Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Ia langsung mengerti—barang ini sangat berharga! Jauh lebih mahal daripada ongkos kapal yang cuma lima wen!
Shen Yu menyeringai puas melihat reaksinya. "Work! Triknya berhasil!"
"Shhhht!! Jangan berisik!!" bisik Shen Yu tegas sambil menatap tajam ke mata orang itu."Ingat, ini rahasia! Kalau orang lain tahu, nanti pada berebut dan kita akan dalam masalah!"
Petugas itu mengangguk-angguk cepat dengan mata masih terbelalak, napasnya terengah-engah. Ia segera menepis tangan Shen Yu pelan, lalu menelan ludah dengan susah payah.
Tangannya gemetar memegang labu itu. Ia menatap cairan hitam manis di dalamnya dengan pandangan tak percaya.
"S-sumpah... ini beneran air ajaib..." gumamnya pelan, suaranya bergetar. "Enaknya... segarnya... luar biasa! Lebih enak dari anggur mahal sekalipun!"
Dua orang rekan petugas yang berdiri di dekat sana memandang aneh. Mereka melihat Shen Yu dan Kakak Dong berbisik-bisik lama sekali, padahal jelas-jelas pemuda itu berpakaian seperti orang tak punya.
"Heh, Dong Ge! Kenapa lama sekali? Cepat selesaikan, masih banyak yang harus dikumpulkan!" tegur salah satu dari mereka dengan nada tidak sabar. "Anak ini mau bayar pakai apa? Jangan bilang cuma air sungai kan?"
Mereka sudah siap mau marah-marah.
Namun, sebelum kalimat selesai diucapkan, Kakak Dong langsung menoleh dan memelototi mereka dengan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk meremang.
"Diam kalian!" desisnya pelan tapi penuh wibawa.
Kedua petugas itu langsung terhenti dan menutup mulut.
"Dia sudah membayar lunas!" kata Kakak Dong tegas, sambil menyembunyikan kantung labu itu di balik punggungnya agar tidak terlihat."Urusan selesai! Jangan ganggu dia lagi, mengerti?!"
Melihat wajah Kakak Dong yang serius dan sepertinya mendapatkan keuntungan besar, kedua rekannya hanya bisa saling melirik bingung tapi tidak berani membantah. Mereka mengangguk patuh.
Kakak Dong lalu menoleh ke arah Shen Yu, tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya dengan penuh arti—Tenang, aman.
"Terima kasih nak, istirahatlah yang enak," bisiknya, lalu segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu, membawa serta 'harta karun' kecil di tangannya.
Kedua rekannya yang masih bingung segera menyusul dari belakang.
Shen Yu menghela napas panjang sampai dadanya terasa lega.
"Wah... aku mengira akan terjadi keributan..." gumamnya sambil menyeka keringat tipis di dahi. "Untunglah."
Ia pun kembali bersandar santai, merasa aman sekarang.
Sementara itu, Kakak Dong berjalan terburu-buru menuju ruangan khusus di bagian dalam kapal yang menjadi tempat tinggal Kapten. Ia mengetuk pintu dengan antusias.
Tok tok tok!
"Masuk," sahut suara berat dari dalam.
Kakak Dong membuka pintu dan masuk. Di dalam ruangan yang cukup mewah itu, duduk seorang pria paruh baya dengan jenggot tipis, tatapannya tajam dan berwibawa. Dia adalah Kapten Wang, sekaligus pemilik kapal ini.
"Ada apa Dong Ma? Kenapa wajahmu berseri-seri begitu?" tanya Kapten Wang heran.
"Kapten! Lihat apa yang saya dapatkan!" Kakak Dong segera maju dan menyodorkan kantung labu itu. "Ini bukan barang biasa! Ini... ini sungguhan!"
Kapten Wang mengerutkan kening, lalu mengambil labu itu dan meneguk sedikit isinya.
Detik berikutnya, mata pria yang biasanya tenang itu ikut membelalak lebar!
Begitu cairan manis dan bergejolak itu masuk ke mulutnya, Kapten Wang langsung tersentak kaget. Ia menelan ludah dengan cepat, matanya menatap kantung labu di tangannya seolah itu adalah benda suci.
"Wah... ini... rasanya luar biasa! Segar, manis, dan ada sensasi aneh yang langsung menghilangkan rasa lelah!" seru Kapten Wang tak percaya. Ia meneguknya lagi sedikit untuk memastikan, dan ekspresi kagetnya semakin menjadi-jadi.
Ia segera menatap tajam ke arah Kakak Dong.
"Dong Ma! Dari mana kau mendapatkan benda ini?! Jangan bilang kau mencurinya atau mengambil dari orang jahat?! Cepat katakan yang sebenarnya!" tanyanya penuh desakan. Suaranya berat dan tegas, menunjukkan betapa pentingnya benda ini baginya.
Kakak Dong buru-buru menggeleng cepat, wajahnya penuh semangat.
"Bukan, Kapten! Bukan curi! Ini ditukarkan oleh seorang penumpang untuk bayar ongkos!" jawabnya cepat.
"Penumpang?" Kapten Wang mengerutkan kening. "Siapa orangnya? Orang kaya? Pedagang obat rahasia?"
"Bukan, Tuan. Penampilannya malah terlihat sangat sederhana, bahkan agak lusuh seperti pemuda desa," jawab Kakak Dong. "Tapi dia bilang ini air ajaib dari mata air tersembunyi di gunung. Rasanya persis seperti yang Kapten rasakan kan? Enak sekali, kan?"
Kapten Wang mengangguk-angguk berulang kali, masih mengingat rasa di lidahnya.
"Luar biasa... ini barang bagus sekali. Sangat berharga," gumam Kapten Wang. Matanya lalu berkilat tajam. "Dimana orang itu sekarang?"
