NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Raja Tanpa Mahkota

​“Checkmate, Aruna. Rekening pribadimu akan dibekukan besok pagi atas dasar investigasi audit internal. Nikmatilah sisa umurmu di persembunyianmu tanpa sepeser uang.”

​Kalimat itu terus berputar di kepalaku, seolah dicetak dengan besi panas tepat di dinding tengkorakku.

​Ponsel di tanganku merosot, jatuh ke atas seprai sutra. Udara di dalam kamar tidur yang sejuk ini tiba-tiba terasa sepekat lumpur, mencekik leherku hingga aku harus meraup napas dengan mulut terbuka.

​Tiga tahun. Tiga tahun aku menelan pil tidur, mengorbankan masa mudaku, dan merelakan air mataku mengering hanya untuk menjaga Wiratmadja Tech agar tidak jatuh ke tangan Rendra dan Haris. Namun, hanya dalam waktu dua puluh empat jam saat tubuhku tak berdaya, mereka merampas semuanya.

​Mereka memalsukan rekam medisku. Mereka melakukan kudeta. Dan besok pagi, seluruh uang di rekening pribadiku—satu-satunya pelumas yang membuat tim keamanan Garda masih mau berjaga di luar rumah ini—akan dibekukan.

​Tanpa uang, Garda akan pergi.

Tanpa Garda, Rendra bisa mengirim sepuluh pembunuh bayaran sekaligus untuk menghabisi kami semua.

​"Tidak... tidak mungkin..." isakku putus asa. Tanganku yang gemetar mencengkeram rambutku sendiri. Rasa sakit di lambungku kembali berdenyut, namun kali ini sepenuhnya tertutup oleh rasa sakit yang mengoyak mentalku.

​Aku telah menyeret Bumi ke dalam neraka.

​Pria itu baru saja mempertaruhkan nyawanya dan menumpahkan darahnya tadi malam untuk melindungiku. Ia membawa ibu dan adiknya yang sedang sakit parah ke rumah ini karena mempercayaiku. Dan sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi untuk melindungi mereka. Aku adalah seorang ratu yang baru saja kehilangan kerajaannya.

​Pintu kamar tiba-tiba berderit terbuka.

​Bumi melangkah masuk membawa nampan berisi segelas air putih dan beberapa butir obat lambung. Senyum kecil yang tadi sempat menghiasi bibirnya saat ia keluar, langsung luntur seketika saat melihat keadaanku.

​"Aruna? Astaghfirullah, ada apa?!"

​Bumi meletakkan nampan itu dengan kasar ke atas nakas hingga air di dalam gelas sedikit tumpah. Ia bergegas duduk di tepi ranjang, merengkuh bahuku yang bergetar hebat.

​"Aruna, bernapaslah. Tatap mataku. Apa lambungmu sakit lagi?" tanyanya panik, matanya menyapu seluruh wajahku yang pasti sudah sepucat mayat.

​Alih-alih menjawab, aku mendorong dadanya dengan kedua tanganku yang lemah.

​"Pergi..." bisikku dengan suara pecah, air mata membanjiri wajahku tanpa bisa dikendalikan. "Pergi dari sini, Bumi. Ambil tasmu, bawa Ibumu dan Sifa keluar lewat pintu belakang. Sekarang!"

​Kening Bumi berkerut tajam. Ia menangkap kedua pergelangan tanganku, menahannya dengan lembut agar aku berhenti meronta. "Apa maksudmu? Aku tidak akan ke mana-mana. Bicaralah yang jelas, Aruna."

​"Mereka mengambil semuanya!" teriakku frustrasi, menunjuk ponsel yang tergeletak di atas ranjang.

​Bumi melepaskan satu tanganku, meraih ponsel tersebut, dan membaca dokumen PDF serta pesan teks dari Rendra.

​Aku melihat bagaimana rahang Bumi perlahan mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol saat ia membaca kalimat demi kalimat dari kudeta menjijikkan itu. Matanya menggelap, memancarkan badai yang jauh lebih mematikan daripada yang pernah kulihat sebelumnya.

