NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar mansion Arkananta. Aeryn terbangun dengan perasaan yang berbeda. Ini bukan lagi kamar di rumah ayahnya yang penuh dengan aroma kayu cendana dan kenangan menyesakkan, melainkan wilayah asing milik pria yang menyimpan rahasia di balik bunga lili. Suasana mansion ini begitu sunyi, seolah dinding-dindingnya pun diperintahkan untuk tidak bicara.

Ia tidak membiarkan dirinya larut dalam melankolis. Baginya, setiap detik yang terbuang tanpa rencana adalah kemenangan bagi musuhnya. Tepat pukul tujuh pagi, Aeryn sudah mengenakan setelan kerja berwarna putih gading dengan potongan bahu yang tajam. Ia menuruni tangga melingkar dengan langkah terukur, menemukan Xavier sedang duduk di ujung meja makan panjang yang mampu menampung dua puluh orang.

Pria itu tampak sibuk, membaca laporan di tabletnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Kau bangun lebih awal dari dugaanku," sapa Xavier tanpa sedikit pun mengangkat wajah dari layar.

Aeryn menarik kursi di seberang Xavier. "Dendam adalah alarm yang paling efektif, Xavier. Lebih akurat daripada jam atom mana pun."

Xavier akhirnya mendongak, matanya yang tajam mengamati penampilan Aeryn dari atas ke bawah. "Kau terlihat siap untuk membunuh seseorang. Atau setidaknya, menghancurkan karier seseorang."

"Aku tidak suka membuang energi untuk hal yang kecil," jawab Aeryn tenang. Ia mengabaikan piring perak berisi sarapan mewah yang disodorkan oleh pelayan berseragam rapi. Perutnya terlalu penuh dengan rencana untuk bisa menerima makanan. "Aku butuh akses ke jaringan logistik Arkananta Mining."

Xavier meletakkan tabletnya di atas meja, memberikan perhatian penuhnya sekarang. "Logistik tambang? Kau tidak sedang berencana menambang emas di halaman belakangku, kan?"

"Kaelan Dirgantara sedang menyelesaikan kontrak pengadaan untuk koleksi musim gugur mereka—proyek 'Golden Era' yang dia curi dariku. Selama ini, Dirgantara Group bergantung pada penambang di Kalimantan yang berada di bawah perlindungan federasi logistikmu. Mereka butuh berlian mentah dalam jumlah besar minggu ini." Aeryn mencondongkan tubuh, suaranya mengecil namun penuh penekanan. "Jika kau menutup keran suplainya hari ini, produksinya lumpuh. Dia akan gagal memenuhi deadline butik internasional di Paris dan Milan. Reputasinya akan hancur sebelum sempat dibangun."

Xavier menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang pelan. "Kau ingin aku melakukan sabotase terbuka terhadap mitra bisnis lama keluarga Dirgantara?"

"Bukan sabotase. Hanya... penyesuaian prioritas," Aeryn memberikan senyum tipis yang sedingin es. "Katakan pada mereka bahwa Nyonya Arkananta menginginkan seluruh stok berlian mentah bulan ini dialokasikan untuk proyek pribadinya. Sebagai istri, bukankah aku punya hak istimewa?"

Xavier terdiam, menatap Aeryn cukup lama. Ia seolah sedang menimbang-nimbang risiko dari permainan ini. "Kau tahu, Kaelan akan langsung tahu siapa yang melakukannya. Ini seperti menyatakan perang di siang bolong."

"Memang itu tujuannya," sahut Aeryn tanpa ragu. "Aku ingin dia tahu bahwa setiap napas bisnis yang dia ambil sekarang bergantung pada izinku."

Xavier mendengus pelan, hampir menyerupai tawa tertahan. Ia memanggil Hugo yang berdiri tak jauh dari sana. "Hugo."

"Baik, Tuan," jawab Hugo patuh sambil mendekat.

"Hubungi Direktur Logistik di Kalimantan. Batalkan semua pengiriman ke Dirgantara Group mulai detik ini. Gunakan klausul 'keadaan darurat internal'. Alihkan semuanya ke inventaris Valerine Jewels atas nama Aeryn Arkananta. Pastikan tidak ada satu karat pun yang lolos ke tangan Kaelan."

Aeryn sedikit terkejut dengan kecepatan Xavier dalam mengambil keputusan. Ia mengira akan ada debat panjang atau negosiasi yang melelahkan. "Begitu saja? Kau tidak meminta jaminan tambahan dariku? Mungkin komisi atau persentase?"

