kau bisa ketahuan guru, Let."

"Aku ngantuk."

Semalam dia kesulitan tidur akibat Ravian yang muncul mendadak, belum lagi tadi pagi dia mendengar kabar bahwa pernikahannya dengan Ravian di percepat itulah yang membuat Aleta kehilangan setengah energinya.

"Tapi–" ucapan Serena terhenti ketika Aleta mengangkat tangannya.

"Pak, saya mau ke toilet dulu." Izin Aleta.

Guru yang sedang menulis di papan tulis menoleh sekilas. Menatap Aleta dari atas kacamata yang bertengger di hidungnya.

"Kau dari tadi tidak memperhatikan, sekarang mau keluar?" tanyanya dengan nada tidak puas.

Aleta berdiri tanpa tergesa. "Iya."

Jawabannya singkat. Datar. Tanpa rasa bersalah. Beberapa siswa mulai berbisik pelan, menunggu apakah guru itu akan mempersulitnya. Namun setelah beberapa detik, guru itu menghela napas.

"Cepat kembali."

Aleta tidak menjawab lagi. Dia hanya mengangguk tipis, lalu berjalan keluar kelas tanpa menoleh ke belakang.

Lorong sekolah terasa lebih sepi dibanding sebelumnya. Langkah Aleta tenang, tidak terburu. Namun arah langkahnya jelas bukan ke toilet.

Dia berhenti di dekat jendela ujung lorong. Angin pagi masuk perlahan, menerpa rambutnya yang terikat rapi. Aleta menyandarkan punggungnya ke dinding. Matanya terpejam sejenak. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Jadi… kau bolos ke sini."

Suara itu terdengar familiar. Aleta membuka matanya tanpa terlihat terkejut.

Dia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

"Kalau mau bicara, langsung saja." Ucapannya datar.

Langkah kaki mendekat, lalu berhenti tepat di sampingnya. Victor. Dia bersandar di dinding yang sama, jaraknya tidak terlalu jauh.

"Kau tidak takut?" tanyanya santai. "Reputasimu lagi hancur, tapi kau malah santai begini."

Aleta menatap lurus ke depan. "Aku tidak punya alasan untuk takut."

Victor menyipitkan mata, meneliti profil wajah gadis itu.

"Menarik," gumamnya. "Biasanya orang akan panik, menyangkal, atau setidaknya marah."

"Aku bukan orang biasa." Jawaban itu keluar tanpa jeda.

Tanpa kesombongan. Hanya fakta yang diucapkan dengan nada dingin.

Victor terkekeh pelan. "Semakin menarik."

"Gosip itu," lanjut Victor, "ada yang sengaja menyebarkannya untuk mencoreng nama baikmu."

Aleta akhirnya menoleh sedikit. Tatapannya tajam, tapi tetap tenang. "Aku tahu."

"Dan kau tidak ingin mencari tahu siapa pelakunya?"

Aleta kembali menatap ke depan. "Tidak penting."

Victor mengangkat alis. "Tidak penting?"

Aleta menghela napas pelan. "Orang yang melakukan hal seperti itu hanya punya dua tujuan, menjatuhkan atau mencari perhatian publik untuk membantu namanya naik. Dan keduanya tidak cukup berharga untuk aku kejar."

Victor terdiam. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung punya balasan.

Aleta mendorong tubuhnya dari dinding. "Sana kembali ke kelas."

"Kau mengusirku?"

Aleta mengangguk, dia memunggungi Victor melangkah menuju tangga arah rooftop.

Tanpa di duga, Victor mengikuti dari belakang hingga mereka berdua tiba di rooftop. Semilir angin menerpa wajah kedua remaja itu, Victor mengamati wajah Aleta yang tampak acuh tak acuh.

"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Aleta tanpa menoleh.

Dia sadar jika sedari tadi Victor menatapnya tanpa berkedip, dan itu membuatnya risih.

"Aku juga berniat ke sini, hanya saja keduluan olehmu." Victor berjalan mendekat ke arah pembatas rooftop. "Kau mau rokok?"

Aleta mengamati bungkus rokok yang di sodorkan oleh Victor. "Tidak, aku tidak merokok."

"Oh, aku pikir kau berubah dan mulai menjadi bajingan."

"Aku bukan kau."

Victor terkekeh, dia memasukan kembali bungkus rokok itu ke dalam saku celana. Kemudian mengeluarkan korek api dan mulai menyulut rokok di sela-sela jarinya, kepulan asap membumbung tinggi terbawa angin saat Victor menyesap rokoknya.

"Kau tahu ke mana Clara pergi?" Tanya Victor tiba-tiba.

Aleta menggeleng, dia juga baru sadar jika hari ini dia tidak melihat Clara di sekolah. Biasanya gadis itu selalu muncul dan mencari ribut dengannya, tapi kali ini berbeda. Entah ke mana perginya gadis itu, Aleta tak yakin tapi dia punya feeling jika saat ini Clara sedang menanggung akibat dari perbuatannya.

***

"Lepaskan aku!" Teriakan nyaring mengandung keputusasaan menggema di dalam kamar hotel di pesisir pantai Varexion.