​"Besok pagi, tepat pukul delapan saat jam kerja bank dimulai, rekeningku akan dibekukan sepenuhnya," isakku, memeluk lututku sendiri, merasa sangat kerdil dan tak berguna. "Jika saldoku ditangguhkan, sistem pembayaran otomatis untuk Garda akan gagal. Mereka tentara bayaran, Bumi. Mereka tidak bekerja untuk loyalitas. Begitu uangku berhenti mengalir, mereka akan angkat kaki."

​Aku mendongak, menatap mata suamiku dengan pandangan memohon. "Rendra sudah menang. Jika kamu tetap di sini, kamu dan keluargamu akan mati bersamaku. Pergilah. Masih ada waktu malam ini. Aku akan meminta Garda meminjamkan satu mobil untuk kalian kabur ke luar kota—"

​Kalimatku terputus karena Bumi tiba-tiba menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

​Ia mendekapku dengan sangat erat. Tangannya yang besar menekan bagian belakang kepalaku ke dada bidangnya, membiarkan air mataku membasahi kemejanya.

​"Diam, Aruna," bisik Bumi. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung otoritas mutlak yang membuat seluruh saraf tubuhku membeku karena patuh. "Jangan pernah lagi menyuruhku pergi. Jangan pernah lagi merendahkan pernikahan kita dengan menyuruhku lari seperti seorang pengecut."

​"Tapi aku sudah tidak punya apa-apa..." rintihku di ceruk lehernya. "Aku tidak bisa membayarmu lagi. Kontrak dua miliar itu... aku bahkan tidak yakin bisa mencairkannya besok."

​Bumi sedikit mengurai pelukannya, menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap air mataku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan situasi mematikan di sekitar kami.

​"Dengarkan aku baik-baik," ucap Bumi, menatap lurus menembus manik mataku. "Apakah saat aku menjabat tangan wali hakim di rumah sakit waktu itu, aku menyebutkan nominal uang? Tidak. Aku menyebut namamu. Aku mengikat janji dengan Allah untuk menanggung dosamu, menjaga kehormatanmu, dan melindungimu."

​Bumi menelan ludah, matanya memancarkan ketulusan yang membuat jantungku berdetak menyakitkan.

​"Jika besok pagi kamu kehilangan seluruh hartamu, jika kamu berubah menjadi wanita miskin yang tidak punya tempat tinggal... kamu tetaplah Aruna-ku. Istriku," lanjutnya pelan namun mantap. "Tugasku sebagai laki-laki adalah mencari nafkah untukmu dan menjadi perisaimu, bukan menjadi lintah yang lari saat darahmu habis."

​Air mataku kembali menetes, namun kali ini bukan karena keputusasaan. Kalimatnya baru saja meruntuhkan tembok ketakutan terdalamku: takut ditinggalkan saat aku tidak lagi memiliki nilai guna. Adrian mencintaiku karena aku adalah ratu yang sempurna. Rendra menginginkanku karena ambisinya. Tapi pria dari kampung ini... dia menginginkanku bahkan saat aku hancur lebur.

​"Tapi Bumi..." panggilku lemah.

​"Uang bisa dicari, Aruna. Perusahaan bisa dibangun ulang," Bumi melepaskan wajahku, matanya kini memancarkan kilat kecerdasan yang tajam. "Tapi mereka membuat satu kesalahan fatal. Mereka terlalu percaya diri, dan mereka membangunkan singa yang salah."

​Bumi bangkit berdiri dari tepi ranjang. Auranya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bukan lagi suami canggung yang malu karena masalah batas bantal guling. Ia adalah Mastermind.

​"Di mana tas kerjamu? Laptop pribadimu, token bank fisikmu, dan kunci akses server keamanan Wiratmadja Tech?" tanyanya cepat.

​Aku mengerjapkan mata, masih mencoba mencerna perubahan ritmenya. "D-di dalam laci meja rias terbawah. Tapi Bumi, untuk apa? Sistem bank pusat tidak bisa diretas sembarangan, dan mereka sudah mencabut aksesku dari kantor!"