"Duduk di dek bagian belakang, sendirian, Tuan," jawab Kakak Dong sigap.
Kapten Wang menaruh labu itu dengan hati-hati di atas meja. Wajahnya berubah menjadi serius namun penuh minat besar.
"Bagus. Kau lakukan hal benar tidak membiarkan orang lain tahu. Barang semacam ini kalau diketahui banyak orang bisa menimbulkan keributan," ucap Kapten Wang.
"Aku harus bertemu orang ini."
Shen Yu sama sekali tidak menyangka bahwa sekaleng cola biasa yang ia tukarkan tadi akan menimbulkan reaksi sebesar itu, bahkan sampai menarik perhatian sang Kapten kapal.
Ia bersandar rileks di dinding kayu kapal, memejamkan mata sebentar. Angin sore yang lembut berhembus, menerpa wajahnya dan menerbangkan ujung rambutnya. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan.
Dari obrolan para penumpang lain yang terdengar samar-samar, ia menangkap informasi bahwa perjalanan ini memakan waktu sekitar sehari semalam.
"Jadi besok pagi atau siang baru sampai ya..." gumamnya pelan.
Cukup lama, tapi tidak masalah. Baginya ini justru kesempatan bagus untuk beristirahat dan mengamati pemandangan sepanjang jalan. Sungai yang lebar ini tampak indah, dengan perbukitan hijau dan desa-desa kecil yang lewat di kejauhan.
"Syukurlah... tinggal tunggu waktu saja. Besok aku sudah akan menginjakkan kaki di Ibu Kota."
Shen Yu tersenyum tipis. Bayangan kota besar yang megah, hiruk-pikuk pasar, dan kehidupan baru mulai terbayang jelas di benaknya. Dengan emas di saku dan Ruang Ajaib di dalam dirinya, ia yakin bisa hidup enak di sana.
"Tapi... sebaiknya aku tetap waspada," batinnya tiba-tiba mengingatkan. "Tadi si Kakak Dong kelihatan terlalu antusias—semoga tidak menimbulkan masalah bagiku."
Baru saja pikiran itu muncul, ia melihat dari kejauhan sosok Kakak Dong berjalan mendekat bersamaan dengan seorang pria paruh baya yang berpakaian lebih rapi dan memiliki aura yang berbeda.
"......" Sepertinya dia salah menembak.
Melihat kedua orang itu berjalan mendekat dengan langkah pasti, Shen Yu langsung tegang. Jantungnya berdegup kencang.
"Gawat..." batinnya panik. "Harus bagaimana? Pura-pura tidur? Atau pura-pura bodoh kayak biasa?"
Ia sama sekali tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Kalau ia terlihat terlalu cerdik, nanti mereka curiga. Tapi kalau ia bertingkah terlalu bodoh, takutnya mereka malah menganggapnya mudah ditipu atau dipaksa menyerahkan resepnya.
Shen Yu hanya bisa duduk diam mematung di tempatnya, membiarkan topi jeraminya tetap menutupi sebagian wajahnya, sementara kedua orang itu sudah berhenti tepat di hadapannya.
"Ini dia, Kapten. Orangnya di sini," suara Kakak Dong terdengar.
Shen Yu mengangkat wajahnya perlahan, menatap Kapten Wang yang berdiri gagah di depannya dengan tatapan bingung dan polos—seolah-olah ia tidak mengerti kenapa orang sebesar itu mau repot-repot datang menghampirinya.
"Ehm..." Shen Yu hanya bisa mengeluarkan suara terbatuk kecil, tangannya secara tidak sadar mencengkeram ujung bajunya yang lusuh.
Ia siap mendengarkan apa yang akan mereka katakan, sambil memutar otak secepat kilat mencari cara untuk menyelamatkan situasi.
Shen Yu sudah siap mental kalau-kalau mereka akan menuduhnya macam-macam atau memaksa dia memberikan barangnya.
Tapi di luar dugaan, Kapten Wang justru menyunggingkan senyum yang cukup ramah, meski tetap terlihat wibawa.
"Anak muda, jangan takut," kata Kapten Wang dengan suara berat namun lembut. "Aku hanya ingin mengajakmu bicara sebentar di ruanganku. Di sini terlalu berisik dan panas. Mari ke dalam, kita bicara lebih nyaman."
Shen Yu mengedipkan matanya bingung. Bicara dengan nyaman? Serius?
Ia ingin menolak. Jujur saja, ia merasa lebih aman duduk sendirian di sini. Tapi saat ia melirik sekeliling, ia menyadari bahwa perhatian semua penumpang kini tertuju padanya.
Mereka melihat Kapten kapal sendiri yang datang mengundang seorang pemuda berpakaian lusuh. Pasti aneh kalau dia menolak di depan umum.
'Sial... situasi memaksa,' batin Shen Yu pasrah.
Kalau dia menolak sekarang, nanti malah jadi bahan omongan atau malah dicurigai menyembunyikan sesuatu. Mau tak mau, dia harus ikut.
"Ba... baik, Tuan," jawab Shen Yu pelan, lalu perlahan berdiri dari duduknya.
Ia mengambil keranjang bambunya dan mengikutinya dari belakang. Kakak Dong berjalan di sampingnya dengan wajah senang sekali, seolah-olah dia yang menemukan harta karun.
Sepanjang jalan menuju ruang dalam, Shen Yu berpikir keras.
'Oke Shen Yu, tenang. Mereka pasti mau tahu soal air tadi. Aku harus jaga mulut baik-baik. Jangan sampai kebongkar kalau itu cuma cola dari supermarket!'
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Pertemuan penting ini akan menentukan nasibnya di kapal ini.