Kedua tangannya terikat pada ranjang berukuran sedang, riasan di wajahnya sudah luntur karena dia menangis berjam-jam. Mini dress berwarna jingga dengan motif bunga sakura sudah tergeletak di lantai kamar hotel seperti keset.

Beberapa bagian dress itu sobek, seolah di lepas dengan paksa dari tubuh Clara.

"Aku mohon! Lepaskan aku!" Teriak Clara lagi, sudah ratusan kali dia memohon tapi tidak ada satu pun orang yang mau menolongnya.

Kamar itu sepi hanya berisi dirinya seorang, Clara menoleh ke arah jendela yang menunjukan hari sudah siang. Sudah dari semalam dia berada di dalam hotel itu, tubuhnya sakit dan sekarang hanya tertutup selimut tebal.

Tak berselang lama, pintu kamar hotel terbuka menampilkan sesosok pria kekar dengan tato abstrak memenuhi bagian dada dan punggungnya.

"Kau berisik sekali," pria itu melangkah mendekat ke arah ranjang lalu menarik dagu Clara kasar. "Apa kau mau aku memotong pita suaramu?"

"Le-lepaskan aku... Kak." Clara memohon. "To-tolong."

"Tolong?" Pria yang tak lain adalah Rick tertawa sinis. "Setelah apa yang kau lakukan pada Barok, kau masih bisa memohon?"

"A-aku tidak melakukan apa pun, aku ha--"

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Clara, pipi gadis itu memerah dan sudut bibirnya berdarah. Clara terisak pelan, tubuhnya gemetaran tak terkendali.

"Kau ceroboh, aku memperkerjakanmu bukan untuk melakukan hal bodoh, Clara!"

Clara terisak pelan. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena sakit, tetapi juga karena rasa takut yang semakin menyesakkan dada.

"A-aku tidak… aku tidak tahu apa yang kau maksud…" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Rick menatapnya tajam. Sorot matanya dingin, penuh tekanan.

"Kau tidak tahu?" ulangnya pelan.

Tangannya yang kasar mencengkeram rahang Clara lebih kuat, memaksa gadis itu menatapnya.

"Barok mati tadi malam," lanjut Rick datar. "Dan satu-satunya orang yang bersamanya sebelum itu… hanya kau."

Clara menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa henti.

"Bukan aku… aku tidak melakukan apa pun… aku hanya, aku hanya menjalankan perintah…"

Rick menyipitkan mata. "Perintah siapa?"

Clara terdiam. Bibirnya bergetar, namun tidak ada jawaban yang keluar. Cengkeraman Rick semakin menguat.

"Jangan uji kesabaranku."

"A-aku… aku tidak bisa…" bisiknya putus asa.

Rick menatapnya beberapa detik. Lalu dia melepaskan rahang Clara dengan kasar hingga kepala gadis itu terhempas ke samping.

"Ck. Tidak berguna."

Rick berdiri tegak, menatap Clara seolah gadis itu tidak lebih dari alat rusak.

"Kau pikir diam akan menyelamatkanmu?" ucapnya dingin.

Clara menggigit bibirnya, menahan tangis yang semakin menjadi.

"Aku benar-benar tidak tahu… siapa dia! Terakhir ketemu, hanya aku, Aleta dan Barok. Lalu... Aku mendapat pesan dari nomor tak di kenal," suaranya melemah.

Rick menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. "Nomor tak di kenal?"

Clara mengangguk. "Dia menyuruhku untuk tidak memperlakukan Aleta dengan buruk jika tidak ingin keluargaku hancur."

"Seharusnya aku tidak melibatkanmu dari awal," gumamnya. "Kau memang tidak becus!"

Langkahnya menjauh beberapa langkah dari ranjang, namun tatapannya masih tertuju pada Clara.

"Aku memberimu kesempatan hidup, Clara," lanjutnya. "Tapi kau malah membuat masalah. Dan kau mempercayai pesan itu, dari pada ucapanku?"

Clara mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya kosong, penuh kelelahan.

"Aku tidak mengkhianatimu… aku hanya takut keluargaku jadi korban selanjutnya oleh orang misterius itu," katanya lirih.

Rick terdiam. Untuk sesaat, suasana kembali sunyi. Hanya suara napas Clara yang tersengal pelan memenuhi ruangan.

"Pintu itu terkunci dari luar," ucap Rick tiba-tiba. "Dan tidak ada yang akan datang menolongmu."

Clara mengepalkan tangannya yang terikat.

Air matanya kembali jatuh. "Kenapa… kau melakukan ini padaku…? Aku sudah memberikan semuanya padamu, Kak."

Rick tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Clara lama, seolah mempertimbangkan sesuatu.

"Aku tidak pernah memintanya, kau yang dengan suka rela menyodorkan tubuhmu padaku," katanya akhirnya.

"Kau pembong! Kau bilang kau akan menikahiku, tapi apa?! Kau malah menjualku pada para pria hidung belang."

Rick terkekeh mengejek. "Aku butuh uang banyak, dan kau bisa menghasilnya dengan mudah. Cukup lebarkan kakimu dan uang itu akan mengalir ke rekeningku."