Xavier bangkit dari duduknya, memperbaiki letak jam tangan Patek Philippe miliknya. "Kau adalah jaminannya, Aeryn. Dengan menyandang namaku, setiap langkahmu adalah representasi dariku. Jangan membuatku terlihat seperti investor yang salah memilih aset. Itu adalah penghinaan terbesar bagiku."

Ia berjalan mendekati Aeryn, berhenti tepat di belakang kursinya, lalu berbisik rendah di dekat telinga wanita itu. "Sekarang makanlah sarapanmu. Kau tidak bisa menghancurkan kerajaan orang lain dengan perut kosong. Aku tidak ingin istriku pingsan sebelum perang benar-benar dimulai."

***

Siang harinya, efek dari keputusan Xavier meledak seperti bom waktu di pusat industri perhiasan. Aeryn memantau dari ponselnya di dalam mobil Bentley yang membawanya menuju pusat kota. Pesan-pesan panik masuk ke grup internal industri. Kabar tentang "krisis bahan baku" yang tiba-tiba menimpa Dirgantara Group mulai menyebar. Kaelan pasti sedang mengamuk, memaki para direkturnya saat menyadari bahwa pasokan berliannya telah dibajak oleh pria yang kini menjadi suami mantan tunangannya.

Untuk merayakan kemenangan kecil itu, sekaligus menyiapkan penampilan untuk acara amal besar besok malam, Aeryn memutuskan pergi ke Le Musee. Itu adalah butik kelas atas yang paling eksklusif, tempat di mana status sosial seseorang ditentukan oleh gaun yang mereka kenakan. Aeryn butuh sesuatu yang mampu menegaskan posisinya sebagai wanita paling berkuasa di Jakarta saat ini.

Di dalam butik yang sunyi, beraroma lavender segar, dan diterangi lampu kuning hangat itu, Aeryn sedang memperhatikan sebuah gaun malam berwarna biru tua dengan detail kristal swarovski. Jemarinya membelai kain sutra yang lembut saat tiba-tiba pintu depan terbanting terbuka dengan suara dentuman yang keras.

"Aeryn! Kau jalang licik! Berhenti di sana!"

Suara pekikan itu memecah ketenangan butik. Bianca Valerine masuk dengan langkah serampangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah karena amarah di balik kacamata hitam besarnya yang mahal. Beberapa pelanggan lain—sosialita yang sedang fitting gaun—dan para pelayan butik menoleh dengan tatapan terkejut yang tertahan.

Aeryn tidak segera berbalik. Ia mempertahankan ketenangannya, tetap menyentuh kain sutra di depannya dengan keanggunan yang disengaja. "Butik ini selalu memiliki standar privasi dan etika yang sangat tinggi, Bianca. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mereka membiarkan orang yang tidak tahu tata krama sepertimu masuk ke sini."

Bianca berlari mendekat dan menarik bahu Aeryn dengan kasar agar kakaknya itu berbalik. "Jangan bicara soal tata krama padaku! Kau sengaja, kan? Kau menyuruh Xavier memutus suplai berlian Kaelan! Kau tahu itu akan membunuh perusahaan dan kontrak internasionalnya!"

Aeryn menatap tangan Bianca yang mencengkeram bahunya, lalu menatap mata adik tirinya dengan sorot yang menghina. "Aku hanya melakukan bisnis, Bianca. Bukankah itu yang kalian katakan padaku di ruang kerja ayah kemarin malam? Bahwa aku hanyalah batu loncatan untuk ambisi kalian? Sekarang, batunya sudah berpindah tempat ke atas kepala kalian, dan kalian baru saja terpeleset."

"Kau bajingan!" Bianca berteriak, suaranya kini benar-benar menarik perhatian semua orang di dalam ruangan. "Kau pikir kau sudah menang hanya karena berhasil merayu Xavier Arkananta ke tempat tidurmu? Kau pikir kau pantas menyandang nama Arkananta yang agung itu?"

Bianca tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak stabil. "Kau tertipu, Aeryn. Kau hanyalah penipu besar yang kebetulan sedang beruntung. Kau itu tidak punya darah Valerine sedikit pun di tubuhmu! Kau bukan bagian dari kami!"

Gerakan Aeryn terhenti. Ia membeku sejenak, namun segera menutupi ekspresinya. "Apa maksudmu dengan omong kosong itu?"

