NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Kegelapan di dalam pipa drainase raksasa bawah tanah Jakarta memiliki kepadatan yang berbeda. Ini bukan kegelapan hutan yang penuh dengan suara jangkrik atau gesekan daun; ini adalah kegelapan yang mati, yang hanya diisi oleh gema tetesan cairan kental dan dengung listrik dari ribuan kabel yang merambat di langit-langit semen. Bau udara di sini adalah campuran antara sulfur, karat, dan sesuatu yang manis namun memuakkan, bau pembusukan yang dipaksakan.

Nirmala berjalan paling depan. Langkah kakinya yang telanjang tidak lagi terasa rapuh. Setiap kali telapak kakinya yang pucat menyentuh genangan limbah hitam di lantai pipa, air itu seketika mendesis. Lapisan es garam yang tipis dan tajam langsung terbentuk, menjadi pijakan yang kokoh bagi Arka, Aki, dan Baruna yang mengikuti di belakang.

"Jangan menyentuh dindingnya." bisik Baruna. Cahaya senternya menyapu dinding pipa yang dilapisi lendir hitam berdenyut.

Jika dilihat dengan mata biasa, itu hanya lumut. Namun, di bawah sorotan mata hijau zamrud Arka, lendir itu adalah ribuan akar rambut Sandiwayang yang sangat halus. Akar-akar itu melilit pipa-pipa kabel serat optik kota, menyedot data dan emosi dari jutaan percakapan digital manusia di atas sana untuk diumpankan ke Pohon Induk.

"Nir, pelan-pelan. Energimu... terlalu tajam." Arka memperingatkan. Ia meraih bahu Nirmala, namun ia segera mengernyit. Dingin yang terpancar dari tubuh Nirmala kini mulai terasa menusuk hingga ke tulang sumsumnya.

Nirmala menoleh perlahan. Pupil matanya kini tidak lagi berbentuk lingkaran sempurna. Ada pola fraktal kristal yang mulai terbentuk di sana. "Aku tidak bisa pelan, Arka. Jantung gedung itu memanggil Biji di dadaku. Semakin dekat kita, semakin haus aku rasakan."

Tiba-tiba, suara seretan kaki yang berat menggema dari persimpangan pipa di depan mereka. Bukan hanya satu, melainkan puluhan. Sosok-sosok itu muncul dari kegelapan Limbah Hidup. Mereka adalah manusia-manusia malang yang hilang di gorong-gorong Jakarta, yang tubuhnya telah "diperbaiki" oleh Sandiwayang menggunakan sampah plastik, karet ban, dan serat kayu hitam.

Wajah mereka tidak lagi memiliki fitur manusia. Mata mereka tertutup oleh lapisan kerak garam yang kotor, dan mulut mereka terus mengeluarkan cairan hitam yang berbau seperti tanah kuburan yang basah.

"Mereka adalah penjaga arteri." desis Baruna sambil mengeluarkan belati dari tulang ikan hiu. "Mereka tidak punya rasa sakit. Hancurkan jantungnya, atau mereka akan terus bangkit."

Salah satu makhluk itu, yang tubuhnya menyatu dengan potongan pipa PVC tajam, melompat ke arah Arka. Arka dengan sigap menghantamkan tinjunya yang diselimuti energi hijau zamrud, mematahkan tulang plastik makhluk itu. Namun, dari luka tersebut, tidak ada darah yang keluar, melainkan sulur-sulur kayu hitam yang mencoba melilit lengan Arka.

"Mundur, Arka!" teriak Nirmala.

Nirmala melangkah maju, tangannya merentang lebar. Ia tidak memanggil akar dari bumi, karena di sini tidak ada tanah. Ia memanggil "Darah Jakarta".

Nirmala mengepalkan tangannya di udara. Seketika, aliran limbah hitam yang mengalir di lantai pipa melompat naik, seolah-olah ditarik oleh magnet raksasa. Air kotor itu berputar di sekeliling Nirmala, membentuk pusaran yang mengerikan. Dengan satu hentakan napas, Nirmala memurnikan air itu secara paksa. Zat-zat kimia dan kotoran di dalamnya memadat menjadi ribuan jarum kristal garam yang berwarna abu-abu kusam.

"Kembalilah ke ketiadaan!"

Jarum-jarum itu melesat seperti badai, menembus tubuh-tubuh Limbah Hidup tersebut. Begitu jarum garam itu masuk ke dalam daging mereka yang terinfeksi kayu, terjadi reaksi berantai yang menyakitkan. Garam itu menghisap habis seluruh kelembapan organik yang tersisa di dalam serat Sandiwayang. Makhluk-makhluk itu seketika membeku, lalu retak dan hancur menjadi debu yang bercampur dengan sampah plastik.

Aki menatap pemandangan itu dengan ngeri. "Kekuatanmu... kau tidak lagi membagi hidup, Nirmala. Kau mencabutnya."

Nirmala terdiam, menatap debu di bawah kakinya. "Bukankah itu yang diinginkan laut, Aki? Pembersihan?"

Setelah menembus kawanan penjaga, mereka tiba di sebuah ruang silinder raksasa yang menjadi titik temu lima pipa besar. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah dinding besar yang tidak terbuat dari semen, melainkan dari membran organik yang berdenyut lambat.

Ini adalah "Placenta" dari Menara Kencana.