​Bumi melangkah lebar menuju meja rias. Ia menarik laci terbawah dan mengeluarkan sebuah koper baja kecil berisi laptop high-end milikku beserta deretan token keamanan.

​"Sistem bank memang tidak bisa diretas dari luar," jawab Bumi sambil membawa laptop itu dan meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjangku, agar aku bisa melihat layarnya. "Tapi mereka menggunakan dasar 'Investigasi Audit Internal' untuk membekukan rekeningmu, kan? Itu artinya, perintah pembekuan itu harus divalidasi oleh tanda tangan digital Haris dan dikirimkan secara sekuensial melalui server perusahaan ke pihak bank."

​Bumi membuka layar laptopku. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Rentetan kode hitam-hijau mulai bermunculan di layar, membuatku pusing hanya dengan melihatnya.

​"Aku adalah perancang sistem logistik Back-end di Wiratmadja Tech, Aruna," lanjutnya tanpa menoleh dari layar. "Mereka mungkin bisa mencabut sandi CEO-mu. Tapi mereka tidak tahu bahwa selama seminggu terakhir, aku sudah menanam puluhan backdoor (pintu belakang rahasia) di seluruh lapis keamanan kantor."

​Aku menatapnya dengan rasa takjub yang luar biasa. "Kamu... kamu sudah bersiap untuk ini?"

​Bumi menghentikan ketikannya sejenak, menoleh padaku dengan senyum miring yang luar biasa tampan. "Aku dibesarkan di jalanan sebelum masuk pesantren, Aruna. Aturan pertama bertahan hidup: jangan pernah masuk ke dalam ruangan jika kamu tidak tahu letak pintu daruratnya."

​Jari Bumi kembali mengetik dengan brutal. Suara ketukan keyboard memenuhi keheningan kamar.

​"Jam berapa sekarang?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.

​Aku melirik jam dinding. "Jam lima sore."

​"Bank akan menerima instruksi pemblokiran itu secara otomatis besok pagi pukul 08.00," gumam Bumi, matanya bergerak cepat membaca ribuan baris kode yang bergulir. "Itu artinya, kita memiliki waktu lima belas jam untuk memindahkan seluruh aset likuid pribadimu ke tempat yang tidak bisa disentuh oleh hukum Indonesia maupun jangkauan Rendra."

​"Tapi ke mana?" tanyaku cemas. "Jika dipindahkan ke rekening bank lain atas namaku, mereka tetap bisa melacaknya dan memblokirnya."

​"Kita tidak akan menggunakan bank tradisional," jawabnya tenang. "Beberapa tahun lalu, saat aku masih kuliah dan mencari uang tambahan sebagai peretas freelance, aku membangun beberapa jaringan offshore wallet (dompet digital luar negeri) di Swiss dan Kepulauan Cayman menggunakan identitas anonim. Itu adalah brankas hantu."

​Bumi menekan tombol Enter dengan keras. Sebuah layar baru muncul, meminta password token fisik.

​"Aku butuh semua passcode dan token otentikasi milikmu sekarang. Kita akan mencuci uang sahmu sendiri malam ini juga."

​Aku tidak ragu sedetik pun. Aku menyebutkan setiap kombinasi angka, PIN, dan kata sandi tingkat dewaku kepadanya. Aku menyerahkan seluruh hidupku—seluruh sisa harta yang kumiliki di dunia ini—kepada seorang pria yang baru beberapa hari lalu kusewa.

​Selama tiga jam berikutnya, aku menyaksikan pertunjukan kejeniusan yang mengerikan.

​Bumi tidak hanya memindahkan uang. Ia menciptakan labirin digital. Ia memecah saldoku yang berjumlah puluhan miliar itu menjadi ribuan transaksi mikro, merutekannya melalui belasan negara berbeda, mencampurnya dengan mata uang kripto, sebelum akhirnya menyatukannya kembali ke dalam satu rekening anonim di Swiss.

​Pukul delapan malam, jarinya menekan Enter untuk terakhir kalinya.

​Layar di depannya menampilkan tulisan: [TRANSFER COMPLETE. TRACE ROUTE: ZERO.]