Bianca melangkah maju, senyumnya kini penuh dengan kebencian yang murni dan kepuasan yang meledak-ledak. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tas Hermes-nya dan melemparkannya dengan keras ke dada Aeryn. Dokumen di dalamnya berhamburan ke lantai marmer.

"Ayah hanya memeliharamu selama ini karena dia merasa kasihan pada ibumu yang menyedihkan itu! Tapi kau bukan anaknya! Kau bukan putri seorang Valerine!"

Pelanggan butik mulai berbisik-bisik dengan riuh. Beberapa dari mereka, yang tidak bisa menahan rasa penasaran, mulai mengeluarkan ponsel secara sembunyi-sembunyi untuk merekam kejadian yang akan menjadi skandal terbesar tahun ini.

"Hentikan drama murahan ini, Bianca," desis Aeryn, suaranya mulai bergetar karena amarah yang berusaha ia tekan sekuat tenaga.

"Drama murahan? Kau yang selama ini hidup dalam drama murahan!" Bianca berteriak lebih keras, memastikan setiap orang di butik itu mendengar suaranya. "Lihat dokumen hasil tes DNA itu! Lihat catatan sipilnya! Kau itu hanyalah anak pungut yang dipungut ayahku dari tempat sampah! Ibu kandungmu bukan sosialita terhormat, dia bukan desainer jenius!"

Bianca menunjuk wajah Aeryn dengan jari yang gemetar karena kegembiraan yang jahat. "Ibu kandungmu adalah seorang kriminal! Seorang narapidana kasus penipuan kelas kakap yang mati membusuk di penjara! Namanya bahkan tidak layak disebutkan di tempat mewah ini karena hanya akan mengotori udara! Kau tidak punya hak atas satu persen pun saham Valerine Jewels, Aeryn!"

Dunia di sekitar Aeryn seolah berhenti berputar secara mendadak. Suara bisik-bisik di sekelilingnya berubah menjadi dengungan yang memekakkan telinga, seperti ribuan lebah yang menyerang kepalanya. Ia menatap dokumen yang berserakan di kakinya dengan perasaan ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Dengar semuanya!" Bianca berbalik ke arah kerumunan pelanggan dan staf butik yang terpaku. "Wanita yang kalian sebut putri mahkota perhiasan ini hanyalah putri seorang penipu! Dia menipu kita semua selama bertahun-tahun dengan wajah sok anggun dan otak cerdasnya itu! Dia tidak lebih dari sampah yang dibungkus kain sutra!"

Aeryn merasakan seluruh tubuhnya mendingin, dari ujung jari hingga ke jantungnya. Ia melihat kilatan lampu ponsel yang merekam setiap detik kehancurannya. Di tengah kemewahan butik Le Musee yang biasanya menjadi tempatnya merasa berkuasa, ia kini merasa telanjang, kecil, dan hancur.

Bianca mendekatkan wajahnya ke telinga Aeryn, memberikan bisikan terakhir yang menghujam tepat ke jantungnya. "Ayah sudah menandatangani dokumen untuk menghapus namamu dari daftar ahli waris pagi ini. Kau akan kembali ke tempat asalmu yang menjijikkan, Aeryn. Kembali ke selokan."

Aeryn terdiam mematung, pandangannya mengabur saat matanya menangkap sebuah foto di salah satu dokumen yang tercecer. Itu adalah foto seorang wanita dengan baju tahanan berwarna oranye, memiliki guratan wajah dan mata yang sangat mirip dengan dirinya. Wanita itu terlihat lelah, namun memiliki ketajaman yang sama.

Di luar butik, sebuah mobil hitam berhenti mendadak. Hugo keluar dengan wajah cemas, namun sebelum ia bisa menembus pintu masuk, kerumunan media yang entah bagaimana sudah mencium bau skandal mulai berdatangan karena siaran langsung dari saksi mata di media sosial. Aeryn terjebak di dalam pusaran skandal yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, sementara Bianca melenggang pergi dengan tawa kemenangan yang menggema.

Ia adalah istri Xavier Arkananta, tapi di mata dunia dalam sekejap, ia hanyalah putri seorang kriminal.

Aeryn menatap kerumunan media di luar kaca butik yang mulai menggedor pintu. Ia meremas amplop cokelat di tangannya, kuku-kukunya memutih. Saat ia merasa akan pingsan karena tekanan itu, ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Xavier muncul di layar:

"Jangan tundukkan kepalamu. Mobil jemputan kedua ada di pintu belakang. Aku menunggumu di kantor pengacara. Saatnya kita tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya memegang kendali atas kebenaran."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!