"Jahat! Kau benar-benar iblis!"

"Kau baru menyadarinya? Kasihan sekali, inilah akibatnya kalau kau berani bermain di belakangku, Clara."

Clara menggeleng lemah. "Aku tidak bersalah…"

Rick menunduk sedikit, wajahnya mendekat. "Lalu buktikan, kau tak tahu harga gadis itu lebih mahal dari nyawamu sendiri."

Clara terdiam. Napasnya tercekat dia tahu apa pun yang dia katakan sekarang… mungkin tidak akan cukup. "Kenapa kau begitu menginginkan Aleta?"

"Karena dia adalah aset sekaligus kelemahan terbesar dari orang itu," Rick mengalihkan pandangan ke arah jendela. "Kalau aku bisa mendapatkannya, aku akan mendapat banyak keuntungan."

"Apa maksudmu?" Clara sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Rick yang terlihat jelas sangat terobsesi pada Aleta.

Rick meraih sepuntung rokok dari atas meja kaca, menyalakannya lalu menyesap nikotin itu seraya berjalan ke arah jendela besar yang mengarah pada lautan luas.

"Dia adalah tunangan dari pria paling berpengaruh di dunia bawah."

"Kau bercanda?" Clara tak mempercayai perkataan tersebut, sejauh yang dia tahu Aleta belum bertunangan atau memiliki kenalan orang berprofesi di dunia bawah.

"Tidak, aku bicara dengan fakta yang ada." Rick berbalik menatap Clara. "Pertunangan itu memang belum di umumkan secara resmi, tapi desas-desusnya sudah bermunculan sejak lama."

"Bagaimana jika kabar itu bohong?"

"Entah itu bohong atau bukan, intinya aku harus mendapatkan gadis itu untuk memastikan sendiri apakah berita itu berisi kebohongan atau bukan." Jelas Rick tak terbantahkan.

1
awesome moment
mulai bergerak n
nunik rahyuni
kamu di beri kesempatan hidup di jiwa aleta berati ada misi yg harus kamu selesaikan atas nama aleta..
Abdul Rosyid294
lanjutkan sekali up 3bab gtu Thor 😄
Osie
valencia? misteri masa lalu yg msh jd misteri
Osie
naah puzzel nya sdh terkuak sedikit..kenapa jiwa aurelia masuk ke raga aleta..ternyata msh satu garis keturunan..dan aleta? sosok yg msh penuh misteri apalagi bila bnr amnesia..hmm sesuatu bgt
Osie
ravian kenapa gak curiga dgn salah satu bodyguardnya..bisa aja kan ada yg berkhianat kerjasama dgn yg jahat
awesome moment
aleta sdh mulai melelehkan es ravian😄😄😄
nunik rahyuni
bagaimana klo mereka tau valencia dan aurelia jd satu jiwa...
nunik rahyuni: iih iya lah...kya apa klo aurelia tau kebenaran jiwa yg di leta...dauble up thor✌️
total 2 replies
Osie
waah satu tmn sdh ketemu..moga bukan seorg pengkhianat..btw thor apa aurelia gak punya ruang dimensi atau sesuatu yg lain...apa harta aurelia tdk ikut transmigrasi juga?
Osie: ish ish ish peliiitnyaaaa🤣🤣🤣
total 2 replies
Osie
thoooorr aurelia transmigrasi gak dpt ruang dimensi gitu..biar makin seru
Osie
loh loh apa tunangan aleta musuh aurelia?hmmmm menarik nih..moga diujung cerita aleta yg sekarang tdk berjodoh dgn ravian..aamiin
Osie
aku mampir.. sepertinya menarik dan moga saat transmigrasi aurelia bisa balas dendam ke leon cs
Siti Hawa
seru bangat thoor bacanya.. mereka saling lempar ucapan.. he.. he.. semangat selalu thoor.. up lagi yg banyak ya.. mawar untuk mu🙏💪💪🥰
Zee✨: siap, makasih kakak udh ngikutin cerita ini😍
total 1 replies
Siti Hawa
wah seru thoor... mawar untuk mu
Nur Hayati
awalnya masih biasa lambat Laun perubahan karakter tokoh ya mulai terasa dan menjadi kuat, tidak tergesa-gesa tapi semakin bikin penasaran apa langkah berikutnya yg muncul
Zee✨: Wah, makasih ulasannya kak😍😍
total 1 replies
Nur Hayati
up nya yg banyak kak, makin seruuu... semangat terus💪👍
nunik rahyuni
arleta yg asli sdh innalillah kah thor..kisah sblm auriel datang g di kulik.thor.penasaran jg kenapa gadis pendiam sot arleta kok banyk yg membully sampai mati
Zee✨: nah itu masih misteri, nanti pelan2 di buka
total 1 replies
AlifAkmal
Lanjut thorrr 😍😍😍
Thewie
hajar smpe mati Aleta. kasihan kakekmu
Dwi Setyaningrum
walah cari mati saja kau berandal..blm kena batunya kau berandal coba saja kau usik tuh kakeknya Aleta aku jamin hidupmu ga akan seperti kmrn yg bisa ketawa dan mabuk ria🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!