​Bumi menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

​"Selesai," ucapnya pelan. Ia menoleh padaku. "Uangmu aman, Aruna. Delapan puluh miliar rupiah milikmu sudah sepenuhnya menghilang dari sistem perbankan Indonesia. Saat surat pemblokiran Haris bekerja besok pagi, mereka hanya akan menemukan rekening kosong yang ditutup secara sepihak."

​Aku membekap mulutku sendiri. Rasanya aku ingin melompat dari ranjang dan memeluknya jika saja tubuhku memiliki tenaga.

​"Kamu... kamu benar-benar menyelamatkan kita," bisikku takjub.

​Bumi tersenyum tipis. "Aku sudah bilang. Mereka membangunkan singa yang salah."

​Bumi bersiap untuk menutup layar laptopnya, namun tiba-tiba tangannya terhenti. Keningnya berkerut tajam saat matanya menangkap sebuah notifikasi kecil yang berkedip di sudut bawah layarnya, berasal dari salah satu backdoor yang ia tanam di komputer Haris.

​"Tunggu sebentar," gumam Bumi. "Ada aktivitas aneh di jaringan kantor."

​"Jam delapan malam? Bukankah kantor sudah sepi?" tanyaku bingung.

​"Haris masih di sana. Dan dia sedang mengakses sesuatu yang... sangat terenkripsi." Jari Bumi kembali mengetik. "Mari kita lihat apa yang sedang dirayakan oleh Plt. CEO baru kita."

​Bumi mengetik beberapa baris perintah. Dalam hitungan detik, ia berhasil meretas webcam (kamera monitor) di komputer Haris.

​Sebuah jendela kecil terbuka di layar laptop kami, menampilkan live-streaming tanpa suara dari ruang kerjaku di kantor.

​Di sana, Haris sedang duduk di kursi kebesaranku—kursi yang dulu menjadi milikku. Pria paruh baya itu sedang menuangkan minuman keras ke dalam gelas kristalku, tersenyum lebar sendirian di ruangan yang remang-remang itu.

​Namun, bukan itu yang membuat napasku terhenti.

​Di layar komputer Haris yang ikut tersadap oleh Bumi, tampak Haris sedang melakukan video call dengan Rendra. Dan di layar Rendra, aku bisa melihat sesuatu yang membuat darahku membeku.

​Itu adalah blue print (cetak biru) sistem keamanan safe house Kemang ini. Di samping cetak biru itu, ada foto Sifa yang sedang tertidur di ranjang medisnya dengan sebuah tanda silang merah tergambar di atas wajah anak itu.

​"Mereka akan menyerang lagi malam ini," bisikku ngeri. "Mereka tidak hanya ingin mengusirku, Bumi. Mereka ingin membunuh Sifa untuk menghancurkanmu."

​Bumi menatap layar itu dalam keheningan yang jauh lebih mematikan daripada teriakannya. Aura di sekitarnya berubah menjadi sedingin es di dasar neraka.

​Pria itu tidak panik. Ia memposisikan jemarinya kembali ke atas keyboard.

​"Bumi? Apa yang mau kamu lakukan?"

​"Memberikan sambutan balasan," desisnya tajam.

​Bumi mengetik barisan script yang sangat rumit. Ia tidak hanya meretas komputer Haris, ia membajak seluruh sistem kelistrikan dan audio di ruang kerja CEO tersebut dari jarak jauh.

​____________________________________________

Di layar webcam yang kami sadap, tawa kemenangan Haris tiba-tiba terhenti. Lampu ruang kerjanya mendadak mati total. Layar komputernya berkedip merah terang, menyilaukan wajahnya yang kini pucat pasi. Dari speaker komputer Haris yang telah dibajak Bumi, terdengar sebuah suara mesin text-to-speech otomatis yang menggema kejam di seluruh ruangan itu. Dan di layar monitor Haris, muncul sebuah pesan ketikan besar dari Bumi: "Kalian mencari uangnya? Uangnya sudah lenyap. Kalian mencari nyawa keluargaku? Datanglah kemari malam ini, Haris. Tapi pastikan kalian membawa cukup kantong mayat untuk kalian sendiri."

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!