Di balik membran transparan itu, mereka bisa melihat ribuan liter cairan nutrisi berwarna merah gelap yang dipompa ke atas, menuju lantai-lantai mewah di mana para petinggi perusahaan Hendrawan bekerja. Dan di tengah-tengah cairan itu, terlihat potongan-potongan tubuh manusia yang sudah tidak utuh lagi, perlahan-lahan sedang dicerna.

"Ini gila..." Ibu Lastri menutup mulutnya, menahan mual. "Mereka benar-benar memberi makan pohon itu dengan manusia?"

"Bukan hanya manusia fisik Bu." sahut Baruna. "Setiap orang yang masuk ke gedung ini melalui lift, menggunakan WiFi mereka, atau meminum air dari keran mereka... semuanya menyumbangkan 'sari' hidup mereka. Hendrawan menciptakan ekosistem di mana ia menjadi tuhan atas hidup dan mati di Jakarta."

Arka mendekati membran itu, meletakkan tangannya di permukaan yang hangat dan berlendir. Lewat mata hijaunya, ia melihat ke bawah, jauh ke dalam pondasi gedung. Di sana, di sebuah sumur tua yang dikelilingi oleh beton setinggi sepuluh meter, ia melihat sesuatu yang berpendar putih keperakan.

"Itu Biji Kedua." bisik Arka. "Hendrawan tidak hanya punya pohon induk. Dia punya Biji yang sama seperti yang ada di dada Nirmala, tapi Biji itu sudah dikorupsi sepenuhnya."

Tiba-tiba, suara tawa yang halus dan berwibawa menggema di seluruh ruangan melalui sistem interkom yang tersembunyi di langit-langit.

"Selamat datang, Tamu dari Selatan. Aku sudah mencium bau garam kalian sejak kalian melewati gerbang tol."

Sesosok proyeksi hologram muncul di depan mereka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal, rambut klimis, dan senyum yang sangat tenang. Hendrawan. Namun, ada yang aneh dengan matanya. Mata kanan Hendrawan berwarna emas murni, sementara mata kirinya sepenuhnya kosong, digantikan oleh lubang hitam yang terus mengeluarkan asap tipis.

"Nirmala... kau terlihat cantik dengan kristal-kristal itu." ucap hologram Hendrawan sambil menatap Nirmala dengan penuh gairah predator. "Kau membawa apa yang aku butuhkan untuk menyempurnakan Menara ini. Kemurnian laut untuk mendinginkan amarah akar-akarku. Bergabunglah denganku, dan kita akan membuat Jakarta ini abadi di bawah naungan kita."

"Aku datang untuk menagih hutang laut, Hendrawan!" teriak Nirmala. Suaranya memecahkan beberapa lampu di ruangan itu. "Nyawamu adalah sajian untuk samudra!"

Hendrawan tertawa terbahak-bahak. "Nyawaku? Aku adalah gedung ini. Aku adalah kota ini. Jika kau membunuhku, kau membunuh seluruh Jakarta. Beranikah kau menanggung dosa jutaan nyawa yang bergantung pada sistemku?"

Dinding membran di depan mereka mulai robek. Dari dalamnya, keluar sesosok makhluk yang jauh lebih besar dari Limbah Hidup sebelumnya. Makhluk itu adalah gabungan dari mayat ajudan-ajudan Hendrawan yang sudah menyatu menjadi satu entitas raksasa dengan banyak tangan dan mata. Di dadanya, terdapat simbol Menara Kencana yang terukir dari emas.

"Hadapi persembahanku dulu, Penjaga Biji." ucap Hendrawan sebelum hologramnya menghilang.

Nirmala merasakan dadanya mendadak sangat panas. Biji Purba di dalamnya berdenyut kencang, bereaksi terhadap Biji Kedua yang ada di bawah sana. Untuk pertama kalinya, kristal garam di leher Nirmala mulai mengeluarkan darah biru yang kental.

"Arka, Aki... mundur ke belakangku!" perintah Nirmala. Tubuhnya mulai diselimuti oleh uap biru yang dingin. "Kali ini, aku tidak akan menyaring airnya. Aku akan meledakkannya."

Arka memegang tangan Nirmala, mencoba memberikan hangatnya energi hijau zamrud, namun ia menyadari bahwa tangan Nirmala kini sudah sekeras batu karang. Ada kesedihan mendalam di mata Arka, ia tahu bahwa semakin Nirmala menggunakan kekuatan ini, semakin sedikit jiwa Nirmala yang tersisa di dalam raga itu.

Pertarungan besar di basement Menara Kencana pun dimulai. Suara gemuruh dari bawah tanah itu getarannya terasa hingga ke lobi mewah di atas, membuat para karyawan bertanya-tanya apakah sedang terjadi gempa bumi di Jakarta. Mereka tidak tahu, bahwa di bawah kaki mereka, sedang terjadi perang antara Samudra yang marah dan Beton yang serakah.

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
bacaaa ahhh, jika tidak lanjut baca berarti mentalku nggak kuat😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣 aku yakin pasti kuat mentalmu
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mungkinkah gempa selama ini karena pertarungan itu? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku ikut blusukan kek mereka, pasti asma ku lgsg kambuh🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bisa nih aku pinjam Nirmala buat bersihin air laut yg butek di daerahku/Proud/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Sip.... Kalo gak dibolehin nanti ku culik Nirmala nya🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tiga puluh hari itu sebentar lho, gak bisa apa waktunya ditambah🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dih dia nego😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Oh Nirmala... Hidupmu tidak pernah di berikan nafas lega sebentar saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!